Mengenal Lembaga BAZNAS dalam Sudut Pandang Perspektif Sosiologi
09/01/2026 | Penulis: Mila
BAZNAS dalam Sudut Pandang Perspektif Sosiologi
Zakat menjadi salah satu hal yang penting dalam ajaran agama Islam, dimana zakat memiliki dimensi ibadah sekaligus sosial. Di Indonesia sendiri, ada beberapa pengelola zakat, salah satunya secara nasional diamanahkan kepada Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Keberadaan BAZNAS tidak semata mata hanya untuk sebagai Lembaga keagamaan, tetapi juga sebagai institusi sosial yang berperan dala mengatur hubungan antarindividu dan kelompok masyarakat. Oleh karena itu, perspektif sosiologi menjadi relevan untuk menganalisis peran, fungsi, dan dampak sosial BAZNAS dalam kehidupan masyarakat.
Dalam kajian sosiologi Lembaga Sosial adalah dimana sistem norma dan organisasi yang secara sengaja dibentuk dengan tujuan kesejahteraan masyarakat. BAZNAS sudah memenuhi kriteria tersebut karena berfungsi untuk mengelola zakat, infak, dan sedekah yang terstruktur demi kesejahteraan sosial. Melalui regulasi dan mekanisme kerja yang jelas, BAZNAS menjadi bisa menjadi perantara antara muzakki (pemberi zakat) dan mustahik (penerima zakat), sehingga tercipta keteraturan sosial dalam praktik filantropi Islam.
Dari sudut pandang fungsionalisme struktural, BAZNAS memiliki peran menjaga keseimbangan sosial. Distribusi zakat yang dilakukan BAZNAS membantu mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi, khususnya antara kelompok kaya dan miskin. Program-program seperti bantuan pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, dan tanggap bencana berkontribusi pada stabilitas sosial dan solidaritas masyarakat.
Selain itu, BAZNAS juga berfungsi sebagai sarana kontrol sosial. Dengan pengelolaan zakat yang transparan dan akuntabel, lembaga ini menanamkan nilai keadilan, kepedulian, dan tanggung jawab sosial kepada masyarakat.
Pendapat yang di kemukakan oleh salah satu tokoh yakni Émile Durkheim, solidaritas sosial merupakan perekat utama dalam kehidupan bermasyarakat. BAZNAS berperan memperkuat solidaritas tersebut melalui mekanisme redistribusi kekayaan. Zakat yang dikelola secara kolektif menciptakan rasa kebersamaan dan empati sosial, di mana individu tidak hanya berorientasi pada kepentingan pribadi, tetapi juga kesejahteraan bersama. Dalam konteks masyarakat modern yang cenderung individualistik, peran BAZNAS menjadi semakin penting sebagai penghubung antara nilai-nilai agama dan realitas sosial.
Dari perspektif teori konflik, BAZNAS dapat dilihat sebagai upaya struktural untuk mereduksi ketimpangan sosial akibat distribusi ekonomi yang tidak merata. Zakat menjadi alat untuk menyalurkan sebagian kekayaan kelompok dominan kepada kelompok marginal. Namun, tantangan tetap ada, seperti rendahnya kesadaran masyarakat untuk menyalurkan zakat melalui lembaga resmi serta potensi ketidakpercayaan terhadap institusi.
Dalam perspektif sosiologi, BAZNAS bukan sekadar lembaga pengelola zakat, melainkan institusi sosial yang memiliki peran strategis dalam membangun keadilan, solidaritas, dan kesejahteraan masyarakat. Melalui fungsi distribusi, integrasi sosial, dan pengurangan kesenjangan, BAZNAS berkontribusi nyata dalam menciptakan tatanan sosial yang lebih seimbang. Oleh karena itu, penguatan peran dan kepercayaan masyarakat terhadap BAZNAS menjadi langkah penting dalam pembangunan sosial berkelanjutan di Indonesia.
Artikel Lainnya
BAZNAS dalam Perspektif Sosiologi: Mengelola Zakat, Merajut Solidaritas
Landasan Zakat, Infaq/Sedekah Menurut Regulasi: Panduan untuk Umat Islam
Zakat Instrumen Pemberdayaan Sosial dan Penguatan Ekonomi Umat
Peran BAZNAS Surabaya dalam Optimalisasi Pengelolaan Zakat, Infak, dan Sedekah
Ukur Capaian Program BAZNAS Surabaya: Sudahkah Lima Pilar Memberi Dampak Nyata?
Hikmah Setelah Gajian untuk Infak dan Sedekah

Info Rekening Zakat
Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.
BAZNAS
