Ketika Zakat Menjaga Alam
12/11/2025 | Penulis: Fachrudin
Zakat Menjaga Alam
Zakat, sebagai pilar ketiga dalam Islam, secara tradisional dipahami sebagai instrumen redistribusi kekayaan yang berfokus pada kesejahteraan sosial-ekonomi. Namun, di tengah tantangan krisis iklim dan kerusakan lingkungan global, muncul sebuah paradigma baru yang revolusioner: Zakat Hijau (Green Zakat). Konsep ini menegaskan bahwa misi suci zakat tidak hanya terbatas pada pemberdayaan manusia (hablum minannas), tetapi juga mencakup tanggung jawab vital untuk menjaga kelestarian alam (hablum minal alam).
"Ketika Zakat Menjaga Alam" adalah sebuah gerakan sinergis yang membuktikan bahwa filantropi Islam memiliki potensi transformatif untuk mendukung pembangunan berkelanjutan dan keadilan ekologis.
1. Dimensi Ekologis dalam Ajaran Islam: Amanah sebagai Khalifah
Inti dari konsep Zakat Hijau berakar pada pandangan dasar Islam tentang hubungan manusia dan alam. Manusia diangkat sebagai khalifah (pemimpin/pengelola) di bumi, yang membawa amanah untuk menjaga keseimbangan dan tidak melakukan kerusakan.
"Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (Allah) memperbaikinya." (QS. Al-A’raf: 56).
Ayat ini dan banyak hadis lainnya meletakkan dasar normatif bahwa menjaga lingkungan adalah bagian integral dari iman dan tanggung jawab sosial seorang Muslim. Kerusakan lingkungan yang masif saat ini, seperti polusi, deforestasi, dan krisis air bersih, tidak hanya merusak bumi, tetapi juga secara langsung berdampak pada golongan mustahik (fakir dan miskin) yang paling rentan terhadap bencana alam dan perubahan iklim.
Oleh karena itu, mengalokasikan dana zakat untuk pelestarian lingkungan bukanlah penyimpangan, melainkan perluasan makna maslahah (kemaslahatan umum) yang sejalan dengan tujuan syariah (maqashid syariah), yakni perlindungan jiwa dan harta, yang mustahil terwujud tanpa lingkungan yang sehat.
2. Implementasi Zakat Hijau: Aksi Nyata Berkelanjutan
Konsep Zakat Hijau mengubah cara pandang pengelolaan zakat, dari sekadar bantuan jangka pendek menjadi investasi jangka panjang bagi kesehatan planet dan umat manusia. Lembaga-lembaga zakat profesional kini mulai mengintegrasikan kerangka Zakat Hijau dengan program-program pembangunan berkelanjutan.
Fokus Program Zakat Hijau:
-
Konservasi dan Rehabilitasi Lahan: Pendanaan zakat untuk program reboisasi di lahan kritis, penanaman hutan mangrove di wilayah pesisir untuk mencegah abrasi, dan konservasi sumber daya air.
-
Energi Bersih dan Terbarukan: Pemanfaatan zakat untuk penyediaan infrastruktur energi bersih bagi masyarakat dhuafa, misalnya pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) atau pemasangan panel surya rumahan di desa-desa terpencil. Ini sekaligus mengurangi biaya hidup mustahik dan dampak karbon.
-
Ketahanan Pangan dan Pertanian Ramah Lingkungan: Pendampingan dan modal zakat produktif untuk petani dalam menerapkan pertanian organik dan berkelanjutan. Hal ini meningkatkan kualitas pangan mustahik sambil menjaga kesuburan tanah dari zat kimia berbahaya.
-
Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas: Dukungan zakat untuk program bank sampah, fasilitas daur ulang, dan edukasi pengurangan limbah di tingkat komunitas. Program ini tidak hanya membersihkan lingkungan tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru bagi mustahik.
3. Sinergi Zakat, Kemiskinan, dan Krisis Iklim
Korelasi antara kerusakan lingkungan dan kemiskinan sangat erat. Banjir, kekeringan, dan gagal panen akibat perubahan iklim selalu paling parah menimpa masyarakat miskin yang hidupnya bergantung langsung pada sumber daya alam.
Zakat Hijau hadir sebagai solusi terintegrasi:
-
Mengurangi Kerentanan Mustahik: Program konservasi (seperti penanaman mangrove) melindungi desa-desa pesisir dari gelombang pasang.
-
Menciptakan Mata Pencaharian Hijau: Pemberdayaan mustahik melalui usaha daur ulang, pertanian organik, atau instalasi energi terbarukan menciptakan ekonomi inklusif yang ramah lingkungan. Mustahik tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga menjadi agen perubahan lingkungan.
-
Mendukung Sustainable Development Goals (SDGs): Konsep Zakat Hijau selaras secara langsung dengan berbagai target SDGs PBB, khususnya terkait pengentasan kemiskinan (SDG 1), aksi iklim (SDG 13), dan kehidupan di darat (SDG 15).
Penutup: Membangun Green Culture Melalui Filantropi
Mengintegrasikan zakat dengan agenda lingkungan adalah langkah maju yang signifikan dalam filantropi Islam modern. Ini adalah bukti bahwa ajaran agama selalu relevan dalam menjawab tantangan zaman.
Dengan potensi dana zakat yang besar, Zakat Hijau adalah kekuatan finansial sosial alternatif yang dapat menjadi mitra strategis pemerintah dan lembaga global dalam mewujudkan ekonomi hijau yang adil. Misi utamanya: menanamkan budaya hijau (green culture) di tengah umat, meyakini bahwa setiap rupiah zakat yang disalurkan untuk alam adalah investasi spiritual dan material bagi generasi mendatang.
Pada akhirnya, ketika zakat menjaga alam, ia secara simultan menjaga manusia dari kemiskinan dan bencana. Inilah makna sejati dari keseimbangan abadi yang diajarkan Islam.
Artikel Lainnya
Digitalisasi ZIS: Peluang dan Tantangan di Era Ekonomi Digital
Zakat di Masa Sekarang: Pilar Ekonomi Umat dan Peran Strategis Entaskan Kemiskinan
WUJUDKAN SENYUM ANAK YATIM DENGAN ZAKAT
Kontribusi Generasi Z terhadap Optimalisasi Penghimpunan Zakat
Relevansi Milenial dan Gen Z Terkait Zakat Profesi vs. Zakat Maal di Era Digital
Bersama Pendayagunaan Zakat, Kita Bangun Harapan

Info Rekening Zakat
Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.
BAZNAS
