Bukti Cinta Sesama melalui Zakat Dalam Ibadah Vertikal Berdampak Horizontal
11/11/2025 | Penulis: Fachrudin
Bukti Cinta Sesama melalui Zakat
Zakat, sebagai salah satu dari lima Rukun Islam, seringkali dipahami dalam dimensi vertikal semata: sebuah kewajiban hamba kepada Tuhannya. Namun, hakikat zakat jauh melampaui batas ritual individu. Ia adalah manifestasi nyata dari cinta sesama, solidaritas sosial, dan kepedulian kemanusiaan yang diwajibkan oleh syariat. Zakat merupakan jembatan emas yang menghubungkan muzakki (pemberi zakat) dengan mustahik (penerima zakat), menciptakan harmoni dan keadilan dalam masyarakat.
1. Zakat: Tanda Cinta yang Menyucikan Harta dan Jiwa
Cinta kepada Allah SWT tidak terpisahkan dari cinta kepada sesama makhluk-Nya. Zakat adalah bukti konkret dari klaim cinta tersebut.
a. Menyucikan Jiwa dari Kekikiran (Syuhh)
Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 103, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka...”
Ayat ini menegaskan bahwa fungsi pertama zakat adalah penyucian. Zakat membersihkan harta dari hak-hak orang lain yang melekat di dalamnya. Lebih dalam lagi, ia membersihkan jiwa muzakki dari penyakit hati yang paling berbahaya: sifat kikir (syuhh) dan cinta dunia yang berlebihan. Ketika seseorang dengan ikhlas menyerahkan sebagian hartanya demi saudaranya, ia sedang melatih dirinya untuk melepaskan diri dari belenggu materi, membuktikan bahwa cintanya kepada Sang Pencipta lebih besar dari cintanya kepada harta. Inilah puncak kesalehan ritual yang berbuah kesalehan sosial.
b. Memenuhi Hak yang Melekat
Dalam pandangan Islam, harta kekayaan yang dimiliki oleh seseorang bukanlah hak mutlak 100% miliknya. Di dalamnya terkandung hak fakir miskin dan delapan asnaf lainnya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 19, “Dan pada harta-harta mereka ada hak bagi orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.”
Menunaikan zakat, oleh karena itu, bukan tindakan sedekah atau belas kasihan, melainkan sebuah tindakan pengembalian hak yang wajib. Kesadaran ini memposisikan zakat sebagai ibadah yang sangat mulia, sebuah tindakan keadilan yang ditegakkan dengan penuh kesadaran dan cinta.
2. Jembatan Kasih Sayang: Menghapus Kesenjangan Sosial
Zakat memainkan peran vital sebagai instrumen redistribusi kekayaan. Dalam masyarakat yang sering diwarnai ketimpangan, zakat berfungsi sebagai peredam kecemburuan sosial dan penumbuh ikatan persaudaraan (ukhuwah).
a. Memperkuat Solidaritas Sosial
Ketika si kaya dengan tulus berbagi kepada si miskin melalui mekanisme zakat yang terstruktur, rasa saling percaya dan empati akan tumbuh subur. Zakat adalah praktik gotong royong yang dilembagakan. Ia menghilangkan potensi rasa iri dan dengki dari pihak mustahik karena mereka merasa diperhatikan dan diakui haknya, sekaligus menghilangkan rasa sombong dan egois dari pihak muzakki. Hasilnya adalah komunitas yang harmonis, damai, dan stabil.
b. Mengangkat Derajat dan Memberi Harapan
Cinta sesama yang diwujudkan melalui zakat tidak berhenti pada pemberian konsumtif. Lembaga zakat modern semakin berfokus pada zakat produktif sebagai wujud cinta yang memiliki visi jangka panjang.
-
Pemberian Modal Usaha: Memberikan modal kerja kecil, bukan pinjaman, agar mustahik dapat memulai usaha dan keluar dari garis kemiskinan.
-
Beasiswa Pendidikan: Menjamin anak-anak dari keluarga tidak mampu mendapatkan akses pendidikan yang layak, yang merupakan kunci untuk mengubah nasib generasi.
Ini adalah bentuk cinta yang tidak hanya memberi ikan, tetapi juga memberikan kail dan pelatihan memancing. Zakat menjadi alat pemberdayaan yang mengangkat martabat mustahik dan memberikan harapan akan masa depan yang lebih cerah, memungkinkan mereka untuk bertransformasi menjadi muzakki di kemudian hari.
3. Zakat: Pilar Keadilan dan Keseimbangan Umat
Pada dasarnya, zakat adalah pilar keadilan sosial dalam Islam. Ia memastikan bahwa karunia Allah tidak hanya berputar di antara orang-orang kaya saja, melainkan mengalir ke seluruh lapisan masyarakat.
Membayar zakat bukan sekadar tindakan finansial, melainkan pernyataan iman dan komitmen kemanusiaan. Ini adalah bukti cinta kita kepada Allah, yang diejawantahkan melalui kepedulian yang mendalam terhadap saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Setiap kali seorang muzakki menunaikan zakatnya, ia sedang menanam benih kebaikan, keadilan, dan kasih sayang yang manfaatnya akan dipanen bersama oleh seluruh umat.
Zakat adalah keindahan Islam. Ia adalah ibadah yang mengajarkan bahwa kekayaan yang kita miliki hanya bernilai sejati ketika ia menjadi alat untuk meringankan beban dan menyejahterakan sesama. Tunaikan zakat dengan penuh kesadaran dan cinta, maka kita telah membuktikan bahwa kita benar-benar mencintai sesama dan berkomitmen pada terciptanya masyarakat yang adil dan berkeadilan.
Artikel Lainnya
WUJUDKAN SENYUM ANAK YATIM DENGAN ZAKAT
Peran BAZNAS Surabaya dalam Optimalisasi Pengelolaan Zakat, Infak, dan Sedekah
Hikmah Setelah Gajian untuk Infak dan Sedekah
Dari Zakat ke Manfaat Mengubah Dana menjadi Pemberdayaan Umat
Infak Strategis: Mengubah Kebiasaan Konsumtif Menjadi Kebiasaan Produktif
Strategi Fundraising Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS): Inovasi, Kepercayaan, dan Transformasi Digital

Info Rekening Zakat
Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.
BAZNAS
