Istiqamah di Tengah Kesibukan Dunia Modern: Menjaga Konsistensi Ibadah di Era Serba Cepat
30/10/2025 | Penulis: Abraham Adimukti
Visualisasi Istiqomah saat beribadah
Dalam kehidupan modern yang serba cepat, manusia dihadapkan pada berbagai kesibukan dan tekanan yang sering kali membuat hati lelah dan waktu terasa sempit. Rutinitas pekerjaan, tanggung jawab keluarga, hingga tuntutan sosial media sering membuat manusia terjebak dalam pusaran duniawi yang melelahkan. Di tengah semua itu, menjaga konsistensi dalam beribadah menjadi tantangan besar. Namun, justru di sinilah nilai keimanan seseorang diuji—mampukah ia tetap istiqamah dalam menjalankan kewajiban kepada Allah meskipun dikepung kesibukan dunia?
Makna Istiqamah dan Konsistensi Ibadah
Istiqamah secara bahasa berarti teguh dan lurus di atas jalan yang benar. Dalam konteks ibadah, istiqamah berarti terus menerus berpegang pada ketaatan kepada Allah tanpa terputus atau berubah karena keadaan. Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada ketakutan terhadap mereka dan mereka tidak (pula) bersedih hati."
(QS. Al-Ahqaf [46]: 13)
Ayat ini menunjukkan bahwa istiqamah adalah tanda keimanan sejati. Orang yang istiqamah tidak hanya beriman secara lisan, tetapi juga membuktikannya melalui konsistensi amal dan ibadahnya, meski dalam situasi sesulit apa pun.
Rasulullah SAW bersabda ketika seorang sahabat bertanya tentang amalan yang paling dicintai Allah:
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus, meskipun sedikit.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa konsistensi lebih utama daripada banyaknya ibadah yang tidak berkelanjutan. Ibadah yang kecil namun terus dilakukan, seperti salat tepat waktu, membaca Al-Qur’an setiap hari, atau berzikir sebelum tidur, memiliki nilai yang besar di sisi Allah.
Tantangan Ibadah di Era Modern
Dunia modern memberikan banyak kemudahan, namun juga membawa tantangan spiritual yang tidak ringan. Di antara tantangan terbesar adalah:
-
Waktu yang terasa sempit
Jadwal kerja padat, transportasi yang macet, serta berbagai tanggung jawab sosial membuat banyak orang merasa sulit menyisihkan waktu untuk ibadah. Padahal, Allah telah mengingatkan:
“Maka apabila kamu telah selesai (dari satu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah kamu berharap.”
(QS. Al-Insyirah [94]: 7–8)
Ayat ini menegaskan bahwa setiap kesibukan dunia harus diimbangi dengan kesibukan spiritual agar hati tidak gersang. -
Gangguan teknologi dan media sosial
Ponsel, notifikasi, dan hiburan digital sering mengalihkan perhatian dari waktu ibadah. Banyak orang tanpa sadar menunda salat hanya karena tenggelam dalam dunia maya. Padahal, Rasulullah SAW bersabda:
“Perbedaan antara orang beriman dan kafir adalah meninggalkan salat.”
(HR. Muslim)
Betapa besar bahaya jika kesibukan digital membuat seseorang mengabaikan kewajiban yang menjadi tiang agama. -
Godaan gaya hidup materialistis
Dunia modern menanamkan nilai bahwa kesuksesan diukur dari harta dan jabatan. Hal ini membuat manusia sibuk mengejar dunia tanpa mempersiapkan akhiratnya. Allah memperingatkan:
“Ketahuilah, bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan.”
(QS. Al-Hadid [57]: 20)
Ibadah menjadi ringan jika hati terikat pada dunia, namun akan menjadi nikmat jika hati terikat pada Allah.
Strategi Menjaga Konsistensi Ibadah
Menjaga konsistensi ibadah di tengah kesibukan bukan berarti harus meninggalkan dunia, melainkan menata prioritas agar dunia tidak melalaikan akhirat. Berikut beberapa langkah praktis untuk tetap istiqamah:
-
Menjadwalkan ibadah sebagaimana menjadwalkan pekerjaan
Gunakan pengingat atau alarm untuk waktu salat, tilawah, dan zikir harian. Dengan disiplin waktu, ibadah tidak lagi menjadi beban, tetapi kebutuhan. -
Menghadirkan niat ikhlas dalam setiap aktivitas
Pekerjaan, belajar, dan aktivitas sehari-hari bisa bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dengan niat yang benar, bahkan kesibukan dunia bisa menjadi ladang pahala. -
Mulai dari ibadah kecil namun konsisten
Bacalah Al-Qur’an meskipun hanya beberapa ayat setiap hari. Lakukan salat sunnah meskipun hanya dua rakaat. Konsistensi kecil seperti ini akan memperkuat ruh dan membangun kebiasaan baik. -
Menjaga lingkungan dan komunitas yang mendukung
Bergaul dengan orang saleh dan komunitas pengajian dapat menumbuhkan semangat ibadah. Allah SWT berfirman:
“Bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari dengan mengharap keridhaan-Nya.”
(QS. Al-Kahfi [18]: 28)
Lingkungan yang baik akan mengingatkan ketika lalai dan menguatkan ketika lemah. -
Menjadikan ibadah sebagai sumber ketenangan, bukan rutinitas
Salat, zikir, dan doa bukan sekadar kewajiban formal, tetapi jalan untuk menemukan kedamaian batin. Allah berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d [13]: 28)
Buah dari Konsistensi Ibadah
Orang yang mampu menjaga ibadah di tengah kesibukan akan merasakan ketenangan, kemudahan, dan keberkahan hidup. Waktu terasa lebih lapang, pikiran lebih jernih, dan rezeki datang dengan cara yang tak disangka. Allah SWT berjanji:
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”
(QS. At-Talaq [65]: 2–3)
Konsistensi ibadah juga menjadikan seseorang lebih sabar menghadapi ujian, lebih tenang dalam mengambil keputusan, dan lebih bersyukur atas nikmat yang dimiliki. Itulah buah dari hati yang selalu terhubung dengan Allah di tengah hiruk pikuk dunia.
Penutup
Menjaga konsistensi ibadah di tengah kesibukan dunia modern adalah bentuk jihad spiritual yang nyata. Di saat banyak orang kehilangan arah karena tenggelam dalam dunia, orang yang tetap beribadah dengan istiqamah sesungguhnya sedang menjaga cahaya imannya agar tidak padam. Dunia modern memang menuntut kecepatan, tetapi ibadah menuntut ketenangan. Keduanya bisa berjalan berdampingan jika manusia menata prioritasnya dengan benar.
Maka, marilah kita terus berjuang menjaga hubungan dengan Allah, meski dunia terus berubah. Karena pada akhirnya, bukan seberapa sibuk kita yang akan diingat Allah, tetapi seberapa istiqamah kita dalam beribadah kepada-Nya.
“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan kepadamu...”
(QS. Hud [11]: 112)
Artikel Lainnya
Digitalisasi ZIS: Peluang dan Tantangan di Era Ekonomi Digital
Peran BAZNAS Surabaya dalam Optimalisasi Pengelolaan Zakat, Infak, dan Sedekah
5 Manfaat Nyata Zakat untuk Anda dan Masyarakat
Zakat di Masa Sekarang: Pilar Ekonomi Umat dan Peran Strategis Entaskan Kemiskinan
BAZNAS dalam Perspektif Sosiologi: Mengelola Zakat, Merajut Solidaritas
Tata Kelola Zakat yang Efektif

Info Rekening Zakat
Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.
BAZNAS
