Kemanusiaan: Kajian Filsafat, Sains, dan Al-Qur’an
31/10/2025 | Penulis: Fach
Ajarkan Kajian Filsafat, Sains, dan Al-Qur’an Kepada Generasi Kita
Pendahuluan
Kemanusiaan merupakan salah satu tema paling mendasar dalam sejarah pemikiran manusia. Ia menjadi pusat perdebatan dalam filsafat, ilmu pengetahuan modern, dan ajaran agama. Dalam berbagai disiplin ilmu, kemanusiaan dipahami sebagai hakikat manusia (human nature) dan segala hal yang berhubungan dengan nilai, moralitas, dan tujuan hidup manusia. Namun, pemahaman terhadap kemanusiaan sering kali terpecah antara pendekatan rasional, empiris, dan spiritual.
Filsafat berusaha menjawab pertanyaan tentang “apa itu manusia” dari sisi ontologis dan etis. Sains mencoba memahami manusia sebagai objek biologis dan sosial melalui pendekatan empiris. Sedangkan Al-Qur’an memberikan perspektif transendental yang menyatukan aspek jasmani dan ruhani, serta menempatkan manusia sebagai makhluk mulia dengan tanggung jawab moral dan spiritual.
Artikel ini berupaya mengkaji kemanusiaan dari tiga sudut pandang — filsafat, sains, dan Al-Qur’an guna menemukan sintesis yang utuh antara rasio, empiris, dan wahyu dalam memahami eksistensi manusia dan perannya dalam membangun peradaban.
Kemanusiaan dalam Perspektif Filsafat
Kajian filsafat tentang manusia telah dimulai sejak zaman Yunani kuno. Para filsuf klasik seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles menempatkan manusia sebagai makhluk rasional (animal rationale) yang memiliki potensi berpikir dan bertindak berdasarkan akal.
-
Manusia sebagai Makhluk Rasional
Aristoteles menyebut manusia sebagai makhluk politik dan sosial (zoon politikon) yang mencapai kesempurnaan moral melalui kebajikan (virtue). Rasionalitas menjadikan manusia mampu mengendalikan nafsu dan mencapai kebahagiaan (eudaimonia). Dalam pandangan ini, kemanusiaan identik dengan kemampuan berpikir dan beretika.
Namun, pandangan ini mendapat kritik dari tradisi filsafat modern. Rene Descartes menegaskan dualisme antara tubuh dan jiwa melalui adagium cogito ergo sum (“Aku berpikir maka aku ada”), yang menempatkan kesadaran rasional sebagai inti eksistensi manusia. Sementara itu, filsuf eksistensialis seperti Jean-Paul Sartre dan Martin Heidegger melihat manusia sebagai makhluk bebas yang menciptakan maknanya sendiri di dunia yang absurd.
Filsafat menempatkan manusia sebagai pusat realitas dan pencari makna, tetapi sering kali terjebak dalam relativisme nilai. Manusia yang terlalu mengandalkan rasio tanpa moralitas transendental berpotensi kehilangan arah dalam menafsirkan kemanusiaannya sendiri.
-
Etika Kemanusiaan dalam Filsafat Moral
Immanuel Kant menawarkan konsep “imperatif kategoris” yang menjadi dasar etika universal: manusia harus diperlakukan sebagai tujuan, bukan alat. Prinsip ini mengandung nilai kemanusiaan yang tinggi menghormati martabat setiap individu. Namun, dalam praktik modern, nilai ini sering tereduksi oleh kepentingan ekonomi dan politik yang menempatkan manusia sebagai objek eksploitasi.
Secara umum, filsafat mengajarkan bahwa kemanusiaan menuntut kesadaran etis dan tanggung jawab moral. Namun, filsafat rasional semata tidak cukup menjelaskan asal-usul dan tujuan akhir manusia. Di sinilah sains dan agama masuk untuk memberikan konteks yang lebih luas.
Kemanusiaan dalam Perspektif Sains
Sains modern berupaya memahami manusia dari sisi biologis, psikologis, dan sosial. Ilmu pengetahuan meneliti manusia sebagai hasil evolusi alam semesta dan bagian dari ekosistem kehidupan.
-
Pandangan Evolusioner tentang Manusia
Charles Darwin dalam The Descent of Man (1871) menjelaskan bahwa manusia adalah hasil evolusi makhluk hidup yang paling kompleks. Dalam kerangka sains modern, manusia dipahami secara biologis: memiliki struktur genetika, sistem saraf, dan mekanisme fisiologis yang dapat dipelajari secara empiris.
Namun, sains evolusioner tidak mampu menjelaskan secara tuntas aspek kesadaran, moralitas, dan spiritualitas manusia. Kesadaran diri (self-awareness) dan kemampuan mencipta makna tetap menjadi misteri yang melampaui penjelasan biologis.
-
Neurosains dan Psikologi Kemanusiaan
Kemajuan dalam ilmu saraf (neurosains) telah membuka wawasan baru tentang cara kerj dari proses berpikir, emosi, hingga perilaku sosial. Sains membuktikan bahwa empati, cinta, dan moralitas memiliki dasar biologis melalui aktivitas neuron dan hormon seperti oksitosin.
Namun, temuan sains tidak menafikan bahwa manusia lebih dari sekadar organisme biologis. Dalam psikologi humanistik, tokoh seperti Abraham Maslow dan Carl Rogers menekankan dimensi eksistensial manusia: aktualisasi diri, cinta kasih, dan makna hidup.
Maslow bahkan menempatkan “transendensi” kesadaran akan sesuatu yang lebih tinggi daripada diri sebagai puncak tertinggi kebutuhan manusia. Ini menunjukkan bahwa sains pun pada akhirnya mengakui adanya dimensi spiritual dalam kemanusiaan.
-
Sains dan Krisis Kemanusiaan
Ironisnya, meskipun sains membawa kemajuan teknologi, ia juga menciptakan krisis kemanusiaan baru: dehumanisasi, materialisme, dan ketimpangan global. Manusia menjadi objek sistem industri dan algoritma digital, kehilangan dimensi etis dan spiritual.
Karenanya, sains memerlukan panduan moral agar tidak menjelma menjadi kekuatan destruktif. Panduan itu hanya dapat ditemukan melalui wahyu dan nilai-nilai ilahiah yang ditawarkan agama, khususnya Al-Qur’an.
Kemanusiaan dalam Perspektif Al-Qur’an
Al-Qur’an memberikan pandangan yang menyeluruh dan seimbang tentang manusia. Ia tidak hanya memandang manusia dari sisi biologis atau rasional, tetapi juga dari dimensi spiritual dan moral.
-
Hakikat Penciptaan Manusia
Al-Qur’an menyebut manusia sebagai makhluk istimewa yang diciptakan dari tanah, namun diberi ruh oleh Allah.
“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (QS. Shad: 72)
Ayat ini menegaskan dua dimensi eksistensi manusia: jasmani dan ruhani. Keduanya membentuk totalitas kemanusiaan yang unik. Keunggulan manusia tidak terletak pada fisiknya, melainkan pada akal dan kesadarannya yang mampu mengenal Tuhan.
-
Manusia sebagai Khalifah di Bumi
Konsep khalifah fil ardh (QS. Al-Baqarah: 30) menegaskan bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk mengelola bumi dengan adil dan bijak. Kemanusiaan sejati bukan sekadar kesadaran akan hak, tetapi juga kewajiban moral untuk menjaga keadilan, kemaslahatan, dan kelestarian alam.
Tugas kekhalifahan inilah yang menjadikan manusia sebagai subjek aktif pembangunan peradaban. Namun, Al-Qur’an juga mengingatkan potensi destruktif manusia jika kekuasaan tidak diimbangi dengan keimanan dan akhlak.
-
Martabat dan Nilai Manusia
Allah berfirman:
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak cucu Adam...” (QS. Al-Isra’: 70)
Ayat ini menjadi landasan konsep human dignity (kemuliaan manusia). Dalam Islam, setiap manusia tanpa memandang ras, agama, atau status sosial memiliki martabat yang sama di hadapan Allah. Kriteria kemuliaan bukanlah kekayaan atau kekuasaan, melainkan ketakwaan (QS. Al-Hujurat: 13).
-
Etika dan Spiritualitas Kemanusiaan
Al-Qur’an menekankan keseimbangan antara akal, nafsu, dan hati. Akal harus dipandu wahyu, nafsu harus dikendalikan oleh iman, dan hati harus disucikan dengan dzikir. Ketika keseimbangan ini tercapai, manusia menjadi insan kamil manusia paripurna yang mampu memanifestasikan sifat-sifat ilahiah seperti kasih sayang, keadilan, dan kebijaksanaan.
Sintesis: Kemanusiaan dalam Filsafat, Sains, dan Wahyu
Ketiga perspektif filsafat, sains, dan Al-Qur’an sebenarnya saling melengkapi. Filsafat memberi dasar rasional untuk memahami eksistensi manusia. Sains menjelaskan dimensi empiris dan sosial manusia. Sedangkan Al-Qur’an memberikan panduan moral dan spiritual yang menyatukan keduanya.
Dalam paradigma Islam, ilmu dan iman bukanlah dua hal yang bertentangan. Akal dan wahyu harus berjalan beriringan. Ketika rasio dan sains kehilangan nilai spiritual, maka lahirlah krisis kemanusiaan. Sebaliknya, ketika agama mengabaikan rasio, ia kehilangan daya transformasi sosial.
Al-Qur’an mengajak manusia untuk berpikir dan meneliti:
“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)
Ayat ini menunjukkan bahwa berpikir ilmiah adalah bagian dari ibadah. Dengan demikian, integrasi antara filsafat, sains, dan wahyu adalah jalan menuju kemanusiaan yang utuh manusia yang cerdas, beretika, dan beriman.
Penutup
Kemanusiaan bukan sekadar tema etis, tetapi inti dari eksistensi manusia dan fondasi pembangunan peradaban. Filsafat memberikan refleksi kritis atas makna hidup; sains menyediakan pengetahuan empiris untuk meningkatkan kualitas hidup; dan Al-Qur’an memberi arah moral dan spiritual agar kehidupan manusia bermakna.
Ketiganya harus dipadukan dalam satu paradigma integratif yang menempatkan manusia sebagai makhluk rasional, sosial, dan spiritual. Ketika filsafat, sains, dan wahyu saling bersinergi, maka lahirlah peradaban yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga beradab secara moral.
Sebagaimana firman Allah dalam QS. At-Tin: 4-5:
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.”
Ayat ini mengingatkan bahwa kemuliaan manusia bergantung pada sejauh mana ia menjaga nilai-nilai kemanusiaannya. Dengan filsafat yang kritis, sains yang beretika, dan iman yang kokoh, manusia dapat membangun dunia yang berkeadilan, damai, dan berperadaban.
Artikel Lainnya
Peran BAZNAS Surabaya dalam Optimalisasi Pengelolaan Zakat, Infak, dan Sedekah
Bersama Pendayagunaan Zakat, Kita Bangun Harapan
Mengenal Lembaga BAZNAS dalam Sudut Pandang Perspektif Sosiologi
Landasan Zakat, Infaq/Sedekah Menurut Regulasi: Panduan untuk Umat Islam
Zakat Instrumen Pemberdayaan Sosial dan Penguatan Ekonomi Umat
WUJUDKAN SENYUM ANAK YATIM DENGAN ZAKAT

Info Rekening Zakat
Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.
BAZNAS
