WhatsApp Icon

Meluruskan Tradisi Rebo Wekasan di Bulan Safar: Antara Budaya, Mitos, dan Syariat Islam

07/08/2026  |  Penulis: Nadya - Magang

Bagikan:URL telah tercopy
Meluruskan Tradisi Rebo Wekasan di Bulan Safar: Antara Budaya, Mitos, dan Syariat Islam

Antara Budaya, Mitos, dan Syariat Islam

Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah setelah Muharam. Di tengah masyarakat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, bulan ini sering dikaitkan dengan sebuah tradisi yang dikenal sebagai Rebo Wekasan, yaitu hari Rabu terakhir pada Bulan Safar. Sebagian masyarakat meyakini hari tersebut sebagai waktu turunnya berbagai musibah sehingga dilakukan berbagai ritual sebagai bentuk ikhtiar agar terhindar dari bala. Tradisi tersebut telah berkembang secara turun-temurun dan menjadi bagian dari budaya masyarakat.

Namun, sebagai umat Islam penting untuk memahami bahwa setiap keyakinan dan amalan hendaknya didasarkan pada Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW. Dengan demikian, budaya yang berkembang di masyarakat dapat disikapi secara bijaksana tanpa menggeser kemurnian akidah.

Mengenal Tradisi Rebo Wekasan

Istilah Rebo Wekasan berasal dari bahasa Jawa, yaitu Rebo yang berarti hari Rabu dan Wekasan yang berarti terakhir. Dengan demikian, Rebo Wekasan adalah hari Rabu terakhir pada Bulan Safar. Di berbagai daerah, tradisi ini diperingati dengan beragam kegiatan, seperti pengajian, doa bersama, membaca Al-Qur’an, sedekah, makan bersama, hingga kirab budaya. Di beberapa tempat bahkan berkembang keyakinan bahwa pada hari tersebut Allah SWT menurunkan berbagai musibah sehingga diperlukan amalan tertentu sebagai penolak bala. Tradisi tersebut pada dasarnya merupakan bagian dari budaya lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Oleh karena itu, perlu dibedakan antara nilai budaya yang bersifat sosial dengan keyakinan agama yang harus memiliki landasan syariat.

Benarkah Bulan Safar Membawa Kesialan?

Pada masa Jahiliah, masyarakat Arab memiliki keyakinan bahwa Bulan Safar merupakan bulan yang membawa kesialan sehingga mereka menghindari berbagai aktivitas penting pada bulan tersebut. Islam kemudian meluruskan anggapan tersebut. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada penularan penyakit (yang terjadi dengan sendirinya), tidak ada thiyarah (anggapan sial), tidak ada burung hantu pembawa pertanda buruk, dan tidak ada kesialan pada Bulan Safar.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut menunjukkan bahwa Islam menolak keyakinan mengenai adanya bulan yang secara khusus membawa kesialan. Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta berlangsung atas izin dan ketetapan Allah SWT, bukan karena waktu tertentu. Oleh sebab itu, seorang muslim tidak dianjurkan meyakini bahwa Bulan Safar merupakan bulan yang identik dengan musibah ataupun menganggap Rebo Wekasan sebagai hari yang pasti membawa bala.

Menyikapi Rebo Wekasan Menurut Syariat Islam

Para ulama menjelaskan bahwa tidak terdapat dalil sahih yang menetapkan adanya ibadah khusus pada Rebo Wekasan maupun keyakinan bahwa hari tersebut menjadi waktu turunnya bala. Apabila masyarakat memperingati Rebo Wekasan dengan kegiatan yang bernilai ibadah seperti membaca Al-Qur’an, berdoa, bersedekah, atau menghadiri kajian keislaman, maka amalan-amalan tersebut tetap bernilai baik karena memang dianjurkan dalam Islam.

Namun demikian, yang perlu dihindari adalah keyakinan bahwa ibadah tersebut memiliki keutamaan khusus hanya karena dilakukan pada Rebo Wekasan atau bahwa amalan tertentu pasti dapat menolak musibah yang diyakini turun pada hari tersebut tanpa adanya dasar dari syariat. Islam mengajarkan agar seorang muslim senantiasa bertawakal kepada Allah SWT, memperbanyak doa, dan beramal saleh setiap waktu, tanpa mengaitkannya dengan mitos yang tidak memiliki landasan agama.

Bulan Safar sebagai Momentum Memperbanyak Amal Saleh

Daripada terjebak pada mitos mengenai Bulan Safar, umat Islam dianjurkan menjadikan bulan ini sebagai momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah dan kepedulian sosial. Memperbanyak doa, membaca Al-Qur’an, memperbanyak sedekah, dan menjalin silaturahmi merupakan amalan yang sangat dianjurkan.

Wujudkan Kepedulian Melalui Zakat, Infak, dan Sedekah

Islam mengajarkan bahwa cara terbaik menghadapi berbagai ujian kehidupan adalah dengan memperkuat keimanan, memperbanyak amal saleh, dan membantu sesama. Salah satu bentuk nyata kepedulian tersebut adalah melalui zakat, infak, dan sedekah.

BAZNAS Surabaya mengajak masyarakat untuk memaknai Bulan Safar sebagai momentum memperbanyak kebaikan, bukan sebagai bulan yang harus ditakuti karena berbagai mitos yang berkembang. Dengan menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Surabaya, masyarakat turut berkontribusi dalam membantu mustahik, memberdayakan ekonomi umat, mendukung pendidikan, pelayanan kesehatan, serta berbagai program kemanusiaan. Setiap rupiah yang ditunaikan menjadi bagian dari ikhtiar membangun kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat semangat gotong royong dalam kehidupan sosial.

Penutup

Tradisi Rebo Wekasan merupakan bagian dari budaya yang hidup di tengah masyarakat. Islam tidak melarang budaya selama tidak bertentangan dengan akidah dan syariat. Namun, umat Islam perlu meluruskan keyakinan bahwa Bulan Safar maupun Rebo Wekasan bukanlah waktu yang secara khusus membawa kesialan atau musibah. Daripada mempercayai mitos yang tidak memiliki dasar dalam syariat, marilah mengisi Bulan Safar dengan amal-amal yang telah jelas dianjurkan, seperti memperbanyak doa, membaca Al-Qur’an, mempererat silaturahmi, serta menunaikan zakat, infak, dan sedekah.

Bersama BAZNAS Surabaya, mari jadikan Bulan Safar sebagai momentum untuk menebarkan manfaat, memperkuat kepedulian sosial, dan menghadirkan keberkahan bagi sesama melalui semangat berbagi yang berlandaskan syariat Islam.

Bagikan:URL telah tercopy

Artikel Lainnya

Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Surabaya.

Lihat Daftar Rekening →