Gerakan Ramadan: Dari Spiritualitas Personal Menuju Transformasi Sosial
20/02/2026 | Penulis: Ruba'i
Gerakan Ramadan: Dari Spiritualitas Personal Menuju Transformasi Sosial
Ramadan tidak lagi sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Dalam beberapa tahun terakhir, bulan suci ini berkembang menjadi apa yang dapat disebut sebagai Gerakan Ramadan sebuah momentum kolektif yang menggerakkan keluarga, komunitas, hingga negara untuk membangun perubahan sosial berbasis nilai spiritual. Di Indonesia, misalnya, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bersama sejumlah kementerian mendeklarasikan program Gerakan Ramadan Ramah Anak. Inisiatif ini mendorong keluarga memanfaatkan Ramadan sebagai ruang pendidikan karakter: mengurangi penggunaan gawai, memperbanyak dialog orang tua dan anak, serta membangun kebiasaan ibadah bersama.
Langkah tersebut diperkuat oleh Kementerian Agama Republik Indonesia yang mengajak satuan pendidikan menjadikan Ramadan sebagai momentum pembentukan empati dan akhlak peserta didik. Pesannya jelas: Ramadan bukan hanya ritual spiritual, tetapi juga sarana membangun kualitas generasi. Fenomena ini menarik. Artinya, nilai-nilai Ramadan sedang mengalami institusionalisasi masuk ke ranah kebijakan publik dan pendidikan formal. Bulan suci tidak lagi berhenti pada ranah privat, melainkan menjadi strategi sosial untuk memperkuat ketahanan keluarga dan karakter anak di tengah derasnya arus digitalisasi.
Di sisi lain, Ramadan juga identik dengan lonjakan solidaritas sosial. Aktivitas zakat, infak, sedekah, dan berbagi makanan meningkat drastis. Tradisi seperti M??idat ar-Ra?m?n di berbagai negara Timur Tengah menunjukkan bagaimana berbuka puasa menjadi ruang kesetaraan sosial: siapa pun dapat duduk bersama tanpa melihat latar belakang ekonomi. Bahkan di ruang publik global, Ramadan semakin diakui sebagai bagian dari identitas sosial dunia modern. Pemasangan dekorasi Ramadan di kawasan Piccadilly Circus beberapa waktu lalu menandai penerimaan budaya Islam dalam lanskap kota global. Ramadan menjadi simbol inklusivitas dan solidaritas lintas komunitas.
Secara sosiologis, Ramadan menciptakan apa yang oleh Émile Durkheim disebut sebagai collective effervescence ledakan energi kebersamaan yang lahir dari ritual bersama. Ketika jutaan orang berpuasa, berbuka, dan beribadah dalam waktu yang sama, muncul rasa solidaritas yang lebih kuat. Inilah yang menjelaskan mengapa aktivitas berbagi meningkat dan empati sosial terasa lebih hidup selama bulan suci.
Namun, tantangan terbesar Gerakan Ramadan adalah keberlanjutan. Energi spiritual dan sosial yang begitu besar sering kali meredup setelah Idulfitri. Jika nilai disiplin, empati, dan kepedulian sosial hanya bertahan 30 hari, maka Ramadan kehilangan potensi transformatifnya Karena itu, Gerakan Ramadan seharusnya dipahami sebagai laboratorium perubahan. Ia melatih pengendalian diri, membangun solidaritas, dan memperkuat keluarga. Tugas masyarakat dan para pemangku kebijakan adalah memastikan bahwa nilai-nilai itu tidak berhenti sebagai euforia musiman.
Ramadan pada akhirnya bukan hanya tentang menahan diri, tetapi tentang membentuk diri dan bersama-sama membentuk masyarakat yang lebih berempati, adil, dan berkarakter. Jika dikelola dengan kesadaran kolektif, Ramadan dapat menjadi gerakan moral tahunan yang secara perlahan memperbaiki wajah sosial bangsa.
Artikel Lainnya
Persiapan Menyambut Bulan Suci Ramadan, BAZNAS Surabaya Ajak Masyarakat Perkuat Kepedulian Sosial
Keistimewaan Bulan Ramadhan dan Peran BAZNAS dalam Menguatkan Kepedulian Umat
Bersama BAZNAS, Ramadan Menjadi Lebih Bermakna
Minggu Kedua Bulan Suci: Memperdalam Taqwa, Memperluas Manfaat
Memetik Keberkahan Ramadhan: BAZNAS Surabaya Masifkan Pendistribusian Zakat untuk Warga Miskin
Ramadhan sebagai Momentum Penguatan Program Sosial BAZNAS Surabaya

Info Rekening Zakat
Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.
BAZNAS
