WhatsApp Icon
Hari Jadi Jawa Timur ke-81, Momentum Wujudkan Jawa Timur Unggul, Maju, Berkelanjutan

SURABAYA – Provinsi Jawa Timur memperingati Hari Jadi ke-81 pada 12 Oktober 2026 dengan mengusung tema “Unggul, Maju, Berkelanjutan”. Tema tersebut menjadi semangat bersama untuk terus mendorong pembangunan yang tidak hanya maju secara ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga mampu memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Bagi BAZNAS Surabaya, semangat unggul, maju, dan berkelanjutan sejalan dengan upaya memperkuat kepedulian sosial serta menghadirkan program yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Pembangunan yang unggul membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas. Kemajuan juga harus berjalan bersama dengan pemerataan kesejahteraan, sehingga masyarakat yang membutuhkan tetap memperoleh akses terhadap pendidikan, kesehatan, penguatan ekonomi, dan layanan kemanusiaan.

Dalam hal ini, zakat, infak, dan sedekah memiliki peran penting sebagai salah satu instrumen sosial untuk mendukung kesejahteraan masyarakat. Melalui pengelolaan yang amanah dan tepat sasaran, dana umat dapat diarahkan untuk membantu mustahik agar lebih mandiri dan berdaya.

BAZNAS Surabaya terus berkomitmen menghadirkan berbagai program yang berorientasi pada kebermanfaatan jangka panjang. Tidak hanya membantu kebutuhan sesaat, tetapi juga mendorong penerima manfaat untuk memiliki kesempatan membangun kehidupan yang lebih baik.

Momentum Hari Jadi Jawa Timur ke-81 juga menjadi pengingat bahwa kemajuan membutuhkan kolaborasi. Pemerintah, lembaga, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat memiliki peran dalam menciptakan Jawa Timur yang semakin kuat.

Dengan semangat “Unggul, Maju, Berkelanjutan”, BAZNAS Surabaya berharap Jawa Timur terus berkembang menjadi daerah yang maju sekaligus memiliki kepedulian sosial yang kuat.

Dirgahayu Provinsi Jawa Timur ke-81. Unggul, Maju, Berkelanjutan.

12/10/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Surabaya
Sedikit yang Kita Berikan, Besar Manfaatnya: Bersama BAZNAS Menguatkan Sesama

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali menganggap bahwa sesuatu yang kita berikan haruslah besar agar dapat memberikan manfaat. Padahal, kebaikan tidak selalu diukur dari seberapa banyak yang kita berikan. Terkadang, sesuatu yang sederhana bagi kita justru memiliki arti yang besar bagi orang lain.

Menyisihkan sebagian rezeki melalui zakat, infak, dan sedekah merupakan salah satu bentuk kepedulian yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Dari sebagian rezeki yang kita titipkan, ada keluarga yang dapat terbantu memenuhi kebutuhan, anak yang mendapatkan kesempatan pendidikan, masyarakat yang memperoleh layanan kesehatan, hingga pelaku usaha yang mendapatkan dukungan untuk mengembangkan kehidupannya.

Kebaikan yang Dimulai dari Hal Sederhana

Setiap orang memiliki kesempatan untuk berbuat baik sesuai dengan kemampuannya. Tidak perlu menunggu memiliki banyak harta untuk mulai berbagi. Selama masih memiliki sesuatu yang dapat diberikan, selalu ada kesempatan untuk membantu sesama.

Zakat memiliki kedudukan penting dalam kehidupan umat Islam. Selain sebagai kewajiban bagi mereka yang telah memenuhi syarat, zakat juga memiliki nilai sosial yang sangat besar. Zakat menjadi salah satu bentuk kepedulian kepada masyarakat yang membutuhkan dan dapat membantu mengurangi kesenjangan di tengah kehidupan sosial.

Selain zakat, infak dan sedekah juga menjadi bentuk kebaikan yang dapat dilakukan sesuai kemampuan. Ketiganya dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan kepedulian sekaligus mempererat hubungan antarsesama.

Ketika kebiasaan berbagi terus tumbuh, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh penerima. Orang yang memberikan juga belajar untuk lebih bersyukur, peduli, dan memahami bahwa sebagian dari rezeki yang dimiliki dapat memberikan arti bagi kehidupan orang lain.

Dari Berbagi, Tumbuh Harapan

Setiap bantuan memiliki cerita dan manfaatnya masing-masing. Bantuan untuk kebutuhan sehari-hari dapat membantu sebuah keluarga melewati masa sulit. Dukungan pendidikan dapat membuka kesempatan bagi generasi muda untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik. Bantuan kesehatan dapat membantu seseorang memperoleh layanan yang dibutuhkan.

Begitu pula dengan dukungan ekonomi. Bantuan modal, pelatihan, atau pendampingan dapat menjadi langkah awal bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan kemandirian.

Hal tersebut menunjukkan bahwa berbagi bukan hanya tentang memberikan sesuatu kepada orang lain. Berbagi juga dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan kesempatan dan membangun harapan.

Satu kebaikan mungkin terlihat kecil jika dilihat secara terpisah. Namun, ketika kebaikan tersebut dilakukan bersama-sama, manfaat yang dihasilkan dapat menjadi jauh lebih besar.

BAZNAS Menjadi Wadah untuk Menebarkan Manfaat

Agar zakat, infak, dan sedekah dapat memberikan manfaat secara terarah, diperlukan pengelolaan yang amanah dan penyaluran yang tepat. BAZNAS hadir sebagai lembaga yang mengelola zakat dan menyalurkannya melalui berbagai program untuk masyarakat yang membutuhkan.

Program BAZNAS mencakup berbagai bidang, seperti ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial kemanusiaan, dan pemberdayaan masyarakat. Setiap bidang memiliki tujuan untuk membantu memenuhi kebutuhan sekaligus memberikan manfaat bagi penerima.

Di bidang ekonomi, misalnya, program pemberdayaan dapat memberikan dukungan kepada masyarakat agar mampu mengembangkan usaha dan meningkatkan kemandirian. Di bidang pendidikan, bantuan dapat membantu memberikan akses dan kesempatan belajar bagi generasi penerus.

Sementara itu, program kesehatan dan sosial kemanusiaan dapat membantu masyarakat yang menghadapi keterbatasan maupun kondisi tertentu yang membutuhkan perhatian. Dengan berbagai program tersebut, dana yang dititipkan oleh masyarakat dapat menjadi bagian dari upaya menghadirkan manfaat yang lebih luas.

Berbagi Bukan Hanya Tentang Memberi

Ada makna yang lebih dalam dari sebuah pemberian. Ketika kita berbagi, kita sedang menunjukkan bahwa kesulitan orang lain juga menjadi bagian dari kepedulian kita.

Berbagi berarti menguatkan. Ketika seseorang sedang berada dalam keadaan sulit, bantuan yang diberikan dapat membuat mereka merasa tidak sendirian. Ketika seseorang mendapatkan kesempatan melalui bantuan pendidikan atau ekonomi, mereka memiliki peluang untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Karena itu, jangan pernah menganggap remeh kebaikan yang kita lakukan. Nilai sebuah pemberian bukan hanya terletak pada jumlahnya, tetapi juga pada manfaat yang dapat dirasakan oleh orang yang menerimanya.

Mari Menjadi Bagian dari Kebaikan

Membangun masyarakat yang lebih kuat dan mandiri membutuhkan kepedulian dari banyak pihak. Kita dapat mengambil bagian dengan cara yang sederhana, yaitu menyisihkan sebagian rezeki untuk zakat, infak, dan sedekah.

Tidak perlu menunggu sampai memiliki lebih banyak. Mulailah dari apa yang kita miliki hari ini. Karena mungkin, sebagian kecil yang kita berikan dapat membantu memenuhi kebutuhan seseorang, mendukung pendidikan seorang anak, membantu sebuah keluarga, atau menjadi awal bagi seseorang untuk kembali bangkit.

Melalui BAZNAS, mari salurkan kebaikan agar dapat memberikan manfaat bagi mereka yang membutuhkan.

Sedikit yang kita berikan mungkin terasa sederhana bagi kita, tetapi bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi orang lain. Dari berbagi, tumbuh harapan. Dari kepedulian, lahir perubahan.

 

Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS. Bersama, kita tebarkan kebaikan untuk mewujudkan masyarakat yang lebih kuat, mandiri, dan sejahtera.

08/10/2026 | Kontributor: Anin - Magang
Ketika Berbagi Menjadi Jalan untuk Menguatkan Sesama

Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menghadapi kehidupan. Ada yang sedang menikmati kemudahan, ada pula yang masih berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di tengah perbedaan tersebut, kepedulian kepada sesama menjadi sesuatu yang sangat berarti. Sebab, kehidupan akan terasa lebih kuat ketika setiap orang memiliki kesempatan untuk saling membantu dan menguatkan.

Berbagi merupakan salah satu bentuk sederhana dari kepedulian. Tidak selalu harus dalam jumlah besar, berbagi dapat dimulai dari sebagian rezeki yang kita miliki. Melalui zakat, infak, dan sedekah, masyarakat dapat mengambil bagian dalam membantu mereka yang membutuhkan sekaligus menghadirkan manfaat yang lebih luas.

Rezeki yang Disisihkan, Manfaat yang Dirasakan

Ketika seseorang menyisihkan sebagian hartanya untuk zakat, infak, atau sedekah, mungkin yang terlihat hanyalah berkurangnya sebagian dari apa yang dimiliki. Namun, bagi penerima manfaat, pemberian tersebut dapat memiliki arti yang jauh lebih besar.

Bantuan yang diberikan dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, mendukung pendidikan, membantu biaya kesehatan, atau memberikan kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan usaha. Dari satu pemberian, dapat muncul berbagai bentuk manfaat yang membantu seseorang menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Inilah yang membuat berbagi memiliki nilai yang begitu penting. Kebaikan yang kita lakukan tidak berhenti ketika bantuan diberikan, tetapi dapat terus memberikan dampak bagi kehidupan orang lain.

BAZNAS Hadir Menjadi Wadah Kebaikan

Dalam mewujudkan kepedulian tersebut, masyarakat membutuhkan wadah yang dapat membantu mengelola dan menyalurkan dana zakat, infak, dan sedekah secara terarah. BAZNAS hadir sebagai lembaga yang mengelola zakat dan menyalurkannya melalui berbagai program untuk masyarakat yang membutuhkan.

Program-program tersebut mencakup berbagai bidang, mulai dari ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial, hingga kemanusiaan. Dengan adanya berbagai program tersebut, dana yang dihimpun diharapkan dapat memberikan manfaat sesuai dengan kebutuhan penerima.

Melalui pengelolaan yang amanah dan penyaluran yang tepat sasaran, zakat tidak hanya menjadi bentuk kewajiban, tetapi juga dapat menjadi salah satu sarana untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kebaikan yang Mendorong Kemandirian

Membantu seseorang bukan hanya tentang memberikan sesuatu ketika mereka membutuhkan. Lebih dari itu, bantuan juga dapat menjadi jalan untuk membantu seseorang memiliki kemampuan agar dapat bangkit dan berkembang.

Dalam bidang ekonomi, misalnya, pemberian dukungan kepada pelaku usaha dapat membantu mereka mengembangkan usaha dan meningkatkan pendapatan. Dalam bidang pendidikan, bantuan dapat memberikan kesempatan kepada pelajar atau mahasiswa untuk terus menempuh pendidikan. Sementara dalam bidang kesehatan, bantuan dapat membantu masyarakat memperoleh layanan yang dibutuhkan.

Dengan demikian, kepedulian yang disalurkan melalui program yang tepat dapat menjadi langkah awal menuju kemandirian.

Tidak Perlu Menunggu untuk Berbuat Baik

Sering kali seseorang berpikir bahwa berbagi harus menunggu memiliki rezeki yang berlebih. Padahal, kepedulian dapat dimulai dari apa yang kita miliki saat ini.

Setiap orang memiliki kesempatan untuk berbuat baik. Ada yang dapat menunaikan zakat sesuai kewajibannya, ada yang dapat memberikan infak, dan ada pula yang dapat bersedekah sesuai dengan kemampuan. Yang terpenting adalah adanya niat dan kemauan untuk memberikan manfaat bagi sesama.

Kebaikan yang terlihat kecil bagi kita mungkin menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi orang lain. Karena itu, jangan menunggu sampai memiliki lebih banyak untuk mulai berbagi.

Bersama BAZNAS, Tebarkan Manfaat

Masyarakat yang kuat bukan hanya dibangun dari mereka yang memiliki kemampuan, tetapi juga dari kepedulian untuk membantu mereka yang sedang membutuhkan. Semangat inilah yang perlu terus dijaga agar kebaikan dapat tumbuh di tengah masyarakat.

Melalui zakat, infak, dan sedekah, kita dapat mengambil bagian dalam menghadirkan manfaat bagi sesama. Dengan menyalurkannya melalui BAZNAS, masyarakat dapat ikut mendukung berbagai program yang ditujukan untuk membantu dan memberdayakan penerima manfaat.

Mari menjadikan berbagi bukan hanya sebagai kegiatan sesekali, tetapi sebagai bagian dari kehidupan. Sebab, ketika kita berbagi, kita tidak hanya memberikan sebagian dari apa yang kita miliki, tetapi juga memberikan harapan kepada orang lain.

 

Mari bersama BAZNAS terus menebarkan kebaikan, menguatkan sesama, dan menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat. Karena satu kebaikan yang dilakukan hari ini dapat menjadi awal dari perubahan yang berarti di kemudian hari.

08/10/2026 | Kontributor: Anin - Magang
Ketika Alat Kerja Mengubah Harapan menjadi Penghasilan:  Ikhtiar BAZNAS Surabaya

Tidak semua bantuan harus hadir dalam bentuk uang tunai atau kebutuhan pokok. Bagi sebagian masyarakat, sebuah alat kerja justru dapat menjadi dukungan yang berarti untuk kembali produktif, mempertahankan pekerjaan, hingga membuka peluang memperoleh penghasilan. Semangat tersebut menjadi salah satu bagian dari upaya BAZNAS dalam mendorong pemberdayaan masyarakat. Melalui program Surabaya Berdaya, BAZNAS Kota Surabaya memiliki program Alat Kerja Mustahik yang diarahkan untuk mendukung masyarakat penerima manfaat agar dapat menjalankan aktivitas produktif.

Ketika Alat Kerja Menjadi Lebih dari Sekadar Barang

Bagi seseorang yang memiliki keterampilan dan kemauan untuk bekerja, keterbatasan peralatan dapat menjadi salah satu kendala dalam menjalankan pekerjaannya. Seorang pekerja dapat memiliki kemampuan, pengalaman, bahkan pelanggan, tetapi aktivitasnya tetap terbatas ketika sarana yang dibutuhkan belum tersedia atau kondisinya tidak lagi memadai. Dalam situasi seperti itu, bantuan alat kerja memiliki makna yang lebih luas. Bukan sekadar memberikan sebuah barang, tetapi membantu membuka ruang bagi seseorang untuk kembali bergerak dan mengembangkan kemampuan yang telah dimilikinya. Bantuan diarahkan agar penerima manfaat memiliki dukungan untuk melakukan aktivitas yang sesuai dengan kondisi dan potensinya.

Dari Membantu Menjadi Memberdayakan

Pemberian bantuan kepada masyarakat tidak selalu berhenti pada pemenuhan kebutuhan jangka pendek. Dalam kondisi tertentu, bantuan juga dapat diarahkan untuk memperkuat kemampuan penerima manfaat dalam memenuhi kebutuhannya secara mandiri. Ketika bantuan diberikan dalam bentuk alat kerja, manfaatnya berpotensi terus digunakan selama alat tersebut menunjang aktivitas penerima. Dengan demikian, bantuan dapat menjadi bagian dari proses yang lebih panjang, yaitu membantu masyarakat mempertahankan produktivitas dan meningkatkan kemandirian ekonomi. Bagi penerima manfaat, dukungan tersebut bukan hanya tentang apa yang diterima, tetapi juga tentang kesempatan untuk kembali berusaha.

Bagian dari Surabaya Berdaya

Program Alat Kerja Mustahik tercatat sebagai salah satu bentuk kegiatan dalam Surabaya Berdaya. Program pemberdayaan tersebut juga mencakup berbagai bentuk dukungan ekonomi lainnya, seperti bantuan modal usaha, pelatihan usaha dan pemberdayaan UMKM, serta pembiayaan usaha mikro. Beragam bentuk program tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat membutuhkan pendekatan yang tidak selalu sama. Setiap penerima manfaat memiliki kondisi, kemampuan, serta kebutuhan yang berbeda. Karena itu, dukungan terhadap masyarakat dapat dilakukan melalui berbagai cara, termasuk memberikan sarana yang dapat membantu mereka menjalankan aktivitas ekonomi.

Dari Mustahik, Menuju Masyarakat yang Lebih Berdaya

Pemberdayaan bukan berarti menghilangkan kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan bantuan. Sebaliknya, pemberdayaan menjadi bagian dari upaya agar bantuan yang diberikan dapat disesuaikan dengan kondisi dan potensi penerima manfaat. Seseorang yang memiliki keterampilan tetapi terkendala peralatan, misalnya, membutuhkan bentuk dukungan yang berbeda dengan seseorang yang membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Dengan memahami kebutuhan tersebut, bantuan dapat diarahkan agar lebih tepat guna. Semangat ini menjadi bagian dari upaya BAZNAS Kota Surabaya dalam mengelola dana ZIS agar memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan, sekaligus membuka ruang bagi penerima manfaat untuk berkembang.

ZIS untuk Membuka Lebih Banyak Kesempatan

Zakat, infak, dan sedekah tidak hanya memiliki dimensi kepedulian sosial, tetapi juga dapat menjadi instrumen yang mendukung pemberdayaan masyarakat. Ketika dana ZIS dikelola dan disalurkan melalui program yang sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat, manfaatnya dapat hadir dalam berbagai bentuk. Mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar hingga dukungan terhadap pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi. Program Alat Kerja Mustahik menjadi salah satu gambaran bahwa kepedulian dapat diwujudkan melalui dukungan yang mendorong masyarakat untuk terus bergerak. Sebab, terkadang yang dibutuhkan seseorang bukan hanya bantuan untuk bertahan, tetapi juga kesempatan untuk kembali berusaha.

Bukan Sekadar Memberi, tetapi Membuka Jalan

 

Pada akhirnya, sebuah alat kerja mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi penerima yang membutuhkan, alat tersebut dapat menjadi bagian penting dari aktivitas sehari-hari. Di balik sebuah alat kerja terdapat kesempatan untuk bekerja. Melalui semangat pemberdayaan, BAZNAS Kota Surabaya terus berupaya menghadirkan pengelolaan dana ZIS yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Salah satunya melalui dukungan terhadap produktivitas dan kemandirian ekonomi mustahik. Karena membantu bukan hanya tentang memberikan apa yang dibutuhkan hari ini, tetapi membuka kesempatan agar seseorang dapat terus melangkah dan membangun kehidupannya dengan kemampuan yang dimiliki. Dari sebuah alat kerja, tumbuh sebuah kesempatan. Dari sebuah kesempatan, lahir harapan untuk menjadi lebih mandiri.

08/10/2026 | Kontributor: Nadya - Magang
Dari Pintu ke Pintu hingga Pendidikan, BAZNAS Kota Surabaya Hadir untuk Masyarakat

Kepedulian terhadap masyarakat dapat diwujudkan melalui berbagai cara, mulai dari memberikan pendampingan secara langsung hingga membuka akses terhadap layanan kesehatan dan pendidikan. Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen BAZNAS Kota Surabaya dalam menghadirkan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan. Melalui berbagai program sosial dan kemanusiaan, BAZNAS Kota Surabaya berupaya menjangkau masyarakat dengan memperhatikan kebutuhan serta kondisi penerima manfaat. Tidak hanya memberikan bantuan, pendekatan yang dilakukan juga mengedepankan pendampingan agar manfaat program dapat dirasakan secara lebih berkelanjutan.

Menjangkau Keluarga melalui Pendampingan dari Rumah ke Rumah

Salah satu bentuk kepedulian BAZNAS Kota Surabaya diwujudkan melalui program pendampingan kesehatan yang menjangkau keluarga secara langsung atau door to door. Program ini dilaksanakan melalui kerja sama dengan Puskesmas untuk memberikan perhatian terhadap kebutuhan kesehatan keluarga, khususnya bagi balita dan baduta yang memerlukan dukungan pemenuhan gizi. Dalam pelaksanaannya, bantuan diberikan melalui penyediaan susu dan vitamin, disertai edukasi kepada keluarga mengenai pentingnya pemenuhan nutrisi serta pemantauan tumbuh kembang anak. Pendekatan dari rumah ke rumah menjadi langkah penting untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Dengan menjangkau keluarga secara langsung, kebutuhan penerima manfaat dapat diperhatikan sekaligus memberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kesehatan anak sejak usia dini. Upaya ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap kesehatan tidak cukup hanya melalui pemberian bantuan, tetapi juga perlu disertai edukasi dan pendampingan kepada keluarga.

Menghadirkan Layanan Kesehatan yang Disertai Pemberdayaan

Selain pendampingan keluarga, BAZNAS Kota Surabaya juga menghadirkan kepedulian melalui program Bengkel Sehat Mandiri. Program ini menggabungkan layanan kesehatan dengan semangat pemberdayaan masyarakat. Melalui kolaborasi bersama Dinas Kesehatan Kota Surabaya, program tersebut menjadi salah satu bentuk upaya untuk memperluas manfaat pelayanan kesehatan sekaligus mendorong kemandirian masyarakat. Kehadiran program ini memperlihatkan bahwa peningkatan kesejahteraan tidak hanya berkaitan dengan bantuan sosial, tetapi juga mencakup akses terhadap layanan kesehatan dan kesempatan untuk mengembangkan potensi diri. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga diharapkan memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara lebih mandiri.

Dukungan Pendidikan untuk Membuka Kesempatan Masa Depan

Kepedulian BAZNAS Kota Surabaya juga diwujudkan melalui dukungan di bidang pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan penting yang berperan dalam membangun masa depan generasi muda. Namun, keterbatasan ekonomi masih menjadi tantangan bagi sebagian keluarga dalam memenuhi kebutuhan pendidikan anak. Kondisi tersebut mendorong pentingnya kehadiran bantuan yang dapat meringankan beban keluarga dan membantu anak mempertahankan kesempatan untuk terus belajar. Melalui pemanfaatan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS), BAZNAS Kota Surabaya turut menyalurkan bantuan biaya pendidikan. Salah satu bentuk dukungan tersebut diwujudkan melalui bantuan pendidikan kepada 553 siswa binaan Dinas Sosial Kota Surabaya dari kawasan ekslokalisasi, dengan total bantuan mencapai Rp381,57 juta pada periode Januari hingga September 2026. Bantuan ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan pendidikan para siswa sekaligus memberikan kesempatan yang lebih luas bagi mereka untuk mengembangkan potensi dan meraih cita-cita. Dukungan pendidikan bukan sekadar membantu memenuhi kebutuhan biaya sekolah, melainkan juga menjadi bagian dari upaya memutus hambatan ekonomi dalam memperoleh pendidikan yang layak.

Kepedulian yang Menghadirkan Manfaat Lebih Luas

 

Berbagai program tersebut menunjukkan bahwa kepedulian BAZNAS Kota Surabaya hadir melalui pendekatan yang beragam. Mulai dari menjangkau keluarga secara langsung, memberikan dukungan kesehatan, hingga membantu keberlangsungan pendidikan anak. Setiap program memiliki sasaran dan bentuk pelayanan yang berbeda, tetapi tetap membawa semangat yang sama, yaitu menghadirkan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan. Melalui pengelolaan dana zakat, infak, dan sedekah, BAZNAS Kota Surabaya berupaya mengoptimalkan penyaluran bantuan agar dapat memberikan dampak nyata dalam kehidupan masyarakat. Kepedulian sosial pada akhirnya bukan hanya tentang bantuan yang diberikan, melainkan juga tentang kesempatan yang dibuka, keluarga yang didampingi, serta masa depan yang turut diperjuangkan. Dengan semangat tersebut, BAZNAS Kota Surabaya terus berupaya memperkuat peran dalam menghadirkan program sosial dan kemanusiaan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Sebab, setiap bentuk kepedulian memiliki arti ketika mampu memberikan manfaat dan membantu masyarakat memperoleh kehidupan yang lebih baik.

08/10/2026 | Kontributor: Nadya - Magang

Artikel Terbaru

Resonansi Harta Abadi: Dorong Semangat Berbagi Melalui Fikih Wakaf, Zakat, dan Sedekah
Resonansi Harta Abadi: Dorong Semangat Berbagi Melalui Fikih Wakaf, Zakat, dan Sedekah
Dalam ajaran Islam, harta bukanlah sekadar alat untuk memenuhi kebutuhan hidup semata. Lebih dari itu, harta adalah amanah dari Allah SWT yang di dalamnya terkandung hak-hak orang lain. Mengelola harta dengan cara yang benar, sesuai dengan fikih Islam, akan melahirkan resonansi kebaikan yang tak hanya bermanfaat di dunia, tetapi juga menjadi investasi abadi di akhirat. Berbagi adalah sarana utama dalam Islam untuk membersihkan harta dan jiwa. Dalam mengelola kekayaan, umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan zakat, sedekah, dan wakaf. Instrumen ketiga ini bukan hanya sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai investasi spiritual yang menghasilkan harta abadi atau maal al-akhirah. Konsep ini terwujud dalam tiga pilar utama: wakaf, zakat, dan sedekah, yang ketiganya kini dikelola secara profesional oleh lembaga seperti Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Surabaya. Memahami Harta sebagai Resonansi Kebaikan Harta abadi adalah kekayaan yang meskipun bersifat duniawi, manfaatnya terus mengalir hingga akhirat. Rasulullah SAW bersabda bahwa jika manusia meninggal dunia, amal perbuatannya terhenti kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya. (HR Muslim). Amal ketiga ini landasan menjadi bagi pentingnya wakaf, zakat, dan sedekah. Setiap umat Islam meyakini bahwa rezeki yang didapat datangnya dari Allah. Oleh karena itu, di balik kekayaan, ada kewajiban untuk berbagi. Fikih Islam menawarkan panduan secara komprehensif agar harta yang kita miliki tidak hanya berputar di kalangan orang kaya, tetapi juga dapat menciptakan keadilan sosial dan kesejahteraan bagi seluruh umat. Zakat adalah kewajiban harta yang bersih yang dikeluarkan untuk membersihkan harta dan membantu golongan yang berhak menerimanya. Sedekah adalah pemberian sukarela yang bisa dilakukan kapan saja dan dalam bentuk apa saja, sebagai wujud kepedulian sosial. Wakaf merupakan instrumen pemberian harta yang manfaatnya dipergunakan secara terus menerus untuk kepentingan umat. Instrumen ketiga ini memiliki potensi besar untuk membangun peradaban yang berkeadilan melalui pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, dan pembangunan infrastruktur keumatan. Peran BAZNAS dalam Menggerakkan Semangat Berbagi BAZNAS sebagai lembaga amil resmi pemerintah memiliki tugas strategis mengumpulkan, mendistribusikan, serta mengelola zakat, sedekah, dan wakaf secara profesional, transparan, dan akuntabel. Dengan pendekatan manajemen data penerima manfaat dan teknologi digital, BAZNAS berhasil menjangkau lebih banyak mustahik dan menyalurkan dana secara tepat guna. Beberapa peran utama BAZNAS dalam pemberdayaan mustahik meliputi: Pengelolaan Produktif Zakat: Dana zakat tidak hanya sebagai bantuan konsumtif tetapi juga investasi sosial ekonomi yang membantu mustahik mandiri. Pengembangan Produktif Wakaf: BAZNAS menggerakkan wakaf dalam bentuk properti, pendidikan, dan kesehatan yang manfaatnya terus menerus. Program bantuan Sosial dan Kemanusiaan: Meliputi bencana alam, pengentasan kemiskinan ekstrem, dan dukungan sosial untuk peningkatan kualitas hidup. Pemberdayaan Mustahik: Melalui pelatihan usaha, pendampingan bisnis, dan akses permodalan agar penerima manfaat dapat berdikari. BAZNAS menjalankan seluruh program ini dengan prinsip amanah, akuntabilitas, dan profesionalisme. Setiap rupiah yang masuk dicatat dan dilaporkan secara transparan. Dengan demikian, muzaki tidak perlu khawatir apakah zakatnya sampai kepada yang berhak. BAZNAS memastikan bahwa setiap dana yang diamanahkan akan beresonansi menjadi kebaikan yang terukur dan berdampak luas. Menggugah Semangat Berbagi: Panggilan untuk Umat Islam Fenomena Resonansi Harta Abadi ini mengajak kita untuk merenung. Harta bukan sekedar milik pribadi, tetapi juga milik umat. Dengan menunaikan zakat, berinfak, bersedekah, dan berwakaf, kita tidak hanya menaati perintah agama, tetapi juga berkontribusi langsung dalam membangun masyarakat yang lebih adil dan sejahtera. Marilah kita jadikan harta kita beresonansi. Jangan biarkan harta kita "mati" setelah kita tiada. Jadikanlah ia sebagai "kendaraan" menuju kebaikan yang tak berujung. Melalui lembaga yang kredibel seperti BAZNAS, kami dapat menyalurkan resonansi ini secara efektif. Mari bersama-sama membangun peradaban yang berlandaskan kasih sayang, keadilan, dan kepedulian.
ARTIKEL25/09/2025 | Listy
Zakat Sebagai Kekuatan Sosial dan Ekonomi Umat
Zakat Sebagai Kekuatan Sosial dan Ekonomi Umat
Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang menduduki posisi penting dalam tatanan kehidupan umat Islam. Ia bukan sekadar kewajiban individu, tetapi juga sebuah instrumen sosial yang berfungsi menjaga keseimbangan, keadilan, dan keberlangsungan hidup bersama. Definisi Zakat Secara bahasa, kata zakat berasal dari akar kata zaka yang berarti tumbuh, berkembang, dan suci. Dalam arti lain, zakat juga dapat diartikan sebagai bentuk ketakwaan. Al-Qur'an menggunakan istilah ini dalam konteks kesucian jiwa maupun harta, karena zakat berfungsi membersihkan diri dari sifat kikir sekaligus menyucikan harta dari hak orang lain yang melekat di dalamnya. Secara istilah, zakat adalah sejumlah harta tertentu yang diwajibkan oleh Allah untuk diberikan kepada golongan yang berhak menerima, dengan syarat, kadar, dan ketentuan tertentu. Dengan demikian, zakat tidak sama dengan sedekah biasa ataupun hadiah, karena ia memiliki aturan yang baku baik dari segi nisab, haul, maupun penerimaannya. Karakteristik Zakat yang Membedakannya dari Pajak Zakat memiliki ciri khas yang membedakannya dari pungutan atau pajak yang ditetapkan oleh pemerintah. Pajak dapat dikenakan atas siapa pun, baik kaya maupun miskin, dan penggunaannya sering kali kembali untuk kepentingan penguasa atau sektor tertentu. Sementara itu, zakat hanya diwajibkan atas harta yang berkembang dan dimiliki oleh orang kaya, lalu disalurkan langsung kepada delapan golongan penerima (asnaf), terutama fakir miskin. Selain itu, zakat bersifat tetap dan tidak bisa dihapuskan, karena kedudukannya sebagai syariat yang berasal langsung dari Allah. Zakat juga mengandung unsur ibadah, berbeda dengan pajak yang lebih bersifat administrasi kenegaraan. Nabi Muhammad SAW menegaskan: “Zakat diambil dari orang-orang kaya dan dikembalikan kepada orang-orang miskin.” Perbedaan Zakat, Sedekah, dan Hibah Zakat: Kewajiban syar'i atas harta tertentu, dengan syarat nisab dan haul, serta penyaluran kepada penerima yang ditentukan. Sedekah : Lebih luas dari zakat. Sedekah bisa berupa kewajiban (zakat) maupun pemberian sunnah di luar zakat. Hibah atau hadiah: Pemberian sukarela tanpa syarat, biasanya untuk menunjukkan kasih sayang, rasa hormat, atau ikatan sosial. Dengan demikian, setiap zakat adalah sedekah, tetapi tidak setiap sedekah adalah zakat. Hukum dan Sejarah Pensyaratan Zakat Zakat merupakan kewajiban yang ditegaskan dalam Al-Qur'an, As-Sunnah, dan ijma' ulama. Allah berfirman: “Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.” (QS. Al-Baqarah : 43) Kewajiban zakat disepakati oleh para sahabat hingga mereka memerangi kelompok yang menolak menunaikannya pada masa Khalifah Abu Bakar RA. Zakat secara rinci diwajibkan pada tahun kedua Hijriah di Madinah. Namun, ajaran tentang berbagi kepada fakir miskin telah diperintahkan sejak masa dakwah di Mekah, sebelum turunnya aturan teknis mengenai nisab dan haul. Tahapan Pensyariatan Zakat dan Hubungannya dengan Umat Terdahulu Al-Qur'an mengisahkan bahwa zakat juga diwajibkan pada umat para nabi sebelumnya, seperti pada Nabi Ibrahim dan keturunannya. Hal ini menunjukkan bahwa zakat bukanlah kewajiban baru, melainkan bagian dari tradisi ibadah yang diwariskan para nabi. Di masa Nabi Muhammad SAW, kewajiban zakat pada mulanya bersifat umum, kemudian diperinci dengan aturan jumlah, nisab, dan pendistribusiannya setelah hijrah ke Madinah. Hikmah Zakat Setiap hukum yang ditetapkan Allah mengandung hikmah. Zakat antara lain bertujuan: Menyucikan jiwa dan harta dari sifat kikir dan kecintaan berlebihan terhadap dunia. Menggerakkan perputaran ekonomi, karena harta tidak boleh ditimbun. Membantu fakir miskin dan kelompok lemah, sehingga mengurangi jurang sosial. Menumbuhkan solidaritas dan kasih sayang antar sesama Muslim. Dengan zakat, distribusi harta menjadi lebih merata, pasar terhindar dari stagnasi, dan aktivitas ekonomi tetap berjalan. Risiko Tidak Membayar Zakat Orang yang menahan zakat diancam dengan azab yang pedih di akhirat, sebagaimana disebutkan dalam QS. At-Taubah: 34–35. Rasulullah SAW juga memperingatkan bahwa harta yang tidak dizakati akan berubah menjadi ular beracun yang dibeli pemiliknya pada hari kiamat. Dampaknya di dunia pun nyata. Nabi bersabda: “Bukanlah mereka yang menahan zakat, melainkan mereka yang ditahan dari turunnya hujan.” Selain itu, tawaran zakat dapat menimbulkan kebencian sosial, ketimpangan, dan kriminalitas jurang antara kaya dan miskin yang semakin lebar. Zakat sebagai Solusi Penanggulangan Kemiskinan Jika umat seluruh Islam menunaikan zakat sesuai ketentuan, kebutuhan dasar fakir miskin akan terpenuhi. Zakat berfungsi sebagai instrumen distribusi pendapatan, mengurangi angka kemiskinan, dan memperkuat ikatan sosial. Zakat juga dapat diarahkan pada pemberdayaan ekonomi, misalnya dengan memberikan modal usaha atau membangun fasilitas publik. Dengan demikian, zakat tidak hanya meringankan kebutuhan sesaat, tetapi juga mengangkat harkat sosial-ekonomi kaum dhuafa. Ibadah dan Kehidupan Sosial Pada akhirnya, zakat hanyalah satu bagian dari ibadah yang lebih luas. Tujuan penciptaan manusia adalah beribadah kepada Allah dalam arti yang komprehensif: bukan sekedar ritual, tetapi juga membangun peradaban, menegakkan keadilan, dan memakmurkan bumi. Sebagaimana diungkapkan Ibnu Taimiyah, hati manusia tidak akan tenang kecuali dengan beribadah kepada Allah. Zakat adalah bentuk nyata ibadah sosial yang menyatukan dimensi spiritual, moral, dan ekonomi, sehingga umat Islam dapat hidup sejahtera dalam ridha Allah SWT.
ARTIKEL24/09/2025 | Imam
BAZNAS Kota Surabaya sebagai Social Enterprise
BAZNAS Kota Surabaya sebagai Social Enterprise
Pendahuluan Zakat, infak, dan shodaqoh (ZIS) bukan sekadar kewajiban ibadah, tetapi juga sarana membangun kesejahteraan umat. Di Kota Surabaya, potensi zakat sangat besar dan dikelola secara profesional oleh BAZNAS Kota Surabaya. Sebagai lembaga resmi, BAZNAS tidak hanya berfungsi menyalurkan dana umat, tetapi juga berperan sebagai social enterprise: lembaga sosial yang mengelola zakat dengan pendekatan kewirausahaan untuk menciptakan dampak berkelanjutan. Program Ekonomi Produktif BAZNAS Kota Surabaya menyalurkan zakat ke dalam program-program produktif, antara lain: Bantuan modal usaha untuk UMKM dhuafa. Pelatihan Usaha & Pemberdayaan UKM Bantuan Alat Kerja (Rombong, Etalase, Mesin Jahit) Dengan langkah ini, zakat bukan hanya bantuan konsumtif, melainkan juga menjadi modal pemberdayaan yang mengangkat mustahik menuju kemandirian. Dukungan Pendidikan dan Kesehatan Selain ekonomi, BAZNAS juga fokus pada bidang pendidikan dan kesehatan. Beberapa program unggulan adalah: Beasiswa dhuafa untuk anak-anak yang kurang mampu. Bedah rumah dan Pembangunan sanitasi bagi Masyarakat dhuafa. Program gizi mustahik berupa zakat tunai untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga miskin. Fokus ini memastikan mustahik tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga memiliki kesempatan untuk berkembang. Transparansi dan Digitalisasi Kepercayaan masyarakat adalah modal utama bagi social enterprise. Karena itu, BAZNAS Kota Surabaya selalu mengutamakan transparansi dengan laporan terbuka, audit rutin, dan penggunaan teknologi digital. Kini, masyarakat bisa menunaikan zakat dengan mudah melalui: Transfer bank. Web zakat online atau Qris. Layanan jemput zakat. Digitalisasi membuat layanan lebih modern, cepat, dan transparan. Dampak Sosial Nyata Melalui program-program tersebut, BAZNAS Kota Surabaya berhasil memberikan dampak positif, seperti: Mendukung ratusan UMKM dhuafa untuk berkembang. Membiayai pendidikan anak-anak miskin melalui beasiswa. Memberikan bantuan-bantuan kesehatan gratis bagi keluarga dhuafa. Semua ini membuktikan zakat yang dikelola BAZNAS benar-benar membawa perubahan sosial nyata. Kesimpulan Sebagai social enterprise, BAZNAS Kota Surabaya berkomitmen menghadirkan pengelolaan zakat yang amanah, transparan, dan berdampak produktif. Melalui ekonomi, pendidikan, dan kesehatan, zakat mampu menjadi solusi nyata untuk kesejahteraan umat. Tunaikan zakat, infak, dan shodaqoh Anda melalui BAZNAS Kota Surabaya. Bersama, kita wujudkan Surabaya yang lebih adil, makmur, dan penuh keberkahan.
ARTIKEL24/09/2025 | Dini
Persiapan Ruhani Menyambut Rabiul Akhir yang Penuh Berkah
Persiapan Ruhani Menyambut Rabiul Akhir yang Penuh Berkah
Bulan Rabiul Akhir merupakan bulan keempat dalam kalender hijriah yang kerap disebut juga dengan Rabi’ ats-Tsani. Walaupun tidak sepopuler bulan Ramadhan atau bulan Rabiul Awal yang identik dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW, namun kehadiran bulan Rabiul Akhir tetap memiliki nilai penting dalam perjalanan spiritual seorang muslim. Setiap pergantian bulan dalam Islam sejatinya adalah kesempatan baru untuk memperbaiki ruhani, menambah amal, dan mengokohkan ketakwaan. Menyambut bulan Rabiul Akhir hendaknya tidak dilakukan dengan sikap biasa saja, melainkan dengan kesadaran penuh bahwa waktu yang diberikan Allah adalah amanah. Persiapan diri tidak hanya mencakup aspek ibadah, tetapi juga meliputi dimensi sosial, moral, hingga pengelolaan kehidupan sehari-hari. 1. Memperkuat Hubungan dengan Allah Langkah awal dalam menyambut bulan Rabiul Akhir adalah mempertebal iman dan takwa. Setiap muslim dianjurkan untuk memperbaiki kualitas shalat, memperbanyak dzikir, serta meluangkan waktu untuk membaca dan mentadabburi Al-Qur’an. Bulan ini dapat dijadikan momentum untuk melatih konsistensi dalam ibadah harian, sehingga kelak terbentuk rutinitas yang lebih baik. 2. Muhasabah dan Perbaikan Diri Persiapan diri yang tidak kalah penting adalah melakukan introspeksi. Muhasabah menjadi cara efektif untuk menilai sejauh mana amal yang telah dilakukan pada bulan-bulan sebelumnya. Dengan begitu, seorang muslim dapat merancang perbaikan di bulan Rabiul Akhir, misalnya memperbaiki niat, mengurangi kebiasaan buruk, atau meningkatkan kepedulian terhadap sesama. 3. Menguatkan Amal Sosial Rabiul Akhir juga bisa dimaknai sebagai momentum meningkatkan kepedulian sosial. Islam tidak hanya menekankan ibadah ritual, tetapi juga mengajarkan umatnya untuk hadir memberi manfaat bagi orang lain. Di bulan ini, umat muslim dianjurkan memperbanyak sedekah, membantu fakir miskin, ataupun mendukung kegiatan keagamaan di lingkungan sekitar. Amal sosial yang dilakukan dengan ikhlas akan menjadi tabungan kebaikan di akhirat. 4. Menjaga Akhlak dan Perilaku Persiapan menyambut bulan Rabiul Akhir juga perlu diwujudkan dengan menjaga akhlak. Sopan santun, kejujuran, kesabaran, serta sikap rendah hati merupakan bagian dari ajaran Nabi ? yang harus diteladani. Dengan memperbaiki perilaku, seorang muslim dapat lebih mudah diterima di tengah masyarakat dan menebarkan kebaikan dalam keseharian. 5. Mengisi Waktu dengan Kegiatan Bermanfaat Setiap bulan adalah kesempatan untuk berproses menjadi pribadi yang lebih baik. Bulan Rabiul Akhir bisa diisi dengan kegiatan bermanfaat seperti menghadiri kajian, membaca buku-buku Islami, ataupun menekuni keterampilan baru yang mendukung produktivitas. Dengan demikian, waktu tidak terbuang sia-sia, melainkan dipenuhi aktivitas yang bernilai duniawi sekaligus ukhrawi. 6. Menumbuhkan Semangat Hijrah Rabiul Akhir dapat dijadikan momentum untuk meneguhkan semangat hijrah, yaitu berpindah dari kebiasaan buruk menuju kebiasaan yang diridhai Allah. Hijrah bukan hanya perubahan fisik atau tempat, tetapi juga transformasi jiwa, pola pikir, serta perbuatan agar lebih dekat dengan kebaikan. Penutup Menyambut bulan Rabiul Akhir tidak memerlukan ritual khusus yang memberatkan. Namun, yang lebih penting adalah menyiapkan hati, pikiran, dan perilaku agar senantiasa berada di jalan yang lurus. Dengan memperkuat iman, memperbanyak amal kebaikan, menjaga akhlak, serta meningkatkan kepedulian sosial, seorang muslim dapat menjadikan bulan Rabiul Akhir sebagai momentum berharga untuk semakin dekat dengan Allah dan semakin bermanfaat bagi sesama.
ARTIKEL23/09/2025 | Bram
Saatnya Generasi Muda Ambil Bagian: Zakat & Sedekah Sebagai Investasi Abadi
Saatnya Generasi Muda Ambil Bagian: Zakat & Sedekah Sebagai Investasi Abadi
Halo, generasi 90-an sampai 2000-an! Tau gak sih, kalian ini lagi di masa prime time banget. Karier mulai naik, penghasilannya lumayan, dan sudah mulai bisa mengatur keuangan sendiri. Keren! Tapi pertanyaannya: udah pada mikir belum soal investasi untuk akhirat? Tunggu, Investasi Akhirat? Tenang, ini bukan ceramah yang bikin ngantuk kok! Jadi begini, kalau investasi dunia kayak saham atau crypto kan sering naik-turun, bahkan bisa rugi total. Nah, zakat dan sedekah itu investasi yang return-nya dijamin untung 100% tanpa ada resiko loss sama sekali! Bayangin aja, ada investasi yang pasti untung, nggak ada risiko bangkrut, plus dikasih bonus keberkahan hidup sekarang juga. Menarik kan? Kenapa Generasi Kita Harus Peduli? Coba deh liat timeline sosmed kalian. Pasti banyak banget konten tentang keadilan sosial, lingkungan, atau gerakan kemanusiaan. Nah, zakat dan sedekah itu adalah aksi nyata dari value-value yang sering kalian posting di feed! Ditambah lagi generasi kita kan digital native banget. Sekarang bayar zakat bisa lewat e-wallet, mobile banking, atau scan kode QR. Praktis abis! Zakat vs Sedekah: Bedanya Apa? Zakat: Yang wajib dan terukur Sifatnya wajib buat yang punya harta sampai nisab Jumlahnya 2,5% dari harta yang disimpan setahun Fungsinya untuk membersihkan harta dan jiwa Sedekah: Yang fleksibel dan personal Sifatnya sunnah tapi sangat dianjurkan Jumlahnya bebas sesuai kemampuan Bisa kapan aja, bahkan senyum juga sedekah! ROI yang Gila-gilaan Investasi zakat dan sedekah punya return yang luar biasa: Multiplier 700x lipat - dijamin langsung di Al-Quran! Perlindungan dari berbagai masalah kehidupan Keberkahan yang langsung terasa sekarang Pahala jariyah yang terus mengalir Coba deh bayangin kalau ada saham atau crypto yang bisa kasih jaminan return segini. Pasti langsung FOMO kan? Gimana Mulainya? Step 1: Hitung Zakat Total harta yang sudah disimpan setahun Kalau udah sampai nisab (setara 85 gram emas), wajib zakat 2,5% Banyak kalkulator zakat online kok Step 2: Pilih Platform BAZNAS (lembaga resmi pemerintah) LAZ terpercaya kayak Dompet Dhuafa, Rumah Zakat Dompet elektronik: OVO, GoPay, DANA Perbankan seluler Step 3: Jadikan Rutinitas Atur auto-debet atau pengingat bulanan. Perlakukan kayak berlangganan Netflix tapi untuk akhirat! Step 4: Sedekah Gaya Bebas Mulai dari nominal kecil tapi rutin Ikut patungan untuk program sosial Mendukung crowdfunding yang bermanfaat Beyond Money: Sedekah Kreatif Siapa bilang sedekah cuma uang? Generasi kreatif kayak kalian bisa: Berbagi keterampilan: Ngajarin coding, desain, bahasa gratis Pembuatan konten: Bikin konten edukatif yang bermanfaat Sukarelawan: Ikut kegiatan sosial di LSM Donor darah: Sederhana tapi sangat berdampak! The Compound Effect Sama seperti investasi dunia, zakat dan sedekah juga punya efek majemuk. Semakin rutin dan konsisten, semakin besar "portofolio akhirat" kalian. Dan yang paling keren: Tidak ada inflasi (nilainya selalu naik) Nggak ada resiko default Liquid (manfaatnya langsung terasa) Bebas pajak (malah dapat bonus keberkahan) Let's Take Action! Oke teman-teman, saatnya beraksi! Mulai dari yang sederhana: Bulan ini: Hitung dan bayar zakat ke LAZ terpercaya Mingguan: Sisihkan 50rb-100rb buat sedekah rutin Harian: Sedekah receh atau bantuin orang yang butuh Bagikan: Ajak teman-teman buat sama-sama berinvestasi di akhirat Ingat, kita punya keistimewaan: akses teknologi, pendidikan, dan peluang ekonomi yang baik. Dengan keistimewaan ini, kita punya tanggung jawab untuk berbagi. Jadi, siap jadi generasi dermawan? Yuk, kerenkan lagi zakat dan sedekahmu!
ARTIKEL23/09/2025 | Jal
BAZNAS Tanggap Bencana Kota Surabaya: Wujud Kepedulian Zakat untuk Kemanusiaan
BAZNAS Tanggap Bencana Kota Surabaya: Wujud Kepedulian Zakat untuk Kemanusiaan
1. Pendahuluan Bencana dapat datang kapan saja tanpa mengenal waktu dan tempat. Kota Surabaya sebagai kota metropolitan juga tidak luput dari potensi bencana, mulai dari banjir, kebakaran, rumah ambruk hingga kondisi darurat non-alam lainnya. Menyadari pentingnya kesiapsiagaan dan kehadiran lembaga yang sigap menolong, BAZNAS Kota Surabaya membentuk BAZNAS Tanggap Bencana (BTB) yang di SK Ketua BAZNAS Kota Surabaya langsung sejak 13 Desember 2024 BTB Surabaya merupakan unit khusus yang berfungsi sebagai garda depan pelayanan kemanusiaan. Unit ini dibentuk bukan hanya untuk merespon kejadian bencana, tetapi juga untuk memberikan edukasi, pencegahan, serta pemulihan pascabencana dengan mengedepankan nilai-nilai zakat dan kepedulian sosial. 2. Visi dan Misi BTB Surabaya BTB Surabaya hadir dengan visi besar yaitu “Menjadi tim tanggap bencana yang profesional, responsif, dan berorientasi pada kemanusiaan dalam bingkai pengelolaan zakat yang amanah.” Untuk mewujudkan visi tersebut, BTB Surabaya mengemban misi sebagai berikut: Meningkatkan kapasitas relawan melalui pelatihan dan pendidikan kebencanaan. Membangun sistem respon cepat dalam menghadapi bencana yang terjadi di Kota Surabaya dan sekitarnya. Mengintegrasikan nilai zakat, infak, dan sedekah dalam pelayanan kemanusiaan yang nyata di lapangan. Menjalin kemitraan strategis dengan lembaga pemerintah, swasta, dan komunitas kebencanaan lainnya. Mendorong kesadaran masyarakat tentang pentingnya mitigasi bencana dan kepedulian sosial. 3. Tujuan dan Maksud Pembentukan BTB Surabaya BTB Surabaya dibentuk dengan maksud untuk memastikan bahwa zakat tidak hanya hadir dalam bentuk bantuan ekonomi, tetapi juga dalam bentuk nyata kepedulian kemanusiaan. Beberapa tujuan utama dari pembentukan BTB ini antara lain: Menjadi lini pertama penolong masyarakat saat terjadi bencana. Mengurangi dampak korban jiwa dan kerugian dengan respon cepat dan terkoordinasi. Menghadirkan kehadiran negara dan umat melalui aksi nyata BAZNAS yang amanah dan terpercaya. Menguatkan nilai solidaritas antarwarga Surabaya melalui program bantuan yang berbasis zakat. 4. Peran dan Implementasi di Lapangan Sejak dibentuk, BTB Surabaya aktif melibatkan diri dalam berbagai aksi kemanusiaan. Tidak hanya turun langsung saat banjir dan kebakaran, tetapi juga mendampingi masyarakat dalam masa pemulihan pascabencana. Peran penting BTB Surabaya meliputi: Respon Darurat: Memberikan pertolongan pertama, evakuasi, dan distribusi bantuan logistik. Mitigasi dan Edukasi: Mengedukasi masyarakat tentang langkah-langkah menghadapi bencana. Pemulihan Pascabencana: Memberikan dukungan psikososial, kesehatan, serta bantuan ekonomi dasar bagi korban. Kolaborasi Lintas Lembaga: Bekerjasama dengan BPBD, Basarnas, PMI, TNI/Polri, hingga komunitas lokal untuk penanganan yang lebih efektif. Implementasi ini menjadi bukti bahwa zakat, infak, dan sedekah tidak hanya berfungsi mengangkat kesejahteraan ekonomi, tetapi juga hadir langsung menyelamatkan kehidupan manusia dalam kondisi darurat. 5. Studi Kasus Kemanusiaan Dalam setahun terakhir, BTB Surabaya telah terjun di berbagai titik bencana seperti banjir tahunan di wilayah pinggiran kota (kecamatan karang pilang) dan kebakaran pemukiman padat penduduk. Kehadiran BTB membawa dampak positif, di antaranya: Respon lebih cepat karena relawan berbasis lokal. Kepercayaan masyarakat meningkat terhadap BAZNAS sebagai lembaga yang tidak hanya mengelola dana, tetapi juga terjun langsung ke lapangan. Sinergi semakin kuat dengan lembaga kebencanaan lain, sehingga penanganan lebih terkoordinasi. 6. Kesimpulan Kehadiran BAZNAS Tanggap Bencana (BTB) Surabaya merupakan langkah strategis dalam memperluas manfaat zakat bagi masyarakat. BTB tidak hanya menjadi simbol kepedulian, tetapi juga bukti nyata bahwa zakat mampu menjawab tantangan kemanusiaan. Dengan visi dan misi yang jelas, peran yang nyata, serta sinergi dengan berbagai pihak, BTB Surabaya optimis dapat terus memberikan layanan kemanusiaan yang cepat, tepat, dan profesional. BAZNAS Kota Surabaya melalui BTB berkomitmen untuk selalu hadir di tengah masyarakat, tidak hanya dalam pemberdayaan ekonomi, tetapi juga dalam setiap langkah kemanusiaan.
ARTIKEL22/09/2025 | Zul
Fotosintesis dan Zakat, Infak, Sedekah : Analisis Komparatif dari Perspektif Ilmiah dan Filosofis
Fotosintesis dan Zakat, Infak, Sedekah : Analisis Komparatif dari Perspektif Ilmiah dan Filosofis
Pendahuluan Secara umum, fotosintesis merupakan proses biokimia yang mengubah energi cahaya menjadi energi kimia, sedangkan ZIS adalah sistem filantropi Islam yang mendistribusikan kekayaan. Meskipun berasal dari domain yang berbeda ilmu pengetahuan alam dan sosio ekonomi keduanya memiliki kesamaan mendasar dalam prinsip transformasi, redistribusi, dan keinginan. Analisis ini mengeksplorasi bagaimana kedua fenomena ini, pada tingkatnya masing-masing, berkontribusi pada kesejahteraan ekologis dan sosial. Fotosintesis, sebuah proses penting yang terjadi pada tumbuhan, alga, dan beberapa bakteri, merupakan fondasi dari hampir seluruh rantai makanan di Bumi. Proses ini mengubah molekul sederhana seperti udara (H2O) dan karbon dioksida (CO2) menjadi glukosa (C6H12O6) dan oksigen (O2) dengan bantuan energi cahaya matahari. Hasilnya tidak hanya menyediakan nutrisi bagi tumbuhan itu sendiri, tetapi juga melepaskan oksigen yang esensial bagi kehidupan makhluk aerobik. Di sisi lain, ZIS adalah pilar penting dalam ekonomi Islam. Zakat adalah kewajiban untuk menyisihkan sebagian harta, sementara infak dan sedekah adalah memberi secara sukarela. Tujuan utamanya adalah untuk membersihkan harta, mengurangi kesejahteraan sosial, dan menciptakan kesejahteraan bersama. Meskipun fotosintesis adalah fenomena alam dan ZIS adalah konstruksi sosial-religius, keduanya dapat dipahami melalui lensa yang sama : mekanisme untuk menciptakan nilai dari sumber daya yang ada dan menyebarkannya ke dalam sistem yang lebih besar. Analisis Komparatif 1. Transformasi Nilai dari Sumber Daya Dasar Fotosintesis : Proses ini mengubah sumber daya "murah" dan melimpahnya sinar matahari, udara, dan CO2 menjadi energi yang kompleks dan "berharga" (glukosa). Ini adalah contoh luar biasa dari transformasi energi dari bentuk yang kurang dapat digunakan menjadi bentuk yang dapat dimanfaatkan oleh sistem biologis. ZIS : ZIS mengambil kekayaan yang diperoleh individu atau kelompok tertentu dan mengubahnya menjadi modal sosial dan ekonomi bagi masyarakat yang kurang mampu. Melalui ZIS, uang yang pasif menjadi aktif dan produktif, membiayai kebutuhan dasar, pendidikan, atau bahkan modal usaha. 2. Prinsip Redistribusi dan Sirkulasi Fotosintesis : Energi yang dihasilkan oleh fotosintesis tidak hanya untuk tumbuhan itu sendiri. Ia menjadi dasar rantai makanan. Herbivora memakan tumbuhan, karnivora memakan herbivora, dan seterusnya. Ini adalah contoh sempurna dari redistribusi energi dalam ekosistem. Energi dan nutrisi mengalir dari produsen ke konsumen, memastikan kelangsungan hidup seluruh ekosistem. ZIS : ZIS secara eksplisit dirancang sebagai mekanisme distribusi ulang kekayaan. Zakat diambil dari yang kaya dan diberikan kepada yang membutuhkan (asnaf). Ini menciptakan sirkulasi ekonomi yang sehat, mencegah penggembalaan harta, dan mengurangi ketidaksetaraan. Uang tidak hanya berputar di antara segelintir orang, tetapi menjangkau seluruh lapisan masyarakat. 3. Keberlanjutan Sistem Fotosintesis : Fotosintesis adalah kunci ekologi ekologis. Dengan menghasilkan oksigen dan menyerap CO2, ia menjaga komposisi atmosfer yang stabil. Tanpa fotosintesis, kehidupan di Bumi seperti yang kita tahu tidak akan ada. Proses ini adalah fondasi bagi ekosistem yang seimbang dan berkelanjutan. ZIS : ZIS adalah instrumen untuk keinginan sosial. Dengan mengurangi kemiskinan dan ketidaksetaraan, ZIS mencegah gejolak sosial dan ekonomi. Masyarakat yang lebih adil dan sejahtera cenderung lebih stabil dan produktif. ZIS mendorong masyarakat untuk saling menjaga dan menanggung, menciptakan kohesi sosial yang kuat dan berkelanjutan dari generasi ke generasi. Kesimpulan Analisis komparatif antara fotosintesis dan ZIS mengungkapkan kesamaan yang mendalam di balik perbedaan domain mereka. Keduanya beroperasi berdasarkan prinsip dasar yang sama: mengambil sumber daya dari satu titik, mentransformasikannya, dan mendistribusikannya untuk kepentingan dan ekosistem yang lebih besar—baik itu ekosistem global atau masyarakat. Fotosintesis adalah model biologi untuk kepunahan ekologis, sedangkan ZIS adalah model sosiologis untuk kepunahan ekonomi dan sosial. Dengan memahami analogi ini, kita dapat menghargai ZIS bukan hanya sebagai kewajiban keagamaan, tetapi sebagai sistem yang secara fundamental dirancang untuk mencerminkan efisiensi dan keseimbangan yang kita amati di alam.
ARTIKEL22/09/2025 | Fach
Keajaiban Sedekah: Satu Kebaikan Membuka Ribuan Pintu Rezeki
Keajaiban Sedekah: Satu Kebaikan Membuka Ribuan Pintu Rezeki
Sedekah merupakan salah satu amalan mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam. Amalan ini tidak hanya memberi manfaat bagi penerimanya, tetapi juga membuka pintu keberkahan dan kebaikan yang luas bagi siapa saja yang menunaikannya. Satu sedekah yang dilakukan dengan tulus bisa menjadi kunci terbukanya ribuan kebaikan dalam kehidupan. Banyak orang menganggap sedekah sebagai amalan sederhana, padahal sesungguhnya ia menyimpan keajaiban yang besar. Sedekah mampu menenangkan jiwa, membersihkan hati dari sifat kikir, sekaligus menjadi cahaya dan pertolongan bagi mereka yang membutuhkan. Keutamaan dan Manfaat Sedekah Keajaiban sedekah dapat dirasakan dalam berbagai aspek kehidupan, di antaranya: Mendatangkan rahmat dan keberkahan dari Allah SWT. Menjadi perlindungan dari musikbah yang tidak terduga. Membuka pintu rezeki yang luas serta datang dari arah yang tak disangka-sangka. Membersihkan hati dan jiwa dari sifat iri, dengki, dan kikir. Meningkatkan empati dan kepedulian sosial, sehingga tercipta masyarakat yang lebih harmonis. Sedekah dan Keajaiban dalam Kehidupan Satu sedekah kecil yang dilakukan dengan ikhlas sering kali membawa dampak besar dalam kehidupan seseorang. Keajaiban itu tidak selalu berupa harta, melainkan juga berupa kesehatan, ketenangan batin, kemudahan dalam urusan, hingga solusi dari berbagai masalah hidup. Banyak kisah nyata menunjukkan bahwa orang yang rajin bersedekah sering kali mendapat pertolongan Allah SWT dengan cara yang tak terduga: rezeki menjadi lancar, usaha berkembang, atau datangnya peluang baru yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Peran Penting BAZNAS dalam Menyalurkan Sedekah Agar sedekah benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan, peran lembaga resmi seperti Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) sangatlah penting. Melalui BAZNAS, sedekah dikelola secara profesional, transparan, dan tepat sasaran, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara nyata oleh para mustahik. Dengan disalurkan sedekah melalui BAZNAS, setiap kebaikan yang kita berikan dapat menjadi lebih luas dampaknya, mulai dari membantu fakir miskin, anak yatim, dhuafa, hingga mendukung pembangunan fasilitas umum dan program pemberdayaan masyarakat. Sedekah Sebagai Investasi Akhirat Sedekah bukan hanya urusan materi, namun juga wujud ketaatan dan penguatan iman. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an: “Tidaklah kamu memberikan nafkah (sedekah) kepada seseorang untuk mengharapkan keridhaan dari Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Menerima (pemberian) dan Maha Mengetahui.” [QS. Al-Baqarah: 272] Kesimpulan Sedekah adalah investasi kebaikan yang tidak pernah merugikan. Dengan satu sedekah kecil, kita bisa membuka pintu keberkahan yang luas bagi diri kita sendiri sekaligus memberi manfaat nyata bagi mereka yang membutuhkannya. Melalui BAZNAS, sedekah yang kita salurkan dikelola dengan amanah dan profesional, sehingga setiap kebaikan yang kita tanam dapat tumbuh menjadi manfaat yang besar bagi umat. Mari wujudkan kehidupan yang lebih berkah dengan sedekah, dan rasakan bagaimana Allah SWT melipatgandakan kebaikan dalam setiap aspek kehidupan.
ARTIKEL22/09/2025 | Listy
Keutamaan  Bulan Rabiul Awal dan  Spirit Zakat, Infak,  serta Sedekah
Keutamaan Bulan Rabiul Awal dan Spirit Zakat, Infak, serta Sedekah
Bulan Rabiul Awal adalah salah satu bulan yang penuh makna bagi umat Islam. Di bulan inilah Rasulullah SAW lahir, membawa risalah Islam yang menuntun umat manusia menuju cahaya iman dan kehidupan yang penuh keberkahan. Tidak mengherankan jika bulan Rabiul Awal selalu menjadi momentum istimewa untuk memperkuat kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, sekaligus meneladani akhlak mulia beliau. Salah satu teladan utama Nabi SAW adalah kepedulian sosial. Beliau senantiasa mendorong umatnya untuk membantu sesama, menguatkan ikatan ukhuwah, dan menebarkan kasih sayang melalui Zakat, Infak, maupun Sedekah. Karena itu, Rabiul Awal bukan sekadar bulan peringatan, tetapi juga bulan refleksi untuk memperbanyak amal kebaikan. 1. Rabiul Awal dan Semangat Kepedulian Sosial Rabiul Awal mengingatkan kita pada hadirnya sosok Nabi yang penuh kasih sayang kepada umat manusia. Salah satu misi kerasulan beliau adalah membangun masyarakat yang adil dan sejahtera. Zakat, Infak, dan Sedekah menjadi instrumen nyata dalam mewujudkan misi tersebut. Zakat membersihkan harta sekaligus menyalurkannya kepada yang berhak, sehingga terjadi pemerataan kesejahteraan. Infak membuka ruang bagi setiap orang untuk beramal sesuai kemampuannya, baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Sedekah menumbuhkan keikhlasan dan kepedulian, bukan hanya dengan harta, tetapi juga dengan senyuman, tenaga, atau ilmu. Dengan demikian, bulan Rabiul Awal adalah waktu yang tepat untuk meneguhkan kembali semangat berbagi sebagai wujud cinta kepada Nabi Muhammad SAW. 2. Meneladani Kedermawanan Rasulullah Dalam berbagai riwayat, Rasulullah SAW dikenal sebagai pribadi yang sangat dermawan, terlebih di momen-momen istimewa. Ketika beliau hadir di tengah umatnya, rasa aman dan sejahtera semakin terasa. Rabiul Awal yang menjadi bulan kelahiran beliau seharusnya menjadi pengingat bagi kita untuk meneladani sifat kedermawanan tersebut. Berinfak dan bersedekah pada bulan ini memiliki nilai spiritual yang tinggi, sebab ia tidak hanya dimaknai sebagai ibadah sosial, tetapi juga bentuk syukur atas kelahiran Sang Nabi. Semakin banyak kita berbagi, semakin kuat pula ikatan cinta kita kepada Rasulullah SAW. 3. Momentum Menghidupkan Gerakan Berbagi Bulan Rabiul Awal bisa dijadikan momentum untuk menghidupkan kembali semangat zakat, infak, dan sedekah dalam masyarakat. Lembaga zakat, masjid, maupun komunitas sosial dapat mengadakan berbagai kegiatan seperti: Gerakan sedekah harian sebagai bentuk kepedulian kepada fakir miskin. Pengumpulan zakat maal yang terorganisir untuk pemberdayaan umat. Infak pendidikan bagi anak-anak yatim dan dhuafa, sebagai investasi masa depan. Kegiatan semacam ini bukan hanya memberi manfaat bagi penerima, tetapi juga mengokohkan ukhuwah Islamiyah serta memperluas keberkahan dalam kehidupan sosial. 4. Kesimpulan Rabiul Awal adalah bulan penuh cahaya, karena dari bulan inilah lahir sosok yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Momen ini sebaiknya tidak hanya diisi dengan perayaan seremonial, tetapi juga dengan menghidupkan nilai-nilai yang beliau ajarkan. Zakat, infak, dan sedekah adalah wujud nyata meneladani Rasulullah SAW. Dengan memperbanyak amal sosial di bulan Rabiul Awal, kita bukan hanya menebar kebaikan bagi sesama, tetapi juga memperkokoh kecintaan kita kepada Nabi dan memperoleh keberkahan dari Allah SWT.
ARTIKEL19/09/2025 | Bram
Kisah Dakwah Nabi Muhammad SAW di Bulan Rabiul Awal: Ajakan untuk Berinfak dan Relevansinya pada Zaman Sekarang
Kisah Dakwah Nabi Muhammad SAW di Bulan Rabiul Awal: Ajakan untuk Berinfak dan Relevansinya pada Zaman Sekarang
Bulan Rabiul Awal adalah salah satu bulan yang memiliki posisi istimewa dalam sejarah Islam. Di bulan inilah Rasulullah Muhammad SAW dilahirkan ke dunia, sebagai rahmat bagi seluruh alam. Kehadirannya bukan sekadar menjadi peristiwa sejarah, tetapi juga awal dari perubahan besar dalam tatanan sosial, moral, dan spiritual umat manusia. Oleh karena itu, setiap kali bulan Rabiul Awal tiba, umat Islam selalu diingatkan pada keteladanan Rasulullah, terutama dalam dakwahnya yang sarat dengan nilai kasih sayang, kepedulian, dan ajakan untuk berbagi. Salah satu ajaran penting yang selalu beliau sampaikan sejak awal dakwah adalah perintah untuk berinfak. Pada masa itu, masyarakat Arab hidup dalam struktur sosial yang timpang. Golongan kaya menguasai perdagangan dan harta, sementara mayoritas kaum miskin, yatim, serta budak terabaikan. Tidak jarang terjadi ketidakadilan, ketidakadilan, dan minimnya solidaritas. Nabi Muhammad SAW datang dengan membawa risalah tauhid, namun beliau juga menegakkan misi sosial: menumbuhkan kepedulian terhadap sesama. Dakwah Infak pada Masa Rasulullah Sejak tahun-tahun awal kenabian, Rasulullah SAW menekankan bahwa iman bukan hanya diukur dari ucapan, tetapi juga dari kepedulian yang nyata kepada orang lain. Salah satu bentuknya adalah melalui infak. Infak yang beliau ajarkan tidak selalu menuntut jumlah besar, melainkan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Bahkan, sebutir kurma yang diberikan dengan ikhlas jauh lebih bernilai dibandingkan harta berlimpah yang diberikan dengan riya. Dalam sejarah, diceritakan bahwa para sahabat sangat tergerak oleh ajakan ini. Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, misalnya, dikenal sebagai sahabat yang sering menyerahkan hartanya untuk mendukung perjuangan dakwah. Umar bin Khattab RA pun pernah membawa setengah dari hartanya untuk perjuangan Islam, sementara Utsman bin Affan RA menyumbangkan harta besar demi mendukung pasukan dalam Perang Tabuk. Di sisi lain, sahabat-sahabat yang miskin pun tidak ketinggalan. Mereka berinfak dengan apa yang mereka punya, meski hanya menyebut kurma atau tenaga untuk membantu sesama. Konteks ini menampilkan bahwa dakwah Nabi di bulan Rabiul Awal tidak hanya mengajak umat kepada tauhid, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial. Islam datang untuk membangun masyarakat yang berkeadilan, di mana yang kaya menolong yang miskin, dan yang kuat melindungi yang lemah. Makna Infak di Era Modern Jika ditarik ke masa sekarang, pesan Nabi tentang infak sangat relevan. Masyarakat modern masih menghadapi tantangan besar: kemiskinan, kemiskinan ekonomi, kemiskinan, serta lemahnya solidaritas. Di tengah perkembangan teknologi dan arus globalisasi, sering kali orang terjebak dalam kehidupan individualistis, lebih fokus pada kepentingan pribadi daripada kepedulian sosial. Didalamnya ajaran Nabi menjadi solusi. Infak bukan hanya sebatas ritual, namun sebuah sistem sosial yang bisa mengurangi jurang antara kaya dan miskin. Melalui infak, zakat, dan sedekah, harta tidak menumpuk pada satu golongan saja, melainkan mengalir untuk kemaslahatan bersama. Lembaga zakat di era sekarang merupakan perpanjangan dari ajaran Nabi, yang mengelola infak umat untuk membantu pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, hingga penanggulangan bencana. Lebih dari itu, infak di zaman modern tidak terbatas pada uang. Teknologi telah membuka peluang baru: seseorang dapat berinfak dengan tenaga, ide, bahkan keterampilan digital. Membagikan ilmu di ruang publik, mengajar anak-anak yang kurang mampu, atau menggunakan media sosial untuk menggalang bantuan kemanusiaan—semuanya adalah bentuk infak kontemporer. Inilah bukti bahwa nilai yang diajarkan Nabi selalu bisa diterapkan sesuai dengan zaman. Rabiul Awal sebagai Momentum Kepedulian Setiap kali bulan Rabiul Awal tiba, umat Islam tidak hanya memperingati kelahiran Rasulullah, tetapi juga diajak untuk meneladani akhlak dan misi dakwah beliau. Salah satu misi yang paling nyata adalah menghidupkan semangat infak. Jika pada masa Nabi, infak menjadi penopang utama dakwah Islam hingga tegaknya peradaban, maka di era sekarang, infak bisa menjadi jalan untuk membangun masyarakat yang lebih adil, sejahtera, dan berdaya. Menghidupkan semangat infak di bulan Rabiul Awal berarti menghadirkan kembali nilai kepedulian dan kebersamaan di tengah kehidupan yang semakin materialistis. Dengan infak, kita belajar bahwa harta hanyalah titipan, dan sebaik-baiknya harta adalah yang memberi manfaat bagi sesama. Penutup Kisah dakwah Nabi Muhammad SAW di bulan Rabiul Awal mengajarkan bahwa keberagamaan yang sejati tidak hanya diukur dari seberapa kuat kita beribadah secara ritual, tetapi juga seberapa besar kepedulian kita terhadap orang lain. Ajakan Nabi untuk berinfak bukan sekedar instruksi, melainkan jalan untuk membangun masyarakat yang berlandaskan keadilan dan kasih sayang. Di era modern, pesan itu semakin relevan. Infak menjadi sarana untuk menyeimbangkan kehidupan sosial, mengurangi kesenjangan, serta menumbuhkan solidaritas di tengah tantangan zaman. Oleh karena itu, memperingati Rabiul Awal hendaknya tidak berhenti pada seremonial perayaan, melainkan menjadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat berbagi dan meneladani Rasulullah dalam kepedulian sosial.
ARTIKEL19/09/2025 | Bram
Peran Teknologi dalam Mendorong Semangat Zakat, Infak, dan Sedekah di Era Digital
Peran Teknologi dalam Mendorong Semangat Zakat, Infak, dan Sedekah di Era Digital
Di era modern yang serba cepat ini, teknologi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Hampir setiap aktivitas kini terhubung dengan perangkat digital, mulai dari komunikasi, transaksi ekonomi, hingga aktivitas sosial. Perubahan besar ini juga membawa dampak signifikan terhadap cara umat Islam menunaikan kewajiban sosial keagamaan, khususnya zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Jika dahulu orang harus mendatangi masjid, lembaga amil, atau langsung menemui penerima manfaat, kini teknologi membuka jalan baru yang lebih mudah, transparan, dan luas jangkauannya. Teknologi sebagai Jembatan Kebaikan Zakat, infak, dan sedekah adalah bentuk ibadah yang berorientasi sosial. Tujuannya tidak hanya membersihkan harta, tetapi juga menolong mereka yang membutuhkan. Namun, dalam praktiknya, banyak orang yang memiliki niat baik namun terhambat oleh faktor waktu, jarak, dan keterbatasan informasi. Di sinilah peran teknologi menjadi penting. Melalui aplikasi digital, platform crowdfunding, dan layanan transfer online, siapa pun kini dapat menunaikan zakat, infak, atau sedekah hanya dengan sentuhan jari. Tak perlu lagi menunggu datang ke masjid atau lembaga zakat, karena transaksi bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Kemudahan ini membuat semakin banyak orang tergerak untuk berkontribusi, bahkan dalam jumlah kecil sekalipun. Contohnya, seseorang yang memiliki sisa saldo uang elektronik dapat langsung menyalurkannya sebagai infak. Meski jumlahnya kecil, ketika dilakukan secara kolektif oleh ribuan orang, dampaknya bisa sangat besar. Inilah kekuatan teknologi: ia memudahkan kebaikan dan memperluas partisipasi. Efek Viral Kebaikan Salah satu keunikan teknologi digital adalah kemampuannya menyebarkan pesan secara cepat dan luas. Kisah tentang orang miskin yang membutuhkan bantuan, program beasiswa untuk anak yatim, atau gerakan peduli bencana bisa viral di media sosial. Ketika seseorang membagikan pengalaman berzakat atau bersedekah melalui platform digital, hal itu bisa menjadi inspirasi bagi orang lain untuk melakukan hal serupa. Efek domino ini membuat satu aksi kebaikan tidak berhenti pada individu saja, melainkan berkembang menjadi gerakan bersama. Bahkan, banyak lembaga amil zakat kini menggunakan kampanye digital dengan konten visual yang menyentuh hati. Foto, video, dan testimoni penerima manfaat mampu mengetuk nurani orang-orang yang sebelumnya mungkin belum tergerak. Teknologi dengan demikian berfungsi sebagai amplifier kebaikan: memperbesar pengaruh sebuah aksi hingga menjangkau lebih banyak pihak. Transparansi dan Kepercayaan Salah satu tantangan terbesar dalam pengelolaan zakat dan sedekah adalah masalah kepercayaan. Banyak orang yang ragu apakah dana yang mereka salurkan benar-benar sampai kepada yang membutuhkan. Teknologi menjawab keraguan ini dengan menghadirkan sistem pelaporan digital. Melalui aplikasi, para donatur bisa melihat laporan penggunaan dana, foto kegiatan penyaluran, hingga kisah nyata penerima manfaat. Transparansi ini bukan hanya memperkuat kepercayaan, tetapi juga membuat orang merasa yakin bahwa kebaikan yang mereka lakukan benar-benar berdampak. Ketika rasa percaya itu tumbuh, maka orang akan lebih konsisten dalam berinfak dan bahkan mengajak orang lain untuk ikut serta. Menggerakkan Generasi Muda Generasi milenial dan Gen Z adalah kelompok yang akrab dengan teknologi. Mereka lebih sering menggunakan gawai untuk berinteraksi, berbelanja, bahkan belajar. Teknologi membuka ruang agar zakat, infak, dan sedekah bisa masuk dalam gaya hidup mereka. Dengan sistem yang cepat, praktis, dan transparan, berzakat bukan lagi dianggap rumit atau kaku, melainkan sesuatu yang mudah dan menyenangkan. Bahkan, beberapa platform digital mengembangkan fitur “sedekah rutin” yang secara otomatis memotong saldo setiap bulan untuk disalurkan. Dengan cara ini, anak muda bisa berlatih konsistensi dalam berinfak, sambil merasakan bahwa ibadah sosial dapat dilakukan tanpa harus meninggalkan aktivitas sehari-hari. Dampak Sosial yang Lebih Luas Teknologi tidak hanya memudahkan donasi, tetapi juga memperluas dampak sosial. Lembaga zakat kini bisa mengelola dana dengan lebih efektif, menyalurkannya tidak hanya dalam bentuk bantuan langsung, tetapi juga program pemberdayaan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Bayangkan, satu klik infak dari ribuan orang di berbagai kota bisa membiayai pembangunan sekolah gratis, menyediakan layanan kesehatan bagi dhuafa, atau membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat kecil. Teknologi menjadikan zakat dan sedekah sebagai instrumen pembangunan sosial yang berkelanjutan, bukan hanya sekadar bantuan sesaat. Penutup Teknologi di era digital bukan hanya alat hiburan atau transaksi ekonomi, tetapi juga jembatan kebaikan yang mampu menggerakkan hati banyak orang untuk berzakat, berinfak, dan bersedekah. Kemudahan akses, transparansi, serta efek viral di media sosial membuat semangat berbagi semakin meluas. Dengan memanfaatkan teknologi secara positif, umat Islam bisa menghidupkan kembali ajaran Nabi Muhammad SAW tentang kepedulian sosial dalam konteks kekinian. Satu klik infak bukan hanya sekadar transfer dana, tetapi sebuah langkah kecil yang bisa menginspirasi ribuan orang lain untuk melakukan hal yang sama. Semakin banyak yang tergerak, semakin banyak pula saudara-saudara kita yang terbantu.
ARTIKEL19/09/2025 | Bram
Zakat dan Pajak: Apakah Berbeda?
Zakat dan Pajak: Apakah Berbeda?
Dalam kehidupan bermasyaraka dan bernegara, terutama di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, zakat dan pajak adalah dua hal yang sering dibicarakan. Namun, masih banyak yang belum memahami secara mendalam perbedaan antara zakat dan pajak, serta bagaimana keduanya berperan dalam pembangunan dan kesejahteraan umat. Hal kedua ini berkaitan dengan kewajiban memberikan sebagian harta, namun apakah keduanya sama atau berbeda? Memahami perbedaan zakat dan pajak sangat penting agar umat Islam dapat menjalankan kewajiban dengan benar dan tepat sasaran.Artikel ini akan mengupas tuntas perbedaan zakat dan pajak dari sudut pandang Islam, serta memperkuat peran strategis Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dalam membantu mustahik, yaitu mereka yang mampu menerima zakat. Pengertian Zakat dan Pajak Zakat adalah salah satu rukun Islam yang wajib ditunaikan oleh setiap Muslim yang memenuhi syarat tertentu. Secara bahasa, zakat berarti “bersih” atau “suci”. Dalam konteks agama, zakat adalah kewajiban memberikan sebagian harta kepada yang berhak, sebagai bentuk penyucian diri dan harta. Zakat memiliki tujuan sosial dan spiritual, yaitu membantu mereka yang membutuhkan serta membersihkan jiwa dari sifat kikir dan tamak. Zakat merupakan bentuk ibadah dan kewajiban sosial yang mengatur pembagian harta sebagian tertentu untuk kelompok masyarakat yang berhak menerimanya, seperti fakir miskin, amil zakat, dan lain-lain. serupa firman Allah dalam QS.At-Taubah ayat 60 : “Sesungguhnya zakat-zakat itu, khusus untuk fakir miskin, amil zakat, mu'allaf, budak, orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk ibnu sabil, sebagai ketetapan yang diwajibkan Allah.” Menurut syariat Islam, zakat terdiri dari beberapa jenis, seperti zakat fitrah, zakat mal (harta), zakat pertanian, dan lain-lain. Besaran zakat mal biasanya 2,5% dari harta yang telah mencapai nisab (batas minimum) dan telah dimiliki selama satu tahun. Sedangkan pajak adalah pungutan wajib dari pemerintah kepada warga negara berdasarkan undang-undang yang berlaku, bertujuan untuk membiayai pengeluaran negara demi pembangunan dan kesejahteraan umum. Pajak bukan bentuk ibadah, Pajak bersifat memaksa dan diatur oleh undang-undang. melainkan merupakan kewajiban warga negara dalam sistem kenegaraan untuk mendukung pembangunan dan pelayanan publik. Jenis pajak sangat beragam, mulai dari pajak penghasilan, pajak pertambahan nilai (PPN), pajak bumi dan bangunan, hingga pajak kendaraan bermotor. Pajak digunakan untuk membiayai berbagai kebutuhan negara, seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan keamanan. Perbedaan Zakat dan Pajak secara Esensial Meskipun keduanya sama-sama berupa kewajiban memberikan sebagian harta, zakat dan pajak memiliki perbedaan mendasar yang penting untuk dipahami. Peran penting Zakat (BAZNAS dan Lembaga lain) dalam Membangun Kesejahteraan Umat Zakat bukan sekedar kewajiban finansial, melainkan juga sarana untuk membangun solidaritas sosial dan mengurangi kesenjangan ekonomi. Dengan menunaikan zakat, seorang muslim membantu meringankan beban saudara-saudaranya yang kurang mampu, seperti fakir, miskin, dan mereka yang sedang dalam kesulitan. Zakat juga berperan dalam menggerakkan perekonomian umat. Dana zakat yang dikelola dengan baik dapat digunakan untuk program pemberdayaan mustahik, seperti pelatihan keterampilan, modal usaha, dan pendidikan. Dengan demikian, zakat tidak hanya memberikan bantuan sementara, tetapi juga membuka peluang bagi mustahik untuk mandiri dan produktif. BAZNAS adalah lembaga resmi pemerintah yang dibentuk untuk mengelola zakat secara profesional dan transparan di Indonesia. Dengan keberadaan BAZNAS, penghimpunan dan pendistribusian zakat dilakukan secara sistematis sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh mustahik. BAZNAS membantu menjembatani niat dan kewajiban umat Islam dalam berzakat agar tepat sasaran dan berdampak luas. Peran BAZNAS sangat vital, karena: Meningkatkan kesadaran masyarakat muslim untuk berzakat dengan cara mudah dan terpercaya. Melakukan pendataan mustahik secara profesional agar mendistribusikan zakat tepat guna. Menyalurkan zakat untuk pemberdayaan ekonomi dhuafa, pendidikan, kesehatan, dan sosial kemanusiaan. Menjalin kerja sama dengan berbagai institusi untuk memperluas manfaat zakat bagi pembangunan umat. Melaksanakan pengawasan dan pelaporan penggunaan dana zakat agar transparan dan akuntabel. Sinergi Zakat dan Pajak dalam Pembangunan Nasional Meskipun zakat dan pajak berbeda secara hukum dan tujuannya, keduanya memiliki peran penting dalam pembangunan nasional. Pajak pembiayaan kebutuhan negara secara umum, sementara zakat fokus pada kesejahteraan umat Islam yang membutuhkan. Pemerintah Indonesia telah mengakui peran zakat dalam pembangunan sosial dengan mengatur pengelolaan zakat melalui undang-undang dan mendukung keberadaan BAZNAS. Sinergi antara zakat dan pajak dapat memperkuat upaya pengentasan kemiskinan dan pemerataan kesejahteraan. Misalnya, dana zakat yang dikelola BAZNAS dapat melengkapi program pemerintah di bidang pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu. Dengan demikian, zakat menjadi pelengkap yang mempercepat tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan. Islam mengajarkan agar kekayaan yang dimiliki tidak hanya dinikmati sendiri, tetapi juga harus dinikmati oleh yang membutuhkan. Zakat menjadi instrumen penting dalam mengatasi ketimpangan sosial. Dengan membayar zakat, umat Islam membersihkan harta dan mendapat keberkahan. Hal ini juga memperkuat tali persaudaraan dan mengurangi kesenjangan antara yang kaya dan miskin. Berikut beberapa tips bagi muzaki dalam menunaikan zakat: Hitung zakat dengan benar: Pastikan harta yang dizakatkan telah mencapai nisab dan haul sesuai syariat. Pilih lembaga resmi: Salurkan zakat melalui BAZNAS atau lembaga amil zakat yang terdaftar dan memuji pemerintah. Pantau penggunaan zakat: Ikuti laporan dan kegiatan lembaga zakat untuk memastikan dana digunakan dengan baik. Ajak keluarga dan komunitas: Sosialisasikan pentingnya zakat agar semakin banyak yang menunaikan kewajiban ini. Mengapa Umat Islam Harus Memahami Perbedaan Ini? Memahami perbedaan zakat dan pajak bukan berarti mengabaikan pajak, melainkan agar umat Islam semakin sadar dan istiqamah menjalankan kewajiban zakat sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab sosial. Selain itu, pemahaman ini juga membantu umat mengelola harta dengan tepat dan memanfaatkan lembaga pengelola zakat resmi seperti BAZNAS untuk membantu mustahik dengan tepat sasaran. Zakat yang dikelola dengan baik akan menjadi sumber kekuatan umat, mengurangi kemiskinan, memperkuat solidaritas sosial, serta meningkatkan kesejahteraan. Sementara sebagai kewajiban pajak negara juga mendukung pembangunan yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Kesimpulan Zakat dan pajak memiliki tujuan, lembaga pengelola, dan penerima yang berbeda-beda. Zakat adalah kewajiban ibadah yang dilaksanakan dengan niat membersihkan harta dan membantu yang membutuhkan sesuai syariat Islam, sedangkan pajak adalah kewajiban hukum untuk mendukung pembangunan negara. Memahami perbedaan ini penting agar umat Islam dapat menunaikan zakat dengan baik dan memanfaatkan peran strategis BAZNAS sebagai pengelola zakat di Indonesia. Dengan berzakat melalui BAZNAS, umat Islam tidak hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga ikut membangun masyarakat yang lebih sejahtera dan berkeadilan.
ARTIKEL19/09/2025 | Listy
Keutamaan Hari Jumat di Bulan Rabiul Awal, Momentum Perbanyak Shalawat dan Sedekah
Keutamaan Hari Jumat di Bulan Rabiul Awal, Momentum Perbanyak Shalawat dan Sedekah
Umat Islam menyambut hari Jumat di bulan Rabiul Awal dengan penuh rasa syukur dan suka cita. Hari Jumat dikenal sebagai sayyidul ayyam (penghulu segala hari), sementara bulan Rabiul Awal merupakan bulan penuh cahaya kelahiran Rasulullah SAW. Perpaduan keduanya menjadi momentum yang istimewa untuk memperbanyak amal ibadah, doa, dan shalawat. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baiknya hari terbitnya matahari adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu dia dimasukkan ke dalam surga, dan pada hari itu pula dia dikeluarkan darinya.” Sementara itu, bulan Rabiul Awal selalu dikenang sebagai bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW, teladan agung bagi seluruh umat manusia. Di berbagai masjid dan mushala, umat Islam memperingatinya dengan memperbanyak majelis shalawat, pengajian, hingga kegiatan sosial. Momen Jumat di bulan Rabiul Awal ini sebaiknya tidak hanya diisi dengan ibadah pribadi, tetapi juga kepedulian sosial. Mengikuti jejak Nabi Muhammad SAW, umat Islam diajarkan untuk tidak hanya dekat kepada Allah, tetapi juga peduli kepada sesama. Salah satunya dengan berbagi melalui zakat, infak, dan sedekah. BAZNAS Kota Surabaya mengajak masyarakat untuk memanfaatkan hari penuh keberkahan ini dengan menyalurkan Zakat, Infak, dan Sedekah. Donasi tersebut akan disalurkan untuk program-program pemberdayaan, pendidikan, kesehatan, dan bantuan kemanusiaan, termasuk bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan di Surabaya maupun Palestina. Semoga Jumat di bulan Rabiul Awal ini menjadi pintu keberkahan, dihapuskan dosa-dosa, diterima amal kebaikan, dan dilipatgandakan pahala oleh Allah SWT.
ARTIKEL19/09/2025 | Otnay
Infak dan Sedekah untuk Keseharian: Menebar Manfaat, Menguatkan Umat
Infak dan Sedekah untuk Keseharian: Menebar Manfaat, Menguatkan Umat
Infak dan sedekah adalah amalan mulia yang sangat dianjurkan dalam ajaran Islam. Keduanya tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga menjadi instrumen sosial untuk mengurangi kemiskinan, membantu fakir miskin, hingga memperkuat persaudaraan sesama muslim. Di kota besar seperti Surabaya, infak dan sedekah sangat dibutuhkan. Kehidupan perkotaan sering menghadirkan ketimpangan ekonomi, sehingga peran umat Islam dalam berbagi menjadi semakin penting. Melalui BAZNAS Kota Surabaya , masyarakat memiliki wadah resmi, amanah, dan profesional untuk menyebarkan infak dan sedekah agar tepat sasaran dan bermanfaat luas. Infak dan Sedekah: Amalan yang Harus Dibiasakan Secara istilah, infak berarti mengeluarkan sebagian harta di jalan Allah SWT, baik yang bersifat wajib (seperti zakat) maupun sunnah (seperti membantu fakir miskin atau pendidikan). Sedangkan sedekah lebih luas cakupannya. Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kebaikan adalah sedekah.” (HR.Muslim) Artinya, sedekah tidak selalu berupa harta. Senyuman, doa, dan tenaga untuk membantu orang lain juga bernilai sedekah. Oleh karena itu, setiap muslim dapat melakukannya sesuai kemampuan. Makna Infak dan Sedekah dalam Islam Al-Qur'an berulang kali menekankan pentingnya infak dan sedekah. Allah SWT berfirman dalam QS. Surat Al-Baqarah ayat 261: “Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir; pada tiap-tiap bulir ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki…” Ayat ini menegaskan bahwa infak dan sedekah adalah investasi akhirat dengan pahala yang berlipat ganda. Selain manfaat spiritual, amalan ini juga menjaga keseimbangan sosial dalam masyarakat. Contoh Infak dan Sedekah dalam Keseharian Infak dan sedekah bisa dilakukan secara sederhana dan rutin, misalnya: Menyisihkan uang belanja untuk dimasukkan ke kotak infak masjid. Membelikan makanan untuk orang miskin. Memberi sedekah non materi seperti membantu tetangga atau mendoakan orang lain. Menyalurkan infak melalui lembaga resmi seperti BAZNAS Kota Surabaya . Kebiasaan ini melatih keikhlasan, menumbuhkan kepedulian, dan memperkuat rasa kebersamaan di tengah masyarakat. Manfaat Infak dan Sedekah 1. Manfaat bagi Pemberi (Muzakki): Membuka pintu rezeki, Menghapus dosa-dosa kecil, Membuat hati lebih lapang dan tenang. 2. Manfaat bagi Penerima (Mustahik) : Mendapatkan bantuan nyata untuk kebutuhan pokok, Merasakan kepedulian umat, Termotivasi untuk bangkit dari kesulitan. 3. Manfaat bagi Masyarakat : Mengurangi kesenjangan sosial, Memperkuat budaya gotong royong, Menekan angka kemiskinan di lingkungan sekitar. BAZNAS Kota Surabaya: Lembaga Amanah Penyalur Infak dan Sedekah BAZNAS adalah lembaga resmi negara yang mengelola zakat, infak, dan sedekah. Di Surabaya, BAZNAS Kota Surabaya aktif menjalankan program yang tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga produktif. Beberapa program unggulannya: Beasiswa pendidikan untuk anak-anak dhuafa. Bantuan kesehatan bagi masyarakat miskin. Modal usaha mikro agar keluarga dhuafa bisa mandiri. Program pemberdayaan ekonomi untuk keberlanjutan hidup mustahik. Dengan pengelolaan yang profesional dan transparan, dana umat benar-benar menjadi solusi jangka panjang, bukan hanya bantuan sementara. Kesimpulan Infak dan sedekah adalah amalan yang bisa dilakukan kapan saja dan oleh siapa saja. Amalan ini memberikan manfaat spiritual, sosial, dan ekonomi. Melalui BAZNAS Kota Surabaya , infak dan sedekah tersalurkan secara amanah, tepat sasaran, dan berdampak jangka panjang. Mari jadikan infak dan sedekah sebagai bagian dari keseharian kita. Oleh karena itu, kita tidak hanya membantu sesama, tetapi juga menyiapkan bekal terbaik untuk akhirat. Bersama BAZNAS Kota Surabaya , infak dan sedekah menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih berkah dan menguatkan umat.
ARTIKEL19/09/2025 | Dini
Purifikasi ZIS sebagai Strategi Jitu Meningkatkan Ketahanan Pangan di Kota Surabaya
Purifikasi ZIS sebagai Strategi Jitu Meningkatkan Ketahanan Pangan di Kota Surabaya
1. Pendahuluan Kota Surabaya, sebagai salah satu kota metropolitan terbesar di Indonesia, menghadapi tantangan multidimensi, salah satunya adalah isu ketahanan pangan. Meskipun telah ada berbagai program pemerintah untuk mengatasi hal ini, diperlukan inovasi dan kolaborasi dari berbagai pihak, termasuk sektor filantropi Islam. Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) memiliki potensi besar sebagai instrumen purifikasi sosial-ekonomi yang efektif. Artikel ini akan mengupas tuntas bagaimana purifikasi ZIS dapat diimplementasikan sebagai strategi konkret untuk meningkatkan ketahanan pangan di Kota Surabaya. 2. Pengertian Purifikasi ZIS dan Relevansinya dengan Ketahanan Pangan Pemurnian ZIS adalah proses pemurnian dan optimalisasi pengelolaan dana ZIS, mulai dari pengumpulan, pendistribusian, hingga pendayagunaannya. Tujuannya adalah memastikan bahwa dana tersebut terselurkan secara tepat sasaran, efektif, dan berkelanjutan, bukan sekadar bantuan sesaat. Dalam konteks ketahanan pangan, purifikasi ZIS memiliki relevansi yang sangat kuat: Pemberdayaan Mustahik: Dana ZIS tidak hanya diberikan sebagai bantuan tunai, tetapi juga untuk modal usaha, pelatihan, dan pendampingan, sehingga mustahik (penerima zakat) bisa mandiri secara ekonomi. Peningkatan Produktivitas Pertanian: ZIS dapat dialokasikan untuk membiayai program-program pertanian perkotaan (urban farming) atau mendukung petani kecil di pinggiran kota. Stabilisasi Harga Pangan: Dengan adanya program-program yang didukung ZIS, pasokan pangan di pasar lokal dapat terjaga, sehingga harga menjadi lebih stabil dan terjangkau bagi masyarakat yang rendah. 3. Implementasi Strategi Purifikasi ZIS untuk Ketahanan Pangan di Surabaya Untuk mengoptimalkan peran ZIS dalam ketahanan pangan, diperlukan strategi yang terstruktur dan terukur. Berikut adalah beberapa langkah konkret yang dapat diimplementasikan di Kota Surabaya: Sinergi dengan Pemerintah Kota: Lembaga Amil Zakat (LAZ) harus menjalin strategi kemitraan dengan Pemerintah Kota Surabaya, terutama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian. Kolaborasi ini dapat berupa penyusunan data mustahik yang akurat, pemetaan wilayah rawan pangan, dan penyusunan program-program bersama. Program Pemberdayaan Berbasis Komunitas: Urban Farming Komunal : Memanfaatkan lahan-lahan kosong di perkotaan untuk ditanami sayur, buah, atau ikan. Dana ZIS dapat digunakan untuk membeli bibit, pupuk, dan peralatan. Hasil panen dapat dinikmati oleh anggota komunitas, dijual untuk menambah kas, atau disemprotkan kepada fakir miskin. Pelatihan Kewirausahaan Pangan : mengadakan pelatihan bagi mustahik untuk mengolah hasil pertanian menjadi produk olahan bernilai jual tinggi, seperti keripik, selai, atau jus. Dana ZIS dapat digunakan sebagai modal awal. Kemitraan dengan Petani Lokal : Program Pembiayaan Mikro Syariah: menyediakan pembiayaan tanpa riba bagi petani kecil di sekitar Surabaya untuk membeli pupuk, bibit, atau alat pertanian. Program Jaminan Panen: ZIS dapat digunakan untuk membeli produk panen petani dengan harga yang telah disepakati sebelumnya (muamalah syariah). Hal ini memberikan kepastian bagi petani dan menjaga stabilitas harga pangan. Digitalisasi dan Transparansi: Penggunaan platform digital untuk pengumpulan dan penyaluran ZIS akan meningkatkan transparansi dan akuntabilitas. Masyarakat dapat melihat secara langsung bagaimana dana ZIS yang mereka bayarkan digunakan untuk program ketahanan pangan. 4. Studi Kasus Potensial di Surabaya Surabaya memiliki potensi besar untuk mengimplementasikan strategi ini. Misalnya, program urban farming di kawasan padat penduduk seperti Semampir atau Tambaksari dapat menjadi model percontohan. LAZ di Surabaya dapat berkolaborasi dengan RW/RT setempat untuk menggerakkan masyarakat. Begitu pula, kemitraan dengan petani di daerah sekitar Surabaya seperti Mojokerto dan Sidoarjo dapat menjamin pasokan pangan. 5. Kesimpulan Pemurnian ZIS bukan sekedar konsep teoritis, melainkan strategi praktis yang memiliki potensi besar untuk menjadi solusi inovatif dalam mengatasi isu ketahanan pangan di Kota Surabaya. Dengan pengelolaan yang profesional, transparan, dan terstruktur, dana ZIS dapat bertransformasi dari sekedar bantuan sosial menjadi motor penggerak ekonomi mustahik dan stabilisator suplai pangan. Sinergi antara pemerintah, lembaga zakat, dan masyarakat adalah kunci utama untuk mewujudkan Surabaya yang mandiri dan berdaulat pangan melalui kekuatan filantropi Islam. Harapan ke depan, praktik pemurnian ZIS dapat menjadi model percontohan bagi kota-kota lain di Indonesia dalam mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan pembangunan sosial-ekonomi yang berkelanjutan.
ARTIKEL17/09/2025 | Fach
Peran ZIS dan Karbohidrat Tanaman: Strategi Inovatif untuk Mengatasi Kemiskinan dan Krisis Pangan
Peran ZIS dan Karbohidrat Tanaman: Strategi Inovatif untuk Mengatasi Kemiskinan dan Krisis Pangan
Pendahuluan Tantangan global seperti kemiskinan dan krisis pangan menjadi isu yang mendesak. Dalam menghadapi situasi ini, diperlukan pendekatan yang inovatif dan terintegrasi dari berbagai sektor. Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) memiliki peran yang sangat strategis sebagai instrumen filantropi Islam yang dapat diberdayakan secara optimal. Artikel ini akan mengupas tuntas bagaimana ZIS dapat disinergikan dengan program pengembangan karbohidrat tanaman (seperti padi, jagung, singkong) sebagai strategi efektif untuk meningkatkan ketersediaan pangan dan menekan angka kemiskinan. Mengapa Karbohidrat Tanaman? Karbohidrat adalah sumber energi utama bagi sebagian besar penduduk dunia dan menjadi komoditas pangan pokok yang sangat vital. Di Indonesia, misalnya, beras menjadi makanan utama yang dikonsumsi sehari-hari. Dengan demikian, peningkatan produksi dan ketersediaan karbohidrat tanaman secara langsung berdampak pada ketahanan pangan nasional. Namun, banyak petani yang hidup dalam garis kemiskinan akibat keterbatasan modal, teknologi, dan akses pasar. Menemukan ZIS dapat berperan sebagai katalisator perubahan. Sinergi ZIS dan Karbohidrat Tanaman: Sebuah Model Kemitraan Sinergi antara ZIS dan karbohidrat tanaman bukan sekedar konsep, melainkan model pemberdayaan yang konkret. Berikut adalah beberapa skema implementasi yang dapat dilakukan: 1. Modal Pertanian Berbasis ZIS Dana ZIS dapat dialokasikan untuk menyediakan modal kerja tanpa riba bagi petani mustahik (penerima zakat). Modal ini bisa digunakan untuk membeli bibit unggul, pupuk, pestisida, atau menyewa peralatan pertanian. Dengan adanya modal awal, petani dapat memulai atau meningkatkan produksi pertaniannya. Program ini tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan pangan secara lokal, tetapi juga membantu petani melepaskan diri dari jeratan utang rentenir. 2. Program Pendampingan dan Pelatihan Dana infak dan sedekah dapat dimanfaatkan untuk mendanai program pelatihan dan pendampingan teknis bagi petani. Pelatihan ini mencakup metode pertanian modern, penggunaan teknologi tepat guna, manajemen hama terpadu, dan pengelolaan pascapanen. Dengan pengetahuan yang lebih baik, petani dapat meningkatkan produktivitas lahan dan kualitas hasil panen mereka. 3. ZIS untuk Inovasi Pertanian Bagian dari dana ZIS juga dapat dialokasikan untuk penelitian dan pengembangan varietas tanaman karbohidrat yang tahan terhadap perubahan iklim atau memiliki nilai gizi yang lebih tinggi. Contohnya, kembangkan varietas singkong yang lebih produktif atau ubi jalar yang kaya vitamin. Hasil penelitian ini dapat didistribusikan kepada petani mustahik, memberikan keunggulan kompetitif. 4. Penguatan Rantai Pasok Berbasis ZIS Setelah panen, petani seringkali menghadapi masalah penjualan dengan harga yang rendah. ZIS dapat digunakan untuk membentuk koperasi atau lembaga usaha sosial yang membeli hasil panen petani dengan harga yang adil. Selanjutnya produk tersebut bisa diolah menjadi produk turunan (misalnya tepung singkong, keripik) atau didistribusikan langsung ke pasar, sehingga keuntungan kembali ke komunitas. Studi Kasus Potensial: dari Bantuan menjadi Pemberdayaan Bayangkan sebuah kelompok petani miskin di suatu desa. Daripada hanya memberikan bantuan uang tunai, sebuah lembaga zakat menyalurkan dana ZIS untuk membantu mereka membeli bibit padi berkualitas dan pupuk. Setelah masa tanam, petani dibekali pelatihan tentang cara memanen yang efisien. Saat panen tiba, hasil panen dibeli oleh koperasi yang dibentuk dari dana ZIS, yang kemudian mengolahnya menjadi beras premium. Sebagian keuntungannya digunakan untuk pengembangan koperasi, dan sebagian lagi dibagikan kepada petani. Model ini mengubah para mustahik dari sekedar penerima bantuan pelaku menjadi ekonomi yang mandiri dan berdaulat pangan. Kesimpulan Sinergi antara ZIS dan pengembangan karbohidrat tanaman adalah sebuah strategi holistik yang mampu menjawab dua permasalahan mendasar: ketersediaan pangan dan kemiskinan. Dengan menjadikan petani sebagai subjek utama pemberdayaan, ZIS tidak hanya berfungsi sebagai alat pendistribusian kekayaan, tetapi juga sebagai motor penggerak perekonomian yang berkelanjutan. Ketika setiap butir padi, jagung, atau singkong yang dihasilkan oleh tangan mustahik, merupakan hasil dari keberkahan ZIS, maka kita sedang membangun fondasi masyarakat yang lebih sejahtera dan berdaulat pangan.
ARTIKEL17/09/2025 | Fach
Imunoglobulin dan ZIS Bentuk Sinergi Untuk Meningkatkan Kesehatan Dan Kesejahteraan
Imunoglobulin dan ZIS Bentuk Sinergi Untuk Meningkatkan Kesehatan Dan Kesejahteraan
Pendahuluan Kesehatan adalah pilar utama kesejahteraan suatu bangsa. Namun, akses terhadap layanan kesehatan berkualitas masih menjadi tantangan di banyak negara, terutama bagi masyarakat kurang mampu. Di sisi lain, penyakit yang berhubungan dengan defisiensi imunoglobulin protein penting dalam sistem kekebalan tubuh menjadi ancaman serius. Imunoglobulin berfungsi sebagai benteng pertahanan tubuh dari berbagai infeksi. Dalam konteks ini, dibutuhkan pendekatan inovatif yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan medis dengan instrumen filantropi. Artikel ini akan membahas bagaimana Imunoglobulin (Ig) dan Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) dapat disinergikan sebagai strategi efektif untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, khususnya di kalangan mustahik. Mengenal Imunoglobulin dan Perannya dalam Kesehatan Imunoglobulin, atau antibodi, adalah protein yang diproduksi oleh sel plasma dalam sistem kekebalan tubuh. Fungsinya sangat krusial, yaitu mengenali dan menetralkan patogen seperti bakteri dan virus. Kurangnya imunoglobulin dapat menyebabkan seseorang menjadi lebih rentan terhadap infeksi berulang, yang berakibat pada penurunan kualitas hidup dan bahkan kematian. Pengobatan untuk kondisi ini, seperti terapi penggantian imunoglobulin (IGRT), seringkali sangat mahal dan tidak terjangkau oleh sebagian besar masyarakat. Peran ZIS sebagai Katalisator Kesehatan ZIS, sebagai instrumen redistribusi kekayaan dalam Islam, memiliki potensi besar untuk menopang sektor kesehatan. Dana ZIS dapat berfungsi sebagai sumber daya finansial yang stabil dan berkelanjutan. Berbeda dengan bantuan sosial konvensional, ZIS memiliki nilai pemberdayaan yang kuat. Dengan pengelolaan yang tepat, dana ZIS dapat digunakan untuk: Pembiayaan Layanan Kesehatan : Dana ZIS dapat dialokasikan untuk membiayai pengobatan mustahik, termasuk terapi yang mahal seperti IGRT. Penyediaan Obat-obatan : ZIS dapat digunakan untuk menyediakan obat-obatan atau suplemen yang dibutuhkan oleh pasien. Program Pencegahan dan Edukasi : Sebagian dana dapat digunakan untuk program edukasi kesehatan masyarakat, termasuk pentingnya nutrisi yang seimbang dan pola hidup bersih untuk menjaga sistem kekebalan tubuh. Sinergi Imunoglobulin dan ZIS: Sebuah Model Aksi Nyata Sinergi antara imunoglobulin dan ZIS dapat diwujudkan dalam beberapa skema program: Program Donasi Imunoglobulin Berbasis ZIS : Lembaga amil zakat (LAZ) dapat bekerja sama dengan rumah sakit atau produsen farmasi untuk menyalurkan produk imunoglobulin. Dana ZIS yang terkumpul digunakan untuk membeli produk tersebut, yang kemudian diberikan secara gratis atau dengan biaya sangat rendah kepada pasien yang tidak mampu. Dana Sosial untuk Pasien Kekurangan Imunoglobulin : LAZ dapat membentuk dana khusus untuk membantu pasien dengan kondisi defisiensi imun. Dana ini tidak hanya mencakup biaya pengobatan, tetapi juga biaya transportasi, akomodasi, dan nutrisi tambahan yang diperlukan pasien selama menjalani perawatan. Kampanye Kesehatan Komprehensif : Program ini tidak hanya fokus pada pengobatan, tetapi juga pada pencegahan. Dana ZIS dapat dialokasikan untuk kampanye kesehatan yang mengajarkan masyarakat tentang pentingnya gizi baik, sanitasi, dan vaksinasi untuk meningkatkan kekebalan tubuh secara alami. Studi Kasus Potensial dan Harapan ke Depan Bayangkan sebuah anak yang menderita defisiensi imunoglobulin berulang. Keluarganya tidak mampu membiayai terapi yang dibutuhkan. Melalui sinergi ZIS, lembaga zakat dapat membantu pembiayaan pengobatan anak-anak tersebut hingga ia pulih dan dapat hidup normal. Kisah ini bukan hanya tentang pengobatan, tetapi juga tentang memutus mata rantai kemiskinan akibat sakit. Sinergi antara imunoglobulin dan ZIS adalah model yang menjanjikan. Ini menggabungkan instrumen filantropi dengan pengetahuan medis yang berubah untuk menciptakan dampak sosial yang signifikan. Dengan transparansi, akuntabilitas, dan kolaborasi yang erat antara lembaga zakat, tenaga medis, dan masyarakat, kita dapat membangun fondasi kesehatan yang lebih kuat. Dengan demikian, ZIS tidak hanya menjadi alat untuk membersihkan harta, tetapi juga untuk membersihkan penyakit dan mengangkat derajat kesehatan masyarakat, membawa kita menuju kesejahteraan yang lebih adil dan merata.
ARTIKEL17/09/2025 | Fach
Sejarah Zakat dalam Islam
Sejarah Zakat dalam Islam
Pengertian Zakat Secara etimologi, kata zakat berasal dari bahasa Arab zaka yang bermakna kesucian, kebaikan, keberkahan, serta pertumbuhan. Dalam terminologi syariat, zakat adalah bagian tertentu dari harta seorang muslim yang wajib dikeluarkan dan disalurkan kepada pihak-pihak yang berhak menerimanya (mustahik) sesuai ketentuan syariat. Zakat merupakan salah satu rukun Islam, sehingga keberadaannya menjadi kewajiban fundamental dalam kehidupan seorang muslim. Zakat di Masa Rasulullah SAW Ketika masih di Mekah, perintah zakat belum memiliki aturan rinci, melainkan berbentuk anjuran umum untuk bersedekah dan membantu kaum fakir miskin. Setelah Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, ketentuan zakat menjadi lebih jelas dengan ditetapkannya nisab, haul, serta jenis-jenis harta yang wajib dizakati. Di Madinah pula, zakat dilaksanakan secara sistematis. Rasulullah SAW menunjuk amil zakat untuk mengumpulkan harta dari umat, baik berupa hasil pertanian, hewan ternak, emas, perak, maupun perdagangan. Selanjutnya, harta tersebut disalurkan kepada delapan golongan penerima sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an (QS. At-Taubah: 60). Zakat pada Masa Khulafaur Rasyidin Sesudah Rasulullah SAW wafat, Abu Bakar Ash-Shiddiq RA menghadapi tantangan ketika sebagian kaum muslim enggan membayar zakat. Beliau bersikap tegas dengan memerangi mereka, karena zakat dipandang sebagai kewajiban yang tidak boleh diabaikan. Langkah ini menegaskan bahwa zakat adalah pondasi penting dalam sistem sosial dan ekonomi Islam. Pada masa Umar bin Khattab RA, pengelolaan zakat semakin tertata. Beliau mendirikan baitul mal, yaitu lembaga keuangan negara yang mengatur penerimaan dan pendistribusian harta umat. Dengan pengelolaan yang baik, zakat pada masa itu menjadi salah satu faktor utama terwujudnya kesejahteraan masyarakat muslim. Zakat dalam Sejarah Peradaban Islam Dalam perkembangan kekhalifahan Islam, zakat selalu menjadi instrumen sosial dan ekonomi yang strategis. Di banyak wilayah, zakat dikelola langsung oleh pemerintah. Namun, pada masa-masa tertentu, lemahnya pengawasan dan manajemen menyebabkan zakat tidak berjalan optimal. Zakat di Era Modern Hingga saat ini, zakat tetap relevan sebagai sarana pemerataan ekonomi umat. Negara-negara muslim, termasuk Indonesia, membentuk lembaga resmi seperti Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) maupun lembaga zakat swasta. Dengan sistem manajemen modern, zakat tidak hanya berfungsi sebagai bantuan konsumtif, tetapi juga dikembangkan dalam bentuk program pemberdayaan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
ARTIKEL16/09/2025 | Nur Lisma Khumaida
Peran Filantropi dalam Ketahanan Pangan
Peran Filantropi dalam Ketahanan Pangan
I. Pendahuluan Ketahanan pangan merupakan isu strategis yang berhubungan langsung dengan kesejahteraan masyarakat. Konsep ini tidak hanya mencakup ketersediaan pangan dalam jumlah yang cukup, tetapi juga aspek keterjangkauan, kualitas gizi, serta banyaknya akses bagi seluruh lapisan masyarakat. Dalam konteks ini, filantropi memiliki peran penting sebagai penggerak tambahan yang melengkapi peran negara dan sektor swasta. Melalui praktik berbagi dan pemberdayaan, filantropi dapat menjadi instrumen efektif untuk memperkuat sistem pangan nasional. II. Definisi dan Ruang Lingkup Filantropi Filantropi dapat dipahami sebagai tindakan sukarela yang dilakukan oleh individu, komunitas, maupun lembaga dalam bentuk dana, barang, waktu, atau keahlian untuk mendukung kepentingan masyarakat. Dalam bidang pangan, filantropi tidak hanya terbatas pada pemberian bantuan konsumtif, tetapi juga mencakup program jangka panjang yang berfokus pada kemandirian, seperti peningkatan kapasitas petani, pembangunan infrastruktur pertanian, dan penelitian inovasi pangan. Peran Filantropi dalam Mendukung Ketahanan Pangan Meningkatkan Akses terhadap Pangan Filantropi dapat membantu masyarakat miskin dan rentan agar tetap memiliki akses terhadap pangan yang bergizi melalui program bantuan langsung, bank pangan, maupun subsidi harga pangan. Mendorong Inovasi Pertanian Banyak lembaga filantropi yang memberikan penelitian pertanian berkelanjutan, teknologi hemat air, dan bibit unggul. Dukungan ini mendorong terciptanya inovasi yang relevan dengan kebutuhan petani kecil. Pemberdayaan Komunitas Lokal Filantropi berperan dalam memperkuat kelembagaan masyarakat, seperti koperasi tani, kelompok wanita tani, dan usaha mikro berbasis pangan. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga mampu mengelola produksi dan mendistribusikan pangan secara mandiri. Membangun Jaringan Kolaborasi Peran filantropi seringkali bersifat menjembatani, yakni menghubungkan pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan komunitas. Kolaborasi ini menghasilkan sinergi dalam merancang program ketahanan pangan yang lebih efektif. Contoh Implementasi Program penyediaan modal usaha mikro bagi petani hortikultura. Pengembangan gudang penyimpanan hasil panen yang dibiayai oleh lembaga filantropi. Program pelatihan urban farming di kawasan padat penduduk. Bank pangan yang menyalurkan kelebihan produk pertanian ke masyarakat rendah. III. Dampak Positif Keterlibatan filantropi terbukti memberikan manfaat nyata, seperti menekan angka kelaparan, meningkatkan pendapatan petani kecil, serta memperluas kesempatan kerja di sektor pertanian. Lebih jauh lagi, inisiatif ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pada tujuan menghapus kelaparan dan kemiskinan. Tantangan Meski berperan strategis, filantropi juga menghadapi kendala, antara lain: Kurangnya koordinasi antar-lembaga. Keterbatasan data terkait kelompok penerima manfaat. Program risiko yang terlalu bersifat karitatif dan kurang berorientasi pada kemandirian. IV. Kesimpulan Filantropi mempunyai kontribusi signifikan dalam memperkuat ketahanan pangan. Melalui program yang terencana, berkelanjutan, dan berbasis kolaborasi, filantropi dapat melengkapi peran negara dan pasar dalam memastikan setiap warga memperoleh akses pangan yang layak. Ke depan, peran ini akan semakin maju seiring meningkatnya tantangan perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, serta dinamika sosial-ekonomi masyarakat.
ARTIKEL16/09/2025 | Muhammad Fachrudin
Doa untuk Negeri Tercinta, Indonesia
Doa untuk Negeri Tercinta, Indonesia
Indonesia adalah tanah air kita, tempat lahir, tumbuh, dan berjuang. Sebagai bangsa yang besar dengan beragam suku, bahasa, dan budaya, doa untuk negeri menjadi wujud cinta dan tanggung jawab kita kepada Ibu Pertiwi. Doa adalah senjata orang beriman, dan melalui doa, kita memohon kepada Allah SWT agar Indonesia senantiasa diberkahi, dilindungi, dan diberi jalan kebaikan. Berikut 3 doa untuk negeri tercinta, Indonesia : 1. Doa untuk Keamanan dan Kedamaian Bangsa Artinya: “Ya Allah, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, tentram, penuh ketenteraman, kesejahteraan, dan kebahagiaan.” Doa ini menjadi harapan agar Indonesia terhindar dari segala bentuk perpecahan, konflik, maupun bencana yang dapat merusak persatuan bangsa. Semoga keamanan dan kedamaian melestarikan negeri kita. 2. Doa untuk Pemimpin yang Adil dan Amanah Artinya: “Ya Allah, berilah petunjuk kepada para pemimpin kami menuju jalan yang Engkau cintai dan ridhai, serta jadikan mereka rahmat bagi rakyat yang pimpin mereka.” Pemimpin yang adil dan amanah adalah kunci kemajuan bangsa. Dengan doa ini, kami memohon agar para pemimpin Indonesia diberi kekuatan, keikhlasan, dan kebijaksanaan dalam memimpin demi kemaslahatan umat. 3. Doa untuk Kemakmuran dan Keberkahan Negeri Artinya: “Ya Allah, berkahilah rezeki kami, jangan jadikan dunia sebagai tujuan utama kami, dan jadikanlah akhirat sebagai tempat kembali kami.” Doa ini sebagai permohonan agar Indonesia dilimpahi keberkahan pada sumber daya alam, hasil bumi, dan rezeki yang bermanfaat bagi seluruh rakyat. Kemakmuran bukan hanya soal harta, tapi juga keberkahan hidup bersama. Penutup Doa adalah ikhtiar spiritual yang melengkapi usaha nyata kita dalam membangun bangsa. Dengan doa, kita berharap Allah SWT senantiasa menjaga Indonesia agar tetap berdiri kokoh sebagai negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur - negeri yang baik dan mendapat ampunan dari Allah. Semoga melalui doa ini, Indonesia senantiasa dilindungi, diberkahi, dan diberikan masa depan yang cerah bagi seluruh rakyatnya.
ARTIKEL01/09/2025 | Otnay
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Surabaya.

Lihat Daftar Rekening →