Nuzulul Qur’an : Menjaga Cahaya Wahyu di Bulan Ramadhan
27/02/2026 | Penulis: Septya
Nuzulul Qur’an : Menjaga Cahaya Wahyu di Bulan Ramadhan
Setiap Ramadan, umat Islam diingatkan pada satu peristiwa besar yang mengubah arah sejarah: turunnya Al-Qur’an. Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, sekaligus pembeda antara yang benar dan yang batil. Karena itu, peringatan Nuzulul Qur’an bukan hanya seremoni tahunan, melainkan ajakan untuk kembali menautkan hidup pada nilai-nilai wahyu dalam ibadah, akhlak, dan kepedulian sosial.
Di banyak daerah di Indonesia, Nuzulul Qur’an kerap diperingati pada malam 17 Ramadan. Momen ini biasa dikaitkan dengan awal turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira, ketika beliau menerima firman pertama yang diawali perintah “Iqra’” (bacalah). Kisah permulaan wahyu yang diriwayatkan dari Aisyah RA menggambarkan bagaimana Nabi SAW sebelumnya gemar menyendiri untuk beribadah dan merenung di Hira, sampai datangnya malaikat membawa wahyu. Pada saat yang sama, Al-Qur’an juga menyebut turunnya Al-Qur’an pada Lailatul Qadr. Para ulama menjelaskan bahwa tidak ada pertentangan: Al-Qur’an memiliki tahapan penurunan diturunkan secara “global” pada malam yang mulia, lalu diturunkan bertahap kepada Nabi Muhammad SAW sesuai kebutuhan dan peristiwa selama masa kerasulan. Penurunan yang bertahap ini menunjukkan perhatian Allah pada proses pendidikan umat: ayat-ayat hadir membimbing, menguatkan, dan menata kehidupan, sedikit demi sedikit, hingga membentuk masyarakat yang beradab.
Karena itu, cara terbaik memaknai Nuzulul Qur’an adalah mendekatkan diri pada Al-Qur’an secara nyata. Membacanya tentu penting, tetapi tidak cukup berhenti pada lantunan. Al-Qur’an perlu dihidupkan dalam perilaku: jujur dalam pekerjaan, adil dalam keputusan, menjaga lisan, serta peka terhadap keadaan sekitar. Ramadan menjadi waktu paling tepat untuk memulai kebiasaan kecil yang konsisten misalnya menambah porsi tilawah harian, memahami maknanya, lalu memilih satu nilai Al-Qur’an untuk dipraktikkan setiap pekan.
Di Kota Surabaya, semangat Nuzulul Qur’an juga dapat dirawat melalui gerakan sosial yang menebarkan manfaat. Zakat, infak, dan sedekah adalah wujud “membumikan” Al-Qur’an: membantu yang kesulitan, menguatkan keluarga rentan, dan membuka jalan kemandirian. Melalui BAZNAS Kota Surabaya, masyarakat dapat menyalurkan amanahnya secara terarah agar manfaatnya sampai kepada mustahik dengan lebih tepat dan berkelanjutan. Pada akhirnya, Nuzulul Qur’an mengingatkan kita: wahyu tidak turun untuk dibaca saja, tetapi untuk menuntun hidup agar Ramadan benar-benar menjadi bulan perubahan, bagi diri dan bagi sesama.
Artikel Lainnya
Gerakan Cinta Ramadhan sebagai Wujud Sinergi Kebaikan BAZNAS Surabaya dan Masyarakat
Nuzulul Qur’an sebagai Momentum Konsolidasi Nilai dan Aksi Sosial Umat
Menebar Kebaikan di Bulan Puasa: Program Ramadhan BAZNAS Surabaya
Nuzulul Qur’an dan Spirit Perubahan Sosial: Menghidupkan Nilai Wahyu dalam Gerakan Kepedulian
Puasa dan Penguatan Karakter Umat: Momentum Meningkatkan Kepedulian Sosial di Bulan Ramadhan
Memaknai Nuzulul Qur’an melalui Program Sosial BAZNAS Surabaya

Info Rekening Zakat
Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.
BAZNAS
