Zakat Hadirkan Empati
11/11/2025 | Penulis: Fachrudin
Zakat Hadirkan Empati
Zakat, sebagai salah satu Rukun Islam, sering kali dipandang hanya sebatas kewajiban finansial. Padahal, lebih dari sekadar hitungan nisab dan haul, zakat adalah gerakan moral kolektif yang bertujuan menanamkan benih-benih empati dalam jiwa muzakki (pemberi zakat) sekaligus mengembalikan martabat mustahik (penerima zakat). Zakat adalah jembatan ruhani yang menghubungkan dua realitas: kepemilikan dan kemanusiaan.
Ketika seorang Muslim menunaikan 2,5% dari hartanya, ia tidak hanya membersihkan hartanya dari hak orang lain, tetapi juga membersihkan jiwanya dari sifat kikir, sombong, dan cinta dunia yang berlebihan. Proses inilah yang secara fundamental menumbuhkan empati.
1. Empati: Melampaui Belas Kasihan
Empati dalam konteks zakat bukan sekadar rasa kasihan sesaat. Ini adalah kemampuan untuk merasakan penderitaan orang lain seolah-olah penderitaan itu milik sendiri. Zakat memaksa kita untuk menyadari bahwa kemiskinan dan kesulitan yang dialami mustahik adalah bagian dari tanggung jawab moral setiap individu yang berkecukupan.
a. Menghilangkan Jurang Kesenjangan
Harta, jika hanya berputar di kalangan orang kaya, dapat melahirkan ketimpangan sosial dan kecemburuan. Zakat secara syariah berfungsi sebagai mekanisme distribusi kekayaan, memastikan bahwa rezeki mengalir ke bawah dan menciptakan keseimbangan. Dengan demikian, zakat menghilangkan perasaan terasing yang dialami si miskin dan memupuk rasa persaudaraan. Si miskin merasa diperhatikan, dan si kaya merasa bertanggung jawab.
b. Dialog Batin dan Rasa Syukur
Bagi muzakki, menunaikan zakat adalah dialog batin dengan Tuhan. Ia mengakui bahwa harta hanyalah titipan dan ujian. Kesediaan melepaskan sebagian harta yang dicintai ini melahirkan rasa syukur yang mendalam atas nikmat yang dimiliki. Rasa syukur ini kemudian bermanifestasi menjadi empati, yang mendorongnya untuk berbuat baik.
2. Zakat Sebagai Penjaga Martabat Mustahik
Zakat dikelola dengan prinsip menghormati penerima. Lembaga amil zakat (LAZ) profesional memastikan bantuan disalurkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan sesaat, tetapi juga untuk mengangkat derajat mustahik agar mereka dapat mandiri. Ini adalah manifestasi empati tertinggi.
a. Dari Konsumtif Menuju Produktif
Model zakat produktif, yang banyak diterapkan oleh BAZNAS dan LAZ, adalah wujud empati yang paling efektif. Bantuan yang diberikan bukan hanya uang tunai untuk membeli beras (konsumtif), tetapi modal usaha, pelatihan, dan pendampingan (produktif).
Kisah Nyata Empati: Bayangkan seorang janda dengan tiga anak yang selama ini harus berhutang untuk menjual kue keliling. Zakat hadir memberinya modal awal, gerobak layak, dan pelatihan manajemen keuangan. Bantuan ini bukan hanya meringankan beban, tetapi mengembalikan harapannya, memupuk harga dirinya, dan memberinya kesempatan untuk menjadi produsen, bahkan, suatu hari nanti, menjadi muzakki.
-
Pendidikan dan Kesehatan sebagai Investasi Empati
Empati melalui zakat juga diwujudkan dalam program pendidikan (Surabaya Cerdas) dan kesehatan (Surabaya Sehat). Ketika zakat membiayai beasiswa anak dhuafa, atau membantu pasien miskin yang terancam putus sekolah atau meninggal karena ketiadaan biaya, zakat telah berfungsi sebagai penyelamat masa depan. Ini adalah empati yang melihat kebutuhan jangka panjang, bukan sekadar solusi instan.
-
Empati: Fondasi Solidaritas Sosial
Zakat adalah instrumen yang menumbuhkan solidaritas (gotong royong) dan tolong-menolong (ta'awun) dalam masyarakat. Rasa kepedulian yang lahir dari zakat mampu mencegah berbagai masalah sosial.
-
Mencegah Kejahatan Sosial
Ketika kebutuhan dasar masyarakat miskin terabaikan, potensi kejahatan dan kriminalitas akan meningkat. Zakat yang dikelola dengan baik dan disalurkan secara merata berperan sebagai katup pengaman sosial, mengurangi motif kejahatan yang dipicu oleh kelaparan atau kesulitan ekonomi ekstrem. Ini adalah empati preventif.
-
Membangun Ukhuwah Islamiyah
Pada akhirnya, zakat mewujudkan ajaran Rasulullah SAW: "Tidak beriman siapa yang kenyang sementara tetangganya kelaparan." Zakat membuat umat Islam merasa seperti satu tubuh yang saling menopang. Rasa sakit satu bagian dirasakan oleh bagian lainnya. Empati yang lahir dari zakat ini menciptakan masyarakat yang harmonis, rukun, dan damai, di mana kekayaan tidak hanya berpusat pada segelintir orang.
Dari zakat, hadir empati—sebuah nilai kemanusiaan yang abadi. Zakat bukan hanya tentang memenuhi panggilan Ilahi, tetapi juga tentang menjawab panggilan nurani. Melalui empati yang ditumbuhkan oleh zakat, kita tidak hanya membersihkan harta, tetapi juga membangun peradaban yang berlandaskan keadilan dan kepedulian.
Artikel Lainnya
BAZNAS dalam Perspektif Sosiologi: Mengelola Zakat, Merajut Solidaritas
Transparansi dan Akuntabilitas Dana ZIS BAZNAS Surabaya terhadap Kepercayaan Publik
Strategi Fundraising Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS): Inovasi, Kepercayaan, dan Transformasi Digital
Hikmah Setelah Gajian untuk Infak dan Sedekah
Efektivitas Platform Online Zakat Digital dalam Mengukur Kepercayaan Penyaluran Dana Umat
Ukur Capaian Program BAZNAS Surabaya: Sudahkah Lima Pilar Memberi Dampak Nyata?

Info Rekening Zakat
Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.
BAZNAS
