Pay Later vs Zakat: Mengelola Literasi Keuangan Syariah untuk Gen Z
04/09/2026 | Penulis: Cici - Magang
Pay Later vs Zakat
Perkembangan teknologi finansial (fintech) telah mengubah lanskap gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat modern, terutama bagi Generasi Z. Salah satu fitur yang sangat populer dan gampang diakses adalah layanan Pay Later. Kemudahan bertransaksi dengan skema 'beli sekarang, bayar nanti' memberikan kenyamanan instan, namun di sisi lain menyimpan potensi risiko finansial jika tidak dikelola dengan bijak.
Di tengah gempuran tren konsumtif ini, pemahaman mengenai literasi keuangan syariah—khususnya kesadaran berzakat—menjadi fondasi mendasar yang sangat penting. Memahami titik temu serta perbedaan mendasar antara jeratan hutang konsumtif dan kewajiban zakat dapat membantu Gen Z dalam membangun ekosistem keuangan yang stabil, sehat, dan penuh keberkahan.
Layanan Pay Later menawarkan akses cepat tanpa proses rumit, menjadikannya pilihan favorit bagi generasi muda untuk memenuhi kebutuhan maupun gaya hidup (lifestyle). Mulai dari belanja produk fesyen, gadget, kuliner, hingga tiket liburan, semua bisa diselesaikan hanya dengan beberapa klik.
Namun, kemudahan ini kerap menjebak Gen Z dalam perilaku impulsif dan kewajiban hutang yang menumpuk. Tanpa perencanaan anggaran yang matang, cicilan Pay Later dapat menggerus pendapatan bulanan dan memicu risiko gagal bayar. Hal ini menunjukkan pentingnya kontrol diri dan pemahaman bahwa finansial yang sehat bukan sekadar kemampuan bertransaksi, melainkan kemampuan mengelola risiko serta prioritas.
Mengapa Literasi Keuangan Syariah Sangat Penting?
Literasi keuangan syariah mengajarkan prinsip-prinsip pengelolaan harta yang seimbang, transparan, dan terhindar dari unsur riba maupun spekulasi berlebihan. Dalam konsep Islam, harta yang dimiliki bukan hanya untuk memuaskan keinginan saat ini, melainkan amanah yang harus dikelola dengan penuh tanggung jawab.
Dengan memahami literasi syariah, Gen Z diajak untuk membedakan secara tegas antara kebutuhan mendasar (haajat) dan keinginan sekadar mengikuti tren (syahawat). Keuangan yang dikelola secara syariah memprioritaskan pelunasan kewajiban, penataan tabungan darurat, investasi halal, serta penyisihan porsi untuk berbagi kepada sesama.
Zakat sebagai Instrumen Penyeimbang Keuangan
Di saat Pay Later berfokus pada pemenuhan konsumsi pribadi berbasis hutang, zakat hadir sebagai instrumen spiritual dan ekonomi yang menyucikan harta serta memperkuat solidaritas sosial. Zakat mengingatkan setiap individu bahwa di dalam harta yang kita miliki terdapat hak orang lain yang wajib dikeluarkan.
Menjadikan zakat sebagai prioritas utama dalam alokasi keuangan bulanan memberikan dampak positif bagi psikologi finansial Gen Z. Kebiasaan mengeluarkan zakat, infak, dan sedekah melatih rasa syukur, mencegah sifat konsumtif berlebihan, serta memberikan keberkahan pada penghasilan yang diperoleh.
Dengan menghitung nisab dan haul secara cermat, seorang Muslim tidak hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga melatih kedisiplinan dalam mencatat dan mengevaluasi aset atau pendapatan pribadi secara berkala.
Peran Lembaga Amil Zakat dalam Edukasi Generasi Muda
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan lembaga amil zakat resmi memiliki peran strategis dalam menjangkau Gen Z melalui edukasi literasi keuangan syariah yang relevan. Digitalisasi layanan zakat kini memudahkan generasi muda untuk menghitung, menunaikan, dan memantau penyaluran zakat secara transparan melalui platform digital.
Melalui kemudahan teknologi ini, BAZNAS mendorong transformasi perilaku dari generasi yang cenderung konsumtif dan bergantung pada skema hutang menjadi generasi yang gemar berbagi dan berinvestasi sosial. Keterlibatan aktif generasi muda dalam gerakan zakat akan memperkuat jaring pengaman sosial bagi masyarakat yang membutuhkan.
Membangun Finansial Sehat dan Berkah untuk Masa Depan
Mengelola keuangan di era digital membutuhkan kearifan dan literasi yang memadai. Menggunakan teknologi keuangan seperti Pay Later tidak sepenuhnya dilarang selama digunakan secara bijak untuk kebutuhan mendesak dan berada dalam batas kemampuan bayar tanpa melanggar prinsip syariah.
Namun, menjadikan zakat dan perencanaan keuangan syariah sebagai pilar utama adalah kunci utama mencapai kebebasan finansial yang sejati. Keseimbangan antara memenuhi kebutuhan pribadi dan menunaikan kewajiban sosial akan menciptakan ketenangan hidup serta masa depan finansial yang lebih tertata.
Mari jadikan literasi keuangan syariah sebagai gaya hidup baru Gen Z. Kelola pemandangan finansial dengan cerdas, batasi hutang konsumtif, dan utamakan zakat demi menghadirkan keberkahan bagi diri sendiri serta sesama.
Artikel Lainnya
Memperkuat Kemandirian UMKM Melalui Pemberdayaan Zakat Produktif
Mengapa Keterbukaan Informasi Penting dalam Pengelolaan Dana ZIS?
Di Tengah Puing, Tumbuh Harapan: Peran BAZNAS dalam Pemulihan Gempa Flores
Zakat Penghasilan di Awal Bulan: Bagian dari Perencanaan Keuangan
ZAKAT HARI INI, HARAPAN UNTUK ESOK: MEMBANGUN KEHIDUPAN YANG LEBIH BERDAYA
Mengubah Mustahik Menjadi Muzakki: Potret Pemberdayaan UMKM berbasis Dana Zakat
Tidak Semua Mustahik Membutuhkan Bantuan yang Sama, Mengapa?
Di Balik Zakat yang Kita Tunaikan, Ada Harapan yang Sedang Diperjuangkan
Mengikis Budaya FOMO Konsumtif Melalui Kebiasaan Berbagi ZIS di Era Sosial Media
Menjemput Keberkahan Finansial Menjelang Akhir Tahun
Dari Rombong Menjadi Penghasilan: Saat Bantuan Zakat Membuka Jalan untuk Mandiri
Awal Bulan Datang, Sudahkah Kita Menyisihkan Rezeki untuk Sesama?
Benarkah Zakat Mengurangi Harta? Memahami Makna Rezeki dan Keberkahan
Peran BAZNAS dalam Menguatkan Masyarakat Terdampak Karhutla
Menebar Manfaat, Menguatkan Masyarakat: Kiprah BAZNAS untuk Indonesia

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Surabaya.
Lihat Daftar Rekening →