
Berita Terkini
Aktif dalam event BCL 2026, BAZNAS Kota Surabaya Dorong Rekonstruksi Tata Kelola Zakat Nasional
SURABAYA, 29 Oktober 2026 — Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Surabaya berpartisipasi aktif dalam kegiatan BAZNAS Collaborative Leadership (BCL) 2026 di Jawa Timur yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, pada 27–29 Oktober 2026 di Balai Diklat Keagamaan Surabaya.
Kegiatan ini menjadi forum strategis bagi para pengelola zakat untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan, membangun sinergi kelembagaan, serta merumuskan solusi atas berbagai tantangan tata kelola zakat nasional.
Tidak sekadar menjadi ajang peningkatan kapasitas, BCL 2026 juga menjadi ruang refleksi kritis terhadap hubungan antara regulasi, kewenangan kelembagaan, dukungan sumber daya, dan efektivitas pengelolaan zakat di daerah.
Melalui diskusi kolaboratif dalam empat fokus pembahasan, para peserta mengidentifikasi berbagai persoalan strategis yang mencakup empat fungsi utama pengelolaan zakat, yakni perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan pelaporan.
Sementara itu, fokus bahasan pengendalian -dimana delegasi Baznas Kota Surabaya berkontribusi aktif- mengemuka menjadi salah satu isu paling mendasar. Forum menyoroti perlunya harmonisasi kewenangan antara BAZNAS, Kementerian Agama, dan pemerintah daerah, disertai penguatan pengawasan internal, audit syariah, manajemen risiko, serta standardisasi sistem pengendalian di seluruh tingkatan organisasi.
Para peserta yang merupakan pimpinan BAZNAS di seluruh wilayah di Jawa Timur menilai bahwa isu tersebut menunjukkan bahwa pembenahan tata kelola zakat nasional tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan pendekatan sistemik yang menghubungkan regulasi, kelembagaan, sumber daya, dan akuntabilitas.
BAZNAS Kota Surabaya Usulkan Rekonstruksi Tata Kelola Zakat Nasional
Menanggapi berbagai persoalan yang mengemuka dalam forum tersebut, Wakil Ketua II BAZNAS Kota Surabaya, H.M. Kamil Thobroni, menegaskan bahwa tantangan utama pengelolaan zakat nasional bukan semata-mata persoalan ketersediaan regulasi.
“Persoalan strategis pengelolaan zakat nasional bukan terutama karena ketiadaan regulasi yang memadai, melainkan karena belum terbangunnya keselarasan antara kewenangan kelembagaan, tanggung jawab operasional, dukungan sumber daya, sistem pengendalian, dan akuntabilitas hasil. Regulasi yang baik harus mampu menghadirkan kepastian kewenangan sekaligus menjamin efektivitas pelaksanaannya,” tegas Kamil.
Menurutnya, berbagai tantangan yang dihadapi BAZNAS di daerah perlu dilihat sebagai persoalan tata kelola yang saling berkaitan. Ketidakjelasan batas kewenangan, belum optimalnya koordinasi lintas lembaga, serta kesenjangan antara tanggung jawab operasional dan dukungan sumber daya berpotensi menghambat efektivitas pengelolaan zakat.
Atas dasar itu, ia mengusulkan sebuah agenda strategis bertajuk “Rekonstruksi Tata Kelola Zakat Nasional melalui Harmonisasi antara Kementerian Agama, Pemerintah Daerah, dan BAZNAS dalam Kewenangan, Integrasi Sistem, Penguatan Kemandirian Kelembagaan, dan Akuntabilitas Berbasis Dampak.”
Gagasan tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu masukan dalam agenda evaluasi dan penyempurnaan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat beserta regulasi turunannya.
Rekonstruksi tata kelola, menurut Kamil, tidak harus dimaknai sebagai pembentukan keseluruhan regulasi baru, tetapi sebagai upaya menata kembali hubungan kelembagaan, memperjelas pembagian peran, memperkuat koordinasi, serta memastikan setiap kewenangan diikuti dukungan sumber daya dan mekanisme pertanggungjawaban yang proporsional.
“Kita membutuhkan tata kelola zakat yang tidak hanya tertib secara administratif, tetapi juga efektif secara kelembagaan dan nyata manfaatnya bagi mustahik. Keberhasilan pengelolaan zakat tidak cukup diukur dari besarnya dana yang dihimpun dan disalurkan, tetapi juga dari perubahan kesejahteraan masyarakat yang dihasilkannya,” lanjutnya.
Empat Pilar Harmonisasi Tata Kelola Zakat
Lebih lanjut, Kamil merumuskan konstruksi ideal pengelolaan zakat nasional melalui empat pilar tanggung jawab yang saling melengkapi.
“Pemerintah Pusat menjamin kepastian norma, Pemerintah Daerah mengawal sinergi kewilayahan, BAZNAS menjaga amanah pengelolaan, dan masyarakat menguatkan akuntabilitas.”
Rumusan tersebut menempatkan pemerintah pusat sebagai penjamin kepastian hukum dan keselarasan kebijakan nasional, sementara pemerintah daerah berperan memperkuat sinergi kewilayahan, dukungan kelembagaan, serta integrasi program pengentasan kemiskinan.
Di sisi lain, BAZNAS menjalankan amanah pengelolaan zakat secara profesional, independen dalam pelaksanaan kewenangannya sesuai ketentuan, dan bertanggung jawab terhadap pencapaian manfaat bagi mustahik. Masyarakat, termasuk muzaki dan penerima manfaat, menjadi bagian penting dalam membangun transparansi, pengawasan partisipatif, dan kepercayaan publik.
“Ketika keempat unsur tersebut berjalan selaras, zakat tidak lagi sekadar dikelola sebagai kewajiban keagamaan yang bersifat administratif, tetapi akan tumbuh menjadi instrumen strategis pembangunan kesejahteraan dan pengentasan kemiskinan yang berkeadilan,” pungkasnya.
Memperkuat Kolaborasi, Menghadirkan Dampak Nyata
Bagi BAZNAS Kota Surabaya, partisipasi dalam BCL 2026 merupakan bagian dari komitmen untuk terus memperkuat profesionalitas kelembagaan dan mengembangkan tata kelola zakat yang terintegrasi.
Semangat collaborative leadership dipandang bukan sekadar membangun kerja sama formal, melainkan menyatukan kewenangan, sumber daya, sistem informasi, dan tanggung jawab untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Melalui visi “Berkah Zakat Surabaya Semakin Hebat” dan misi “Optimalisasi Tata Kelola Zakat Terintegrasi”, BAZNAS Kota Surabaya terus mendorong pengelolaan zakat yang tidak hanya berorientasi pada penghimpunan dan penyaluran, tetapi juga pada transformasi kesejahteraan mustahik menuju kemandirian ekonomi hingga berpeluang menjadi muzaki.
BCL 2026 diharapkan menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara Kementerian Agama, pemerintah daerah, BAZNAS, dan masyarakat, sekaligus menghadirkan rekomendasi konstruktif bagi masa depan tata kelola zakat nasional yang semakin harmonis, mandiri, akuntabel, dan berdampak.
BAZNAS Kota Surabaya — Berkah Zakat Surabaya Semakin Hebat.
red.mkt
29/10/2026 | red.mkt
BAZNAS Surabaya Aktif di BCL 2026, Dorong Penguatan Tata Kelola Zakat Nasional
SURABAYA – BAZNAS Surabaya berpartisipasi aktif dalam kegiatan BAZNAS Collaborative Leadership (BCL) 2026 yang berlangsung pada 27–29 Oktober 2026 di Balai Diklat Keagamaan Surabaya. Forum yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Republik Indonesia ini menjadi ruang strategis bagi pimpinan BAZNAS se-Jawa Timur untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan dan tata kelola zakat.
BCL 2026 membahas empat fungsi utama dalam pengelolaan zakat, yakni perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan pelaporan. Melalui diskusi kolaboratif, para peserta mengidentifikasi berbagai tantangan kelembagaan sekaligus merumuskan rekomendasi untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan zakat di daerah.
BAZNAS Surabaya memberikan perhatian khusus pada aspek pengendalian. Pembahasan menyoroti pentingnya harmonisasi kewenangan antara BAZNAS, Kementerian Agama, dan pemerintah daerah, disertai penguatan pengawasan internal, audit syariah, manajemen risiko, serta standardisasi sistem pengendalian.
Forum menilai bahwa tata kelola zakat tidak dapat dibenahi secara parsial. Diperlukan pendekatan yang mampu menghubungkan regulasi, kelembagaan, sumber daya, sistem informasi, serta akuntabilitas agar pengelolaan zakat semakin profesional dan berdampak.
Dalam forum tersebut, BAZNAS Surabaya mendorong gagasan rekonstruksi tata kelola zakat nasional melalui harmonisasi peran antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BAZNAS, dan masyarakat. Langkah ini diarahkan untuk memperjelas kewenangan, memperkuat koordinasi, serta memastikan setiap tanggung jawab kelembagaan didukung sumber daya dan sistem pertanggungjawaban yang proporsional.
Pengelolaan zakat dinilai tidak cukup hanya mengandalkan kepatuhan administratif. Keberhasilannya juga harus dilihat dari sejauh mana zakat mampu meningkatkan kesejahteraan mustahik, memperkuat kemandirian ekonomi, serta mendorong perubahan sosial yang berkelanjutan.
Bagi BAZNAS Surabaya, semangat collaborative leadership bukan sekadar kerja sama formal antarlembaga. Kolaborasi harus mampu menyatukan kewenangan, data, sumber daya, sistem pengendalian, dan tanggung jawab agar manfaat zakat dapat dirasakan secara lebih luas.
Partisipasi dalam BCL 2026 menjadi bagian dari komitmen BAZNAS Surabaya untuk terus meningkatkan profesionalitas kelembagaan dan memperkuat tata kelola zakat yang terintegrasi.
Melalui forum ini, BAZNAS Surabaya berharap sinergi antara Kementerian Agama, pemerintah daerah, BAZNAS, serta masyarakat semakin kuat sehingga pengelolaan zakat nasional dapat berkembang menjadi lebih harmonis, mandiri, akuntabel, dan berorientasi pada dampak nyata bagi kesejahteraan umat.
29/10/2026 | Humas BAZNAS Surabaya
BAZNAS Surabaya Fasilitasi Sertifikasi Tukang bagi 14 Peserta untuk Perluas Peluang Kerja
SURABAYA – BAZNAS Surabaya menyalurkan dukungan berupa fasilitasi sertifikasi tukang kepada 14 peserta dalam kegiatan Pelatihan dan Sertifikasi Tukang yang dilaksanakan bersama Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Kota Surabaya, Senin (26/10/2026).
Program ini menjadi bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui peningkatan kompetensi tenaga kerja. BAZNAS Surabaya membantu memfasilitasi proses sertifikasi agar para peserta memiliki pengakuan kompetensi yang dapat digunakan untuk memperluas peluang kerja.
Kegiatan tersebut merupakan program rutin yang dilaksanakan setiap bulan. Melalui pelatihan dan sertifikasi, para peserta tidak hanya memperoleh peningkatan keterampilan, tetapi juga memiliki nilai tambah ketika memasuki dunia kerja maupun menawarkan jasa secara mandiri.
Bagi penerima manfaat, sertifikasi tukang diharapkan dapat membuka kesempatan kerja yang lebih luas serta meningkatkan kepercayaan pengguna jasa terhadap kemampuan yang dimiliki. Dengan demikian, peserta memiliki peluang lebih besar untuk memperoleh pekerjaan dan meningkatkan penghasilan keluarga.
Penyaluran dukungan melalui program produktif seperti ini menjadi salah satu bentuk pendayagunaan zakat yang diarahkan untuk mendorong kemandirian mustahik. BAZNAS Surabaya tidak hanya memberikan bantuan untuk memenuhi kebutuhan sesaat, tetapi juga berupaya menghadirkan program yang dapat meningkatkan kapasitas dan daya saing penerima manfaat.
Sinergi bersama Disperinaker Kota Surabaya juga menjadi bagian penting dalam memastikan program pemberdayaan berjalan secara terarah dan sesuai kebutuhan dunia kerja.
BAZNAS Surabaya berharap 14 peserta yang mengikuti sertifikasi pada pelaksanaan kali ini dapat memanfaatkan kompetensi dan sertifikat yang diperoleh untuk meningkatkan peluang kerja serta penghasilan.
Melalui program yang dilaksanakan secara rutin, BAZNAS Surabaya dan Disperinaker Kota Surabaya terus berupaya mendukung pengurangan angka pengangguran dan mendorong masyarakat menjadi lebih mandiri secara ekonomi.
26/10/2026 | Humas BAZNAS Surabaya
Agenda Pimpinan

Wakil Ketua II BAZNAS Surabaya Dorong Rekonstruksi Tata Kelola Zakat di BCL 2026
SURABAYA – Wakil Ketua II BAZNAS Surabaya H. Mas Kamil Thobroni, SHI berpartisipasi aktif dalam kegiatan BAZNAS Collaborative Leadership (BCL) 2026 yang diselenggarakan pada 27–29 Oktober 2026 di Balai Diklat Keagamaan Surabaya.
Kegiatan yang diikuti pimpinan BAZNAS dari berbagai wilayah di Jawa Timur tersebut membahas penegakan tata kelola zakat melalui empat fungsi utama, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan pelaporan .
Dalam forum tersebut, H. Mas Kamil Thobroni berkontribusi pada pembahasan aspek pengendalian. Diskusi menyoroti perlunya harmonisasi otoritas antarlembaga, penguatan pengawasan internal, audit syariah, manajemen risiko, serta sistem pengendalian yang lebih terstandar.
Menurutnya, tantangan tata kelola zakat nasional tidak hanya terletak pada ketersediaan, tetapi juga pada keselarasan antara kewenangan kelembagaan, tanggung jawab operasional, dukungan sumber daya, serta akuntabilitas hasil.
“Strategi personalan pengelolaan zakat nasional bukan terutama karena ketiadaan regulasi yang mampu, melainkan karena belum terbangunnya keselarasan antara kewenangan kelembagaan, tanggung jawab operasional, dukungan sumber daya, sistem pengendalian, dan akuntabilitas hasil,” jelasnya.
Atas dasar tersebut, H. Mas Kamil mendorong gagasan rekonstruksi tata kelola zakat nasional melalui harmonisasi peran Kementerian Agama, pemerintah daerah, dan BAZNAS, disertai sistem integrasi, pemberdayaan kelembagaan, serta akuntabilitas berbasis dampak.
Gagasan tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu bahan dalam evaluasi dan penyempurnaan kebijakan pengelolaan zakat, termasuk dalam penerapan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat serta regulasi turunannya.
Ia juga merumuskan empat pilar tanggung jawab dalam pengelolaan zakat nasional. Pemerintah pusat berperan menjamin kepastian norma, pemerintah daerah memperkuat sinergi kewilayahan, BAZNAS menjaga amanah pengelolaan, sementara masyarakat memperkuat transparansi dan akuntabilitas.
“Keberhasilan pengelolaan zakat tidak cukup diukur dari besarnya dana yang dihimpun dan disalurkan, tetapi juga dari perubahan kesejahteraan masyarakat yang dihasilkannya,” tegasnya.
Bagi BAZNAS Surabaya, partisipasi pimpinan dalam BCL 2026 menjadi bagian dari komitmen untuk terus meningkatkan kualitas kelembagaan dan memperluas manfaat zakat.
Melalui kolaborasi yang semakin kuat, BAZNAS Surabaya berharap tata kelola zakat nasional dapat berkembang menjadi lebih efektif, profesional, mandiri, dan benar-benar mampu mendorong mustahik menuju kehidupan yang lebih berdaya.
29-10-2026 | Humas BAZNAS Surabaya

Ketua BAZNAS Surabaya Jadi Narasumber Manasik Zakat di Dinas Pendidikan Kota Surabaya
SURABAYA – Ketua BAZNAS Surabaya H. Moch. Hamzah, S.T., M.M. menghadiri sekaligus menjadi narasumber dalam kegiatan Manasik Zakat BAZNAS Surabaya yang dilaksanakan di Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Kamis (29/10/2026).
Kegiatan Manasik Zakat menjadi bagian dari upaya edukasi untuk memperkuat pemahaman mengenai zakat, baik dari sisi kewajiban, pengumpulan, pengelolaan, hingga pendistribusian kepada golongan yang berhak menerima sesuai ketentuan syariah.
Dalam kesempatan tersebut, H. Moch. Hamzah menyampaikan materi mengenai pentingnya zakat tidak hanya sebagai bentuk ibadah individual, tetapi juga sebagai instrumen sosial yang memiliki peran besar dalam membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pemahaman mengenai zakat dinilai perlu terus diperkuat agar masyarakat tidak hanya mengetahui kewajibannya, tetapi juga memahami bagaimana dana zakat dikelola secara amanah dan disalurkan secara tepat sasaran.
Kehadiran Ketua BAZNAS Surabaya sebagai narasumber juga menjadi bagian dari komitmen pimpinan dalam memperluas literasi zakat di lingkungan pemerintahan dan pendidikan. Dinas Pendidikan Kota Surabaya menjadi salah satu ruang strategis dalam memperkuat edukasi zakat karena memiliki jaringan yang luas serta kedekatan dengan berbagai unsur pendidikan di Kota Surabaya.
Melalui kegiatan Manasik Zakat, BAZNAS Surabaya terus mendorong tumbuhnya kesadaran berzakat melalui lembaga resmi. Pengelolaan zakat yang tertib, profesional, transparan, dan akuntabel diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan para muzaki sekaligus memperluas manfaat bagi mustahik.
Agenda ini juga memperkuat sinergi antara BAZNAS Surabaya dan Dinas Pendidikan Kota Surabaya dalam membangun kesadaran sosial serta kepedulian terhadap sesama.
BAZNAS Surabaya berharap kegiatan Manasik Zakat dapat memberikan pemahaman yang lebih utuh kepada peserta, sehingga zakat dapat semakin dipahami, ditunaikan dengan benar, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat Kota Surabaya.
29-10-2026 | Humas BAZNAS Surabaya

Ketua BAZNAS Surabaya Hadiri Upacara Hari Sumpah Pemuda ke-98
SURABAYA – Ketua BAZNAS Surabaya H. Moch. Hamzah, S.T., M.M. menghadiri Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 Tahun 2026 yang digelar di Balai Kota Surabaya pada Rabu (28/10/2026).
Peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun ini mengusung tema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”. Tema tersebut menegaskan pentingnya membangun generasi muda yang memiliki kecintaan terhadap bangsa, tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan, serta memiliki kepedulian terhadap sesama.
Kehadiran Ketua BAZNAS Surabaya dalam agenda tersebut menjadi bentuk partisipasi kelembagaan dalam memperingati momentum bersejarah lahirnya semangat persatuan pemuda Indonesia sejak 28 Oktober 1928.
Bagi BAZNAS Surabaya, nilai patriotik, gigih, dan berempati memiliki keterkaitan erat dengan semangat kepedulian sosial. Generasi muda diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan dan prestasi, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang peduli terhadap kondisi masyarakat di sekitarnya.
Semangat tersebut sejalan dengan pengelolaan zakat, infak, dan sedekah yang mengedepankan solidaritas dan kebermanfaatan. Melalui berbagai program pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan kemanusiaan, BAZNAS Surabaya turut mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia agar lebih mandiri dan berdaya.
Kehadiran Ketua BAZNAS Surabaya dalam Upacara Hari Sumpah Pemuda juga menjadi momentum untuk memperkuat sinergi dengan Pemerintah Kota Surabaya serta berbagai elemen masyarakat dalam membangun generasi muda yang memiliki karakter kuat dan kepedulian sosial.
BAZNAS Surabaya berharap semangat Sumpah Pemuda terus hidup dalam diri generasi muda Kota Surabaya. Dengan jiwa yang patriotik, kegigihan dalam berkarya, serta empati terhadap sesama, pemuda diharapkan mampu mengambil peran nyata dalam membangun kota dan bangsa yang lebih maju, inklusif, dan sejahtera.
28-10-2026 | Humas BAZNAS Surabaya
Berita Pendistribusian

BAZNAS Surabaya Salurkan Bantuan Kursi Roda kepada Sugianto, Warga Sememi
SURABAYA – BAZNAS Surabaya menyalurkan bantuan kursi roda kepada Sugianto, warga Kelurahan Sememi, Kecamatan Benowo, pada Selasa (13/10/2026). Bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk kepedulian terhadap mustahik yang membutuhkan dukungan alat bantu untuk menunjang aktivitas sehari-hari.
Bagi penerima manfaat, keberadaan kursi roda memiliki arti penting dalam membantu mobilitas dan meningkatkan kemandirian. Dengan alat bantu tersebut, aktivitas di lingkungan rumah maupun interaksi dengan keluarga dan masyarakat diharapkan dapat dilakukan dengan lebih mudah dan nyaman.
Melalui program penyaluran ini, BAZNAS Surabaya berupaya menghadirkan manfaat zakat, infak, dan sedekah secara langsung kepada masyarakat yang membutuhkan. Bantuan kursi roda tidak hanya menjadi pemenuhan kebutuhan alat bantu, tetapi juga membawa pesan kepedulian dan semangat agar penerima manfaat tetap memiliki harapan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Keterbatasan fisik bukan berarti menjadi akhir dari kesempatan untuk tetap aktif dan berdaya. Dukungan yang tepat dapat membantu penerima manfaat menjalani aktivitas dengan lebih baik serta mengurangi hambatan dalam bergerak.
BAZNAS Surabaya terus berkomitmen memastikan amanah zakat dari para muzaki dapat disalurkan secara tepat sasaran dan sesuai kebutuhan mustahik. Program bantuan kesehatan dan alat bantu menjadi salah satu bentuk pelayanan yang terus dijalankan untuk memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.
Penyaluran kursi roda kepada Sugianto menjadi bagian dari upaya tersebut. BAZNAS Surabaya berharap bantuan ini dapat memberikan kemudahan, meningkatkan kenyamanan, serta menghadirkan semangat baru bagi penerima manfaat dan keluarganya.
Karena setiap keterbatasan bukanlah akhir dari harapan. Sekecil apa pun bantuan yang diberikan, dapat memiliki arti besar bagi mereka yang benar-benar membutuhkan.https://kotasurabaya.baznas.go.id/bayarzakat
15/10/2026 | Humas BAZNAS Surabaya

BAZNAS Surabaya Salurkan Beasiswa CESAR kepada 74 Mahasiswa UMSURA
SURABAYA – BAZNAS Surabaya kembali menyalurkan bantuan biaya pendidikan melalui Program Beasiswa CESAR kepada mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA). Serah terima bantuan dilaksanakan pada Senin (28/9/2026) di Auditorium At-Ta'awun Lantai 23 UMSURA.
Sebanyak 74 siswa menjadi penerima manfaat dalam penyaluran kali ini. Mereka terdiri atas 54 mahasiswa Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Prodi PG PAUD dan 20 mahasiswa reguler Fakultas Agama Islam dan Peradaban .
Untuk mahasiswa Program RPL PG PAUD, BAZNAS Surabaya menyalurkan bantuan dengan nilai program sebesar Rp540.000.000. Sementara bantuan bagi 20 mahasiswa reguler Fakultas Agama Islam dan Peradaban tercatat sebesar Rp400.000.000.
Kegiatan serah terima tersebut dirangkaikan dengan penandatanganan MoU antara BAZNAS Surabaya dan UMSURA sebagai bentuk penguatan kerja sama dalam pelaksanaan Program Beasiswa CESAR.
Acara tersebut dihadiri oleh Ketua Bunda PAUD Kota Surabaya , Rektor dan jajaran UMSURA, pimpinan BAZNAS Surabaya, serta 74 mahasiswa penerima manfaat.
Beasiswa CESAR merupakan salah satu program pendayagunaan zakat di bidang pendidikan yang diarahkan untuk membantu siswa memperoleh kesempatan menyelesaikan pendidikan tinggi.
Kehadiran Ketua Bunda PAUD Kota Surabaya turut memberikan dukungan terhadap penguatan pendidikan, terutama bagi siswa RPL PG PAUD yang diharapkan dapat meningkatkan kompetensi dan kualitas pelayanan pendidikan anak usia dini.
BAZNAS Surabaya memandang bantuan pendidikan sebagai investasi sosial jangka panjang. Melalui dukungan tersebut, siswa diharapkan tidak hanya terbantu dalam memenuhi kebutuhan pendidikan, tetapi juga memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan kompetensi dan kemandirian.
Melalui Beasiswa CESAR, BAZNAS Surabaya berharap 74 mahasiswa penerima dapat menyelesaikan pendidikan dengan baik dan dapat memberikan kontribusi positif kepada keluarga, masyarakat, serta lingkungan sekitar.
28/09/2026 | Humas BAZNAS Surabaya

BAZNAS Surabaya Salurkan Beasiswa CESAR Senilai Rp1,61 Miliar
Surabaya, (08/09/2026) – BAZNAS Kota Surabaya menyalurkan bantuan pendidikan melalui program Beasiswa CESAR (Cetak Sarjana) kepada 156 mahasiswa dengan total nilai mencapai Rp1.610.000.000. Penyerahan dilaksanakan di Auditorium Lantai 9 UNUSA Tower Kampus B.
Program ini merupakan hasil kolaborasi antara BAZNAS Kota Surabaya, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA), Bunda PAUD Kota Surabaya, serta Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Pendidikan Kota Surabaya.
Bantuan pendidikan tersebut diberikan kepada 151 mahasiswa Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) S1 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) senilai Rp1.510.000.000. Sementara itu, bantuan senilai Rp100.000.000 disalurkan kepada lima mahasiswa Program Reguler S1 Sistem Informasi.
Kegiatan tersebut dihadiri sekaligus diisi sambutan oleh Ketua Bunda PAUD Kota Surabaya, Rini Indriyani Eri Cahyadi, S.Farm., Apt.; Rektor UNUSA, Prof. Dr. Ir. Tri Yogi Yuwono, DEA., IPU., ASEAN.Eng.; serta Ketua BAZNAS Kota Surabaya, H. Moch. Hamzah, S.T., MM.
Ketua BAZNAS Kota Surabaya menyampaikan bahwa Beasiswa CESAR merupakan wujud nyata pendayagunaan dana zakat, infak, dan sedekah dalam bidang pendidikan. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan biaya perkuliahan sekaligus membuka kesempatan bagi para penerima untuk meningkatkan kompetensi dan meraih gelar sarjana.
Bagi mahasiswa RPL S1 PG PAUD, program ini menjadi jalan untuk meningkatkan kualifikasi akademik dan profesionalisme sebagai pendidik anak usia dini. Adapun mahasiswa S1 Sistem Informasi diharapkan mampu mengembangkan kompetensi di bidang teknologi serta berkontribusi dalam menghadapi kebutuhan transformasi digital.
Melalui Beasiswa CESAR, para penerima manfaat tidak hanya memperoleh bantuan biaya pendidikan, tetapi juga kesempatan untuk mewujudkan cita-cita dan membangun masa depan yang lebih baik.
Kolaborasi BAZNAS Kota Surabaya, UNUSA, Bunda PAUD Kota Surabaya, dan Dinas Pendidikan Kota Surabaya ini diharapkan terus berlanjut sebagai ikhtiar bersama dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang lebih inklusif dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Kota Surabaya.
09/09/2026 | Humas BAZNAS Surabaya
Artikel Terbaru
Satu Kursi Roda, Banyak Perubahan: Mengapa Aksesibilitas Penting bagi Penerima Bantuan?
Mobilitas merupakan bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas sederhana seperti berpindah tempat, berinteraksi dengan keluarga, atau mengakses layanan kesehatan dapat menjadi tantangan bagi seseorang yang mengalami keterbatasan gerak. Dalam kondisi tersebut, alat bantu mobilitas, seperti kursi roda, dapat menjadi salah satu sarana yang mendukung aktivitas sehari-hari.
Bagi sebagian orang, kursi roda mungkin terlihat sebagai alat bantu biasa. Namun, bagi penggunanya, alat ini dapat membantu membuka lebih banyak kesempatan untuk bergerak dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial. Hal tersebut menunjukkan bahwa aksesibilitas perlu menjadi bagian dari perhatian bersama, termasuk dalam upaya membantu masyarakat yang membutuhkan.
Kursi Roda Bukan Sekadar Alat Bantu Mobilitas
Kursi roda merupakan alat bantu yang dapat mendukung seseorang dengan keterbatasan mobilitas untuk berpindah tempat. Penggunaannya dapat membantu aktivitas di rumah maupun di lingkungan luar, bergantung pada kondisi pengguna, kesesuaian alat, dan ketersediaan lingkungan yang mudah diakses.
Keterbatasan mobilitas tidak selalu berarti seseorang kehilangan kemampuan untuk beraktivitas secara mandiri. Dengan dukungan yang sesuai, sebagian pengguna kursi roda dapat melakukan lebih banyak kegiatan sesuai kemampuan dan kebutuhannya.
Karena itu, pemberian alat bantu perlu memperhatikan kondisi penerima. Kesesuaian jenis kursi roda, kenyamanan, keamanan, serta kebutuhan penggunaan menjadi aspek yang penting agar alat tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal.
Aksesibilitas Berpengaruh terhadap Aktivitas Sehari-hari
Tantangan mobilitas tidak hanya berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk bergerak. Kondisi lingkungan juga berpengaruh terhadap kemudahan seseorang menjalankan aktivitas.
Jalan yang tidak rata, tangga tanpa jalur alternatif, pintu yang sempit, dan fasilitas umum yang belum ramah pengguna kursi roda dapat membatasi akses seseorang. Akibatnya, meskipun telah memiliki alat bantu, pengguna masih mungkin mengalami kesulitan ketika ingin mengakses tempat atau layanan tertentu.
Oleh sebab itu, aksesibilitas tidak cukup diwujudkan melalui penyediaan alat bantu saja. Lingkungan yang aman, fasilitas yang dapat digunakan, serta dukungan keluarga dan masyarakat juga berperan dalam membantu penyandang disabilitas beraktivitas.
Kesadaran mengenai aksesibilitas penting untuk mendorong lingkungan yang lebih inklusif, sehingga setiap orang memiliki kesempatan yang lebih baik untuk berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat.
Bantuan yang Memperhatikan Kebutuhan Penerima
Program bantuan sosial dapat menjadi salah satu bentuk dukungan bagi masyarakat yang menghadapi keterbatasan akses terhadap alat bantu. Dalam pelaksanaannya, kebutuhan setiap penerima perlu dipahami agar bantuan yang diberikan sesuai dengan kondisi dan tujuan penggunaannya.
Pada bantuan kursi roda, misalnya, pertimbangan tidak hanya mencakup ketersediaan alat, tetapi juga kesesuaian dengan kondisi fisik pengguna dan kebutuhan mobilitasnya. Informasi tersebut dapat membantu memastikan bahwa bantuan memiliki manfaat yang relevan bagi penerima.
Selain itu, dukungan keluarga dan lingkungan sekitar dapat membantu pengguna memanfaatkan kursi roda dengan lebih aman. Apabila diperlukan, informasi mengenai cara penggunaan dan perawatan alat juga dapat mendukung pemanfaatannya dalam jangka panjang.
Pendekatan yang memperhatikan kebutuhan penerima menjadi penting agar bantuan tidak hanya dipandang sebagai barang yang diserahkan, tetapi sebagai dukungan untuk membantu mengatasi hambatan dalam kehidupan sehari-hari.
Peran Kepedulian Sosial dalam Mendorong Lingkungan Inklusif
Kepedulian terhadap penyandang disabilitas dapat diwujudkan melalui berbagai cara, mulai dari mendukung akses terhadap alat bantu hingga menciptakan lingkungan yang lebih ramah bagi semua orang.
Dalam pengelolaan zakat, infak, dan sedekah (ZIS), bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan merupakan salah satu bentuk pemanfaatan dana sosial sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pengelolaannya perlu dilakukan secara amanah, bertanggung jawab, dan memperhatikan kebutuhan penerima manfaat.
BAZNAS Kota Surabaya sebagai lembaga pengelola zakat di tingkat daerah memiliki peran dalam mendukung upaya kesejahteraan masyarakat melalui program-program yang dijalankan sesuai dengan ketentuan dan kebutuhan yang ada.
Dukungan terhadap aksesibilitas juga mengingatkan masyarakat bahwa kesejahteraan tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi. Kesempatan untuk bergerak, mengakses layanan, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial merupakan bagian penting dari kehidupan yang lebih inklusif.
Lebih dari Bantuan, Ada Kesempatan untuk Beraktivitas
Satu kursi roda tidak serta-merta menghilangkan seluruh hambatan yang dihadapi seseorang dengan keterbatasan mobilitas. Namun, apabila sesuai dengan kebutuhan pengguna dan didukung lingkungan yang aksesibel, alat bantu ini dapat menjadi salah satu sarana untuk mempermudah aktivitas sehari-hari.
Membangun kepedulian terhadap penyandang disabilitas berarti memahami kebutuhan mereka, menghormati kemandirian, serta mengurangi hambatan yang membatasi partisipasi dalam masyarakat.
Melalui kolaborasi antara lembaga, keluarga, dan masyarakat, upaya menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dapat terus dikembangkan. Sebab, bantuan yang bermakna bukan hanya tentang apa yang diberikan, tetapi juga tentang kesempatan yang dapat terbuka bagi penerimanya.
28/10/2026 | Putri - Magang
Saatnya Generasi Muda Bergerak Melalui Zakat dan Kepedulian Sosial
Setiap tanggal 28 Oktober, masyarakat Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda sebagai momentum untuk mengenang perjuangan generasi muda dalam menyatukan bangsa. Pada 2026, peringatan Hari Sumpah Pemuda memasuki usia ke-98 dengan tema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”. Tema tersebut mengajak generasi muda untuk menumbuhkan semangat kebangsaan, ketangguhan, dan kepedulian terhadap sesama. Semangat Sumpah Pemuda tidak hanya relevan dalam perjuangan menjaga persatuan, tetapi juga dapat diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah membangun kepedulian sosial dengan membantu masyarakat yang membutuhkan. Dalam hal ini, zakat, infak, dan sedekah dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan solidaritas serta memperkuat hubungan antarsesama.
Memaknai Sumpah Pemuda melalui Kepedulian Sosial
Sumpah Pemuda lahir dari Kongres Pemuda II yang berlangsung pada 27–28 Oktober 1928 di Jakarta. Para pemuda dari berbagai latar belakang menyatukan tekad untuk mengakui satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan, yaitu Indonesia. Ikrar tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah persatuan bangsa. Nilai persatuan tersebut dapat diterapkan melalui kepedulian terhadap kondisi masyarakat di sekitar kita. Perbedaan latar belakang ekonomi, sosial, maupun budaya bukan alasan untuk mengabaikan sesama. Sebaliknya, keberagaman menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang lebih peduli dan saling mendukung.
Generasi muda dapat mengambil bagian melalui berbagai kegiatan sosial, seperti menjadi relawan, membantu masyarakat yang membutuhkan, menggalang donasi secara bertanggung jawab, serta mengedukasi lingkungan sekitar tentang pentingnya berbagi. Langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih baik.
Zakat sebagai Wujud Kepedulian terhadap Sesama
Dalam ajaran Islam, zakat merupakan kewajiban bagi umat Islam yang telah memenuhi ketentuan. Selain zakat, infak dan sedekah juga menjadi bentuk berbagi yang dapat dilakukan sesuai kemampuan. Ketiganya memiliki peran penting dalam membantu masyarakat yang membutuhkan, meskipun ketentuan masing-masing berbeda. Zakat yang dikelola dengan baik dapat membantu memenuhi kebutuhan penerima manfaat atau mustahik sesuai ketentuan syariat. Penyalurannya dapat mendukung pemenuhan kebutuhan dasar maupun program pemberdayaan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Melalui pengelolaan zakat yang amanah dan tepat sasaran, dana zakat tidak hanya menjadi bentuk pelaksanaan kewajiban ibadah, tetapi juga instrumen untuk memperkuat solidaritas sosial. Oleh karena itu, pemahaman mengenai zakat perlu terus ditingkatkan, termasuk di kalangan generasi muda.
Peran Generasi Muda dalam Menguatkan Gerakan Zakat
Generasi muda memiliki peluang besar untuk menyebarkan semangat berbagi melalui kreativitas, pemanfaatan teknologi, dan kegiatan komunitas. Di tengah perkembangan digital, informasi mengenai zakat dapat disampaikan dengan cara yang lebih mudah dipahami dan menjangkau lebih banyak orang. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan generasi muda untuk mendukung gerakan zakat dan kepedulian sosial.
Meningkatkan literasi zakat. Memahami ketentuan dasar zakat, perbedaan zakat dan sedekah, serta pentingnya menyalurkan zakat melalui lembaga yang memiliki kewenangan.
Menggunakan media digital secara positif. Menyebarkan informasi edukatif tentang zakat dan kepedulian sosial berdasarkan sumber yang tepercaya.
Terlibat dalam kegiatan sosial. Berpartisipasi dalam kegiatan kerelawanan, penggalangan bantuan, atau program pemberdayaan masyarakat dengan tetap memperhatikan kebutuhan penerima manfaat.
Membiasakan perilaku berbagi. Menumbuhkan kepedulian melalui tindakan sederhana sesuai kemampuan dan tidak terbatas pada momentum peringatan tertentu.
Keterlibatan tersebut dapat menjadi bentuk kontribusi generasi muda dalam membangun lingkungan yang lebih peduli. Semangat patriotik tidak hanya diwujudkan dengan mencintai tanah air, tetapi juga melalui kesediaan untuk berkontribusi bagi kesejahteraan masyarakat.
BAZNAS Kota Surabaya Mengajak Masyarakat Menumbuhkan Kepedulian
Sebagai lembaga yang menjalankan pengelolaan zakat sesuai ketentuan yang berlaku, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) memiliki peran dalam menghimpun dan menyalurkan zakat serta mengelola infak dan sedekah sesuai ketentuan. Pengelolaan yang amanah, transparan, dan bertanggung jawab menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat. Momentum Hari Sumpah Pemuda dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kesadaran bahwa kepedulian terhadap sesama merupakan tanggung jawab bersama. Generasi muda, masyarakat, komunitas, dan berbagai pihak dapat mengambil peran sesuai kemampuan masing-masing dalam mendukung kegiatan sosial yang bermanfaat.
BAZNAS Kota Surabaya mengajak masyarakat untuk menjadikan semangat persatuan sebagai dorongan untuk terus menumbuhkan kepedulian sosial. Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan pemahaman tentang zakat serta menyalurkannya melalui lembaga pengelola zakat yang resmi dan tepercaya. Ajakan ini bukan sekadar tentang memberi bantuan, melainkan juga membangun kebiasaan untuk memperhatikan kebutuhan sesama dan mendukung terciptanya kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Semangat Sumpah Pemuda, Saatnya Bergerak untuk Sesama
Hari Sumpah Pemuda ke-98 menjadi pengingat bahwa semangat persatuan perlu diwujudkan melalui tindakan nyata. Nilai patriotik, gigih, dan berempati dapat dimulai dari lingkungan terdekat, termasuk dengan membantu sesama dan mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Melalui zakat, infak, sedekah, serta partisipasi dalam kegiatan sosial, generasi muda dapat mengambil bagian dalam membangun Indonesia yang lebih peduli dan berdaya. Tidak harus menunggu memiliki banyak hal untuk mulai berbagi, karena kepedulian dapat tumbuh dari langkah sederhana yang dilakukan dengan tulus dan bertanggung jawab.
Mari jadikan momentum Hari Sumpah Pemuda sebagai penguat semangat untuk terus bersatu, peduli, dan berkontribusi bagi sesama. Bersama BAZNAS Kota Surabaya, tumbuhkan kepedulian sosial dan dukung pengelolaan zakat yang amanah demi masyarakat yang lebih sejahtera.
27/10/2026 | Sabrina - Magang
Gaji Pertama dan Zakat Penghasilan: Apa yang Perlu Dipahami Pekerja Muda?
Menerima gaji pertama menjadi salah satu momen yang berkesan bagi seseorang yang baru memasuki dunia kerja. Setelah menjalani proses belajar, mencari pekerjaan, dan menyelesaikan berbagai tanggung jawab, penghasilan sendiri dapat memberikan rasa bangga sekaligus tanggung jawab baru. Gaji pertama biasanya mulai digunakan untuk berbagai kebutuhan, seperti transportasi, makan, membantu keluarga, membayar tagihan, hingga menyisihkan tabungan. Di tengah perencanaan keuangan tersebut, pekerja Muslim juga dapat mulai mempelajari ketentuan zakat penghasilan.
Zakat penghasilan merupakan bagian dari zakat mal yang dikenakan atas pendapatan halal dari pekerjaan atau profesi. Pendapatan yang dimaksud dapat berupa gaji, honorarium, upah, tunjangan, bonus, dan penghasilan jasa lainnya. Namun, menerima gaji pertama tidak serta-merta membuat seseorang wajib membayar zakat penghasilan. Ada ketentuan yang perlu dipahami, terutama mengenai nisab atau batas minimum penghasilan yang menjadi acuan kewajiban zakat.
Apa Itu Zakat Penghasilan?
Zakat penghasilan adalah zakat atas pendapatan yang diperoleh melalui pekerjaan atau profesi yang halal. Ketentuan ini dapat berlaku bagi pegawai, karyawan, tenaga profesional, maupun pekerja yang memperoleh penghasilan dari jasa. Menurut panduan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), nisab zakat penghasilan setara dengan nilai 85 gram emas per tahun, sedangkan kadar zakatnya sebesar 2,5 persen. Nominal nisab dalam rupiah dapat berubah mengikuti penetapan yang berlaku. Karena itu, pekerja muda perlu membedakan antara membiasakan diri berbagi dan memenuhi kewajiban zakat. Infak dan sedekah dapat dilakukan sesuai kemampuan, sedangkan kewajiban zakat penghasilan mengikuti ketentuan yang berlaku.
Berapa Nisab Zakat Penghasilan pada Tahun 2026?
BAZNAS RI menetapkan nisab zakat pendapatan dan jasa tahun 2026 sebesar Rp91.681.728 per tahun atau setara dengan Rp7.640.144 per bulan apabila menggunakan perhitungan bulanan. Angka tersebut dapat menjadi acuan untuk membantu pekerja memahami apakah penghasilannya telah mencapai nisab berdasarkan metode yang digunakan BAZNAS. Nilai ini bukan angka tetap untuk semua tahun karena penetapan nisab dalam rupiah dapat berubah. Dengan demikian, pekerja muda yang baru menerima gaji sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa dirinya wajib membayar zakat hanya berdasarkan status sebagai karyawan. Periksa jumlah penghasilan dan bandingkan dengan nisab yang berlaku.
Jika penghasilan bulanan belum mencapai nisab, BAZNAS juga menjelaskan bahwa penghasilan selama satu tahun dapat dihitung untuk melihat apakah jumlahnya telah memenuhi nisab tahunan. Bagi pekerja dengan pendapatan tidak tetap, pencatatan penghasilan secara berkala dapat membantu proses penghitungan.
Bagaimana Cara Menghitung Zakat Penghasilan?
Berdasarkan metode perhitungan bulanan yang digunakan BAZNAS, zakat penghasilan dihitung sebesar 2,5 persen dari penghasilan apabila telah memenuhi nisab. Rumus sederhananya:
Zakat penghasilan = 2,5% × jumlah penghasilan
Sebagai ilustrasi, apabila seseorang memiliki penghasilan Rp8.000.000 per bulan, jumlah tersebut berada di atas nisab bulanan BAZNAS tahun 2026 sebesar Rp7.640.144.
Jika menggunakan metode perhitungan BAZNAS tersebut, ilustrasi zakatnya adalah:
Rp8.000.000 × 2,5% = Rp200.000 per bulan.
Contoh ini merupakan simulasi berdasarkan penghasilan dan nisab tahun 2026, bukan penetapan kewajiban untuk setiap orang dalam semua kondisi. Untuk memastikan perhitungan sesuai dengan ketentuan yang digunakan, masyarakat dapat memeriksa panduan resmi BAZNAS atau berkonsultasi dengan amil zakat.
Mengapa Pekerja Muda Perlu Memahami Zakat Sejak Awal?
Memahami zakat penghasilan sejak mulai bekerja bukan berarti harus terburu-buru menyimpulkan kewajiban. Justru, pemahaman yang baik membantu seseorang mengelola pendapatan secara lebih terencana dan mengetahui kapan kewajiban zakat berlaku.
Ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:
Catat penghasilan. Rekap gaji, tunjangan, bonus, atau pendapatan lain yang relevan dengan perhitungan zakat.
Susun anggaran bulanan. Pisahkan kebutuhan pokok, kewajiban keuangan, tabungan, serta alokasi berbagi sesuai kemampuan.
Periksa nisab terbaru. Gunakan informasi resmi karena nominal rupiah nisab dapat berubah.
Hitung sesuai ketentuan. Jangan hanya memperkirakan berdasarkan nominal gaji; pahami metode penghitungan yang digunakan.
Gunakan sumber tepercaya. Jika masih ragu mengenai kondisi penghasilan atau cara perhitungan, mintalah penjelasan dari BAZNAS atau amil zakat yang kompeten.
Kebiasaan mencatat dan memeriksa penghasilan juga bermanfaat bagi pekerja yang menerima pendapatan tidak tetap, seperti pekerja lepas atau tenaga profesional.
Belajar Mengelola Penghasilan dengan Bijak
Gaji pertama dapat menjadi awal untuk membangun kebiasaan keuangan yang lebih baik. Selain memenuhi kebutuhan sehari-hari dan merencanakan masa depan, pekerja Muslim dapat mempelajari kewajiban zakat serta membiasakan diri berbagi sesuai kemampuan. Zakat memiliki dimensi ibadah sekaligus sosial. Melalui pengelolaan zakat yang sesuai ketentuan, dana yang dihimpun dapat disalurkan kepada golongan yang berhak menerimanya. BAZNAS Kota Surabaya mengajak masyarakat untuk meningkatkan literasi zakat dan mencari informasi melalui sumber resmi agar penunaian zakat dilakukan secara tepat. Dengan memahami ketentuannya sejak awal bekerja, pekerja muda dapat mengambil keputusan keuangan dengan lebih sadar, terencana, dan bertanggung jawab.
27/10/2026 | Sabrina - Magang
BAZNAS TV
Langkah baru Jian Asyagaf - Bantuan Kaki Palsu BAZNAS Kota Surabaya
Penulis: Abraham Adimukti
Salurkan Bantuan Kaki Palsu untuk Mustahik di Sumberrejo Pakal
Penulis: Abraham Adimukti



