Tauhid, Integrasi Keilmuan, dan Kesatuan Kemanusiaan
31/10/2025 | Penulis: Muhammad Fachrudin
Tauhid, Ilmu dan Manusia
Pendahuluan
Dalam tradisi Islam, tauhid bukan hanya sekadar pengakuan terhadap keesaan Allah secara teologis, tetapi juga merupakan asas filosofis yang mendasari seluruh aspek kehidupan manusia. Tauhid adalah prinsip yang menegaskan kesatuan eksistensi, sumber nilai, dan arah tujuan kehidupan. Dari sinilah muncul konsep kesatuan dalam berbagai ranah: kesatuan pengetahuan (unity of knowledge), kesatuan alam semesta (unity of creation), dan kesatuan kemanusiaan (unity of humanity).
Sayangnya, dalam sejarah modern, umat Islam sering terjebak pada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu dunia. Akibatnya, muncul fragmentasi pemikiran yang memisahkan wahyu dari rasio, serta memisahkan antara nilai-nilai spiritual dan praksis kehidupan sosial. Padahal, dalam pandangan Islam, seluruh ilmu bersumber dari satu kebenaran yang sama yaitu Allah sebagai Al-‘Alim, sumber segala pengetahuan. Oleh karena itu, integrasi keilmuan menjadi misi penting dalam membangun peradaban Islam yang utuh dan berkeadaban.
Tulisan ini berusaha mengkaji makna tauhid sebagai dasar integrasi keilmuan dan kesatuan kemanusiaan dalam kerangka filsafat Islam. Dengan memadukan pandangan teologis, epistemologis, dan sosial-humanistik, diharapkan muncul pemahaman baru tentang bagaimana tauhid mampu menjadi paradigma transformatif bagi ilmu pengetahuan dan kemanusiaan global.
Tauhid sebagai Prinsip Ontologis dan Epistemologis
Secara ontologis, tauhid menegaskan bahwa seluruh realitas berasal dari satu sumber, yakni Allah SWT. Segala sesuatu di alam semesta ini adalah manifestasi dari kehendak dan kekuasaan-Nya. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an, “Allah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu” (QS. Az-Zumar [39]: 62). Pandangan ini menolak segala bentuk dualisme atau pluralisme metafisik yang memisahkan antara dunia material dan spiritual.
Sementara secara epistemologis, tauhid menegaskan bahwa sumber pengetahuan manusia tidak terbatas pada rasio dan pengalaman indrawi semata, melainkan juga mencakup wahyu ilahi. Dengan demikian, epistemologi Islam tidak hanya bersifat empiris-rasional, tetapi juga teosentris. Wahyu menjadi poros utama dalam mengarahkan manusia agar ilmu yang diperoleh tidak menjerumuskan pada kesombongan intelektual, melainkan menuju pengenalan dan penghambaan kepada Allah.
Dari sinilah muncul gagasan tentang integrasi epistemologi Islam, yakni penyatuan antara ilmu naqliyah (wahyu) dan aqliyah (akal) dalam satu kerangka keilmuan yang koheren. Tauhid sebagai asas epistemik memandu manusia untuk melihat seluruh pengetahuan sebagai bagian dari upaya mengenal dan memakmurkan ciptaan Allah. Ilmu, dengan demikian, bukan hanya sarana penguasaan alam, tetapi juga bentuk ibadah dan pengabdian kepada Tuhan.
Integrasi Keilmuan: Menyatukan Ilmu Wahyu dan Ilmu Empiris
Krisis peradaban modern banyak berakar pada fragmentasi keilmuan. Ilmu pengetahuan modern, meskipun berhasil menciptakan kemajuan teknologi, sering terlepas dari nilai moral dan spiritual. Akibatnya, lahir paradoks kemajuan: manusia menguasai alam tetapi kehilangan makna kemanusiaan. Dalam konteks inilah Islam menawarkan paradigma integratif yang berlandaskan tauhid.
Integrasi keilmuan dalam Islam bertumpu pada tiga dimensi utama: ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Secara ontologis, seluruh objek ilmu memiliki kesatuan sumber, yaitu ciptaan Allah. Secara epistemologis, semua cara memperoleh ilmu (wahyu, akal, dan pengalaman) harus dikembalikan kepada prinsip tauhid. Secara aksiologis, tujuan ilmu adalah kemaslahatan dan pengabdian kepada Allah.
Para pemikir Muslim kontemporer seperti Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Ismail Raji al-Faruqi menegaskan pentingnya Islamisasi ilmu pengetahuan bukan dalam arti menolak sains modern, tetapi menata kembali kerangka nilai dan worldview-nya agar sesuai dengan prinsip tauhid. Ilmu harus dikembangkan untuk menegakkan keadilan, menyejahterakan manusia, dan menjaga keseimbangan alam sebagai amanah Tuhan.
Integrasi ini juga menolak dikotomi antara ulama dan ilmuwan. Dalam paradigma tauhid, pencari ilmu di bidang apapun baik fisika, ekonomi, maupun tafsir semuanya berperan sebagai hamba dan khalifah Allah di bumi. Keduanya sama-sama memiliki misi memakmurkan kehidupan dan menegakkan kebenaran. Maka, pendidikan Islam yang ideal harus mengembangkan integrated knowledge yang menyatukan dimensi spiritual, intelektual, sosial, dan ekologis.
Kesatuan Kemanusiaan: Tauhid sebagai Landasan Etika Global
Selain menjadi asas integrasi keilmuan, tauhid juga menegaskan prinsip kesatuan kemanusiaan. Islam memandang seluruh manusia berasal dari satu asal yang sama, sebagaimana firman Allah: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal” (QS. Al-Hujurat [49]: 13).
Ayat ini menunjukkan bahwa pluralitas manusia bukanlah alasan untuk berpecah belah, tetapi untuk saling memahami dan bekerja sama. Tauhid melahirkan etika universal yang menolak diskriminasi ras, etnis, dan kelas sosial. Setiap manusia memiliki martabat yang sama sebagai makhluk ciptaan Allah.
Dari sinilah muncul konsep ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan), yang melampaui sekat-sekat keagamaan dan kebangsaan. Dalam pandangan tauhidik, kemanusiaan adalah satu kesatuan spiritual yang tidak dapat dipisahkan oleh kepentingan duniawi. Prinsip ini menjadi dasar bagi misi Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya bagi umat Islam.
Tauhid, dengan demikian, memiliki implikasi sosial yang mendalam. Ia menuntut terwujudnya keadilan, keseimbangan, dan kasih sayang dalam kehidupan bersama. Integrasi antara iman dan amal, antara ibadah dan sosial, adalah bentuk nyata dari implementasi tauhid dalam ranah kemanusiaan.
Tauhid dan Etika Transformasi Sosial
Tauhid juga memiliki dimensi praksis yang menuntun manusia untuk melakukan perubahan sosial. Dalam sejarah Islam, keimanan tidak hanya melahirkan spiritualitas personal, tetapi juga mendorong lahirnya transformasi sosial yang berkeadilan. Nabi Muhammad SAW membangun masyarakat Madinah berdasarkan prinsip tauhid yang menolak tirani, eksploitasi, dan ketimpangan sosial.
Etika tauhid menuntut agar manusia tidak tunduk pada kekuasaan selain Allah baik dalam bentuk ideologi, kapital, maupun kekuasaan politik. Karena itu, tauhid menjadi dasar pembebasan manusia dari segala bentuk perbudakan modern. Tauhid yang sejati adalah kesadaran eksistensial bahwa hanya Allah yang layak disembah dan ditaati; semua sistem sosial harus tunduk kepada nilai-nilai ilahi yang menegakkan keadilan dan kesejahteraan.
Transformasi sosial dalam perspektif tauhid bukan sekadar revolusi politik, tetapi juga revolusi kesadaran. Masyarakat yang beriman adalah masyarakat yang berilmu, berakhlak, dan berkeadilan. Dalam konteks modern, hal ini berarti membangun peradaban yang berbasis pada nilai-nilai spiritual, ilmu pengetahuan, dan kemanusiaan universal.
Integrasi Keilmuan dan Pembangunan Peradaban
Integrasi keilmuan yang berlandaskan tauhid memiliki tujuan akhir: membangun peradaban yang berkeadaban. Peradaban dalam Islam tidak diukur dari kemajuan material semata, tetapi dari sejauh mana ilmu dan teknologi membawa manusia kepada kedekatan dengan Allah dan kesejahteraan sesama.
Konsep civilizational development dalam Islam berpijak pada harmoni antara tiga hubungan: hubungan dengan Tuhan (hablun min Allah), hubungan dengan manusia (hablun min an-nas), dan hubungan dengan alam (hablun min al-‘alam). Ketiganya saling terkait dan tidak dapat dipisahkan.
Tauhid menjadi sumbu pemersatu yang memastikan setiap aspek kehidupan berjalan seimbang. Ilmu pengetahuan tanpa tauhid akan kehilangan arah moral; spiritualitas tanpa ilmu akan kehilangan daya transformasi; dan kemanusiaan tanpa nilai ilahi akan kehilangan makna.
Karena itu, pembangunan peradaban Islam modern harus dimulai dari rekonstruksi worldview (pandangan hidup) berbasis tauhid. Pendidikan, ekonomi, politik, dan budaya perlu diarahkan kembali pada kesadaran tauhidik bahwa semua aktivitas manusia adalah bagian dari ibadah dan pengabdian kepada Tuhan.
Penutup
Tauhid merupakan fondasi utama yang menyatukan dimensi teologis, epistemologis, dan sosial dalam Islam. Ia tidak hanya berbicara tentang keesaan Tuhan, tetapi juga tentang kesatuan realitas, kesatuan ilmu, dan kesatuan kemanusiaan. Melalui paradigma tauhid, Islam menawarkan model peradaban yang berakar pada integrasi antara wahyu dan akal, antara iman dan ilmu, serta antara manusia dan alam.
Integrasi keilmuan yang berlandaskan tauhid menjadi jalan menuju kebangkitan peradaban Islam yang berkeadaban. Sementara kesatuan kemanusiaan menjadi pilar etika global yang mendorong solidaritas, keadilan, dan kasih sayang di tengah dunia yang terpecah oleh egoisme dan materialisme.
Dengan menjadikan tauhid sebagai dasar berpikir, berilmu, dan beramal, umat Islam dapat menghadirkan kembali peradaban yang berorientasi pada keseimbangan antara spiritualitas dan kemajuan duniawi peradaban yang memuliakan ilmu, menegakkan keadilan, dan menebar rahmat bagi seluruh alam.
Artikel Lainnya
Peran BAZNAS Surabaya dalam Optimalisasi Pengelolaan Zakat, Infak, dan Sedekah
Dari Zakat ke Manfaat Mengubah Dana menjadi Pemberdayaan Umat
Tata Kelola Zakat yang Efektif
Hikmah Setelah Gajian untuk Infak dan Sedekah
Relevansi Milenial dan Gen Z Terkait Zakat Profesi vs. Zakat Maal di Era Digital
Infak Strategis: Mengubah Kebiasaan Konsumtif Menjadi Kebiasaan Produktif

Info Rekening Zakat
Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.
BAZNAS
