KAKI PALSU, HARAPAN NYATA: SINERGI ZAKAT DAN NEGARA UNTUK MARTABAT DIFABEL
02/02/2026 | Penulis: Naufal
KAKI PALSU, HARAPAN NYATA: SINERGI ZAKAT DAN NEGARA UNTUK MARTABAT DIFABEL
Di tengah kesibukan Kota Surabaya, ada satu kabar baik yang patut diapresiasi. Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Surabaya bersama Unit Pengumpulan Zakat (UPZ) Dinas Sosial menyalurkan bantuan kaki palsu kepada seorang warga bernama Ibu Ernik di kawasan Menur, Kecamatan Gubeng. Bagi sebagian orang, ini mungkin terlihat sebagai bantuan kecil. Namun, bagi penerima, bantuan ini bisa menjadi awal kehidupan baru.
Kehilangan kaki bukan hanya soal kondisi fisik. Itu juga soal kehilangan kesempatan, rasa percaya diri, bahkan masa depan. Karena itu, pemberian kaki palsu bukan sekadar bantuan medis, tetapi bentuk nyata kepedulian sosial yang menyentuh sisi kemanusiaan paling dasar.
Disabilitas dan Realitas Sosial
Penyandang disabilitas masih sering berada di posisi paling rentan dalam masyarakat. Banyak dari mereka kesulitan mengakses pendidikan, pekerjaan, layanan kesehatan, hingga fasilitas umum. Trotoar yang tidak ramah difabel, transportasi umum yang sulit diakses, dan minimnya lapangan kerja inklusif membuat mereka semakin terpinggirkan.
Dalam kondisi seperti ini, alat bantu seperti kaki palsu sangat penting. Dengan alat tersebut, penyandang disabilitas bisa bergerak lebih bebas, kembali bekerja, dan beraktivitas seperti orang lain. Artinya, bantuan ini tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga pada mental dan ekonomi.
Zakat yang Nyata dan Berdampak
Selama ini, zakat sering dipahami hanya sebagai kewajiban agama. Padahal, zakat juga merupakan alat keadilan sosial. Zakat membantu mengurangi kesenjangan antara yang mampu dan yang membutuhkan.
Program bantuan kaki palsu dari BAZNAS menunjukkan bahwa zakat bisa digunakan untuk hal-hal yang sangat konkret dan bermanfaat. Bukan hanya untuk bantuan sembako atau santunan, tetapi juga untuk memberdayakan orang agar mandiri.
Ketika seseorang kembali bisa berjalan dan bekerja, ia tidak lagi sepenuhnya bergantung pada bantuan orang lain. Di sinilah zakat menjadi alat pemberdayaan, bukan sekadar bantuan sesaat.
Sinergi yang Perlu Ditiru
Kerja sama antara BAZNAS dan Dinas Sosial adalah contoh sinergi yang baik antara lembaga keagamaan dan pemerintah. Pemerintah punya data dan jaringan pelayanan sosial, sementara BAZNAS punya dana sosial dari masyarakat. Jika keduanya bekerja bersama, dampaknya bisa jauh lebih besar.
Model kerja sama seperti ini seharusnya diperluas. Tidak hanya untuk kaki palsu, tetapi juga untuk kursi roda, alat bantu dengar, pelatihan kerja bagi difabel, hingga bantuan usaha kecil. Dengan sinergi yang kuat, program sosial tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling melengkapi.
Dampak Lebih dari Sekadar Bantuan
Satu kaki palsu mungkin hanya membantu satu orang. Tapi dampaknya bisa lebih luas. Program ini bisa menginspirasi masyarakat untuk lebih peduli. Bisa mendorong lembaga lain untuk melakukan hal serupa. Dan bisa mengubah cara pandang masyarakat terhadap penyandang disabilitas.
Difabel bukan objek belas kasihan. Mereka adalah bagian dari masyarakat yang punya potensi besar. Yang mereka butuhkan adalah akses dan dukungan yang tepat. Dengan alat bantu dan lingkungan yang ramah, mereka bisa hidup mandiri dan produktif.
Tantangan yang Masih Ada
Meski program ini patut diapresiasi, tantangan masih besar. Harga kaki palsu tidak murah. Banyak keluarga tidak mampu membelinya. Di sisi lain, fasilitas publik yang ramah difabel masih terbatas.
Trotoar yang rusak, gedung tanpa ramp, transportasi yang tidak aksesibel, semua itu membuat difabel tetap kesulitan meski sudah punya alat bantu. Karena itu, bantuan individu harus dibarengi dengan kebijakan kota yang inklusif.
Surabaya sudah dikenal sebagai kota yang maju. Tapi kota maju tidak hanya diukur dari gedung tinggi dan jalan besar. Kota maju adalah kota yang ramah bagi semua warganya, termasuk difabel.
Zakat dan Masa Depan Kota
Apa yang dilakukan BAZNAS Surabaya menunjukkan bahwa zakat bisa menjadi bagian penting dari pembangunan sosial. Jika dikelola dengan baik, zakat bisa membantu pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan sosial masyarakat.
Namun, keberhasilan ini juga tergantung pada masyarakat sebagai pemberi zakat. Semakin banyak orang yang percaya dan menyalurkan zakat melalui lembaga resmi, semakin besar pula dampak sosial yang bisa dirasakan.
Transparansi dan profesionalisme BAZNAS juga penting agar kepercayaan publik terus meningkat. Dengan pengelolaan yang baik, zakat bisa menjadi solusi nyata bagi banyak masalah sosial.
Ukuran Kemanusiaan Sebuah Kota
Kisah bantuan kaki palsu untuk Ibu Ernik mengingatkan kita bahwa kemajuan kota bukan hanya soal infrastruktur dan ekonomi. Kemanusiaan adalah ukuran yang lebih penting. Bagaimana kota memperlakukan warga yang paling lemah adalah cerminan peradaban.
Ketika seorang warga difabel mendapatkan alat bantu untuk berjalan kembali, itu bukan hanya soal teknologi medis. Itu soal harapan, martabat, dan hak untuk hidup layak.
Dari Bantuan ke Perubahan Sosial
Bantuan kaki palsu ini mungkin hanya satu program kecil. Tetapi jika dilakukan terus-menerus dan diperluas, dampaknya bisa besar. Sinergi antara BAZNAS dan Dinas Sosial bisa menjadi contoh nasional bagaimana zakat dan kebijakan sosial berjalan bersama.
Semoga program seperti ini tidak berhenti pada satu orang atau satu wilayah. Karena di luar sana, masih banyak penyandang disabilitas yang menunggu uluran tangan. Dan bagi mereka, satu alat bantu bisa berarti satu kesempatan baru untuk hidup lebih baik.
Kaki palsu bukan hanya alat. Ia adalah simbol harapan baru.
Artikel Lainnya
Nisfu Sya’ban: Momentum Refleksi dan Penguatan Kepedulian Sosial BAZNAS Kota Surabaya
Fidyah: Solusi Syariat bagi yang Berhalangan Puasa
Kafarat Bukan Sekadar Denda, tapi Pendidikan Spiritual
H-30 Ramadan, Zakat, Infak, dan Sedekah Disiapkan untuk Menyambut Bulan Suci
Nisfu Syaban: Momentum Pengampunan dan Persiapan Menyambut Ramadan
Fidyah sebagai Simbol Rekonsiliasi antara Tubuh dan Syariat

Info Rekening Zakat
Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.
BAZNAS
