WhatsApp Icon

Mempertemukan Literasi, Teknologi, dan Kepercayaan Masyarakat

25/09/2026  |  Penulis: Cyntia - Magang

Bagikan:URL telah tercopy
Mempertemukan Literasi, Teknologi, dan Kepercayaan Masyarakat

Ekosistem Zakat di Era Modern

Perubahan teknologi tidak hanya mengubah cara masyarakat berkomunikasi dan bertransaksi, tetapi juga memengaruhi cara seseorang mencari informasi dan menjalankan aktivitas keagamaan. Zakat menjadi salah satu bagian yang ikut mengalami perubahan tersebut.

Saat ini, masyarakat dapat menemukan informasi mengenai zakat melalui berbagai kanal digital, berkonsultasi secara daring, hingga menggunakan layanan pembayaran tanpa harus datang langsung ke kantor lembaga zakat. Namun, kemudahan teknologi saja belum cukup. Di balik layanan yang semakin praktis, tetap ada kebutuhan terhadap pemahaman dan kepercayaan masyarakat.

Karena itu, membangun ekosistem zakat di era modern tidak hanya berbicara tentang digitalisasi, tetapi juga bagaimana literasi, teknologi, dan tata kelola berjalan secara beriringan.

Ketika Informasi Zakat Ada di Mana-Mana

Masyarakat saat ini memiliki akses informasi yang jauh lebih luas dibandingkan sebelumnya. Pertanyaan mengenai zakat dapat dicari melalui internet, media sosial, maupun berbagai platform digital. Kondisi ini menjadi peluang sekaligus tantangan.

Informasi yang mudah ditemukan belum tentu selalu dipahami dengan benar. Masyarakat tetap membutuhkan sumber informasi yang dapat dipercaya, terutama ketika menyangkut ketentuan zakat, cara menghitung, maupun mekanisme pembayarannya.

Di sinilah literasi zakat memiliki peran penting. Masyarakat bukan hanya perlu mengetahui bahwa zakat merupakan kewajiban, tetapi juga memahami bagaimana menunaikannya sesuai ketentuan.

BAZNAS Kota Surabaya sendiri menempatkan peningkatan literasi zakat sebagai salah satu bagian dari misinya, bersamaan dengan pengembangan layanan pengumpulan yang mudah dan transparan serta penerapan manajemen yang terintegrasi melalui transformasi digital.

Teknologi Mengubah Cara Masyarakat Mengakses Layanan Zakat

Dulu, seseorang mungkin harus datang langsung untuk mendapatkan informasi atau menunaikan zakat. Sekarang, teknologi memungkinkan berbagai proses dilakukan dengan lebih praktis.

BAZNAS Kota Surabaya telah menyediakan berbagai akses layanan pembayaran, termasuk melalui layanan kantor, transfer perbankan, dan platform digital. Perkembangan tersebut menjadi salah satu bentuk adaptasi layanan terhadap kebiasaan masyarakat yang semakin dekat dengan teknologi. Namun, digitalisasi bukan sekadar memindahkan layanan ke layar ponsel.

Teknologi seharusnya membuat masyarakat lebih mudah mendapatkan informasi, memahami layanan, dan melakukan transaksi zakat secara aman. Dengan demikian, transformasi digital perlu berjalan bersama peningkatan kualitas pelayanan dan tata kelola lembaga.

Kepercayaan Tidak Bisa Dibangun Hanya dengan Teknologi Semakin mudah seseorang membayar zakat, semakin penting pula bagi lembaga untuk memastikan masyarakat mengetahui bagaimana dana tersebut dikelola.

Kepercayaan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari ekosistem zakat.

Salah satu bentuknya adalah keterbukaan dalam pelaporan. Pada September 2026, BAZNAS Kota Surabaya menyerahkan Laporan Kinerja Semester I periode Januari–Juni 2026 kepada BAZNAS Provinsi Jawa Timur. Laporan tersebut mencakup pelaksanaan dan capaian kelembagaan, termasuk pengelolaan ZIS dari penghimpunan hingga pendistribusian dan pendayagunaan.

BAZNAS Kota Surabaya juga menyerahkan laporan kinerja kepada Bapemkesra Kota Surabaya sebagai bagian dari komitmen menjaga transparansi, akuntabilitas, serta koordinasi dengan Pemerintah Kota Surabaya.

Artinya, membangun kepercayaan tidak berhenti pada menyediakan kanal pembayaran. Ada proses lain yang harus berjalan, mulai dari pencatatan, pengelolaan, pelaporan, hingga evaluasi.

Generasi Muda dan Masa Depan Ekosistem Zakat

Generasi muda menjadi salah satu kelompok yang dekat dengan perkembangan teknologi. Mereka terbiasa mencari informasi melalui media digital, menggunakan layanan daring, dan melakukan transaksi secara elektronik.

Kondisi tersebut membuka ruang bagi lembaga zakat untuk menghadirkan pendekatan komunikasi yang lebih sesuai dengan kebiasaan generasi muda.

BAZNAS Kota Surabaya bahkan pernah menyelenggarakan Pelatihan Fundraising 2026 yang melibatkan 100 peserta dari kalangan mahasiswa dan generasi Z. Kegiatan tersebut diarahkan untuk memperkuat strategi penghimpunan ZIS di era digital sekaligus mendorong keterlibatan generasi muda dalam gerakan filantropi Islam.

Hal ini menunjukkan bahwa generasi muda bukan hanya dapat ditempatkan sebagai penerima informasi mengenai zakat, tetapi juga dapat menjadi bagian dari perkembangan ekosistem zakat itu sendiri.

Tiga Hal yang Saling Terhubung

Jika dilihat lebih jauh, ekosistem zakat modern setidaknya memiliki tiga unsur yang saling berkaitan.

Pertama, literasi. Masyarakat perlu memiliki pemahaman yang cukup agar tidak sekadar membayar zakat, tetapi mengetahui kewajiban dan mekanismenya.

Kedua, teknologi. Layanan digital dapat memperpendek jarak antara masyarakat dan lembaga zakat serta memberikan pilihan layanan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini

Ketiga, kepercayaan. Kemudahan layanan perlu disertai tata kelola yang transparan dan akuntabel agar masyarakat memiliki keyakinan terhadap lembaga yang mengelola zakat.

Ketiganya tidak dapat berjalan sendiri. Teknologi tanpa literasi dapat membuat masyarakat hanya berfokus pada kemudahan transaksi. Literasi tanpa akses layanan yang memadai dapat menyulitkan masyarakat dalam praktiknya. Sementara itu, keduanya membutuhkan tata kelola yang baik untuk membangun kepercayaan.

Membangun Zakat yang Relevan dengan Perubahan Zaman

Zakat akan terus berada di tengah kehidupan masyarakat, tetapi cara masyarakat mengenal dan menunaikannya dapat berubah mengikuti perkembangan zaman.

Karena itu, pengelolaan zakat juga perlu mampu beradaptasi tanpa kehilangan prinsip amanah dan akuntabilitas.

Bagi BAZNAS Kota Surabaya, perkembangan tersebut dapat menjadi ruang untuk memperkuat layanan, meningkatkan literasi, memanfaatkan teknologi, sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat.

Pada akhirnya, ekosistem zakat yang kuat bukan hanya tentang seberapa mudah seseorang membayar zakat. Lebih dari itu, ekosistem tersebut dibangun ketika masyarakat memahami zakat, memiliki akses untuk menunaikannya, dan percaya bahwa amanah tersebut dikelola melalui tata kelola yang baik.

Bagikan:URL telah tercopy

Artikel Lainnya

Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Surabaya.

Lihat Daftar Rekening →