WhatsApp Icon
Hari Jadi Jawa Timur ke-81, Momentum Wujudkan Jawa Timur Unggul, Maju, Berkelanjutan

SURABAYA – Provinsi Jawa Timur memperingati Hari Jadi ke-81 pada 12 Oktober 2026 dengan mengusung tema “Unggul, Maju, Berkelanjutan”. Tema tersebut menjadi semangat bersama untuk terus mendorong pembangunan yang tidak hanya maju secara ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga mampu memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Bagi BAZNAS Surabaya, semangat unggul, maju, dan berkelanjutan sejalan dengan upaya memperkuat kepedulian sosial serta menghadirkan program yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Pembangunan yang unggul membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas. Kemajuan juga harus berjalan bersama dengan pemerataan kesejahteraan, sehingga masyarakat yang membutuhkan tetap memperoleh akses terhadap pendidikan, kesehatan, penguatan ekonomi, dan layanan kemanusiaan.

Dalam hal ini, zakat, infak, dan sedekah memiliki peran penting sebagai salah satu instrumen sosial untuk mendukung kesejahteraan masyarakat. Melalui pengelolaan yang amanah dan tepat sasaran, dana umat dapat diarahkan untuk membantu mustahik agar lebih mandiri dan berdaya.

BAZNAS Surabaya terus berkomitmen menghadirkan berbagai program yang berorientasi pada kebermanfaatan jangka panjang. Tidak hanya membantu kebutuhan sesaat, tetapi juga mendorong penerima manfaat untuk memiliki kesempatan membangun kehidupan yang lebih baik.

Momentum Hari Jadi Jawa Timur ke-81 juga menjadi pengingat bahwa kemajuan membutuhkan kolaborasi. Pemerintah, lembaga, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat memiliki peran dalam menciptakan Jawa Timur yang semakin kuat.

Dengan semangat “Unggul, Maju, Berkelanjutan”, BAZNAS Surabaya berharap Jawa Timur terus berkembang menjadi daerah yang maju sekaligus memiliki kepedulian sosial yang kuat.

Dirgahayu Provinsi Jawa Timur ke-81. Unggul, Maju, Berkelanjutan.

12/10/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Surabaya
Sedikit yang Kita Berikan, Besar Manfaatnya: Bersama BAZNAS Menguatkan Sesama

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali menganggap bahwa sesuatu yang kita berikan haruslah besar agar dapat memberikan manfaat. Padahal, kebaikan tidak selalu diukur dari seberapa banyak yang kita berikan. Terkadang, sesuatu yang sederhana bagi kita justru memiliki arti yang besar bagi orang lain.

Menyisihkan sebagian rezeki melalui zakat, infak, dan sedekah merupakan salah satu bentuk kepedulian yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Dari sebagian rezeki yang kita titipkan, ada keluarga yang dapat terbantu memenuhi kebutuhan, anak yang mendapatkan kesempatan pendidikan, masyarakat yang memperoleh layanan kesehatan, hingga pelaku usaha yang mendapatkan dukungan untuk mengembangkan kehidupannya.

Kebaikan yang Dimulai dari Hal Sederhana

Setiap orang memiliki kesempatan untuk berbuat baik sesuai dengan kemampuannya. Tidak perlu menunggu memiliki banyak harta untuk mulai berbagi. Selama masih memiliki sesuatu yang dapat diberikan, selalu ada kesempatan untuk membantu sesama.

Zakat memiliki kedudukan penting dalam kehidupan umat Islam. Selain sebagai kewajiban bagi mereka yang telah memenuhi syarat, zakat juga memiliki nilai sosial yang sangat besar. Zakat menjadi salah satu bentuk kepedulian kepada masyarakat yang membutuhkan dan dapat membantu mengurangi kesenjangan di tengah kehidupan sosial.

Selain zakat, infak dan sedekah juga menjadi bentuk kebaikan yang dapat dilakukan sesuai kemampuan. Ketiganya dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan kepedulian sekaligus mempererat hubungan antarsesama.

Ketika kebiasaan berbagi terus tumbuh, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh penerima. Orang yang memberikan juga belajar untuk lebih bersyukur, peduli, dan memahami bahwa sebagian dari rezeki yang dimiliki dapat memberikan arti bagi kehidupan orang lain.

Dari Berbagi, Tumbuh Harapan

Setiap bantuan memiliki cerita dan manfaatnya masing-masing. Bantuan untuk kebutuhan sehari-hari dapat membantu sebuah keluarga melewati masa sulit. Dukungan pendidikan dapat membuka kesempatan bagi generasi muda untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik. Bantuan kesehatan dapat membantu seseorang memperoleh layanan yang dibutuhkan.

Begitu pula dengan dukungan ekonomi. Bantuan modal, pelatihan, atau pendampingan dapat menjadi langkah awal bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan kemandirian.

Hal tersebut menunjukkan bahwa berbagi bukan hanya tentang memberikan sesuatu kepada orang lain. Berbagi juga dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan kesempatan dan membangun harapan.

Satu kebaikan mungkin terlihat kecil jika dilihat secara terpisah. Namun, ketika kebaikan tersebut dilakukan bersama-sama, manfaat yang dihasilkan dapat menjadi jauh lebih besar.

BAZNAS Menjadi Wadah untuk Menebarkan Manfaat

Agar zakat, infak, dan sedekah dapat memberikan manfaat secara terarah, diperlukan pengelolaan yang amanah dan penyaluran yang tepat. BAZNAS hadir sebagai lembaga yang mengelola zakat dan menyalurkannya melalui berbagai program untuk masyarakat yang membutuhkan.

Program BAZNAS mencakup berbagai bidang, seperti ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial kemanusiaan, dan pemberdayaan masyarakat. Setiap bidang memiliki tujuan untuk membantu memenuhi kebutuhan sekaligus memberikan manfaat bagi penerima.

Di bidang ekonomi, misalnya, program pemberdayaan dapat memberikan dukungan kepada masyarakat agar mampu mengembangkan usaha dan meningkatkan kemandirian. Di bidang pendidikan, bantuan dapat membantu memberikan akses dan kesempatan belajar bagi generasi penerus.

Sementara itu, program kesehatan dan sosial kemanusiaan dapat membantu masyarakat yang menghadapi keterbatasan maupun kondisi tertentu yang membutuhkan perhatian. Dengan berbagai program tersebut, dana yang dititipkan oleh masyarakat dapat menjadi bagian dari upaya menghadirkan manfaat yang lebih luas.

Berbagi Bukan Hanya Tentang Memberi

Ada makna yang lebih dalam dari sebuah pemberian. Ketika kita berbagi, kita sedang menunjukkan bahwa kesulitan orang lain juga menjadi bagian dari kepedulian kita.

Berbagi berarti menguatkan. Ketika seseorang sedang berada dalam keadaan sulit, bantuan yang diberikan dapat membuat mereka merasa tidak sendirian. Ketika seseorang mendapatkan kesempatan melalui bantuan pendidikan atau ekonomi, mereka memiliki peluang untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Karena itu, jangan pernah menganggap remeh kebaikan yang kita lakukan. Nilai sebuah pemberian bukan hanya terletak pada jumlahnya, tetapi juga pada manfaat yang dapat dirasakan oleh orang yang menerimanya.

Mari Menjadi Bagian dari Kebaikan

Membangun masyarakat yang lebih kuat dan mandiri membutuhkan kepedulian dari banyak pihak. Kita dapat mengambil bagian dengan cara yang sederhana, yaitu menyisihkan sebagian rezeki untuk zakat, infak, dan sedekah.

Tidak perlu menunggu sampai memiliki lebih banyak. Mulailah dari apa yang kita miliki hari ini. Karena mungkin, sebagian kecil yang kita berikan dapat membantu memenuhi kebutuhan seseorang, mendukung pendidikan seorang anak, membantu sebuah keluarga, atau menjadi awal bagi seseorang untuk kembali bangkit.

Melalui BAZNAS, mari salurkan kebaikan agar dapat memberikan manfaat bagi mereka yang membutuhkan.

Sedikit yang kita berikan mungkin terasa sederhana bagi kita, tetapi bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi orang lain. Dari berbagi, tumbuh harapan. Dari kepedulian, lahir perubahan.

 

Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS. Bersama, kita tebarkan kebaikan untuk mewujudkan masyarakat yang lebih kuat, mandiri, dan sejahtera.

08/10/2026 | Kontributor: Anin - Magang
Ketika Berbagi Menjadi Jalan untuk Menguatkan Sesama

Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menghadapi kehidupan. Ada yang sedang menikmati kemudahan, ada pula yang masih berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di tengah perbedaan tersebut, kepedulian kepada sesama menjadi sesuatu yang sangat berarti. Sebab, kehidupan akan terasa lebih kuat ketika setiap orang memiliki kesempatan untuk saling membantu dan menguatkan.

Berbagi merupakan salah satu bentuk sederhana dari kepedulian. Tidak selalu harus dalam jumlah besar, berbagi dapat dimulai dari sebagian rezeki yang kita miliki. Melalui zakat, infak, dan sedekah, masyarakat dapat mengambil bagian dalam membantu mereka yang membutuhkan sekaligus menghadirkan manfaat yang lebih luas.

Rezeki yang Disisihkan, Manfaat yang Dirasakan

Ketika seseorang menyisihkan sebagian hartanya untuk zakat, infak, atau sedekah, mungkin yang terlihat hanyalah berkurangnya sebagian dari apa yang dimiliki. Namun, bagi penerima manfaat, pemberian tersebut dapat memiliki arti yang jauh lebih besar.

Bantuan yang diberikan dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, mendukung pendidikan, membantu biaya kesehatan, atau memberikan kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan usaha. Dari satu pemberian, dapat muncul berbagai bentuk manfaat yang membantu seseorang menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Inilah yang membuat berbagi memiliki nilai yang begitu penting. Kebaikan yang kita lakukan tidak berhenti ketika bantuan diberikan, tetapi dapat terus memberikan dampak bagi kehidupan orang lain.

BAZNAS Hadir Menjadi Wadah Kebaikan

Dalam mewujudkan kepedulian tersebut, masyarakat membutuhkan wadah yang dapat membantu mengelola dan menyalurkan dana zakat, infak, dan sedekah secara terarah. BAZNAS hadir sebagai lembaga yang mengelola zakat dan menyalurkannya melalui berbagai program untuk masyarakat yang membutuhkan.

Program-program tersebut mencakup berbagai bidang, mulai dari ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial, hingga kemanusiaan. Dengan adanya berbagai program tersebut, dana yang dihimpun diharapkan dapat memberikan manfaat sesuai dengan kebutuhan penerima.

Melalui pengelolaan yang amanah dan penyaluran yang tepat sasaran, zakat tidak hanya menjadi bentuk kewajiban, tetapi juga dapat menjadi salah satu sarana untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kebaikan yang Mendorong Kemandirian

Membantu seseorang bukan hanya tentang memberikan sesuatu ketika mereka membutuhkan. Lebih dari itu, bantuan juga dapat menjadi jalan untuk membantu seseorang memiliki kemampuan agar dapat bangkit dan berkembang.

Dalam bidang ekonomi, misalnya, pemberian dukungan kepada pelaku usaha dapat membantu mereka mengembangkan usaha dan meningkatkan pendapatan. Dalam bidang pendidikan, bantuan dapat memberikan kesempatan kepada pelajar atau mahasiswa untuk terus menempuh pendidikan. Sementara dalam bidang kesehatan, bantuan dapat membantu masyarakat memperoleh layanan yang dibutuhkan.

Dengan demikian, kepedulian yang disalurkan melalui program yang tepat dapat menjadi langkah awal menuju kemandirian.

Tidak Perlu Menunggu untuk Berbuat Baik

Sering kali seseorang berpikir bahwa berbagi harus menunggu memiliki rezeki yang berlebih. Padahal, kepedulian dapat dimulai dari apa yang kita miliki saat ini.

Setiap orang memiliki kesempatan untuk berbuat baik. Ada yang dapat menunaikan zakat sesuai kewajibannya, ada yang dapat memberikan infak, dan ada pula yang dapat bersedekah sesuai dengan kemampuan. Yang terpenting adalah adanya niat dan kemauan untuk memberikan manfaat bagi sesama.

Kebaikan yang terlihat kecil bagi kita mungkin menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi orang lain. Karena itu, jangan menunggu sampai memiliki lebih banyak untuk mulai berbagi.

Bersama BAZNAS, Tebarkan Manfaat

Masyarakat yang kuat bukan hanya dibangun dari mereka yang memiliki kemampuan, tetapi juga dari kepedulian untuk membantu mereka yang sedang membutuhkan. Semangat inilah yang perlu terus dijaga agar kebaikan dapat tumbuh di tengah masyarakat.

Melalui zakat, infak, dan sedekah, kita dapat mengambil bagian dalam menghadirkan manfaat bagi sesama. Dengan menyalurkannya melalui BAZNAS, masyarakat dapat ikut mendukung berbagai program yang ditujukan untuk membantu dan memberdayakan penerima manfaat.

Mari menjadikan berbagi bukan hanya sebagai kegiatan sesekali, tetapi sebagai bagian dari kehidupan. Sebab, ketika kita berbagi, kita tidak hanya memberikan sebagian dari apa yang kita miliki, tetapi juga memberikan harapan kepada orang lain.

 

Mari bersama BAZNAS terus menebarkan kebaikan, menguatkan sesama, dan menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat. Karena satu kebaikan yang dilakukan hari ini dapat menjadi awal dari perubahan yang berarti di kemudian hari.

08/10/2026 | Kontributor: Anin - Magang
Ketika Alat Kerja Mengubah Harapan menjadi Penghasilan:  Ikhtiar BAZNAS Surabaya

Tidak semua bantuan harus hadir dalam bentuk uang tunai atau kebutuhan pokok. Bagi sebagian masyarakat, sebuah alat kerja justru dapat menjadi dukungan yang berarti untuk kembali produktif, mempertahankan pekerjaan, hingga membuka peluang memperoleh penghasilan. Semangat tersebut menjadi salah satu bagian dari upaya BAZNAS dalam mendorong pemberdayaan masyarakat. Melalui program Surabaya Berdaya, BAZNAS Kota Surabaya memiliki program Alat Kerja Mustahik yang diarahkan untuk mendukung masyarakat penerima manfaat agar dapat menjalankan aktivitas produktif.

Ketika Alat Kerja Menjadi Lebih dari Sekadar Barang

Bagi seseorang yang memiliki keterampilan dan kemauan untuk bekerja, keterbatasan peralatan dapat menjadi salah satu kendala dalam menjalankan pekerjaannya. Seorang pekerja dapat memiliki kemampuan, pengalaman, bahkan pelanggan, tetapi aktivitasnya tetap terbatas ketika sarana yang dibutuhkan belum tersedia atau kondisinya tidak lagi memadai. Dalam situasi seperti itu, bantuan alat kerja memiliki makna yang lebih luas. Bukan sekadar memberikan sebuah barang, tetapi membantu membuka ruang bagi seseorang untuk kembali bergerak dan mengembangkan kemampuan yang telah dimilikinya. Bantuan diarahkan agar penerima manfaat memiliki dukungan untuk melakukan aktivitas yang sesuai dengan kondisi dan potensinya.

Dari Membantu Menjadi Memberdayakan

Pemberian bantuan kepada masyarakat tidak selalu berhenti pada pemenuhan kebutuhan jangka pendek. Dalam kondisi tertentu, bantuan juga dapat diarahkan untuk memperkuat kemampuan penerima manfaat dalam memenuhi kebutuhannya secara mandiri. Ketika bantuan diberikan dalam bentuk alat kerja, manfaatnya berpotensi terus digunakan selama alat tersebut menunjang aktivitas penerima. Dengan demikian, bantuan dapat menjadi bagian dari proses yang lebih panjang, yaitu membantu masyarakat mempertahankan produktivitas dan meningkatkan kemandirian ekonomi. Bagi penerima manfaat, dukungan tersebut bukan hanya tentang apa yang diterima, tetapi juga tentang kesempatan untuk kembali berusaha.

Bagian dari Surabaya Berdaya

Program Alat Kerja Mustahik tercatat sebagai salah satu bentuk kegiatan dalam Surabaya Berdaya. Program pemberdayaan tersebut juga mencakup berbagai bentuk dukungan ekonomi lainnya, seperti bantuan modal usaha, pelatihan usaha dan pemberdayaan UMKM, serta pembiayaan usaha mikro. Beragam bentuk program tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat membutuhkan pendekatan yang tidak selalu sama. Setiap penerima manfaat memiliki kondisi, kemampuan, serta kebutuhan yang berbeda. Karena itu, dukungan terhadap masyarakat dapat dilakukan melalui berbagai cara, termasuk memberikan sarana yang dapat membantu mereka menjalankan aktivitas ekonomi.

Dari Mustahik, Menuju Masyarakat yang Lebih Berdaya

Pemberdayaan bukan berarti menghilangkan kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan bantuan. Sebaliknya, pemberdayaan menjadi bagian dari upaya agar bantuan yang diberikan dapat disesuaikan dengan kondisi dan potensi penerima manfaat. Seseorang yang memiliki keterampilan tetapi terkendala peralatan, misalnya, membutuhkan bentuk dukungan yang berbeda dengan seseorang yang membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Dengan memahami kebutuhan tersebut, bantuan dapat diarahkan agar lebih tepat guna. Semangat ini menjadi bagian dari upaya BAZNAS Kota Surabaya dalam mengelola dana ZIS agar memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan, sekaligus membuka ruang bagi penerima manfaat untuk berkembang.

ZIS untuk Membuka Lebih Banyak Kesempatan

Zakat, infak, dan sedekah tidak hanya memiliki dimensi kepedulian sosial, tetapi juga dapat menjadi instrumen yang mendukung pemberdayaan masyarakat. Ketika dana ZIS dikelola dan disalurkan melalui program yang sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat, manfaatnya dapat hadir dalam berbagai bentuk. Mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar hingga dukungan terhadap pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi. Program Alat Kerja Mustahik menjadi salah satu gambaran bahwa kepedulian dapat diwujudkan melalui dukungan yang mendorong masyarakat untuk terus bergerak. Sebab, terkadang yang dibutuhkan seseorang bukan hanya bantuan untuk bertahan, tetapi juga kesempatan untuk kembali berusaha.

Bukan Sekadar Memberi, tetapi Membuka Jalan

 

Pada akhirnya, sebuah alat kerja mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi penerima yang membutuhkan, alat tersebut dapat menjadi bagian penting dari aktivitas sehari-hari. Di balik sebuah alat kerja terdapat kesempatan untuk bekerja. Melalui semangat pemberdayaan, BAZNAS Kota Surabaya terus berupaya menghadirkan pengelolaan dana ZIS yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Salah satunya melalui dukungan terhadap produktivitas dan kemandirian ekonomi mustahik. Karena membantu bukan hanya tentang memberikan apa yang dibutuhkan hari ini, tetapi membuka kesempatan agar seseorang dapat terus melangkah dan membangun kehidupannya dengan kemampuan yang dimiliki. Dari sebuah alat kerja, tumbuh sebuah kesempatan. Dari sebuah kesempatan, lahir harapan untuk menjadi lebih mandiri.

08/10/2026 | Kontributor: Nadya - Magang
Dari Pintu ke Pintu hingga Pendidikan, BAZNAS Kota Surabaya Hadir untuk Masyarakat

Kepedulian terhadap masyarakat dapat diwujudkan melalui berbagai cara, mulai dari memberikan pendampingan secara langsung hingga membuka akses terhadap layanan kesehatan dan pendidikan. Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen BAZNAS Kota Surabaya dalam menghadirkan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan. Melalui berbagai program sosial dan kemanusiaan, BAZNAS Kota Surabaya berupaya menjangkau masyarakat dengan memperhatikan kebutuhan serta kondisi penerima manfaat. Tidak hanya memberikan bantuan, pendekatan yang dilakukan juga mengedepankan pendampingan agar manfaat program dapat dirasakan secara lebih berkelanjutan.

Menjangkau Keluarga melalui Pendampingan dari Rumah ke Rumah

Salah satu bentuk kepedulian BAZNAS Kota Surabaya diwujudkan melalui program pendampingan kesehatan yang menjangkau keluarga secara langsung atau door to door. Program ini dilaksanakan melalui kerja sama dengan Puskesmas untuk memberikan perhatian terhadap kebutuhan kesehatan keluarga, khususnya bagi balita dan baduta yang memerlukan dukungan pemenuhan gizi. Dalam pelaksanaannya, bantuan diberikan melalui penyediaan susu dan vitamin, disertai edukasi kepada keluarga mengenai pentingnya pemenuhan nutrisi serta pemantauan tumbuh kembang anak. Pendekatan dari rumah ke rumah menjadi langkah penting untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Dengan menjangkau keluarga secara langsung, kebutuhan penerima manfaat dapat diperhatikan sekaligus memberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kesehatan anak sejak usia dini. Upaya ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap kesehatan tidak cukup hanya melalui pemberian bantuan, tetapi juga perlu disertai edukasi dan pendampingan kepada keluarga.

Menghadirkan Layanan Kesehatan yang Disertai Pemberdayaan

Selain pendampingan keluarga, BAZNAS Kota Surabaya juga menghadirkan kepedulian melalui program Bengkel Sehat Mandiri. Program ini menggabungkan layanan kesehatan dengan semangat pemberdayaan masyarakat. Melalui kolaborasi bersama Dinas Kesehatan Kota Surabaya, program tersebut menjadi salah satu bentuk upaya untuk memperluas manfaat pelayanan kesehatan sekaligus mendorong kemandirian masyarakat. Kehadiran program ini memperlihatkan bahwa peningkatan kesejahteraan tidak hanya berkaitan dengan bantuan sosial, tetapi juga mencakup akses terhadap layanan kesehatan dan kesempatan untuk mengembangkan potensi diri. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga diharapkan memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara lebih mandiri.

Dukungan Pendidikan untuk Membuka Kesempatan Masa Depan

Kepedulian BAZNAS Kota Surabaya juga diwujudkan melalui dukungan di bidang pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan penting yang berperan dalam membangun masa depan generasi muda. Namun, keterbatasan ekonomi masih menjadi tantangan bagi sebagian keluarga dalam memenuhi kebutuhan pendidikan anak. Kondisi tersebut mendorong pentingnya kehadiran bantuan yang dapat meringankan beban keluarga dan membantu anak mempertahankan kesempatan untuk terus belajar. Melalui pemanfaatan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS), BAZNAS Kota Surabaya turut menyalurkan bantuan biaya pendidikan. Salah satu bentuk dukungan tersebut diwujudkan melalui bantuan pendidikan kepada 553 siswa binaan Dinas Sosial Kota Surabaya dari kawasan ekslokalisasi, dengan total bantuan mencapai Rp381,57 juta pada periode Januari hingga September 2026. Bantuan ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan pendidikan para siswa sekaligus memberikan kesempatan yang lebih luas bagi mereka untuk mengembangkan potensi dan meraih cita-cita. Dukungan pendidikan bukan sekadar membantu memenuhi kebutuhan biaya sekolah, melainkan juga menjadi bagian dari upaya memutus hambatan ekonomi dalam memperoleh pendidikan yang layak.

Kepedulian yang Menghadirkan Manfaat Lebih Luas

 

Berbagai program tersebut menunjukkan bahwa kepedulian BAZNAS Kota Surabaya hadir melalui pendekatan yang beragam. Mulai dari menjangkau keluarga secara langsung, memberikan dukungan kesehatan, hingga membantu keberlangsungan pendidikan anak. Setiap program memiliki sasaran dan bentuk pelayanan yang berbeda, tetapi tetap membawa semangat yang sama, yaitu menghadirkan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan. Melalui pengelolaan dana zakat, infak, dan sedekah, BAZNAS Kota Surabaya berupaya mengoptimalkan penyaluran bantuan agar dapat memberikan dampak nyata dalam kehidupan masyarakat. Kepedulian sosial pada akhirnya bukan hanya tentang bantuan yang diberikan, melainkan juga tentang kesempatan yang dibuka, keluarga yang didampingi, serta masa depan yang turut diperjuangkan. Dengan semangat tersebut, BAZNAS Kota Surabaya terus berupaya memperkuat peran dalam menghadirkan program sosial dan kemanusiaan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Sebab, setiap bentuk kepedulian memiliki arti ketika mampu memberikan manfaat dan membantu masyarakat memperoleh kehidupan yang lebih baik.

08/10/2026 | Kontributor: Nadya - Magang

Artikel Terbaru

Spirit Nuzulul Qur’an dalam Optimalisasi Zakat Tunai: Gerakan Berbagi Bersama BAZNAS Surabaya
Spirit Nuzulul Qur’an dalam Optimalisasi Zakat Tunai: Gerakan Berbagi Bersama BAZNAS Surabaya
Surabaya News — Peringatan Nuzulul Qur’an menjadi momentum istimewa bagi umat Islam untuk merefleksikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW bukan hanya peristiwa historis, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya keadilan sosial, kepedulian, dan semangat berbagi. Dalam semangat tersebut, BAZNAS Surabaya mengoptimalkan gerakan zakat tunai sebagai wujud implementasi ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan bermasyarakat. Nuzulul Qur’an mengajarkan bahwa Al-Qur’an hadir sebagai petunjuk bagi umat manusia, termasuk dalam membangun sistem sosial yang berkeadilan. Salah satu instrumen yang diajarkan dalam Islam untuk menciptakan keseimbangan ekonomi adalah zakat. Melalui zakat, terjadi distribusi kekayaan dari yang mampu kepada yang membutuhkan, sehingga kesenjangan sosial dapat ditekan dan kesejahteraan bersama dapat terwujud. Momentum Nuzulul Qur’an dimanfaatkan BAZNAS Surabaya untuk mengajak masyarakat meningkatkan kesadaran dalam menunaikan zakat, khususnya zakat tunai. Zakat tunai menjadi pilihan yang praktis dan fleksibel karena dapat langsung disalurkan sesuai kebutuhan prioritas mustahik. Dengan sistem pengelolaan yang profesional dan terstruktur, zakat tunai mampu menjangkau lebih banyak penerima manfaat secara cepat dan tepat sasaran.Selama bulan Ramadhan, kebutuhan masyarakat kurang mampu cenderung meningkat, baik untuk kebutuhan pokok, pendidikan, maupun kesehatan. Setiap dana yang dihimpun dikelola secara transparan dan disalurkan berdasarkan hasil pendataan serta verifikasi lapangan. Zakat tunai yang terkumpul tidak hanya disalurkan dalam bentuk bantuan konsumtif seperti paket sembako dan santunan dhuafa, tetapi juga dalam bentuk program produktif. Bantuan modal usaha, dukungan pendidikan, serta layanan kesehatan menjadi bagian dari distribusi zakat tunai yang dirancang untuk memberikan dampak jangka panjang. Dengan demikian, mustahik tidak hanya terbantu secara sementara, tetapi juga memiliki peluang untuk meningkatkan taraf hidupnya. Sebagai lembaga resmi pengelola zakat, BAZNAS Surabaya terus mengedepankan prinsip akuntabilitas dan profesionalitas. Setiap proses, mulai dari penghimpunan hingga pendistribusian zakat tunai, dilakukan secara terukur dan terdokumentasi dengan baik. Hal ini penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus memastikan bahwa zakat benar-benar menjadi solusi sosial yang efektif. Melalui kampanye Nuzulul Qur’an, BAZNAS Surabaya juga mengedukasi masyarakat tentang pentingnya memahami Al-Qur’an secara komprehensif, termasuk ajaran tentang zakat dan kepedulian sosial. Spirit wahyu pertama yang memerintahkan “Iqra” atau membaca, dimaknai sebagai ajakan untuk membaca kondisi sosial di sekitar kita. Kemudahan layanan pembayaran zakat tunai juga menjadi perhatian utama. Masyarakat dapat menunaikan zakat melalui kantor layanan maupun kanal digital yang telah disediakan. Kemudahan ini diharapkan mampu meningkatkan partisipasi muzaki dalam gerakan berbagi, khususnya pada momentum Nuzulul Qur’an yang sarat makna spiritual. Di tengah peringatan Nuzulul Qur’an, BAZNAS Surabaya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam membangun solidaritas sosial. Zakat tunai bukan sekadar kewajiban, tetapi juga bentuk nyata implementasi nilai-nilai ilahiyah dalam kehidupan modern. Dengan kolaborasi dan partisipasi bersama, zakat dapat menjadi instrumen strategis dalam mengurangi kemiskinan dan memperkuat kesejahteraan umat. Nuzulul Qur’an bukan hanya tentang mengenang turunnya wahyu, tetapi juga tentang menghidupkan pesan-pesan kebaikan dalam tindakan nyata. Melalui optimalisasi zakat tunai, BAZNAS Surabaya berkomitmen menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Surabaya. Semoga semangat Nuzulul Qur’an semakin menguatkan kepedulian kita untuk berbagi dan menebar keberkahan bagi sesama.
ARTIKEL04/03/2026 | Ainun
Gerakan Ramadhan: Momentum Transformasi Spiritual dan Sosial melalui BAZNAS Surabaya
Gerakan Ramadhan: Momentum Transformasi Spiritual dan Sosial melalui BAZNAS Surabaya
Surabaya Bulan Ramadhan merupakan bulan yang istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Di bulan suci ini, umat Islam menjalankan ibadah puasa, meningkatkan kualitas ibadah, serta memperkuat kepedulian sosial. Momentum tersebut melahirkan Gerakan Ramadhan sebagai upaya kolektif untuk mengaktualisasikan nilai-nilai ketakwaan dalam kehidupan nyata. Gerakan ini tidak hanya menyentuh aspek spiritual, tetapi juga mencakup dimensi sosial, pendidikan, ekonomi, dan dakwah. Secara konseptual, Gerakan Ramadhan adalah transformasi nilai ketakwaan menjadi aksi nyata. Puasa melatih pengendalian diri, zakat dan sedekah memperkuat solidaritas sosial, sedangkan kajian dan tilawah meningkatkan pemahaman keislaman. Ketika nilai-nilai tersebut dijalankan secara kolektif, lahirlah perubahan sosial yang konstruktif dan berkelanjutan. Di sinilah lembaga pengelola zakat memiliki posisi strategis dalam mengorganisasi semangat kebaikan agar tepat sasaran dan berdampak luas. BAZNAS Surabaya menjadi representasi nyata dari Gerakan Ramadhan yang terstruktur dan profesional. Sebagai lembaga resmi pengelola zakat, BAZNAS Surabaya mengoptimalkan momentum Ramadhan melalui berbagai program seperti penghimpunan dan penyaluran zakat, infak, dan sedekah, santunan anak yatim, bantuan bagi dhuafa, hingga program pemberdayaan ekonomi mustahik. Program-program tersebut tidak hanya bersifat karitatif, tetapi juga diarahkan pada pemberdayaan agar masyarakat penerima manfaat dapat lebih mandiri secara ekonomi. Dalam aspek spiritual dan sosial, BAZNAS Surabaya turut memperkuat budaya berbagi di tengah masyarakat perkotaan yang dinamis. Kampanye zakat Ramadhan, kemudahan layanan pembayaran zakat, serta transparansi pelaporan menjadi bagian dari manajemen modern yang mendukung efektivitas Gerakan Ramadhan. Hal ini sejalan dengan tujuan utama gerakan tersebut, yakni meningkatkan keimanan sekaligus mengurangi kesenjangan sosial. Di bidang ekonomi, distribusi zakat produktif dan bantuan usaha mikro yang dikelola BAZNAS Surabaya turut mendukung kebangkitan ekonomi umat selama Ramadhan. Dengan pendekatan pemberdayaan, zakat tidak hanya habis dikonsumsi, tetapi juga menjadi modal usaha yang berkelanjutan. Strategi ini memperkuat ekosistem ekonomi syariah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat kecil di Surabaya. Selain itu, pemanfaatan media digital dalam kampanye zakat dan publikasi program Ramadhan menunjukkan adaptasi terhadap perkembangan teknologi. Melalui media sosial dan platform daring, pesan-pesan kebaikan dapat menjangkau masyarakat lebih luas, khususnya generasi muda. Hal ini menjadikan Gerakan Ramadhan tidak hanya bersifat lokal, tetapi memiliki jangkauan yang lebih luas dan sistematis. Dengan demikian, Gerakan Ramadhan di Kota Surabaya tidak sekadar menjadi agenda tahunan, melainkan bagian dari transformasi sosial yang berkelanjutan. Melalui program-program yang terencana, transparan, dan berdampak nyata, BAZNAS Surabaya menjadi salah satu penggerak utama dalam menguatkan nilai-nilai Ramadhan sebagai fondasi pembangunan sosial yang berkesinambungan di tengah masyarakat Surabaya.
ARTIKEL04/03/2026 | Fia
Zakat Fitrah dan Peran Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Surabaya dalam Menebar Keberkahan
Zakat Fitrah dan Peran Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Surabaya dalam Menebar Keberkahan
Zakat fitrah merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang mampu, yang ditunaikan pada bulan Ramadan hingga sebelum pelaksanaan salat Idulfitri. Ibadah ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan bentuk penyucian diri setelah menjalani ibadah puasa sekaligus sarana berbagi kebahagiaan kepada sesama. Secara spiritual, zakat fitrah menyempurnakan ibadah puasa dari segala kekurangan; secara sosial, ia menjadi jembatan kepedulian antara yang mampu dan yang membutuhkan. Dalam ajaran Islam, zakat fitrah wajib ditunaikan oleh setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, selama memiliki kelebihan rezeki untuk kebutuhan pokok pada malam dan hari raya. Besarannya setara dengan 2,5 kilogram atau 3,5 liter makanan pokok yang biasa dikonsumsi, seperti beras di Indonesia. Namun, dalam praktik modern, pembayaran zakat fitrah juga dapat dilakukan dalam bentuk uang yang nilainya disesuaikan dengan harga bahan pokok tersebut. Di tengah dinamika kehidupan perkotaan, pengelolaan zakat secara profesional menjadi kebutuhan penting. Di sinilah peran BAZNAS Kota Surabaya hadir sebagai lembaga resmi yang mengelola zakat, infak, dan sedekah masyarakat. Sebagai perpanjangan tangan dari Badan Amil Zakat Nasional di tingkat daerah, BAZNAS Surabaya berkomitmen memastikan zakat fitrah tersalurkan tepat sasaran kepada delapan golongan (asnaf) yang berhak menerimanya. Kehadiran BAZNAS Surabaya membawa sistem yang lebih transparan, akuntabel, dan terstruktur dalam pengumpulan serta pendistribusian zakat fitrah. Masyarakat tidak lagi harus menyalurkan zakat secara individual tanpa kepastian distribusi. Melalui pendataan mustahik (penerima zakat) yang akurat dan program distribusi yang terencana, zakat fitrah dapat menjangkau masyarakat prasejahtera di berbagai wilayah Surabaya secara merata. Selain itu, BAZNAS Surabaya juga memanfaatkan teknologi digital untuk memudahkan masyarakat dalam menunaikan kewajibannya. Pembayaran zakat fitrah dapat dilakukan melalui transfer bank maupun platform digital, sehingga semakin praktis dan aman. Transparansi laporan penyaluran dana juga menjadi bentuk tanggung jawab moral dan profesional kepada para muzakki (pembayar zakat). Lebih dari sekadar penyaluran bantuan konsumtif menjelang Idulfitri, zakat fitrah yang dikelola secara kolektif oleh BAZNAS memiliki dampak sosial yang lebih luas. Ia membantu menjaga stabilitas sosial, mengurangi kesenjangan, serta memperkuat rasa persaudaraan di tengah masyarakat kota besar seperti Surabaya. Momentum Idulfitri pun menjadi benar-benar dirasakan oleh semua lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Pada akhirnya, zakat fitrah bukan hanya kewajiban ritual, melainkan gerakan sosial yang menghidupkan nilai empati dan solidaritas. Dengan mempercayakan penyalurannya kepada BAZNAS Surabaya, masyarakat tidak hanya menunaikan kewajiban agama, tetapi juga turut berkontribusi dalam membangun ekosistem kesejahteraan yang berkelanjutan. Di situlah zakat fitrah menemukan maknanya yang paling hakiki: menyucikan jiwa, menguatkan sesama, dan menebarkan keberkahan bagi seluruh kota.
ARTIKEL04/03/2026 | Wahyu
Qiyamullail: Sunyi yang Menguatkan Jiwa
Qiyamullail: Sunyi yang Menguatkan Jiwa
Di tengah riuhnya dunia dan padatnya aktivitas harian, ada satu ibadah yang menawarkan ruang sunyi sekaligus kekuatan batin: qiyamullail. Ibadah malam ini bukan sekadar ritual tambahan, melainkan latihan spiritual yang membentuk kedalaman iman, ketenangan jiwa, dan keteguhan karakter. Secara sederhana, qiyamullail berarti menghidupkan malam dengan ibadah. Ia mencakup salat tahajud, witir, doa, dan tilawah yang dilakukan setelah tidur di sepertiga malam terakhir. Dalam tradisi Islam, waktu ini dikenal sebagai saat yang istimewa—ketika suasana hening, gangguan dunia mereda, dan hati lebih mudah khusyuk. Al-Qur’an memberi perhatian khusus pada ibadah malam. Dalam Surah Al-Muzzammil ayat 1–6, Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk bangun malam, karena bacaan pada waktu itu “lebih kuat (kesannya) dan lebih berkesan.” Pesan ini menunjukkan bahwa malam bukan hanya waktu istirahat fisik, tetapi juga ruang penguatan ruhani. Dalam sejarah Islam, qiyamullail menjadi ciri orang-orang saleh. Para ulama dan pemimpin besar menjadikan malam sebagai waktu refleksi dan pembinaan diri. Di saat banyak orang terlelap, mereka berdiri dalam doa, memohon kekuatan untuk menghadapi tantangan siang hari. Dari sinilah lahir keteguhan moral dan kejernihan berpikir. Secara psikologis, qiyamullail memiliki dampak yang signifikan. Keheningan malam membantu seseorang melakukan introspeksi yang jujur. Dalam kesunyian itu, manusia berhadapan dengan dirinya sendiri—mengakui kelemahan, menata ulang niat, dan memohon petunjuk. Aktivitas ini serupa dengan praktik refleksi mendalam yang dalam kajian modern dikaitkan dengan peningkatan regulasi emosi dan ketenangan mental. Namun, qiyamullail bukan sekadar soal bangun malam. Ia adalah simbol komitmen. Ketika seseorang rela meninggalkan kenyamanan tidur demi berdiri di hadapan Tuhan, itu menunjukkan kesungguhan cinta dan kebutuhan spiritual. Ibadah ini melatih disiplin diri, karena dilakukan saat godaan terbesar adalah rasa malas dan kantuk. Dalam konteks kehidupan modern yang serba cepat, qiyamullail menjadi bentuk perlawanan terhadap distraksi. Saat siang dipenuhi notifikasi, target pekerjaan, dan interaksi sosial, malam menawarkan ruang hening yang tidak terfragmentasi. Di sanalah seseorang bisa kembali mengingat tujuan hidupnya. Menariknya, qiyamullail tidak mensyaratkan durasi panjang. Dua rakaat yang dilakukan dengan khusyuk sudah cukup menjadi awal. Konsistensi lebih penting daripada jumlah. Sedikit tetapi rutin akan membentuk kebiasaan spiritual yang kokoh. Ramadan sering menjadi momentum untuk memulai qiyamullail melalui salat tarawih dan tahajud. Namun, esensinya seharusnya tidak berhenti setelah bulan suci berlalu. Justru di luar Ramadanlah kualitas komitmen diuji. Apakah ibadah malam hanya semangat musiman, atau benar-benar menjadi kebutuhan jiwa? Qiyamullail pada akhirnya adalah dialog sunyi antara hamba dan Tuhannya. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada sorotan publik. Yang ada hanyalah ketulusan. Dari kesunyian itu lahir kekuatan yang tak terlihat, tetapi terasa dalam sikap dan keputusan sehari-hari. Di dunia yang bising, mungkin kita tidak selalu membutuhkan lebih banyak suara. Kita justru membutuhkan lebih banyak keheningan yang bermakna. Dan qiyamullail menawarkan ruang itu—sunyi yang menguatkan jiwa.
ARTIKEL04/03/2026 | Rubai
Menyucikan Jiwa, Menguatkan Sesama dengan Zakat Fitrah Bersama Baznas Surabaya
Menyucikan Jiwa, Menguatkan Sesama dengan Zakat Fitrah Bersama Baznas Surabaya
Menjelang berakhirnya bulan Ramadhan, ketika hati terasa lebih bersih dan jiwa telah ditempa oleh latihan menahan diri selama sebulan penuh, umat Islam memiliki satu kewajiban yang tidak boleh terlewatkan, yaitu menunaikan zakat fitrah. Ibadah ini bukan sekadar tradisi tahunan yang dilakukan menjelang hari raya, melainkan bentuk nyata kepedulian sosial yang melengkapi makna Ramadhan. Zakat fitrah menjadi penghubung antara kesalehan individu dan tanggung jawab sosial terhadap sesama. Zakat fitrah diwajibkan atas setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan, anak-anak maupun orang dewasa, selama ia memiliki kelebihan makanan pada malam Idul Fitri. Disebut “fitrah” karena berkaitan dengan upaya kembali kepada keadaan yang suci setelah menjalani ibadah puasa. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dijelaskan bahwa zakat fitrah berfungsi untuk membersihkan orang yang berpuasa dari ucapan yang tidak bermanfaat dan perbuatan yang kurang baik, sekaligus sebagai bentuk bantuan pangan bagi mereka yang membutuhkan. Dari penjelasan ini dapat dipahami bahwa zakat fitrah memiliki dua sisi penting: penyucian diri secara spiritual dan kepedulian sosial secara nyata. Pada umumnya, zakat fitrah ditunaikan sebesar satu sha’ bahan makanan pokok, yang setara dengan kurang lebih 2,5 hingga 3 kilogram beras atau makanan pokok lainnya. Pelaksanaannya dapat dilakukan sejak awal Ramadhan hingga sebelum shalat Idul Fitri dilaksanakan. Namun, waktu yang paling dianjurkan adalah menjelang hari raya agar bantuan tersebut segera dirasakan manfaatnya oleh para penerima. Apabila zakat fitrah dibayarkan setelah shalat Id, maka nilainya tidak lagi dihitung sebagai zakat fitrah, melainkan sebagai sedekah biasa. Karena itu, ketepatan waktu menjadi aspek yang penting dalam pelaksanaannya. Terdapat berbagai hikmah yang terkandung dalam ibadah zakat fitrah. Pertama, ia berfungsi sebagai penyempurna ibadah puasa. Selama Ramadhan, manusia mungkin melakukan kekeliruan, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Zakat fitrah menjadi sarana untuk menutup kekurangan tersebut agar ibadah puasa menjadi lebih sempurna. Kedua, zakat fitrah menghadirkan kebahagiaan pada hari raya. Idul Fitri merupakan momen kemenangan dan kegembiraan. Dengan adanya zakat fitrah, kaum dhuafa dapat merasakan sukacita tanpa terbebani kekurangan kebutuhan pokok. Ketiga, zakat fitrah menumbuhkan rasa empati dan kepedulian sosial. Ia mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak hanya dinikmati sendiri, tetapi juga dibagikan kepada orang lain. Keempat, zakat fitrah memperkuat solidaritas umat. Ketika seluruh Muslim menunaikan kewajiban ini, tercipta ikatan kepedulian yang mempererat hubungan sosial dalam masyarakat. Di era modern, penyaluran zakat fitrah dapat dilakukan melalui lembaga resmi agar pengelolaannya lebih tertata dan tepat sasaran. Di Indonesia, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) memiliki peran penting dalam menghimpun serta mendistribusikan zakat kepada mustahik yang berhak menerimanya. Dengan sistem pengelolaan yang profesional dan transparan, penyaluran zakat dapat menjangkau lebih banyak penerima dan memberikan dampak yang lebih luas. Pada akhirnya, zakat fitrah bukan sekadar kewajiban administratif menjelang lebaran. Ia merupakan simbol kepedulian, kebersamaan, dan pengakuan bahwa dalam setiap harta terdapat hak orang lain. Jika puasa membentuk ketakwaan secara pribadi, maka zakat fitrah memperkuat ketakwaan dalam dimensi sosial. Saat takbir berkumandang menyambut Idul Fitri, zakat fitrah menjadi penutup yang menyempurnakan perjalanan Ramadhan, memastikan bahwa kebahagiaan hari raya dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
ARTIKEL03/03/2026 | Azizah
Qiyamul Lail sebagai Cahaya yang Tumbuh di Sepertiga Malam
Qiyamul Lail sebagai Cahaya yang Tumbuh di Sepertiga Malam
Dalam pergantian waktu antara siang dan malam, terdapat satu fase yang begitu tenang dan menenangkan. Saat aktivitas dunia perlahan berhenti, suara-suara mereda, dan sebagian besar manusia terlelap dalam tidurnya, ada sebagian hamba yang justru bangkit untuk mendekat kepada Allah. Pada momen sunyi itulah Qiyamul Lail menjadi ibadah yang sarat makna. Ia bukan sekadar shalat malam yang dikerjakan sebagai rutinitas, melainkan perjumpaan spiritual yang intim antara seorang hamba dengan Rabb-nya—ruang rahasia tempat doa, harapan, dan penyesalan dipanjatkan tanpa saksi selain Dia. Secara bahasa, Qiyamul Lail berarti berdiri pada waktu malam. Dalam pengertian syariat, ia mencakup ibadah yang dilakukan setelah shalat Isya hingga menjelang Subuh, terutama shalat tahajud dan witir. Keutamaan ibadah ini begitu agung hingga Allah memuji orang-orang yang menghidupkan malam dalam firman-Nya: “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhan mereka dengan rasa takut dan harap…” (QS. As-Sajdah: 16). Ayat tersebut menggambarkan betapa berharganya mereka yang rela meninggalkan kenyamanan tidur demi mendekatkan diri kepada-Nya. Rasulullah SAW adalah teladan utama dalam menjalankan Qiyamul Lail. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa beliau menunaikan shalat malam dalam waktu yang panjang hingga kedua kakinya tampak bengkak. Ketika para sahabat bertanya mengapa beliau begitu bersungguh-sungguh padahal dosa-dosanya telah diampuni, beliau menjawab bahwa beliau ingin menjadi hamba yang bersyukur. Jawaban ini menunjukkan bahwa Qiyamul Lail bukan hanya sarana memohon ampunan, tetapi juga bentuk ungkapan cinta dan rasa syukur yang mendalam kepada Allah. Ibadah ini tumbuh dari kesadaran hati dan kerinduan spiritual, bukan karena kewajiban yang memberatkan. Ada sejumlah alasan mengapa Qiyamul Lail memiliki kedudukan yang istimewa. Pertama, ia dilakukan pada waktu yang sangat mustajab untuk berdoa. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim dijelaskan bahwa pada sepertiga malam terakhir Allah menyeru hamba-hamba-Nya dan menjanjikan pengabulan doa bagi mereka yang memohon kepada-Nya. Momen ini menjadi kesempatan berharga untuk menyampaikan segala harapan, memohon ampunan, meminta ketenangan batin, serta mencari solusi atas berbagai persoalan hidup. Kedua, kebiasaan bangun malam membentuk karakter yang disiplin dan penuh kesungguhan. Tidak mudah meninggalkan kehangatan tempat tidur, namun di situlah letak nilai perjuangannya. Qiyamul Lail melatih komitmen dan keteguhan, sekaligus mengajarkan bahwa kedekatan dengan Allah memerlukan usaha yang sungguh-sungguh. Ketiga, ibadah ini menjadi sumber ketenteraman jiwa. Dalam suasana malam yang hening, hati lebih mudah fokus dan pikiran lebih jernih. Sujud yang panjang dan doa yang lirih menghadirkan ketenangan yang sulit ditemukan di tengah kesibukan siang hari. Bagi banyak orang, Ramadhan menjadi pintu awal untuk membiasakan diri dengan Qiyamul Lail melalui shalat tarawih dan tahajud berjamaah. Namun, sejatinya amalan ini tidak terbatas pada bulan tersebut. Qiyamul Lail adalah ibadah sepanjang tahun yang menjadi ciri orang-orang yang ingin menjaga kualitas imannya. Memulai Qiyamul Lail tidak harus dengan rakaat yang banyak. Dua rakaat dengan khusyuk sudah menjadi langkah awal yang berarti. Yang terpenting adalah keikhlasan dan konsistensi. Pada akhirnya, Qiyamul Lail adalah dialog sunyi yang menguatkan. Ketika beban terasa berat dan persoalan tampak rumit, mungkin jawabannya bukan pada keramaian dunia, melainkan pada keheningan malam yang dipenuhi cahaya doa.
ARTIKEL03/03/2026 | Azizah
Qiyamul Lail dan Zakat: Ibadah Malam yang Menggerakkan Kepedulian Umat
Qiyamul Lail dan Zakat: Ibadah Malam yang Menggerakkan Kepedulian Umat
Qiyamul lail merupakan salah satu ibadah sunnah yang memiliki keutamaan besar dalam Islam. Ibadah ini dilakukan pada malam hari setelah salat Isya hingga sebelum waktu Subuh, dengan bentuk amalan seperti salat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa kepada Allah SWT. Dalam keheningan malam, seorang hamba memiliki kesempatan yang lebih khusyuk untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Qiyamul lail bukan hanya sekadar ibadah spiritual, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat keimanan dan membentuk kepekaan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang terbiasa menghidupkan malam dengan qiyamul lail, hatinya akan menjadi lebih lembut dan peka terhadap kondisi di sekitarnya. Dalam suasana doa dan munajat, seorang muslim sering kali memohon keberkahan hidup, kelapangan rezeki, serta kemampuan untuk membantu sesama. Dari sinilah muncul kesadaran bahwa harta yang dimiliki tidak hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga memiliki hak bagi mereka yang membutuhkan. Kesadaran tersebut kemudian mendorong seseorang untuk menunaikan zakat, infak, dan sedekah dengan penuh keikhlasan. Zakat sendiri merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Melalui zakat, kesejahteraan umat dapat ditingkatkan dan kesenjangan sosial dapat dikurangi. Dana zakat yang dikelola dengan baik dapat membantu berbagai kebutuhan masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan, bantuan ekonomi, hingga bantuan kemanusiaan. Dengan demikian, zakat menjadi bentuk nyata dari kepedulian umat Islam terhadap sesama. Hubungan antara qiyamul lail dan zakat terletak pada pembentukan karakter seorang muslim yang tidak hanya taat secara spiritual, tetapi juga peduli secara sosial. Ibadah malam melatih keikhlasan, kesabaran, dan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT. Nilai-nilai inilah yang kemudian mendorong seseorang untuk berbagi rezeki melalui zakat dan sedekah. Dengan kata lain, kekuatan spiritual dari qiyamul lail dapat melahirkan semangat kepedulian sosial yang lebih besar. Melalui qiyamul lail, seorang muslim tidak hanya memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, tetapi juga memperkuat hubungan dengan sesama manusia. Ketika ibadah malam dipadukan dengan semangat berbagi melalui zakat, maka terciptalah keseimbangan antara kesalehan spiritual dan kesalehan sosial. Inilah yang menjadi salah satu nilai penting dalam ajaran Islam: ibadah kepada Allah yang sekaligus membawa manfaat bagi umat. Oleh karena itu, mari kita jadikan qiyamul lail sebagai momentum untuk memperbaiki diri sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap sesama. Dengan hati yang dekat kepada Allah dan tangan yang ringan untuk berbagi, kita dapat bersama-sama membangun masyarakat yang lebih peduli, adil, dan penuh keberkahan. ?????
ARTIKEL03/03/2026 | Ananda
Qiyamul Lail di BAZNAS Surabaya Energi Spiritual untuk Gerakan Sosial
Qiyamul Lail di BAZNAS Surabaya Energi Spiritual untuk Gerakan Sosial
Di tengah sunyinya malam, ketika sebagian manusia terlelap dalam istirahatnya, ada jiwa-jiwa yang memilih bangkit untuk bermunajat. Qiyamul lail menjadi ruang pertemuan paling intim antara hamba dan Rabb-nya. Dalam keheningan itu, doa mengalir lebih jujur, istighfar terucap lebih dalam, dan harapan dititipkan sepenuh keyakinan. Di BAZNAS Surabaya, qiyamul lail bukan sekadar ibadah personal, tetapi juga menjadi fondasi spiritual yang menguatkan gerakan kepedulian sosial. Qiyamul lail mengajarkan keikhlasan. Tidak ada sorotan, tidak ada pujian, tidak pula penghargaan dari manusia. Yang ada hanyalah kesadaran bahwa Allah SWT Maha Melihat setiap niat dan usaha. Nilai inilah yang penting bagi para amil dan relawan dalam menjalankan amanah pengelolaan zakat, infak, dan sedekah. Sebab kerja-kerja sosial bukan sekadar aktivitas administratif, melainkan ibadah yang membutuhkan hati yang bersih dan niat yang lurus. Dalam sujud yang panjang, terpanjat doa untuk para muzaki yang telah mempercayakan hartanya, serta untuk para mustahik yang menanti uluran tangan. Qiyamul lail melatih empati. Ketika seseorang terbiasa bangun di sepertiga malam terakhir, ia akan lebih peka terhadap kesulitan orang lain. Ia merasakan bahwa di luar sana ada keluarga yang berjuang memenuhi kebutuhan hidup, ada anak-anak yang membutuhkan biaya pendidikan, dan ada saudara-saudara yang berharap pada bantuan zakat untuk bangkit dari keterbatasan. Bagi BAZNAS Surabaya, kekuatan spiritual ini menjadi energi dalam merancang dan menjalankan program. Setiap kebijakan tidak hanya dipertimbangkan dari sisi teknis, tetapi juga dari nilai kemaslahatan. Qiyamul lail menghadirkan momen muhasabah: sudahkah amanah dikelola dengan transparan? Sudahkah bantuan disalurkan secara tepat sasaran? Sudahkah pelayanan kepada masyarakat dilakukan dengan sepenuh hati? Pertanyaan-pertanyaan itu menemukan jawabannya dalam doa dan refleksi malam. Terlebih di bulan Ramadhan, semangat qiyamul lail terasa semakin hidup. Shalat tarawih, tahajud, dan witir menjadi rangkaian ibadah yang menguatkan kebersamaan. Doa dipanjatkan untuk keberkahan Kota Surabaya, untuk para dermawan, dan untuk masyarakat yang sedang berjuang memperbaiki taraf hidupnya. Dari malam yang penuh doa itu lahir siang yang penuh aksi—pendistribusian zakat, program pemberdayaan ekonomi, bantuan pendidikan, hingga layanan sosial yang menyentuh langsung kehidupan warga. Qiyamul lail mengingatkan bahwa perubahan besar sering berawal dari kesunyian. Dari doa yang lirih, lahir tekad yang kuat. Dari hati yang tunduk, tumbuh kepedulian yang tulus. Inilah yang menjadikan gerakan zakat bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan bagian dari ibadah kolektif umat. Akhirnya, qiyamul lail di BAZNAS Surabaya adalah tentang menyatukan langit dan bumi—menguatkan hubungan dengan Allah sekaligus memperluas manfaat bagi sesama. Ketika malam dipenuhi munajat dan hati dipenuhi keikhlasan, maka setiap langkah pelayanan akan terasa lebih ringan, lebih jujur, dan lebih membawa keberkahan bagi masyarakat.
ARTIKEL03/03/2026 | Wahyu
Qiyamul Lail: Rahasia Ketenangan di Sepertiga Malam
Qiyamul Lail: Rahasia Ketenangan di Sepertiga Malam
Di saat sebagian besar manusia terlelap dalam tidur, ada momen istimewa yang Allah SWT siapkan bagi hamba-hamba-Nya yang ingin mendekat. Momen itu bernama qiyamul lail—ibadah malam yang menjadi rahasia kekuatan spiritual para nabi, sahabat, dan orang-orang saleh. Dalam sunyi dan gelapnya malam, ketika dunia terasa hening, seorang hamba berdiri menghadap Rabb-nya dengan penuh kerendahan hati. Di situlah doa-doa dipanjjatkan dengan lebih khusyuk, air mata mengalir lebih jujur, dan hati terasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Qiyamul lail bukan sekadar shalat tambahan. Ia adalah bukti cinta dan kerinduan seorang hamba kepada Allah. Rasulullah ? dikenal sebagai pribadi yang sangat menjaga ibadah malamnya. Bahkan dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa beliau berdiri begitu lama hingga kedua kakinya bengkak. Ketika ditanya mengapa beliau beribadah sedemikian rupa padahal dosa-dosanya telah diampuni, beliau menjawab, “Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?” Jawaban ini menunjukkan bahwa qiyamul lail bukan hanya tentang meminta, tetapi juga tentang bersyukur dan menguatkan hubungan dengan Allah. Keutamaan qiyamul lail sangatlah besar. Allah memuji orang-orang yang bangun di malam hari dalam firman-Nya pada Surah Al-Isra ayat 79, yang menganjurkan shalat malam sebagai ibadah tambahan agar memperoleh kedudukan terpuji. Dalam ayat lain disebutkan bahwa lambung mereka jauh dari tempat tidur, karena mereka berdoa kepada Tuhan mereka dengan rasa takut dan harap. Ini menunjukkan bahwa qiyamul lail adalah ciri orang-orang beriman yang memiliki kedalaman spiritual. Selain pahala yang besar, qiyamul lail juga membawa ketenangan batin. Di tengah kesibukan dan tekanan hidup, malam menjadi ruang refleksi yang menenangkan. Saat dunia seakan berhenti sejenak, hati memiliki kesempatan untuk berdialog dengan Allah tanpa gangguan. Banyak orang merasakan bahwa doa di sepertiga malam terakhir terasa lebih dekat untuk dikabulkan. Bukan semata-mata karena waktu itu istimewa, tetapi karena hati yang bangun di waktu tersebut biasanya lebih tulus dan bersungguh-sungguh. Menariknya, qiyamul lail tidak menuntut kesempurnaan. Ia bisa dimulai dari langkah kecil: dua rakaat sebelum tidur kembali, atau witir sebelum beristirahat. Konsistensi lebih utama daripada jumlah yang banyak namun jarang dilakukan. Allah melihat kesungguhan hati, bukan panjangnya rakaat semata. Bahkan bangun beberapa menit untuk memohon ampun dan berdoa pun sudah menjadi awal yang baik. Di bulan Ramadhan, semangat qiyamul lail terasa lebih kuat melalui shalat tarawih dan tahajud. Namun, sejatinya ibadah malam tidak terbatas pada bulan suci saja. Ia bisa menjadi kebiasaan sepanjang tahun, menjadi sumber energi rohani yang menjaga iman tetap hidup. Orang yang terbiasa qiyamul lail biasanya memiliki keteguhan hati, kesabaran dalam menghadapi ujian, dan ketenangan dalam mengambil keputusan. Qiyamul lail adalah rahasia antara hamba dan Tuhannya. Tidak ada yang melihat selain Allah. Tidak ada pujian manusia, tidak ada tepuk tangan. Hanya keheningan, doa, dan harapan. Di situlah keikhlasan benar-benar diuji dan diperkuat. Semoga kita termasuk orang-orang yang diberi kemudahan untuk bangun di malam hari, menundukkan diri dalam sujud, dan merasakan manisnya bermunajat kepada Allah. Karena di sepertiga malam terakhir, pintu langit seakan terbuka lebih lebar, dan rahmat Allah turun menyapa hati-hati yang mencari-Nya.
ARTIKEL03/03/2026 | Alfa
Nuzulul Qur’an: Saat Langit Menyapa Bumi
Nuzulul Qur’an: Saat Langit Menyapa Bumi
Di antara sekian banyak peristiwa dalam sejarah Islam, Nuzulul Qur’an menempati posisi yang sangat istimewa. Ia bukan hanya peringatan turunnya kitab suci, tetapi momentum ketika langit menyapa bumi dengan petunjuk yang abadi. Pada bulan Ramadhan, Allah SWT menurunkan Al-Qur’an sebagai rahmat dan pedoman bagi umat manusia. Peristiwa agung ini menjadi awal dari perubahan besar yang membentuk peradaban dan mengangkat martabat manusia. Wahyu pertama turun kepada Nabi Muhammad ? di Gua Hira, sebuah tempat sunyi yang menjadi saksi kegelisahan beliau melihat kondisi masyarakat yang jauh dari nilai-nilai kebenaran. Melalui perantaraan Malaikat Jibril, Allah menurunkan ayat-ayat awal dari Surah Al-‘Alaq. Perintah Iqra’—bacalah—menjadi fondasi revolusi ilmu dan peradaban. Islam lahir dengan semangat literasi, refleksi, dan pencarian kebenaran. Dari satu kata inilah cahaya ilmu mulai menyinari dunia. Al-Qur’an hadir bukan sekadar sebagai bacaan ritual, tetapi sebagai solusi atas persoalan hidup. Ia mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, dengan sesama, dan dengan alam semesta. Nilai keadilan, kasih sayang, tanggung jawab, dan persaudaraan yang diajarkan Al-Qur’an menjadi dasar terbentuknya masyarakat yang beradab. Dalam waktu yang tidak lama, ajaran ini mengubah masyarakat Arab yang terpecah-pecah menjadi umat yang kuat dan bersatu. Nuzulul Qur’an juga mengajarkan bahwa perubahan sejati dimulai dari hati. Ketika ayat-ayat Allah menyentuh jiwa para sahabat, mereka tidak hanya menghafalnya, tetapi menghidupkannya dalam tindakan. Kejujuran dalam berdagang, keberanian dalam membela kebenaran, kepedulian terhadap fakir miskin, serta kesungguhan dalam beribadah adalah wujud nyata dari nilai Qur’ani yang mereka pegang. Al-Qur’an membentuk karakter, bukan sekadar memperindah lisan. Di era modern ini, manusia dihadapkan pada berbagai tantangan: krisis moral, ketimpangan sosial, hingga kegelisahan batin. Teknologi berkembang pesat, tetapi tidak selalu diiringi dengan kedewasaan spiritual. Di sinilah relevansi Al-Qur’an terasa semakin kuat. Ia menawarkan panduan yang seimbang antara kecerdasan intelektual dan kedalaman spiritual. Ia mengingatkan bahwa kesuksesan sejati bukan hanya tentang materi, tetapi juga tentang keberkahan dan ketenangan hati. Peringatan Nuzulul Qur’an seharusnya tidak berhenti pada seremoni dan perlombaan tilawah semata. Lebih dari itu, ia menjadi momen untuk memperbarui komitmen kita terhadap Al-Qur’an. Sudahkah kita meluangkan waktu untuk memahami maknanya? Sudahkah kita menjadikannya rujukan dalam mengambil keputusan? Sudahkah nilai-nilainya tercermin dalam perilaku sehari-hari? Menghidupkan Al-Qur’an berarti menghadirkan kejujuran dalam pekerjaan, menebarkan empati dalam pergaulan, serta menjaga integritas dalam setiap amanah. Ketika ayat-ayatnya kita jadikan kompas, langkah hidup menjadi lebih terarah. Saat ajarannya kita terapkan, lingkungan sekitar pun merasakan dampak kebaikannya. Nuzulul Qur’an adalah pengingat bahwa cahaya petunjuk telah diturunkan. Tugas kita adalah membuka hati agar cahaya itu masuk dan menerangi kehidupan. Jika setiap individu berusaha menjadi pribadi Qur’ani, maka keluarga akan dipenuhi ketenangan, masyarakat dipenuhi kepedulian, dan bangsa dipenuhi keberkahan. Semoga peringatan Nuzulul Qur’an tahun ini menjadi titik awal kebangkitan iman dan akhlak. Mari jadikan Al-Qur’an bukan hanya bacaan di bulan Ramadhan, tetapi sahabat setia sepanjang kehidupan. Karena ketika Al-Qur’an benar-benar hidup dalam diri kita, maka perubahan bukan lagi sekadar harapan, melainkan kenyataan.
ARTIKEL27/02/2026 | Alfa
Gerakan Ramadhan dengan Momentum Bersama Baznas Surabaya Menebar Kebaikan, Menguatkan Kepedulian
Gerakan Ramadhan dengan Momentum Bersama Baznas Surabaya Menebar Kebaikan, Menguatkan Kepedulian
Ramadhan bukan hanya dimaknai sebagai bulan peningkatan ibadah secara personal, tetapi juga sebagai momentum kebangkitan kepedulian sosial. Di dalamnya tersimpan kekuatan kolektif yang mampu menggerakkan hati, menyatukan niat, serta mendorong lahirnya berbagai aksi nyata. Suasana spiritual yang begitu kental selama Ramadhan sering kali menghadirkan kesadaran baru bahwa keberagamaan tidak cukup diwujudkan dalam hubungan vertikal dengan Allah semata, tetapi juga harus tercermin dalam hubungan horizontal dengan sesama manusia. Dari sinilah tumbuh berbagai inisiatif yang dikenal sebagai Gerakan Ramadhan, yaitu upaya bersama untuk menjadikan bulan suci sebagai ruang berbagi, menumbuhkan empati, dan memperkuat solidaritas sosial. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 185 ditegaskan bahwa Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia. Pesan ini menunjukkan bahwa Ramadhan merupakan waktu yang sarat dengan makna perubahan. Transformasi yang diharapkan tidak hanya menyentuh aspek spiritual, tetapi juga berdampak pada kehidupan sosial. Ibadah puasa, misalnya, melatih pengendalian diri sekaligus menumbuhkan kepekaan terhadap kondisi orang lain. Ketika seseorang menahan lapar dan dahaga sepanjang hari, ia belajar memahami bagaimana rasanya hidup dalam keterbatasan. Dari pengalaman tersebut tumbuh empati, dan empati yang terpelihara akan melahirkan dorongan untuk berbagi serta membantu. Gerakan Ramadhan dapat dipahami sebagai rangkaian aktivitas kolektif yang dilakukan oleh individu, komunitas, organisasi, maupun lembaga untuk menghadirkan manfaat nyata selama bulan suci. Kegiatannya sangat beragam, mulai dari pembagian takjil, penyelenggaraan buka puasa bersama, santunan bagi anak yatim dan dhuafa, hingga penghimpunan serta penyaluran zakat, infak, dan sedekah. Selain itu, terdapat pula program khatam Al-Qur’an, kajian keislaman, dan berbagai kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Seluruh aktivitas tersebut bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan wujud nyata dari kesadaran bahwa setiap individu memiliki peran dalam membangun perubahan positif di lingkungannya. Ramadhan juga dikenal sebagai bulan solidaritas dan kedermawanan. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah SAW adalah pribadi yang sangat dermawan, dan kedermawanannya semakin meningkat ketika Ramadhan tiba. Teladan ini menjadi inspirasi bahwa semangat berbagi harus menjadi ruh dalam setiap Gerakan Ramadhan. Hakikat berbagi tidak terletak pada besarnya nilai materi yang diberikan, melainkan pada ketulusan niat serta kebermanfaatan yang dirasakan penerima. Bantuan sederhana yang diberikan dengan ikhlas dapat menjadi sumber harapan besar bagi mereka yang sedang menghadapi kesulitan. Agar dampaknya lebih berkelanjutan, Gerakan Ramadhan idealnya tidak hanya bersifat karitatif atau sesaat, tetapi juga produktif dan memberdayakan. Program seperti pemberian modal usaha bagi mustahik, pelatihan keterampilan bagi masyarakat prasejahtera, edukasi literasi keuangan dan zakat, serta pemberdayaan UMKM dapat menjadi langkah strategis dalam memperkuat kemandirian ekonomi umat. Dengan pendekatan ini, Ramadhan tidak hanya identik dengan peningkatan konsumsi, tetapi juga menjadi momentum penguatan kesejahteraan sosial. Peran generasi muda pun sangat penting dalam mengembangkan Gerakan Ramadhan yang lebih kreatif dan berdampak luas. Melalui media sosial, kampanye digital, dan kolaborasi lintas komunitas, pesan kebaikan dapat disebarkan secara lebih cepat dan efektif. Gerakan kebaikan kini tidak lagi terbatas pada ruang-ruang fisik, tetapi mampu menjangkau masyarakat dalam skala yang lebih luas. Pada akhirnya, Gerakan Ramadhan bukan sekadar tentang program yang dijalankan, melainkan tentang kesadaran kolektif. Kesadaran bahwa hidup tidak hanya berpusat pada diri sendiri, bahwa harta adalah amanah yang harus dikelola dengan tanggung jawab, dan bahwa keberkahan akan tumbuh ketika dibagikan. Jika setiap individu mengambil bagian, sekecil apa pun kontribusinya, maka Ramadhan benar-benar akan menjadi bulan yang menguatkan iman, mempererat persaudaraan, serta meningkatkan kesejahteraan umat secara berkelanjutan.
ARTIKEL27/02/2026 | Azizah
Memaknai Nuzulul Qur’an Bersama BAZNAS Surabaya, Dari Ibadah Menuju Aksi Nyata untuk Umat
Memaknai Nuzulul Qur’an Bersama BAZNAS Surabaya, Dari Ibadah Menuju Aksi Nyata untuk Umat
Surabaya (Baznas News) — Momentum Nuzulul Qur’an menjadi salah satu peristiwa paling istimewa dalam bulan suci Ramadhan. Peristiwa turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW ini bukan hanya menjadi tonggak sejarah Islam tetapi juga pengingat bagi umat untuk memperkuat iman, memperbanyak ibadah, dan meningkatkan kepedulian sosial. Dalam semangat tersebut, BAZNAS Kota Surabaya mengajak masyarakat Surabaya untuk memaknai keutamaan Nuzulul Qur’an dengan memperbanyak amal kebaikan melalui zakat, infak, dan sedekah. Nuzulul Qur’an diperingati setiap tanggal 17 Ramadhan sebagai momentum turunnya wahyu pertama di Gua Hira. Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat Islam mengajarkan nilai-nilai keadilan, kepedulian, dan solidaritas sosial. Oleh karena itu, peringatan Nuzulul Qur’an tidak hanya diisi dengan kegiatan seremonial, tetapi juga diwujudkan dalam aksi nyata membantu sesama. BAZNAS Kota Surabaya memanfaatkan momentum ini untuk menguatkan gerakan berbagi kepada masyarakat yang membutuhkan. Melalui berbagai program Ramadhan, BAZNAS menyalurkan bantuan kepada fakir miskin, dhuafa, anak yatim, hingga pelaku usaha kecil yang terdampak kondisi ekonomi. Langkah ini sejalan dengan pesan Al-Qur’an yang mendorong umat Islam untuk peduli terhadap kaum lemah. Salah satu program unggulan dalam peringatan Nuzulul Qur’an adalah penyaluran paket sembako kepada warga kurang mampu di berbagai wilayah Surabaya. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban kebutuhan pokok selama bulan Ramadhan. Selain itu, BAZNAS juga memberikan santunan kepada anak yatim sebagai bentuk kepedulian terhadap generasi penerus bangsa. Tak hanya bantuan konsumtif, BAZNAS Kota Surabaya juga menyalurkan zakat produktif berupa bantuan modal usaha kepada mustahik yang memiliki usaha kecil. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kemandirian ekonomi keluarga prasejahtera agar dapat bangkit dan berkembang. Pendekatan produktif ini menjadi salah satu strategi BAZNAS dalam mengentaskan kemiskinan secara berkelanjutan. Dalam rangka memperingati Nuzulul Qur’an, BAZNAS Kota Surabaya juga menggelar kegiatan keagamaan seperti kajian dan tausiyah yang mengangkat tema implementasi nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sosial. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya zakat sebagai instrumen kesejahteraan umat. Partisipasi masyarakat dalam menunaikan zakat selama Ramadhan menunjukkan tren positif setiap tahunnya. Hal ini tidak lepas dari meningkatnya kesadaran umat Islam untuk mengelola zakat melalui lembaga resmi yang amanah dan transparan. BAZNAS Kota Surabaya berkomitmen menjaga kepercayaan tersebut dengan memastikan setiap dana yang dihimpun disalurkan secara tepat sasaran. Kemudahan pembayaran zakat juga menjadi perhatian utama. Masyarakat kini dapat menunaikan zakat melalui berbagai kanal, baik secara langsung di kantor layanan maupun melalui sistem digital yang disediakan. Inovasi ini memudahkan muzaki untuk berkontribusi tanpa terkendala jarak dan waktu. BAZNAS Kota Surabaya berharap peringatan Nuzulul Qur’an tidak hanya berhenti pada seremoni, tetapi juga melahirkan gerakan kolektif untuk memperbanyak amal sosial. Dengan semangat kebersamaan, zakat dan sedekah yang disalurkan di bulan Ramadhan akan menjadi ladang pahala sekaligus membawa keberkahan bagi seluruh masyarakat. KEYWORD SEO: BAZNAS Kota Surabaya, Nuzulul Qur’an, keutamaan, Zakat Ramadhan Surabaya, Program Ramadhan BAZNAS, Santunan yatim Surabaya, Zakat produktif Surabaya, Kegiatan Nuzulul Qur’an 2026, zakat infak sedekah Surabaya
ARTIKEL27/02/2026 | Sahroh
Nuzulul Qur’an sebagai Cahaya Langit yang Menyinari Peradaban
Nuzulul Qur’an sebagai Cahaya Langit yang Menyinari Peradaban
Setiap kali bulan Ramadhan tiba, umat Islam di berbagai belahan dunia mengenang sebuah peristiwa monumental yang membawa dampak besar bagi perjalanan sejarah manusia, yaitu Nuzulul Qur’an. Peristiwa ini merupakan momentum turunnya Al-Qur’an sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat manusia. Nuzulul Qur’an bukan sekadar momen spiritual yang diperingati setiap tahun, melainkan titik awal lahirnya peradaban yang dibangun di atas fondasi ilmu, keadilan, dan nilai-nilai ketuhanan. Nuzulul Qur’an merujuk pada turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril di Gua Hira. Peristiwa tersebut terjadi pada malam yang sangat mulia, yang dikenal sebagai Lailatul Qadar, di bulan Ramadhan. Wahyu pertama yang diterima Nabi adalah Surah Al-‘Alaq ayat 1–5, yang diawali dengan perintah “Iqra” (Bacalah). Perintah ini memiliki makna mendalam, karena menjadi isyarat bahwa peradaban Islam dibangun di atas semangat literasi, pencarian ilmu, dan kesadaran intelektual. Kejadian agung itu berlangsung di tempat sunyi di Jabal Nur, tidak jauh dari Makkah, dan menjadi awal dari misi kenabian yang mengubah wajah dunia. Al-Qur’an bukan hanya kitab suci yang dibaca dalam ibadah, tetapi juga pedoman hidup yang menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia. Ajarannya meliputi akidah, ibadah, akhlak, hubungan sosial, ekonomi, hingga tata kelola kepemimpinan. Wahyu diturunkan secara bertahap selama kurang lebih 23 tahun, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan umat pada masa itu. Proses bertahap ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an hadir sebagai solusi nyata atas berbagai persoalan kehidupan. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 185 ditegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi manusia, penjelasan atas petunjuk tersebut, serta pembeda antara yang benar dan yang salah. Hal ini menegaskan bahwa nilai-nilai Al-Qur’an bersifat universal dan relevan sepanjang zaman. Sebelum turunnya Al-Qur’an, masyarakat Arab berada dalam periode yang dikenal sebagai zaman jahiliyah, yakni masa kemerosotan moral dan spiritual. Praktik ketidakadilan, penindasan, serta konflik antar-suku menjadi realitas sosial yang lazim. Namun, kehadiran Al-Qur’an membawa transformasi besar. Masyarakat yang sebelumnya terpecah belah berangsur-angsur dipersatukan oleh ikatan keimanan. Budaya kekerasan berganti dengan ajaran kasih sayang, persaudaraan, dan keadilan. Al-Qur’an mendorong umatnya untuk berpikir kritis, menuntut ilmu, dan membangun peradaban yang berlandaskan tauhid. Dari sinilah lahir generasi terbaik yang mampu menghadirkan kemajuan dalam berbagai bidang, mulai dari ilmu pengetahuan hingga tata pemerintahan. Oleh sebab itu, peringatan Nuzulul Qur’an seharusnya tidak berhenti pada seremoni atau kegiatan simbolis semata. Momentum ini merupakan ajakan untuk kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Ramadhan dikenal sebagai bulan Al-Qur’an, saat hati lebih mudah tersentuh dan jiwa lebih siap menerima nasihat. Interaksi dengan Al-Qur’an melalui tilawah, tadabbur, dan pengamalan nilai-nilainya menjadi bentuk penghormatan terbaik terhadap peristiwa agung ini. Pada hakikatnya, Nuzulul Qur’an adalah wujud kasih sayang Allah kepada manusia. Melalui Al-Qur’an, Allah memberikan arah agar manusia tidak tersesat dalam kegelapan kehidupan. Tanggung jawab kita bukan hanya membacanya, tetapi juga memahami dan mengimplementasikan ajarannya dalam setiap aspek kehidupan. Dengan demikian, cahaya Al-Qur’an tidak hanya menjadi bacaan, melainkan benar-benar menjadi pedoman yang menuntun langkah menuju kebaikan dan keberkahan.
ARTIKEL27/02/2026 | Azizah
Nuzulul Qur’an: Menguatkan Kepedulian Sosial melalui Peran BAZNAS
Nuzulul Qur’an: Menguatkan Kepedulian Sosial melalui Peran BAZNAS
Peringatan Nuzulul Qur’an menjadi momen reflektif bagi umat Islam untuk memahami kembali hakikat turunnya Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan. Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan hubungan spiritual antara manusia dengan Allah SWT, tetapi juga menuntun umat dalam membangun kehidupan sosial yang adil, peduli, dan sejahtera. Nilai-nilai inilah yang menjadi landasan utama dalam berbagai upaya pemberdayaan umat yang dijalankan oleh BAZNAS Kota Surabaya. Di dalam Al-Qur’an, perintah zakat, infak, dan sedekah ditegaskan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama, khususnya kaum dhuafa. Ajaran tersebut menunjukkan bahwa harta bukan hanya milik pribadi, tetapi mengandung hak orang lain yang harus ditunaikan. BAZNAS hadir sebagai lembaga resmi yang dipercaya untuk mengelola dana zakat secara transparan dan profesional agar dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang membutuhkan. Peringatan Nuzulul Qur’an juga mengingatkan bahwa pengamalan ajaran Islam tidak berhenti pada aspek ibadah ritual. Nilai-nilai Al-Qur’an perlu diwujudkan dalam tindakan nyata yang mampu menjawab berbagai persoalan sosial. Melalui program-program di bidang sosial, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, BAZNAS berupaya mengimplementasikan pesan-pesan Al-Qur’an dalam bentuk aksi nyata yang berkelanjutan. Lebih dari sekadar lembaga pengelola zakat, BAZNAS turut berperan dalam menumbuhkan kesadaran sosial masyarakat. Semangat Nuzulul Qur’an menjadi dorongan bagi umat Islam untuk memperkuat solidaritas, meningkatkan kepedulian, serta berperan aktif dalam membantu sesama, terutama mereka yang berada dalam kondisi rentan. Dengan menjadikan Nuzulul Qur’an sebagai momentum refleksi dan penguatan aksi sosial, sinergi antara nilai-nilai Al-Qur’an dan peran BAZNAS diharapkan terus berkembang. Al-Qur’an sebagai sumber ajaran dan BAZNAS sebagai pelaksana di lapangan menjadi bagian penting dalam menghadirkan Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam serta mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera.
ARTIKEL27/02/2026 | Ana
Ramadhan di Pelupuk Mata: Saatnya Mensucikan Hati, Menata Diri
Ramadhan di Pelupuk Mata: Saatnya Mensucikan Hati, Menata Diri
Hanya dalam hitungan hari, suasana syahdu bulan suci akan segera menyelimuti setiap sudut ruang dan waktu. Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan untuk menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari, melainkan sebuah madrasah spiritual yang datang untuk menguji sejauh mana kita mampu mengendalikan diri dan mendekatkan jiwa kepada Sang Pencipta. Seringkali kita terjebak dalam hiruk-pikuk persiapan fisik semata, seperti memenuhi isi kulkas atau merencanakan baju lebaran, padahal inti dari menyambut bulan mulia ini adalah menyiapkan wadah terbaik untuk menampung keberkahan, yaitu hati yang bersih. Langkah pertama yang harus kita tempuh adalah membersihkan noda di cermin hati. Bayangkan jiwa kita seperti cermin yang selama setahun terakhir mungkin telah tertutup debu dendam, prasangka, atau noda dosa. Jika cermin itu kusam, cahaya Ramadan yang penuh rahmat tidak akan mampu terpantul dengan sempurna ke dalam perilaku kita sehari-hari. Oleh karena itu, momen menjelang Ramadan adalah waktu yang paling tepat untuk saling memaafkan dan melepaskan segala beban masa lalu. Meminta maaf dengan tulus dan memberi maaf dengan lapang dada adalah cara terbaik untuk meringankan langkah kaki saat memasuki pintu gerbang bulan puasa, sehingga kita tidak membawa beban kebencian saat bersujud di hadapan-Nya. Setelah hati mulai jernih, tugas berikutnya adalah menata diri dengan mengatur kembali prioritas hidup yang mungkin sempat berantakan. Menata diri berarti menciptakan ruang bagi jiwa di tengah kesibukan dunia yang tidak pernah ada habisnya. Kita bisa memulainya dengan melakukan pemanasan ibadah, seperti mulai rutin membaca Al-Qur'an atau membiasakan bangun lebih awal sebelum waktu subuh tiba, agar raga dan pikiran tidak merasa kaget saat Ramadan benar-benar menyapa. Manajemen waktu juga menjadi kunci agar produktivitas pekerjaan tetap berjalan beriringan dengan target ibadah, sehingga Ramadan tidak menjadi alasan untuk bermalas-malasan, melainkan menjadi pemicu untuk menjadi pribadi yang lebih disiplin. Pada akhirnya, mari kita sederhanakan ekspektasi dan kuatkan niat untuk meraih esensi takwa yang sesungguhnya. Jangan biarkan diri kita terjebak dalam euforia konsumerisme atau sekadar memikirkan kemewahan menu berbuka puasa yang seringkali justru melalaikan makna kesederhanaan. Ingatlah bahwa banyak orang yang berpuasa namun hanya mendapatkan lapar dan haus karena gagal menjaga lisan serta hatinya. Ramadan yang sudah di pelupuk mata adalah kesempatan emas yang belum tentu bisa kita temui kembali di tahun mendatang. Dengan mensucikan hati dari penyakit batin dan menata diri dengan disiplin ibadah, kita akan menyambut bulan mulia ini dengan senyuman dan jiwa yang benar-benar siap untuk bertransformasi menjadi insan yang lebih baik.
ARTIKEL27/02/2026 | Caca
Mengetuk Pintu Langit: Menemukan Kembali Hakikat Diri di Bulan Suci
Mengetuk Pintu Langit: Menemukan Kembali Hakikat Diri di Bulan Suci
Ramadan hadir bukan sekadar sebagai siklus tahunan yang mengubah pola makan dan tidur, melainkan sebuah undangan agung untuk mengetuk pintu langit melalui kesunyian doa dan ketulusan niat. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang seringkali membuat kita kehilangan arah, bulan suci ini datang sebagai kompas spiritual yang mengarahkan kembali pandangan kita ke dalam batin. Puasa menjadi sebuah perjalanan sunyi di mana setiap detik yang terlewati tanpa makanan dan minuman sebenarnya adalah upaya untuk memberi makan pada jiwa yang selama ini mungkin terabaikan oleh tumpukan urusan duniawi. Dalam proses menahan lapar dan dahaga, ego manusia perlahan-lahan meluruh dan memberikan ruang bagi kerendahan hati untuk tumbuh. Mengetuk pintu langit berarti menyadari sepenuhnya bahwa kita hanyalah hamba yang kecil di hadapan Sang Pencipta, yang membutuhkan pengampunan dan bimbingan dalam setiap langkah. Ketika perut terasa kosong, justru pada saat itulah kepekaan spiritual seringkali menjadi lebih tajam, memungkinkan kita untuk mendengar suara nurani yang selama ini tertutup oleh kebisingan ambisi dan keinginan materi yang tak kunjung usai. Menemukan kembali hakikat diri di bulan suci ini juga melibatkan refleksi mendalam tentang hubungan kita dengan sesama manusia. Ramadan mengajarkan bahwa ibadah yang paling tinggi tidak hanya berhenti pada ketaatan ritual, tetapi juga pada kemampuan kita untuk merasakan penderitaan orang lain dan mengikis sifat mementingkan diri sendiri. Dengan berbagi sedikit dari apa yang kita miliki, kita sebenarnya sedang membersihkan jalan bagi doa-doa kita agar lebih ringan melambung menuju langit, karena tangan yang memberi adalah tangan yang paling dekat dengan keberkahan. Pada akhirnya, Ramadan adalah sebuah momentum transformasi yang menawarkan kesempatan untuk "pulang" ke rumah yang sesungguhnya, yaitu fitrah kemanusiaan yang bersih. Setiap malam yang diisi dengan sujud panjang dan setiap siang yang dijalani dengan kesabaran adalah langkah nyata dalam memperbaiki kualitas diri. Jika kita mampu memanfaatkan waktu ini dengan sungguh-sungguh, maka saat bulan ini berakhir, kita tidak hanya akan merayakan kemenangan atas lapar, tetapi juga kemenangan atas diri kita yang lama, terlahir kembali menjadi pribadi yang lebih bijak, penuh kasih, dan senantiasa terhubung dengan cahaya langit
ARTIKEL27/02/2026 | Caca
Optimalisasi Gerakan Ramadhan: BAZNAS Surabaya Perkuat Program Bedah Rumah Melalui Survei Kelayakan Mustahik
Optimalisasi Gerakan Ramadhan: BAZNAS Surabaya Perkuat Program Bedah Rumah Melalui Survei Kelayakan Mustahik
Surabaya News — Bulan suci Ramadhan menjadi momentum istimewa untuk memperkuat nilai kepedulian dan solidaritas sosial di tengah masyarakat. Dalam semangat Gerakan Ramadhan Surabaya, BAZNAS Surabaya terus mengoptimalkan program pendistribusian zakat, salah satunya melalui Program Bedah Rumah Surabaya bagi warga kurang mampu. Program ini tidak hanya berfokus pada renovasi hunian tidak layak, tetapi juga memastikan ketepatan sasaran melalui Survei Kelayakan Mustahik yang dilakukan secara langsung dan menyeluruh. Kondisi rumah tidak layak huni masih menjadi tantangan sosial di sejumlah wilayah Surabaya. Atap bocor, dinding rapuh, lantai tanah, hingga sanitasi yang minim menjadi realitas yang dihadapi sebagian masyarakat prasejahtera. Melalui Program Bedah Rumah BAZNAS, upaya menghadirkan hunian yang aman, sehat, dan bermartabat menjadi prioritas utama dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mustahik. Dalam pelaksanaannya, setiap pengajuan bantuan tidak langsung direalisasikan. BAZNAS Surabaya menerapkan proses verifikasi ketat melalui Survei Kelayakan Mustahik. Tim lapangan turun langsung meninjau kondisi fisik bangunan, mengevaluasi tingkat kerusakan, serta mengidentifikasi kondisi ekonomi keluarga calon penerima manfaat. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen terhadap transparansi dan akuntabilitas dalam pendistribusian zakat Surabaya. Selain observasi visual, tim juga melakukan wawancara dengan pemohon serta berkoordinasi dengan tokoh setempat untuk memperoleh gambaran komprehensif mengenai kondisi sosial dan ekonomi keluarga. Indikator penilaian meliputi tingkat kerusakan bangunan, kepemilikan lahan, jumlah tanggungan keluarga, serta penghasilan harian. Dokumentasi berupa foto dan laporan tertulis turut melengkapi proses verifikasi agar setiap keputusan dapat dipertanggungjawabkan secara profesional. Momentum Zakat Ramadhan Surabaya menjadi penguat implementasi program ini. Peningkatan penghimpunan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) selama bulan suci memungkinkan distribusi bantuan dilakukan lebih luas dan terencana. Gerakan Ramadhan Surabaya menjadi jembatan antara para muzaki dan kebutuhan riil masyarakat dhuafa, termasuk dalam bentuk Bantuan Dhuafa Ramadhan melalui perbaikan hunian. Program Bedah Rumah Surabaya tidak sekadar memperbaiki struktur bangunan, tetapi juga menghadirkan nilai pemberdayaan. Rumah yang layak huni menjadi fondasi penting bagi kesehatan, pendidikan anak, serta aktivitas produktif keluarga. Dengan lingkungan yang aman dan nyaman, mustahik diharapkan memiliki semangat baru untuk bangkit dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi secara bertahap. Sebagai lembaga resmi pengelola zakat, BAZNAS Surabaya terus meningkatkan standar layanan, baik melalui kantor pelayanan maupun kanal digital. Kemudahan akses pembayaran zakat Ramadhan Surabaya menjadi bagian dari strategi untuk memperluas partisipasi masyarakat. Semakin banyak zakat yang terhimpun, semakin besar pula dampak sosial yang dapat diwujudkan melalui program-program unggulan, termasuk Bedah Rumah BAZNAS. Partisipasi aktif masyarakat sangat dibutuhkan dalam menyukseskan Gerakan Ramadhan Surabaya. BAZNAS Surabaya mengajak para muzaki untuk menunaikan zakat lebih awal agar pendistribusian zakat Surabaya dapat dilakukan secara optimal sejak awal Ramadhan. Dengan pengelolaan yang amanah dan profesional, zakat menjadi instrumen nyata dalam mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan umat. Melalui optimalisasi Gerakan Ramadhan dan penguatan Survei Kelayakan Mustahik, Program Bedah Rumah Surabaya diharapkan mampu memberikan dampak berkelanjutan. Bukan sekadar renovasi fisik, tetapi juga upaya memulihkan harapan dan martabat keluarga prasejahtera. Ramadhan adalah bulan berbagi dan memperbanyak amal kebaikan. Mari salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Surabaya untuk menghadirkan hunian layak bagi mereka yang membutuhkan.
ARTIKEL27/02/2026 | Ainun
Menebar Cahaya Al-Qur’an Melalui Zakat: Refleksi Nuzulul Qur’an di BAZNAS Surabaya
Menebar Cahaya Al-Qur’an Melalui Zakat: Refleksi Nuzulul Qur’an di BAZNAS Surabaya
Nuzulul Qur’an merupakan peristiwa agung turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad ? sebagai petunjuk hidup bagi seluruh umat manusia. Momentum ini tidak hanya menjadi pengingat sejarah, tetapi juga ajakan untuk menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan nyata. Al-Qur’an tidak berhenti sebagai bacaan yang dilantunkan, melainkan pedoman yang diwujudkan melalui amal saleh, kepedulian sosial, dan penguatan solidaritas umat. Salah satu ajaran utama dalam Al-Qur’an adalah perintah menunaikan zakat. Zakat bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi instrumen sosial yang memiliki dampak nyata dalam mengurangi kesenjangan dan membantu mereka yang membutuhkan. Dalam konteks inilah, semangat Nuzulul Qur’an menemukan relevansinya melalui pengelolaan zakat yang profesional, amanah, dan tepat sasaran. Sebagai lembaga resmi pengelola zakat di Kota Surabaya, BAZNAS Kota Surabaya berupaya menerjemahkan nilai-nilai Al-Qur’an ke dalam program-program pemberdayaan umat. Melalui penghimpunan dan pendistribusian zakat, infak, dan sedekah, berbagai program dilaksanakan untuk membantu mustahik di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, hingga kemanusiaan. Bantuan beasiswa, dukungan modal usaha, santunan kesehatan, serta respons tanggap bencana merupakan wujud konkret implementasi ajaran Al-Qur’an tentang keadilan dan kasih sayang. Momentum Nuzulul Qur’an menjadi saat yang tepat untuk merefleksikan sejauh mana kita telah menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Apakah ayat-ayat tentang kepedulian sosial sudah kita amalkan? Apakah perintah berbagi telah kita tunaikan dengan penuh keikhlasan? Melalui zakat yang dikelola secara kolektif, masyarakat tidak hanya membersihkan harta, tetapi juga membangun ekosistem kebaikan yang berkelanjutan. Di tengah tantangan sosial dan ekonomi perkotaan, peran zakat semakin strategis. Dengan manajemen yang transparan dan akuntabel, zakat mampu menjadi solusi nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Nuzulul Qur’an mengajarkan bahwa wahyu turun untuk membawa perubahan. Maka, melalui zakat, perubahan itu diwujudkan dalam bentuk pemberdayaan dan harapan baru bagi mereka yang membutuhkan. Menebar cahaya Al-Qur’an berarti menghadirkan nilai-nilainya dalam tindakan. Bersama BAZNAS Surabaya, semangat Nuzulul Qur’an dapat terus hidup melalui gerakan zakat yang memperkuat ukhuwah, menumbuhkan empati, dan membangun Surabaya yang lebih berkah dan sejahtera.
ARTIKEL27/02/2026 | Ananda
Turunnya Cahaya Ilahi bagi Umat Manusia
Turunnya Cahaya Ilahi bagi Umat Manusia
Nuzulul Qur’an merupakan peristiwa agung dalam sejarah Islam yang menandai turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad ?. Peristiwa ini terjadi pada malam 17 Ramadan tahun 610 Masehi di Gua Hira, sebuah tempat yang sunyi di lereng Jabal Nur, Makkah. Pada malam yang penuh kemuliaan itu, Malaikat Jibril menyampaikan wahyu pertama sebagai awal dari risalah kenabian yang kelak menerangi seluruh penjuru dunia. Sebelum menerima wahyu, Nabi Muhammad ? sering menyendiri di Gua Hira untuk merenungi keadaan masyarakat Arab yang saat itu dipenuhi praktik penyembahan berhala, ketidakadilan, dan kerusakan moral. Dalam kesunyian dan ketenangan itulah, beliau menerima firman Allah yang pertama, yaitu Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 yang diawali dengan kata “Iqra’” yang berarti “Bacalah”. Perintah membaca tersebut bukan sekadar ajakan untuk melafalkan teks, melainkan seruan untuk menuntut ilmu, memahami tanda-tanda kebesaran Allah, dan membangun peradaban berlandaskan wahyu. Turunnya Al-Qur’an tidak terjadi sekaligus, melainkan secara bertahap selama kurang lebih dua puluh tiga tahun. Proses ini menunjukkan betapa Allah menurunkan petunjuk-Nya sesuai dengan kebutuhan dan kondisi umat pada masa itu. Setiap ayat yang turun membawa jawaban atas persoalan yang dihadapi kaum Muslimin, menguatkan hati Nabi Muhammad ?, serta membimbing masyarakat menuju perubahan yang lebih baik. Dengan cara inilah, Al-Qur’an menjadi kitab yang hidup, relevan, dan menyentuh berbagai aspek kehidupan manusia. Nuzulul Qur’an memiliki makna yang sangat mendalam bagi umat Islam. Ia bukan sekadar peristiwa sejarah yang diperingati setiap tahun, tetapi momentum untuk mengingat kembali tujuan utama diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup. Di dalamnya terdapat ajaran tentang akidah, ibadah, akhlak, hukum, hingga tuntunan dalam membangun hubungan sosial yang harmonis. Al-Qur’an hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam, memberikan cahaya di tengah kegelapan, serta menjadi sumber inspirasi dalam membangun peradaban yang berkeadilan dan beradab. Peringatan Nuzulul Qur’an di bulan Ramadan seharusnya menjadi pengingat bagi setiap Muslim untuk semakin dekat dengan kitab suci ini. Membaca, memahami, dan mengamalkan ajarannya merupakan wujud nyata kecintaan kepada wahyu Allah. Di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat, nilai-nilai Al-Qur’an tetap relevan sebagai pedoman moral dan spiritual. Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai pegangan hidup, umat Islam diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan dengan kebijaksanaan dan keteguhan iman. Akhirnya, Nuzulul Qur’an adalah simbol turunnya cahaya ilahi yang mengubah sejarah umat manusia. Dari sebuah gua kecil di Makkah, lahirlah petunjuk yang menerangi dunia. Peristiwa ini mengajarkan bahwa perubahan besar sering kali berawal dari ketulusan, perenungan, dan kedekatan kepada Allah. Semoga semangat Nuzulul Qur’an senantiasa menghidupkan hati kita untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan menebarkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
ARTIKEL27/02/2026 | Caca
Nuzulul Qur’an: Pendekatan Akademis dan Relevansinya dalam Pemberdayaan Sosial oleh BAZNAS Surabaya
Nuzulul Qur’an: Pendekatan Akademis dan Relevansinya dalam Pemberdayaan Sosial oleh BAZNAS Surabaya
Secara terminologis, Nuzulul Qur’an merujuk kepada peristiwa turunnya wahyu Al-Qur’an dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril. Peristiwa ini dimaknai sebagai titik awal penyampaian risalah Islam yang kemudian menjadi pedoman moral, teologis, dan sosial bagi umat Islam di seluruh dunia. Secara leksikal, kata “nuzul” berarti turun, sedangkan “Al-Qur’an” berarti bacaan atau bacaan yang dibacakan, sehingga secara keseluruhan menunjuk pada turunnya wahyu suci tersebut. Peristiwa ini dikenal terjadi di abad ke-7 Masehi, ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertamanya tentang perintah membaca surat Al-‘Alaq ayat 1-5 saat berada di Gua Hira’, Makkah. Hal ini menandai awal kenabian dan tugas dakwah beliau. Dalam tradisi Islam, periode Nuzulul Qur’an sering dikaitkan dengan malam ke-17 bulan Ramadhan, meskipun terdapat variasi pendapat ulama tentang tanggal pastinya berdasarkan sumber klasik. Namun, di banyak komunitas Muslim termasuk di Indonesia tanggal ini diperingati secara simbolis sebagai momen turunnya wahyu pertama, sekaligus waktu evaluasi spiritual umat Islam. Secara teologis, Nuzulul Qur’an tidak hanya merupakan peristiwa historis, tetapi juga manifestasi kasih sayang Allah SWT terhadap manusia sebagai petunjuk hidup (hudan) yang komprehensif. Dalam surah Al-Baqarah (2:185), Al-Qur’an disebut sebagai pedoman, penjelasan, dan pembeda antara yang benar dan salah yang diturunkan dalam bulan Ramadhan. Turunnya Al-Qur’an menegaskan hubungan normatif antara wahyu dan etika moral dalam Islam. Selain itu, proses penurunan Al-Qur’an yang berlangsung selama lebih dari dua dekade menunjukkan karakter wahyu yang kontekstual, di mana setiap bagian wahyu mengandung respons terhadap situasi sosial, etika, dan hukum pada masa itu. Hal ini memberi dasar teoretis bahwa Al-Qur’an adalah kitab hidup yang relevan secara kontekstual dalam setiap generasi. Secara sosial, Nuzulul Qur’an menjadi momentum refleksi atas nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an, termasuk keadilan sosial, kesejahteraan bersama, dan solidaritas terhadap kaum lemah. Berdasarkan konsep ekonomi Islam, zakat (wajib), infak, dan sedekah (sukarela) merupakan instrumen penting untuk mengurangi kesenjangan sosial dan memperkuat solidaritas komunitas. Konteks ini selaras dengan fungsi Al-Qur’an sebagai wahyu yang tidak hanya memandu hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan, tetapi juga hubungan horizontal dalam kehidupan sosial. BAZNAS Surabaya berfungsi sebagai lembaga yang menghimpun dan menyalurkan zakat, infak, dan sedekah secara sistematis untuk memenuhi kebutuhan mustahik (penerima manfaat) sekaligus memperkuat kesejahteraan sosial. BAZNAS memastikan bahwa distribusi ZIS sesuai dengan ketentuan syariah dan berdampak luas bagi masyarakat. Dalam konteks peringatan Nuzulul Qur’an, semangat wakaf, zakat, infak, dan sedekah diarahkan tidak hanya untuk pemberian bantuan langsung, tetapi juga pada pemberdayaan ekonomi, pendidikan, dan dukungan layanan dasar bagi keluarga kurang mampu. Ini mencerminkan pemahaman bahwa wahyu Al-Qur’an mendorong umat Islam untuk aktif terlibat dalam upaya pemberdayaan sosial yang berkelanjutan, bukan sekadar bantuan temporer. Peristiwa Nuzulul Qur’an memiliki signifikansi historis, teologis, dan sosial yang mendalam. Dari perspektif akademis, peristiwa ini menunjukkan hubungan antara wahyu dan pembentukan nilai moral yang menjadi dasar bagi tindakan sosial dalam Islam. Implementasinya melalui pengelolaan zakat, infak, dan sedekah oleh lembaga seperti BAZNAS Surabaya menunjukkan bagaimana nilai-nilai Qur’ani dapat diaktualisasikan dalam konteks pemberdayaan masyarakat.
ARTIKEL27/02/2026 | Wahyu
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Surabaya.

Lihat Daftar Rekening →