Artikel Terbaru
Zakat Saham: Instrumen Penyucian Harta di Tengah Dinamika Keuangan Modern
1. Pengertian dan ruang lingkup “zakat saham”
Secara umum, zakat adalah kewajiban seorang Muslim atas harta tertentu yang telah memenuhi syarat, agar disucikan dan didayagunakan sesuai dengan ketentuan syariat. Lebih spesifik, istilah zakat saham (atau kadang disebut “zakat atas kepemilikan saham”) mengacu pada zakat yang dikenakan atas kepemilikan saham atau surat bukti kepemilikan dalam suatu perusahaan terbatas (PT) apabila memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan.
Ruang lingkup yang biasanya diperhatikan dalam zakat saham antara lain:
Kepemilikan saham dalam perusahaan yang bisnisnya halal dan sesuai prinsip syariah (misalnya tercantum dalam Daftar Efek Syariah (DES) di Indonesia) atau setidak-nya tidak bertentangan dengan prinsip syariah.
Nilai investasi (yang meliputi harga saham, keuntungan dividen, maupun capital gain) telah mencapai nisab dan telah melewati waktu satu haul (satu tahun kepemilikan) atau periode yang disepakati.
Penilaian menggunakan harga pasar saat haul atau penilaian yang disepakati, bukan hanya harga beli.
Dengan demikian, zakat saham merupakan bentuk adaptasi fikih zakat terhadap instrumen keuangan modern (saham) yang berkembang dalam ekonomi kontemporer.
2. Dasar Al-Qur’an dan prinsip umum zakat
2.1 Ayat-ayat Al-Qur’an tentang zakat
Meskipun istilah “zakat saham” tidak secara eksplisit disebut dalam Al-Qur’an (karena konteks modern), konsep umum zakat memiliki banyak dasar. Contoh ayat:
Qur’an 2:43:
“Dan dirikanlah shalat, dan tunaikanlah zakat, dan ruku?lah bersama orang-orang yang ruku?.”
Qur’an 9:103:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka…”
Qur’an 21:73:
“Dan Kami jadikan mereka imam-imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, maka dari kalangan mereka ada orang yang melakukan shalat dan menunaikan zakat.”
Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa zakat adalah perintah yang terkait dengan shalat, sebagai tanda keimanan sekaligus mekanisme untuk kemaslahatan sosial.
2.2 Prinsip dasar
Beberapa prinsip penting terkait zakat yang relevan untuk memahami zakat saham antara lain:
Zakat dimaksudkan untuk menyucikan harta dan jiwa pemiliknya: zakat bukan hanya aspek ekonomi, tetapi juga moral/spiritual.
Zakat dikenakan pada harta yang mencapai syarat tertentu (milik penuh, halal, dapat berkembang, mencapai nisab, telah haul).
Zakat memiliki fungsi sosial: membantu golongan asnaf yang berhak, memelihara keseimbangan sosial ekonom.
Dengan demikian, walaupun Al-Qur’an tidak membahas secara khusus “saham”, instrumen ini dapat masuk dalam kategori harta yang dapat dizakati apabila memenuhi syarat-syarat zakat mal.
3. Landasan fikih dan perkembangan konsep zakat saham
Konsep zakat saham memperoleh perhatian dari ulama kontemporer dan lembaga zakat di Indonesia karena perkembangan pasar modal dan investasi. Beberapa poin penting:
Menurut penelitian, zakat saham mulai dibahas secara formal dalam forum internasional misalnya pada Muktamar Internasional Pertama tentang Zakat di Kuwait (29 Rajab 1404 H) sebagai salah satu jenis zakat harta yang baru dalam konteks modern.
Ulama seperti Yusuf al?Qardhawi membahas hukum saham dalam Islam dan bagaimana saham sebagai instrumen investasi dapat terkena zakat jika memenuhi kondisi tertentu.
Di Indonesia, lembaga seperti BAZNAS mengeluarkan pedoman operasional zakat saham yang mencakup definisi, syarat, dan mekanisme pembayaran.
Konklusi fikih umum: apabila saham dimiliki sebagai investasi jangka panjang (untuk memperoleh keuntungan) dan telah mencapai syarat seperti nisab dan haul, maka dikenakan zakat; apabila hanya untuk trading jangka pendek, maka beberapa ulama menyarankan perlakuan sebagai zakat perniagaan. Untuk kasus saham yang bukan perusahaan syariah, bisa dibayarkan sebagai sedekah.
4. Syarat-syarat zakat saham
Berdasarkan pedoman BAZNAS dan kajian zakat saham, syarat utama yang harus dipenuhi agar saham menjadi objek zakat adalah:
Miliki penuh (“milik” atau kepemilikan atas saham tersebut sudah sah dan tidak dalam sengketa).
Halal sumbernya: saham diterbitkan oleh perusahaan yang bisnisnya halal (tidak bertentangan dengan syariah) atau tercatat dalam Daftar Efek Syariah (DES) jika berlaku
Dapat berkembang: saham memiliki potensi nilai atau keuntungan (dividen, capital gain), sebagaimana zakat mal umumnya dikenakan atas harta yang tumbuh.
Nisab: nilai total saham (termasuk keuntungan) mencapai batas minimum (nisab) yang ditetapkan. Untuk zakat saham di Indonesia, nisab disamakan dengan nisab zakat maal yaitu setara 85 gram emas.
Haul: telah dimiliki selama satu tahun (atau periode setara) sejak saham mencapai nisab atau sejak awal kepemilikan yang memenuhi syarat tertentu.
Tidak ada utang yang harus dibayar segera: apabila terdapat utang jangka pendek yang harus dilunasi, maka nilai harta zakat dikurangi utang tersebut sesuai kaidah umum zakat mal.
Jika semua syarat tersebut terpenuhi, maka pemilik saham wajib menunaikan zakat atas sahamnya.
5. Mekanisme perhitungan zakat saham
5.1 Nisab dan tarif
Tarif umum zakat mal adalah 2,5 % (1/40) dari harta yang telah memenuhi nisab dan haul.
Untuk zakat saham di Indonesia, berdasarkan pedoman BAZNAS: nisab sama dengan zakat maal yaitu setara 85 gram emas.
Hayat haul umumnya satu tahun kepemilikan.
5.2 Rumus dasar
BAZNAS menyebutkan rumus sederhana sebagai berikut:
Zakat saham = 2,5% × (Capital Gain + Dividen) apabila saham sudah mencapai nisab dan haul.
Contoh perhitungannya (dengan modifikasi agar lebih jelas):
Investor A memiliki portofolio saham senilai Rp 100.000.000 pada akhir periode haul. Bila harga emas saat ini adalah Rp 923.000/gram (contoh). Maka nisab = 85 gram × Rp 923.000 = Rp 78.455.000. Karena portofolio > nisab, maka wajib zakat.
Zakat yang harus ditunaikan = 2,5% × Rp 100.000.000 = Rp 2.500.000.
Alternatif pembayaran dalam bentuk saham: Jika harga pasar/lembar = Rp 645 dan 1 lot = 100 lembar, maka: jumlah lot yang harus diserahkan = Rp 2.500.000 ÷ (Rp 645 × 100) ≈ 38,75 → dibulatkan 39 lot.
5.3 Beberapa catatan pelaksanaan
Penilaian nilai saham menggunakan harga pasar (bursa) saat haul, bukan harga beli.
Bila saham tidak tercantum dalam Daftar Efek Syariah (DES), maka sebagian lembaga menyarankan agar zakatnya disalurkan sebagai sedekah bukan zakat, karena status syariah perlu diklarifikasi.
Lembaga amil zakat seperti BAZNAS menyediakan fasilitas untuk pembayaran zakat saham, baik dalam bentuk uang tunai berdasarkan nilai saham, atau dalam bentuk saham melalui transfer ke rekening khusus.
6. Implementasi di Indonesia
Beberapa poin terkait implementasi zakat saham di Indonesia:
BAZNAS menyusun pedoman: “Zakat dan Sedekah Saham – BAZNAS RI” menjelaskan bahwa zakat saham wajib jika sudah mencapai nisab dan haul.
Kajian indeks zakat saham: Lembaga seperti PUSKAS BAZNAS menerbitkan “Indeks Zakat Saham: Penghitungan Tarif Zakat Per Lembar Saham Perusahaan Publik Indonesia Tahun 2024”.
Di banyak unit daerah BAZNAS (contoh: Kota Yogyakarta) dijelaskan bahwa zakat saham dan obligasi merupakan produk zakat yang dilayani.
Dari sudut pelaksanaan: investor dapat mengecek apakah total nilai aset saham telah melewati nisab; kemudian menghitung zakat; dan melakukan pembayaran melalui lembaga amil zakat resmi. Pembayaran bisa berupa uang tunai atau saham (jika disediakan). Melalui pembayaran yang tepat, investasi bukan hanya menghasilkan keuntungan pribadi tetapi juga memberikan kontribusi sosial.
7. Kesimpulan
Zakat saham adalah solusi fikih kontemporer untuk instrumen investasi saham yang tumbuh nilainya. Meskipun tidak secara eksplisit disebut dalam Al-Qur’an, prinsip zakat mal secara umum — harta yang berkembang, mencapai nisab dan haul — memberikan landasan untuk mengenakan zakat atas saham apabila memenuhi syarat. Melalui pedoman seperti yang dikeluarkan BAZNAS, mekanisme perhitungan dan pembayaran menjadi lebih jelas bagi investor Muslim di Indonesia.
Dengan menunaikan zakat saham secara tepat, seorang investor tidak hanya melaksanakan kewajiban agama tetapi juga mendukung fungsi sosial ekonomi zakat—membantu mereka yang berhak dan menjaga keseimbangan kesejahteraan umat.
ARTIKEL27/10/2025 | Abraham Adimukti
Bisnis Berkah: Perdagangan Sebagai Jalan Zakat dan Penggerak Kesejahteraan Umat
Perdagangan merupakan urat nadi kehidupan ekonomi yang telah ada sejak manusia pertama kali mengenal pertukaran nilai. Dalam Islam, kegiatan perdagangan tidak hanya dilihat sebagai aktivitas mencari keuntungan, tetapi juga sebagai sarana ibadah yang sarat dengan nilai moral dan sosial. Nabi Muhammad SAW sendiri dikenal sebagai seorang pedagang yang jujur, adil, dan dermawan. Beliau mengajarkan bahwa keberhasilan dalam bisnis tidak diukur semata dari laba materi, melainkan dari sejauh mana aktivitas tersebut membawa keberkahan bagi diri dan masyarakat.
Di sinilah peran zakat, infak, dan sedekah (ZIS) menjadi penting dalam dunia perdagangan. Melalui ZIS, kegiatan ekonomi tidak berhenti pada kepentingan pribadi, tetapi berlanjut pada pemberdayaan sosial yang menumbuhkan keadilan dan kesejahteraan. Lebih dari itu, di era modern, zakat juga telah diakui secara hukum sebagai faktor yang dapat mengurangi beban pajak perusahaan atau pedagang, menjadikannya instrumen sinergi antara kewajiban spiritual dan kewajiban kenegaraan.
Zakat Perdagangan: Kewajiban dan Keberkahan Bisnis
Dalam Islam, setiap harta yang berkembang wajib dizakati, termasuk harta hasil perdagangan. Zakat perdagangan dikenakan atas modal yang diputar dalam usaha, baik berupa barang dagangan, uang tunai, maupun piutang yang masih dapat ditagih. Besaran zakat perdagangan adalah 2,5 persen dari total nilai harta bersih yang telah mencapai nisab (setara dengan 85 gram emas) dan disimpan selama satu tahun (haul).
Zakat perdagangan memiliki filosofi yang mendalam. Ia berfungsi membersihkan harta dari unsur keserakahan dan memastikan agar kekayaan berputar, bukan hanya menumpuk di tangan segelintir orang. Dengan mengeluarkan zakat, para pedagang tidak hanya menunaikan kewajiban agama, tetapi juga ikut menstabilkan ekonomi masyarakat.
Dalam konteks modern, pedagang besar, usaha mikro kecil menengah (UMKM), maupun perusahaan multinasional dapat menyalurkan zakat melalui lembaga resmi seperti Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) atau Lembaga Amil Zakat (LAZ). Dana zakat ini kemudian didayagunakan untuk membantu pengusaha kecil, petani, nelayan, dan masyarakat miskin agar mampu mandiri. Dengan begitu, roda perdagangan tidak hanya digerakkan oleh kepentingan profit, tetapi juga oleh semangat solidaritas sosial.
Infak dan Sedekah: Membuka Ruang Kebaikan Tanpa Batas
Selain zakat yang bersifat wajib, pedagang dan perusahaan juga dianjurkan untuk berinfak dan bersedekah. Infak dan sedekah bersifat sukarela, namun memiliki kekuatan sosial yang luar biasa. Infak dapat diberikan dalam bentuk uang, barang, tenaga, maupun keahlian yang bermanfaat bagi masyarakat.
Banyak pengusaha muslim sukses yang menjadikan sedekah sebagai bagian dari strategi bisnis mereka. Mereka percaya bahwa dengan berbagi, rezeki justru semakin dilapangkan. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa “Allah akan menggantikan (apa yang disedekahkan) dan memberikan karunia-Nya yang berlipat ganda” (QS. Saba: 39).
Prinsip ini terbukti nyata. Di banyak kota besar di Indonesia, komunitas pengusaha muslim telah membentuk jaringan sosial yang menyalurkan infak dan sedekah untuk pembangunan masjid, beasiswa pendidikan, bantuan modal usaha kecil, dan penanganan bencana alam. Hal ini menunjukkan bahwa perdagangan bukan hanya tempat mencari keuntungan, tetapi juga medium untuk menyebarkan manfaat.
Dampak Ekonomi dan Sosial dari ZIS Perdagangan
Zakat, infak, dan sedekah yang disalurkan oleh sektor perdagangan memiliki dampak yang luas dan nyata bagi masyarakat:
Pemerataan Ekonomi Dana zakat dapat digunakan untuk membantu pedagang kecil atau pelaku UMKM dalam mengembangkan usahanya. Hal ini menciptakan efek domino berupa peningkatan daya beli dan produktivitas masyarakat.
Pemberdayaan Masyarakat Lembaga zakat kini banyak mengelola program pemberdayaan berbasis ekonomi produktif. Misalnya, modal usaha bagi mustahik, pelatihan keterampilan, atau pembukaan akses pasar bagi produk masyarakat miskin.
Peningkatan Reputasi dan Keberlanjutan Usaha Pedagang atau perusahaan yang konsisten berzakat dan bersedekah akan memperoleh kepercayaan publik yang lebih tinggi. Dalam jangka panjang, reputasi baik ini menjadi aset bisnis yang bernilai tinggi.
Keseimbangan Sosial dan Spiritual Aktivitas perdagangan yang diiringi dengan zakat dan sedekah menciptakan keseimbangan antara pencapaian duniawi dan tanggung jawab ukhrawi. Ini menjadikan bisnis tidak hanya berorientasi profit, tetapi juga berjiwa kemanusiaan.
Menjadikan ZIS Sebagai Etos Dagang yang Berkelanjutan
Dalam Islam, keberkahan adalah nilai tertinggi dalam berbisnis. Seorang pedagang yang menunaikan zakat, rajin berinfak, dan gemar bersedekah sesungguhnya sedang menanam benih keberkahan bagi usahanya. Zakat tidak akan mengurangi harta, justru menambah nilai spiritual dan sosial yang memperkuat pondasi bisnis.
Perusahaan dan pedagang yang berkomitmen terhadap ZIS sebenarnya sedang menjalankan bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility – CSR) berbasis nilai agama. Dengan menyalurkan zakat melalui lembaga resmi, mereka berkontribusi dalam program pemerintah untuk mengurangi kemiskinan, meningkatkan pendidikan, dan memperkuat ekonomi rakyat.
Penutup: Bisnis Bernilai Ibadah, Keuntungan Bernilai Berkah
Perdagangan yang disertai zakat, infak, dan sedekah adalah bentuk nyata sinergi antara spiritualitas dan ekonomi. Ia bukan hanya menghasilkan keuntungan finansial, tetapi juga menyebarkan keberkahan yang meluas.
Dengan adanya regulasi bahwa zakat dapat mengurangi beban pajak, maka semakin jelas bahwa ketaatan kepada Allah dan kepatuhan kepada negara dapat berjalan seiring. Pedagang dan perusahaan yang menunaikan zakat tidak hanya menyejahterakan masyarakat sekitar, tetapi juga memperkuat fondasi moral bangsa.
Zakat bukan sekadar kewajiban — ia adalah jembatan antara keberhasilan dan keberkahan, antara bisnis yang besar dan jiwa yang lapang. Ketika perdagangan disinari nilai zakat, infak, dan sedekah, maka bisnis tidak lagi sekadar mencari keuntungan, melainkan menjadi jalan menuju kemaslahatan umat.
ARTIKEL22/10/2025 | Abraham Adimukti
Ketika Hutang dan Zakat Bertemu: Menemukan Prioritas Berdasarkan Nilai Syariat dan Keadilan
Dalam kehidupan modern yang penuh dengan dinamika ekonomi, tidak jarang seseorang menghadapi situasi yang rumit: memiliki hutang yang harus segera dibayar, namun di saat yang sama harta yang dimilikinya telah mencapai nishab zakat. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan penting — manakah yang harus diprioritaskan lebih dulu: melunasi hutang atau menunaikan zakat?
Untuk memahami hal ini secara mendalam, kita perlu kembali pada prinsip dasar syariat Islam yang menempatkan keadilan dan keseimbangan sebagai fondasi utama dalam setiap urusan, termasuk dalam pengelolaan harta.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan doakanlah mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(QS. At-Taubah [9]: 103)
Ayat ini menegaskan bahwa zakat bukan sekadar kewajiban finansial, tetapi juga sarana penyucian jiwa dan harta. Namun di sisi lain, Islam juga menaruh perhatian besar terhadap tanggung jawab seseorang terhadap hutangnya.
Rasulullah SAW bersabda:
“Menunda pembayaran hutang bagi orang yang mampu adalah suatu kezaliman.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya, hutang bukan perkara ringan dalam pandangan Islam. Ia adalah hak manusia (haqqul adami) yang wajib ditunaikan tepat waktu, karena keterlambatan atau kelalaian dalam melunasi hutang bisa menimbulkan ketidakadilan bagi pihak lain.
Analisis Fikih: Antara Kewajiban Sosial dan Kewajiban Pribadi
Para ulama fikih dari berbagai mazhab memberikan penjelasan mendalam mengenai hal ini. Secara umum, pendapat mayoritas ulama (jumhur) menyatakan bahwa hutang yang mengurangi harta hingga di bawah nishab zakat akan menggugurkan kewajiban zakat. Misalnya, seseorang memiliki simpanan Rp100 juta, namun memiliki hutang jatuh tempo sebesar Rp90 juta. Maka sisa hartanya hanya Rp10 juta, yang nilainya di bawah nishab zakat emas (sekitar 85 gram emas). Dalam hal ini, ia tidak wajib membayar zakat hingga hartanya kembali mencapai nishab setelah pelunasan hutang.
Namun, jika hutang tersebut bersifat jangka panjang dan tidak mendesak untuk segera dilunasi, sedangkan harta yang dimiliki tetap berada di atas nishab, maka zakat tetap wajib ditunaikan. Ini karena zakat memiliki waktu penunaian tertentu (haul) dan menyangkut hak Allah serta hak masyarakat miskin yang membutuhkan. Dalam situasi ini, pelunasan hutang dapat dilakukan secara bertahap tanpa menghalangi kewajiban zakat.
Pertimbangan Moral dan Spiritual
Selain pendekatan fikih, Islam juga menekankan aspek moral dalam setiap keputusan finansial. Menunda zakat tanpa alasan yang sah dapat merugikan masyarakat, sedangkan menunda pembayaran hutang tanpa kesepakatan dapat menzalimi pihak lain. Oleh karena itu, seseorang harus mempertimbangkan urgensi hutang dan dampak sosial zakat.
Zakat adalah instrumen distribusi kekayaan yang memiliki efek sosial luar biasa — ia menghapus kesenjangan, menumbuhkan solidaritas, dan memperkuat perekonomian umat. Dalam konteks ini, Allah SWT berfirman:
“...dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.”
(QS. Adz-Dzariyat [51]: 19)
Ayat ini menegaskan bahwa dalam setiap harta terdapat hak orang lain. Oleh karena itu, zakat tidak boleh dipandang semata sebagai beban, melainkan amanah sosial yang menjadi bukti keimanan dan ketundukan kepada Allah.
Pendekatan Solutif: Keseimbangan Antara Dua Amanah
Solusi yang paling bijak dalam situasi ini adalah mengambil jalan tengah berdasarkan prioritas kewajiban dan kondisi keuangan:
Jika hutang bersifat mendesak (jatuh tempo segera dan tidak ada kelonggaran), maka pelunasan hutang lebih diutamakan. Sebab, menunda pelunasannya dapat merugikan pihak lain dan termasuk dalam kategori kezaliman.
Jika hutang bersifat jangka panjang, memiliki tenggat waktu yang cukup lama, atau dapat dicicil, maka zakat harus tetap dikeluarkan ketika sudah memenuhi syarat nishab dan haul.
Jika memungkinkan, seseorang dapat menunaikan sebagian zakat dan sebagian hutang secara proporsional, agar kedua kewajiban tetap berjalan tanpa mengabaikan salah satunya.
Penutup: Jalan Tengah Menuju Keberkahan
Dalam Islam, tidak ada pertentangan antara zakat dan pelunasan hutang. Keduanya merupakan bentuk tanggung jawab yang berbeda arah namun memiliki tujuan yang sama — yaitu menegakkan keadilan dan membawa keberkahan. Allah SWT menjanjikan keberlimpahan bagi orang yang menunaikan zakat dengan ikhlas, sebagaimana firman-Nya:
“Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”
(QS. At-Talaq [65]: 2–3)
Maka, bagi seseorang yang berada di antara dua kewajiban besar — hutang dan zakat — hendaknya ia menimbang dengan bijak, menyesuaikan dengan kondisi keuangannya, dan mengedepankan niat tulus untuk menunaikan keduanya. Karena pada akhirnya, keberkahan bukan ditentukan oleh jumlah harta yang tersisa, melainkan oleh keberanian dan keikhlasan dalam menunaikan amanah Allah SWT.
ARTIKEL22/10/2025 | Abraham Adimukti
Mengukir Sejarah Kebaikan Transformasi Pengelolaan Zakat di Indonesia Menuju BAZNAS Surabaya yang Modern
Zakat, sebagai salah satu rukun Islam, adalah pilar penting dalam mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan umat. Perjalanan pengelolaan zakat di Indonesia merupakan cerminan sejarah panjang bangsa ini, dari masa kerajaan hingga era digital modern yang diemban oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Memahami sejarah ini penting untuk menegaskan peran BAZNAS Kota Surabaya hari ini sebagai aktor utama dalam mengelola amanah zakat umat.
Fondasi Zakat di Era Kerajaan dan Perlawanan Islam
Jauh sebelum Indonesia merdeka, praktik zakat sudah mengakar kuat dalam masyarakat Nusantara. Di masa Kerajaan Islam, pengelolaan zakat dilakukan secara beragam, menyesuaikan dengan proses Islamisasi di masing-masing wilayah.
Di wilayah seperti Aceh dan Melayu, zakat terintegrasi erat dengan negara, menjadi model penataan keislaman yang mendalam. Sementara di Jawa, zakat lebih diatur oleh ulama dan tradisi lokal. Bahkan di Maluku, zakat menjadi spirit perlawanan melawan penjajah, menunjukkan fungsi zakat bukan hanya ritual, tetapi juga kekuatan sosial-politik dan ekonomi umat.
Ini membuktikan bahwa zakat telah lama menjadi sumber daya umat untuk kemaslahatan dan perjuangan.
Tantangan Kolonialisasi: Zakat dalam Pengawasan Asing
Kedatangan penjajah, khususnya di era Kolonialisasi (Post-Hurgronje), membawa tantangan baru. Pemerintah kolonial melihat Islam sebagai agama yang boleh dibiarkan, tetapi sebagai kekuatan politik harus dihancurkan. Pengelolaan zakat, yang berpotensi menjadi sumber dana perlawanan, pun diawasi dan dilemahkan.
Meskipun demikian, semangat berzakat tidak padam. Penjajah berupaya menyerahkan pengaturan zakat kepada umat, yang secara tersirat melemahkan peran negara dalam pengelolaan zakat, namun pada saat yang sama, hal ini menumbuhkan inisiatif dan kemandirian masyarakat sipil dalam menunaikan dan mengelola zakat secara mandiri.
Masa Pasca Kemerdekaan: Menggagas Ruang Bersama
Setelah kemerdekaan, Indonesia memilih Pancasila sebagai dasar dan spirit negara, menghasilkan "Ruang Bersama" di mana negara memfasilitasi hak-hak beragama setiap warga. Pengelolaan zakat, meski diatur oleh umat secara mandiri, tetap menjadi kontestasi antara syariat Islam dan peran negara.
Pada masa ini, muncul upaya formalisasi awal yang bersifat sukarela, namun belum memiliki kekuatan hukum yang kuat, sehingga tanggung jawabnya seringkali lemah dalam akuntabilitas.
Tonggak Formalisasi: Lahirnya UU 38/1999
Titik balik pengelolaan zakat secara nasional adalah dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat. UU ini menegaskan:
Zakat bersifat wajib bagi individu dan badan usaha.
Regulasi zakat didukung oleh negara.
Pengelola zakat terbagi menjadi Badan Amil Zakat (BAZ) yang dibentuk pemerintah dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang dibentuk masyarakat.
Meskipun membuka ruang bagi pengelolaan zakat, pertanggungjawaban BAZ dan LAZ di masa ini dinilai masih lemah, mendorong perlunya penyempurnaan regulasi.
Era Modernisasi dan Akuntabilitas: UU 23/2011 dan Peran BAZNAS
Penyempurnaan signifikan terjadi dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat. Regulasi ini menjadi landasan kuat bagi pengelolaan zakat di Indonesia saat ini, dengan menempatkan BAZNAS sebagai aktor utama dalam pengelolaan zakat secara nasional, dari tingkat pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota—termasuk BAZNAS Kota Surabaya.
Peran Kunci BAZNAS berdasarkan UU 23/2011:
Aktor Utama: BAZNAS (Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota) memimpin pengelolaan zakat.
Dukungan LAZ: BAZNAS dibantu oleh LAZ yang didirikan oleh masyarakat dan dikukuhkan oleh pemerintah.
Pembinaan dan Pengawasan: Pemerintah (Pusat dan Daerah) berfungsi sebagai Pembina dan Pengawas untuk memastikan pengelolaan zakat berjalan sesuai syariat, amanah, dan akuntabel.
BAZNAS Kota Surabaya Mewarisi Amanah, Mewujudkan Kesejahteraan
Sebagai bagian dari struktur BAZNAS nasional, BAZNAS Kota Surabaya mengemban amanah sejarah panjang ini. Kami berkomitmen untuk melaksanakan pengelolaan zakat berdasarkan asas Syariat Islam, Amanah, Kemanfaatan, Keadilan, Kepastian Hukum, Terintegrasi, dan Akuntabilitas.
Perjalanan dari praktik lokal kerajaan hingga regulasi modern UU 23/2011 menunjukkan evolusi peran zakat: dari spirit perlawanan, menjadi sumber daya sosial-keagamaan, hingga kini menjadi instrumen pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi umat yang dijalankan secara profesional, transparan, dan modern.
Mari bersama BAZNAS Kota Surabaya, kita wujudkan potensi zakat untuk mengukir sejarah kebaikan di Kota Pahlawan. Tunaikan zakat Anda, tegakkan keadilan sosial bersama kami.
ARTIKEL21/10/2025 | IMAM SYAFII
Perusahaan Berzakat: Harmoni antara Tanggung Jawab Sosial dan Manfaat Pajak
Dalam era ekonomi modern, keberhasilan sebuah perusahaan tidak lagi diukur semata-mata dari besarnya laba, melainkan juga dari sejauh mana perusahaan tersebut mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungannya. Prinsip profit, people, planet kini menjadi tolak ukur keberlanjutan bisnis. Di antara berbagai bentuk tanggung jawab sosial yang bisa dilakukan, zakat, infak, dan sedekah (ZIS) memiliki posisi istimewa karena bukan hanya berdampak sosial, tetapi juga memiliki nilai spiritual dan hukum yang jelas dalam Islam.
Zakat bagi perusahaan bukanlah sekadar kewajiban keagamaan, melainkan juga bentuk nyata dari komitmen etis dan moral dalam mengelola kekayaan. Sedangkan infak dan sedekah menjadi pelengkap yang memperluas jangkauan kepedulian perusahaan terhadap masyarakat luas. Melalui ZIS, perusahaan dapat membangun citra positif, memperkuat hubungan sosial, dan sekaligus memperoleh manfaat fiskal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di Indonesia.
Zakat sebagai Wujud Tanggung Jawab Spiritual dan Sosial Perusahaan
Perusahaan dalam perspektif Islam merupakan entitas yang juga memiliki tanggung jawab sosial keagamaan. Sebagaimana individu, perusahaan juga wajib mengeluarkan zakat apabila telah memenuhi syarat dan nisab. Zakat perusahaan biasanya dihitung dari laba bersih setelah dikurangi biaya operasional, dengan kadar 2,5 persen sebagaimana ketentuan zakat mal.
Dengan menunaikan zakat, perusahaan berperan langsung dalam redistribusi kekayaan yang lebih adil. Dana zakat yang disalurkan kepada lembaga resmi seperti Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dapat dimanfaatkan untuk berbagai program pemberdayaan ekonomi umat, pelatihan kerja, beasiswa pendidikan, hingga bantuan kemanusiaan.
Langkah ini bukan hanya membantu masyarakat miskin, tetapi juga menciptakan efek berantai berupa peningkatan daya beli, penguatan ekonomi lokal, dan pada akhirnya berkontribusi pada stabilitas ekonomi nasional. Dengan demikian, zakat perusahaan bukan sekadar amal, melainkan investasi sosial jangka panjang.
Infak dan Sedekah: Ekspresi Kepedulian Tanpa Batas
Selain zakat yang bersifat wajib, perusahaan juga dapat menyalurkan infak dan sedekah sebagai bentuk kepedulian tambahan. Infak dan sedekah memiliki ruang fleksibel yang luas — dapat digunakan untuk kegiatan sosial, kemanusiaan, pendidikan, kesehatan, dan lingkungan.
Beberapa perusahaan di Indonesia bahkan telah menjadikan sedekah sebagai bagian dari budaya kerja. Misalnya, dengan mengadakan program “sedekah Jumat” atau menyisihkan sebagian keuntungan penjualan untuk kegiatan sosial. Tindakan seperti ini bukan hanya meningkatkan citra perusahaan di mata publik, tetapi juga menumbuhkan rasa empati dan tanggung jawab sosial di kalangan karyawan.
Peraturan Hukum: Zakat Sebagai Pengurang Pajak
Salah satu kebijakan penting yang memperkuat peran zakat dalam dunia usaha adalah pengakuan zakat sebagai pengurang pajak. Pemerintah Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat serta Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 60 Tahun 2010, memberikan kemudahan bagi wajib zakat — termasuk badan usaha — untuk menjadikan zakat yang disalurkan melalui lembaga resmi sebagai pengurang penghasilan kena pajak.
Artinya, zakat yang dibayarkan perusahaan dapat mengurangi beban pajak yang harus dilunasi, selama penyalurannya dilakukan melalui lembaga amil zakat yang diakui pemerintah seperti BAZNAS atau LAZ resmi yang terdaftar di Kementerian Agama.
Secara praktis, ketentuan ini menciptakan sinergi positif antara kewajiban agama dan kewajiban negara. Perusahaan tidak hanya menunaikan tanggung jawab spiritualnya kepada Allah, tetapi juga tetap memenuhi kewajiban fiskalnya kepada negara. Dengan demikian, zakat menjadi instrumen yang mengintegrasikan nilai-nilai religius dan sistem ekonomi modern.
Dampak Positif bagi Dunia Usaha dan Masyarakat
Perusahaan yang rutin menyalurkan zakat, infak, dan sedekah akan memperoleh sejumlah manfaat strategis, baik secara internal maupun eksternal.
Manfaat Spiritual dan Etika Bisnis Perusahaan yang menunaikan zakat menunjukkan komitmen terhadap nilai kejujuran, tanggung jawab, dan keberkahan dalam mencari rezeki. Nilai-nilai ini membentuk fondasi moral yang kuat bagi organisasi.
Manfaat Sosial dan Ekonomi Dana zakat yang dikelola dengan baik dapat mengentaskan kemiskinan, meningkatkan pendidikan, dan memperkuat ekonomi masyarakat sekitar. Dalam jangka panjang, kondisi sosial yang lebih baik juga mendukung stabilitas pasar dan memperkuat basis konsumen perusahaan itu sendiri.
Manfaat Fiskal (Pengurangan Pajak) Dengan adanya pengakuan zakat sebagai pengurang pajak, perusahaan dapat mengatur keuangannya secara lebih efisien tanpa mengurangi kontribusi terhadap pembangunan nasional.
Manfaat Reputasi dan Keberlanjutan Konsumen masa kini semakin peduli terhadap nilai-nilai sosial dan etika perusahaan. Program zakat, infak, dan sedekah dapat menjadi bukti nyata tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang meningkatkan kepercayaan publik dan loyalitas pelanggan.
Integrasi ZIS dalam Program CSR Perusahaan
Corporate Social Responsibility (CSR) bukan sekadar kewajiban hukum, tetapi telah menjadi kebutuhan moral dalam bisnis modern. Mengintegrasikan zakat, infak, dan sedekah ke dalam program CSR adalah langkah cerdas yang menghadirkan keberlanjutan sekaligus keberkahan.
Melalui kerja sama dengan BAZNAS atau lembaga zakat terpercaya, perusahaan dapat memastikan dana ZIS disalurkan secara tepat sasaran. Misalnya, program pelatihan keterampilan bagi masyarakat miskin, pemberdayaan UMKM, hingga bantuan pendidikan bagi anak-anak kurang mampu. Program seperti ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan sosial, tetapi juga memperkuat hubungan antara perusahaan dan komunitas di sekitarnya.
Penutup: Bisnis Berkah, Negara Kuat, Masyarakat Sejahtera
Peran perusahaan dalam zakat, infak, dan sedekah adalah cermin nyata bahwa dunia bisnis dapat berjalan seiring dengan nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan. Dengan membayar zakat melalui lembaga resmi, perusahaan tidak hanya memperoleh keberkahan, tetapi juga manfaat fiskal melalui pengurangan pajak yang sah sesuai regulasi pemerintah.
Zakat bukan sekadar angka dalam laporan keuangan, tetapi bukti bahwa keberhasilan sejati terletak pada kemampuan berbagi. Melalui sinergi antara spiritualitas, sosial, dan ekonomi, perusahaan berzakat berarti ikut membangun negeri — menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat dan keberkahan bagi dunia usaha.
ARTIKEL07/10/2025 | Abraham Adimukti
Sedekah di Era Modern: Makna, Relevansi, dan Dampaknya bagi Kehidupan
Sedekah adalah salah satu ajaran luhur dalam Islam yang tidak lekang oleh waktu. Sejak zaman Rasulullah SAW hingga kini, sedekah menjadi sarana untuk membersihkan harta, menumbuhkan empati, serta memperkuat ikatan sosial di antara manusia. Namun, dalam konteks zaman modern yang penuh dinamika dan perubahan, praktik sedekah mengalami transformasi baik dari segi bentuk, media, maupun dampaknya. Hal ini menunjukkan bahwa sedekah bukanlah ibadah yang statis, melainkan selalu relevan dengan perkembangan zaman.
Makna Sedekah yang Tidak Berubah
Secara hakikat, sedekah adalah pemberian sukarela yang dilakukan dengan ikhlas, baik berupa harta, tenaga, waktu, maupun pengetahuan. Al-Qur’an dan hadis menegaskan bahwa sedekah bukan hanya berupa materi, melainkan juga segala kebaikan yang memberi manfaat kepada orang lain. Senyuman, bantuan kecil, hingga doa pun dapat bernilai sedekah. Makna dasar ini tidak berubah dari dulu hingga sekarang, hanya cara penyampaian dan bentuknya yang menyesuaikan dengan situasi masyarakat.
Sedekah dalam Konteks Zaman Modern
Di era digital, kebiasaan bersedekah mendapatkan wajah baru. Jika dahulu sedekah identik dengan kotak amal di masjid, kini masyarakat bisa menyalurkan sedekah melalui berbagai platform digital. Layanan donasi online, dompet digital, hingga aplikasi khusus sedekah menjadikan proses berbagi semakin mudah dan cepat. Cukup dengan beberapa sentuhan di layar ponsel, seseorang bisa menyalurkan bantuan ke berbagai daerah, bahkan lintas negara.
Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi justru membuka pintu kebaikan lebih luas. Orang yang sebelumnya kesulitan menyalurkan donasi karena keterbatasan jarak atau waktu, kini dapat melakukannya tanpa hambatan. Fenomena ini membuktikan bahwa sedekah tetap relevan, bahkan semakin penting untuk menjawab tantangan zaman modern.
Sedekah sebagai Solusi Sosial dan Ekonomi
Di tengah meningkatnya kesenjangan sosial, sedekah hadir sebagai solusi yang membumi. Pandemi global, krisis ekonomi, serta tantangan kehidupan urban menjadikan sedekah tidak sekadar ibadah individual, tetapi juga mekanisme solidaritas sosial. Dengan adanya sedekah, banyak masyarakat yang dapat bertahan hidup, mulai dari fakir miskin, anak yatim, hingga mereka yang terdampak bencana alam.
Lebih dari itu, sedekah yang dikelola secara kolektif melalui lembaga zakat, infak, dan sedekah (ZIS) mampu menciptakan program pemberdayaan. Bantuan modal usaha, pelatihan keterampilan, hingga penyediaan beasiswa pendidikan adalah bentuk nyata sedekah yang bertransformasi menjadi instrumen pembangunan. Dengan demikian, sedekah tidak hanya menyelesaikan masalah sesaat, tetapi juga mendorong kemandirian dan keberlanjutan.
Tantangan Sedekah di Era Kekinian
Meskipun teknologi mempermudah, praktik sedekah di zaman sekarang juga menghadapi tantangan. Salah satunya adalah munculnya kasus penipuan atau penyalahgunaan donasi online yang dapat mengurangi kepercayaan masyarakat. Oleh sebab itu, perlu adanya literasi digital agar masyarakat lebih bijak dalam memilih saluran sedekah yang terpercaya. Transparansi pengelolaan dana juga menjadi tuntutan utama di era keterbukaan informasi ini.
Selain itu, gaya hidup konsumtif yang seringkali menguasai generasi muda membuat sebagian orang lebih sibuk memenuhi keinginan pribadi dibandingkan berbagi. Di sinilah peran dakwah, pendidikan, dan keteladanan sangat penting untuk menumbuhkan kesadaran bahwa sedekah bukan hanya tentang memberi, tetapi juga tentang membahagiakan hati dan menumbuhkan keberkahan hidup.
Sedekah dan Generasi Muda
Generasi muda memiliki peran strategis dalam mempopulerkan sedekah di era modern. Kreativitas mereka dalam memanfaatkan media sosial dapat menjadi sarana dakwah dan kampanye berbagi. Misalnya, gerakan sedekah online yang diviralkan di media sosial mampu menarik banyak partisipasi dalam waktu singkat. Bahkan, muncul tren “sedekah bersama” melalui komunitas atau kelompok hobi, yang menunjukkan bahwa budaya berbagi bisa dikemas dengan cara yang menarik dan kekinian.
Generasi muda juga dapat menyalurkan ide-ide inovatif dalam mengembangkan program sosial berbasis sedekah, seperti menggalang dana untuk pendidikan, kesehatan, atau pelestarian lingkungan. Dengan demikian, sedekah tidak hanya bernilai spiritual, tetapi juga menjadi motor penggerak perubahan sosial.
Kesimpulan
Sedekah adalah amalan yang senantiasa relevan, kapan pun dan di mana pun. Di era modern ini, sedekah tidak lagi terbatas pada bentuk tradisional, melainkan semakin variatif berkat dukungan teknologi dan kreativitas manusia. Dari donasi digital hingga program pemberdayaan masyarakat, sedekah membuktikan dirinya sebagai instrumen penting untuk mengurangi kesenjangan sosial, mempererat persaudaraan, serta menciptakan kehidupan yang lebih seimbang.
Tantangan seperti penipuan digital atau gaya hidup konsumtif memang ada, tetapi hal itu tidak mengurangi urgensi sedekah. Justru, tantangan tersebut menuntut kita untuk lebih bijak, kreatif, dan konsisten dalam menyalurkan kebaikan. Pada akhirnya, sedekah bukan hanya tentang apa yang kita keluarkan, tetapi tentang bagaimana kita menjadikan hidup ini lebih bermakna dengan berbagi kepada sesama.
ARTIKEL25/09/2025 | Bram
Keluarga Cinta Zakat: Menanamkan Nilai Kepedulian Sejak Dini
Zakat bukan sekadar kewajiban agama, melainkan juga sarana untuk menumbuhkan rasa kepedulian sosial yang mendalam. Di balik setiap zakat yang dikeluarkan, terdapat doa, harapan, dan kebahagiaan bagi orang lain yang menerima. Namun, lebih dari itu, zakat juga bisa menjadi fondasi utama dalam membangun keluarga yang peduli terhadap sesama.
Keluarga adalah sekolah pertama bagi seorang anak. Apa yang dilihat dan dipelajari di rumah akan membentuk karakter, pola pikir, serta kebiasaan mereka di masa depan. Karena itulah, menumbuhkan budaya cinta zakat dalam keluarga menjadi langkah penting agar generasi penerus tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kaya hati dan penuh empati.
Peran Orang Tua sebagai Teladan
Anak-anak adalah peniru ulung. Mereka belajar lebih cepat dari apa yang mereka lihat dibandingkan dari apa yang hanya mereka dengar. Ketika orang tua melaksanakan zakat dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, anak-anak akan merekam perilaku tersebut sebagai sesuatu yang mulia dan patut ditiru.
Bayangkan seorang ayah yang mengajak anaknya ikut ke masjid untuk menyerahkan zakat fitrah menjelang Idulfitri. Atau seorang ibu yang mengajak anaknya berdiskusi tentang zakat penghasilan yang dikeluarkan setiap bulan. Tindakan sederhana itu memberi pesan kuat bahwa zakat bukan beban, melainkan jalan kebahagiaan dan keberkahan.
Lebih jauh lagi, orang tua bisa menjelaskan kepada anak bahwa zakat bukan sekadar memberi uang, tetapi juga bentuk rasa syukur kepada Allah atas nikmat rezeki yang telah diberikan. Dengan begitu, anak tidak hanya melihat zakat sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai bentuk ibadah yang penuh makna.
Menumbuhkan Kebiasaan Sejak Dini
Kebiasaan baik akan lebih mudah melekat jika ditanamkan sejak dini. Maka, keluarga bisa mulai dengan langkah-langkah kecil:
Mengajarkan sedekah harian – misalnya dengan menyediakan celengan khusus untuk anak agar mereka terbiasa menyisihkan sebagian uang jajannya.
Menceritakan kisah inspiratif – orang tua bisa membacakan kisah sahabat Nabi atau tokoh Muslim yang dermawan, sehingga anak terinspirasi untuk meneladani.
Melibatkan anak saat menyalurkan zakat – ajak anak ikut serta ketika zakat diberikan kepada yang berhak, sehingga mereka menyaksikan langsung senyum bahagia para penerima.
Menjelaskan manfaat sosial zakat – bukan hanya sebagai ibadah pribadi, tetapi juga sebagai cara menjaga keseimbangan sosial dan mengurangi kesenjangan dalam masyarakat.
Keluarga sebagai Agen Perubahan Sosial
Ketika sebuah keluarga membiasakan diri dengan zakat, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh anggota keluarga tersebut, tetapi juga oleh lingkungan sekitar. Anak-anak yang tumbuh dengan nilai kepedulian akan lebih peka terhadap masalah sosial, lebih mudah berempati, dan lebih siap untuk berbagi.
Bayangkan jika nilai cinta zakat ini ditanamkan dalam jutaan keluarga di Indonesia. Tentu, dampaknya akan luar biasa besar. Bukan hanya angka kemiskinan yang berkurang, tetapi juga rasa persaudaraan dan solidaritas di masyarakat akan semakin kuat.
Mengubah Zakat Menjadi Tradisi Keluarga
Zakat tidak seharusnya hanya dipandang sebagai kewajiban tahunan yang diingat menjelang Idulfitri. Jadikan zakat sebagai tradisi keluarga yang menyatu dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, keluarga bisa memiliki agenda bulanan untuk membicarakan zakat dan sedekah, menuliskan catatan khusus tentang rezeki yang sudah diterima, lalu menghitung hak orang lain di dalamnya.
Ketika zakat sudah menjadi budaya dalam keluarga, anak-anak tidak lagi melihatnya sebagai kewajiban kaku, tetapi sebagai identitas yang melekat pada dirinya. Dengan demikian, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang senang berbagi, peka terhadap lingkungan, dan selalu bersyukur.
Penutup
Menumbuhkan keluarga yang cinta zakat adalah investasi jangka panjang yang manfaatnya tidak hanya dirasakan di dunia, tetapi juga di akhirat. Orang tua memiliki peran besar sebagai teladan utama, sementara anak-anak adalah ladang subur yang siap menyerap nilai-nilai kebaikan.
Dengan membiasakan zakat sejak dini, keluarga tidak hanya mencetak generasi yang beriman dan bertakwa, tetapi juga generasi yang peduli, dermawan, dan siap menjadi agen perubahan sosial. Karena sejatinya, zakat bukan hanya tentang harta yang kita keluarkan, tetapi tentang hati yang kita bersihkan, keberkahan yang kita raih, dan cinta yang kita sebarkan kepada sesama.
ARTIKEL25/09/2025 | Bram
Zakat Tak Hanya Kewajiban, Tapi Solusi Sosial
Zakat adalah salah satu rukun Islam yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim yang mampu. Namun, lebih dari sekedar kewajiban, zakat juga memiliki peran besar sebagai solusi sosial dalam meningkatkan kesejahteraan umat. Di Kota Surabaya, peran ini diwujudkan secara nyata melalui BAZNAS Kota Surabaya, lembaga resmi pengelola zakat, infak, dan sedekah (ZIS) yang terpercaya, amanah, dan transparan.
Zakat: Dari Kewajiban Menuju Kesejahteraan
Menunaikan zakat di BAZNAS Kota Surabaya bukan hanya soal menjalankan kewajiban agama, tetapi juga menjadi bagian dari pembangunan sosial dan ekonomi. Dana zakat yang terhimpun tidak berhenti pada penyaluran bantuan, melainkan dikelola melalui program-program yang memberi manfaat jangka panjang bagi mustahik (penerima zakat).
Dengan zakat yang disalurkan melalui lembaga resmi, umat Islam di Surabaya dapat merasa tenang karena dana mereka terselurkan sesuai syariat dan tepat sasaran.
Keunggulan Berzakat di BAZNAS Kota Surabaya
Mengapa harus berzakat di BAZNAS Kota Surabaya?
Amanah dan Terpercaya – Zakat dikelola secara profesional dengan laporan keuangan transparan.
Program Tepat Sasaran – Dana zakat digunakan untuk membantu masyarakat dhuafa, fakir miskin, dan mereka yang membutuhkan.
Kemudahan Layanan – Masyarakat dapat membayar zakat melalui layanan offline maupun zakat online Surabaya yang mudah dan cepat.
Berkah Berlipat – Zakat tidak hanya membersihkan harta, tetapi juga menjadi solusi sosial yang membantu mengurangi kemiskinan di Kota Surabaya.
Program Unggulan BAZNAS Kota Surabaya
BAZNAS Kota Surabaya memiliki beragam program yang menjadikan zakat lebih bermakna:
Program Ekonomi: bantuan modal usaha, alat kerja, hingga pelatihan keterampilan.
Program bantuan pendidikan: beasiswa anak dhuafa dan perlengkapan sekolah.
Program Kesehatan: bantuan pengobatan, dan dukungan gizi untuk pencegahan stunting.
Program Sosial & Kemanusiaan: santunan yatim, bantuan bencana, dan program pengentasan kemiskinan ekstrem.
Dampak Positif BAZNAS Kota Surabaya
Hadirnya BAZNAS Kota Surabaya memberikan banyak dampak nyata:
Bagi masyarakat miskin, zakat menjadi peluang untuk keluar dari lingkaran kemiskinan.
Bagi pemerintah kota, BAZNAS menjadi mitra strategis dalam mengurangi angka kemiskinan dan stunting.
Bagi umat Islam, BAZNAS memberi rasa aman dalam menunaikan zakat sesuai tuntunan syariat.
Zakat Online Surabaya: Solusi di Era Digital
Kini, menunaikan zakat di Kota Surabaya semakin mudah dengan adanya layanan bayar zakat online BAZNAS Kota Surabaya. Melalui platform digital, masyarakat dapat menyalurkan zakat fitrah, zakat maal, infak, maupun sedekah dengan cepat, praktis, dan aman.
Penutup
Zakat bukan sekedar kewajiban ibadah, tapi juga solusi nyata bagi masalah sosial di masyarakat. Melalui BAZNAS Kota Surabaya, zakat, infak, dan sedekah menjadi sarana untuk membangun kesejahteraan umat. Mari bersama-sama menunaikan zakat di BAZNAS Surabaya, agar keberkahannya tidak hanya dirasakan individu, namun juga membawa perubahan positif bagi seluruh warga Kota Surabaya.
ARTIKEL25/09/2025 | Dini
Lebih Dari Sekadar Angka: Sedekah Itu Keren Buat Generasi Alpha
Di era digital yang serba cepat ini, di mana setiap anak tumbuh bersama gawai, istilah sedekah mungkin terdengar kuno. Sedekah bukan hanya tentang memberikan sejumlah uang atau barang, melainkan sebuah amalan mulia yang membawa banyak manfaat, baik secara spiritual maupun sosial. Bagi Generasi Alpha yaitu anak-anak dan remaja yang lahir sejak tahun 2010 sedekah bisa menjadi lebih dari sekadar angka di laporan keuangan. Ia adalah sebuah aksi nyata yang keren, berdampak, dan relevan dengan nilai-nilai yang mereka pegang: konektivitas, transparansi, dan perubahan sosial. sedekah tidak saja kewajiban agama tetapi juga bagian dari gaya hidup yang keren dan bermakna. Dalam era digital yang penuh dengan inovasi dan kemudahan akses, sedekah semakin mudah dilakukan dan dapat membawa dampak nyata bagi kehidupan mustahik (penerima manfaat). Peran Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) sebagai lembaga resmi pengelola zakat, sedekah, dan wakaf juga penting dalam memastikan sedekah yang dikumpulkan terkumpul dengan baik dan tersalurkan secara tepat sasaran.
Generasi Alpha dan Kebaikan Tanpa Batas
Menurut ajaran Islam, sedekah adalah salah satu bentuk ibadah yang sangat dianjurkan. Rasulullah SAW bersabda,
“Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api” (HR. Tirmidzi).
Sedekah tidak memiliki batasan waktu dan jumlah, artinya siapa saja bisa melakukannya kapan saja, bahkan dalam jumlah kecil sekalipun.
Lebih dari sekadar angka, sedekah adalah investasi spiritual yang mengalir pahalanya hingga akhirat. Hal ini menunjukkan bahwa sedekah mencapai efek jangka panjang, bukan hanya memperbaiki kondisi penerima saat itu tetapi juga mengangkat derajat pemberinya di hadapan Allah SWT.
Untuk Generasi Alpha, sedekah bisa diterjemahkan dalam bahasa mereka. Ini adalah "challenge" kebaikan, "top up" pahala, atau "upgrade" diri menjadi pribadi yang lebih peduli. Mereka bisa melihat dampak langsung dari sedekah mereka melalui foto, video, atau laporan digital. Transparansi ini sangat penting bagi mereka.Mengapa Sedekah Keren bagi Generasi Alpha?
Tiga Alasan Utama Mengapa Sedekah Itu Keren buat Gen Alpha
Dampak Instan dan Terukur: Generasi Alpha adalah generasi yang terbiasa dengan hasil instan (misalnya, menekan tombol dan langsung mendapatkan respons). Mereka ingin melihat bagaimana kontribusi mereka membuat perbedaan. Lembaga seperti BAZNAS menyediakan laporan yang transparan, menunjukkan setiap rupiah sedekah disalurkan untuk apa. Anak-anak bisa melihat foto anak yang tersenyum karena mendapatkan seragam sekolah baru dari sedekah mereka, atau melihat keluarga yang mendapatkan bantuan modal usaha. Dampak nyata dan terukur ini membuat mereka merasa bangga dan termotivasi untuk terus berbagi.
Koneksi Digital: Sedekah zaman sekarang tidak harus dilakukan secara fisik. Generasi Alpha dapat bersedekah melalui platform digital yang mudah diakses, seperti aplikasi BAZNAS. Mereka bisa berinteraksi dengan komunitas kebaikan secara online, berpartisipasi dalam kampanye sosial, dan bahkan mengajak teman-teman mereka untuk ikut berpartisipasi. Sedekah menjadi sebuah aktivitas sosial yang menyenangkan, bukan sekadar kewajiban yang berat.
Membentuk Identitas Diri: Di era yang serba kompetitif, Generasi Alpha terus mencari cara untuk mengekspresikan diri dan membangun identitas. Berpartisipasi dalam kegiatan sosial, termasuk sedekah, memberi mereka kesempatan untuk menunjukkan bahwa mereka peduli dan berkontribusi pada dunia. Ini membangun karakter yang kuat, empati, dan rasa tanggung jawab sosial sejak dini. Mereka tidak hanya tumbuh sebagai konsumen, tetapi juga sebagai agen perubahan yang aktif.
BAZNAS: Jembatan Kebaikan untuk Generasi Alpha
BAZNAS sebagai lembaga amil zakat dan sedekah yang resmi memegang peranan penting dalam mengelola donasi umat. Keberadaan BAZNAS menggaransi transparansi dan profesionalisme dalam pengumpulan dan penyaluran sedekah.
Beberapa peran BAZNAS yang relevan bagi Generasi Alpha antara lain:
Kemudahan Akses Beramal DigitalBAZNAS menyediakan berbagai platform digital seperti aplikasi dan website resmi yang memungkinkan Generasi Alpha menunaikan sedekah secara cepat, aman, dan transparan.
Pelaksanaan Program Pemberdayaan MustahikDana sedekah dikelola menjadi program produktif, seperti pelatihan kewirausahaan bagi mustahik, sehingga mereka tidak hanya mendapat bantuan sementara, tapi berkesempatan mandiri secara ekonomi.
Kampanye Sosial dan Edukasi SedekahBAZNAS aktif mengembangkan konten edukatif yang mudah dipahami dan menarik, termasuk melalui media sosial, video pendek, dan kegiatan offline di sekolah-sekolah dan komunitas pemuda.
Laporan Transparansi Penggunaan DanaBAZNAS memberikan laporan penggunaan dana secara terbuka sebagai bentuk akuntabilitas kepada donatur termasuk generasi muda, sehingga mereka bisa menyaksikan hasil nyata dari sedekah mereka.
Sedekah, Generasi Alpha, dan Digitalisasi: Koneksi yang Kuat
Era digital memudahkan Generasi Alpha untuk memahami dan menyalurkan sedekah. Dengan sentuhan teknologi, mereka bisa ikut menyebarkan kebaikan tidak hanya dalam lingkup keluarga atau lingkungan sekitar, tetapi juga dalam skala yang lebih luas melalui media sosial, crowdfunding, dan aplikasi donasi.
Digitalisasi membuat sedekah menjadi kegiatan yang lebih transparan, terekam, dan terpantau manfaatnya. Hal ini tentu mendorong rasa percaya dan semangat generasi muda untuk terus beramal.
Masa Depan Berbagi: Dari Generasi Alpha untuk Dunia
Mengajarkan sedekah kepada Generasi Alpha adalah investasi jangka panjang. Kita tidak hanya memberi mereka pemahaman tentang ajaran agama, tetapi juga membentuk mereka menjadi individu yang bertanggung jawab dan peduli. Mereka adalah calon-calon pemimpin masa depan yang akan mewarisi dunia ini. Jika sejak kecil mereka sudah terbiasa dengan nilai-nilai berbagi, maka kita bisa berharap mereka akan menciptakan peradaban yang lebih adil dan penuh kasih sayang.
Sedekah bukan sekadar angka di laporan keuangan atau kewajiban yang harus ditunaikan. Sedekah adalah resonansi kebaikan yang mengalir dari hati, menyentuh jiwa, dan menciptakan dampak nyata. Dengan dukungan lembaga profesional seperti BAZNAS, kita dapat memastikan bahwa setiap sedekah yang disalurkan oleh Generasi Alpha akan menjadi bagian dari cerita besar perubahan, sebuah cerita yang lebih keren dari game apa pun.
Kesimpulan: Sedekah sebagai Gaya Hidup Keren Generasi Alpha
Sedekah lebih dari sekadar angka finansial, ia adalah bentuk amal yang membawa keberkahan dan membentuk karakter sosial. Generasi Alpha dengan kemudahan teknologi dan semangat perubahan adalah calon-calon pegiat sedekah masa depan yang keren.
Peran BAZNAS dalam menyediakan sarana, edukasi, dan pengelolaan yang transparan sangat membantu generasi muda untuk menyalurkan sedekah secara mudah dan berdampak luas. Mari bersama-sama menanamkan semangat sedekah sejak dini agar menjadi sumber resonansi harta abadi yang manfaatnya tidak pernah berkurang, baik di dunia maupun akhirat.
ARTIKEL25/09/2025 | Listy
Resonansi Harta Abadi: Dorong Semangat Berbagi Melalui Fikih Wakaf, Zakat, dan Sedekah
Dalam ajaran Islam, harta bukanlah sekadar alat untuk memenuhi kebutuhan hidup semata. Lebih dari itu, harta adalah amanah dari Allah SWT yang di dalamnya terkandung hak-hak orang lain. Mengelola harta dengan cara yang benar, sesuai dengan fikih Islam, akan melahirkan resonansi kebaikan yang tak hanya bermanfaat di dunia, tetapi juga menjadi investasi abadi di akhirat.
Berbagi adalah sarana utama dalam Islam untuk membersihkan harta dan jiwa. Dalam mengelola kekayaan, umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan zakat, sedekah, dan wakaf. Instrumen ketiga ini bukan hanya sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai investasi spiritual yang menghasilkan harta abadi atau maal al-akhirah. Konsep ini terwujud dalam tiga pilar utama: wakaf, zakat, dan sedekah, yang ketiganya kini dikelola secara profesional oleh lembaga seperti Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Surabaya.
Memahami Harta sebagai Resonansi Kebaikan
Harta abadi adalah kekayaan yang meskipun bersifat duniawi, manfaatnya terus mengalir hingga akhirat. Rasulullah SAW bersabda bahwa jika manusia meninggal dunia, amal perbuatannya terhenti kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya. (HR Muslim). Amal ketiga ini landasan menjadi bagi pentingnya wakaf, zakat, dan sedekah. Setiap umat Islam meyakini bahwa rezeki yang didapat datangnya dari Allah. Oleh karena itu, di balik kekayaan, ada kewajiban untuk berbagi. Fikih Islam menawarkan panduan secara komprehensif agar harta yang kita miliki tidak hanya berputar di kalangan orang kaya, tetapi juga dapat menciptakan keadilan sosial dan kesejahteraan bagi seluruh umat.
Zakat adalah kewajiban harta yang bersih yang dikeluarkan untuk membersihkan harta dan membantu golongan yang berhak menerimanya.
Sedekah adalah pemberian sukarela yang bisa dilakukan kapan saja dan dalam bentuk apa saja, sebagai wujud kepedulian sosial.
Wakaf merupakan instrumen pemberian harta yang manfaatnya dipergunakan secara terus menerus untuk kepentingan umat.
Instrumen ketiga ini memiliki potensi besar untuk membangun peradaban yang berkeadilan melalui pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, dan pembangunan infrastruktur keumatan.
Peran BAZNAS dalam Menggerakkan Semangat Berbagi
BAZNAS sebagai lembaga amil resmi pemerintah memiliki tugas strategis mengumpulkan, mendistribusikan, serta mengelola zakat, sedekah, dan wakaf secara profesional, transparan, dan akuntabel. Dengan pendekatan manajemen data penerima manfaat dan teknologi digital, BAZNAS berhasil menjangkau lebih banyak mustahik dan menyalurkan dana secara tepat guna.
Beberapa peran utama BAZNAS dalam pemberdayaan mustahik meliputi:
Pengelolaan Produktif Zakat: Dana zakat tidak hanya sebagai bantuan konsumtif tetapi juga investasi sosial ekonomi yang membantu mustahik mandiri.
Pengembangan Produktif Wakaf: BAZNAS menggerakkan wakaf dalam bentuk properti, pendidikan, dan kesehatan yang manfaatnya terus menerus.
Program bantuan Sosial dan Kemanusiaan: Meliputi bencana alam, pengentasan kemiskinan ekstrem, dan dukungan sosial untuk peningkatan kualitas hidup.
Pemberdayaan Mustahik: Melalui pelatihan usaha, pendampingan bisnis, dan akses permodalan agar penerima manfaat dapat berdikari.
BAZNAS menjalankan seluruh program ini dengan prinsip amanah, akuntabilitas, dan profesionalisme. Setiap rupiah yang masuk dicatat dan dilaporkan secara transparan. Dengan demikian, muzaki tidak perlu khawatir apakah zakatnya sampai kepada yang berhak. BAZNAS memastikan bahwa setiap dana yang diamanahkan akan beresonansi menjadi kebaikan yang terukur dan berdampak luas.
Menggugah Semangat Berbagi: Panggilan untuk Umat Islam
Fenomena Resonansi Harta Abadi ini mengajak kita untuk merenung. Harta bukan sekedar milik pribadi, tetapi juga milik umat. Dengan menunaikan zakat, berinfak, bersedekah, dan berwakaf, kita tidak hanya menaati perintah agama, tetapi juga berkontribusi langsung dalam membangun masyarakat yang lebih adil dan sejahtera.
Marilah kita jadikan harta kita beresonansi. Jangan biarkan harta kita "mati" setelah kita tiada. Jadikanlah ia sebagai "kendaraan" menuju kebaikan yang tak berujung. Melalui lembaga yang kredibel seperti BAZNAS, kami dapat menyalurkan resonansi ini secara efektif. Mari bersama-sama membangun peradaban yang berlandaskan kasih sayang, keadilan, dan kepedulian.
ARTIKEL25/09/2025 | Listy
Zakat Sebagai Kekuatan Sosial dan Ekonomi Umat
Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang menduduki posisi penting dalam tatanan kehidupan umat Islam. Ia bukan sekadar kewajiban individu, tetapi juga sebuah instrumen sosial yang berfungsi menjaga keseimbangan, keadilan, dan keberlangsungan hidup bersama.
Definisi Zakat
Secara bahasa, kata zakat berasal dari akar kata zaka yang berarti tumbuh, berkembang, dan suci. Dalam arti lain, zakat juga dapat diartikan sebagai bentuk ketakwaan. Al-Qur'an menggunakan istilah ini dalam konteks kesucian jiwa maupun harta, karena zakat berfungsi membersihkan diri dari sifat kikir sekaligus menyucikan harta dari hak orang lain yang melekat di dalamnya.
Secara istilah, zakat adalah sejumlah harta tertentu yang diwajibkan oleh Allah untuk diberikan kepada golongan yang berhak menerima, dengan syarat, kadar, dan ketentuan tertentu. Dengan demikian, zakat tidak sama dengan sedekah biasa ataupun hadiah, karena ia memiliki aturan yang baku baik dari segi nisab, haul, maupun penerimaannya.
Karakteristik Zakat yang Membedakannya dari Pajak
Zakat memiliki ciri khas yang membedakannya dari pungutan atau pajak yang ditetapkan oleh pemerintah. Pajak dapat dikenakan atas siapa pun, baik kaya maupun miskin, dan penggunaannya sering kali kembali untuk kepentingan penguasa atau sektor tertentu. Sementara itu, zakat hanya diwajibkan atas harta yang berkembang dan dimiliki oleh orang kaya, lalu disalurkan langsung kepada delapan golongan penerima (asnaf), terutama fakir miskin.
Selain itu, zakat bersifat tetap dan tidak bisa dihapuskan, karena kedudukannya sebagai syariat yang berasal langsung dari Allah. Zakat juga mengandung unsur ibadah, berbeda dengan pajak yang lebih bersifat administrasi kenegaraan. Nabi Muhammad SAW menegaskan: “Zakat diambil dari orang-orang kaya dan dikembalikan kepada orang-orang miskin.”
Perbedaan Zakat, Sedekah, dan Hibah
Zakat: Kewajiban syar'i atas harta tertentu, dengan syarat nisab dan haul, serta penyaluran kepada penerima yang ditentukan.
Sedekah : Lebih luas dari zakat. Sedekah bisa berupa kewajiban (zakat) maupun pemberian sunnah di luar zakat.
Hibah atau hadiah: Pemberian sukarela tanpa syarat, biasanya untuk menunjukkan kasih sayang, rasa hormat, atau ikatan sosial.
Dengan demikian, setiap zakat adalah sedekah, tetapi tidak setiap sedekah adalah zakat.
Hukum dan Sejarah Pensyaratan Zakat
Zakat merupakan kewajiban yang ditegaskan dalam Al-Qur'an, As-Sunnah, dan ijma' ulama. Allah berfirman:
“Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.” (QS. Al-Baqarah : 43)
Kewajiban zakat disepakati oleh para sahabat hingga mereka memerangi kelompok yang menolak menunaikannya pada masa Khalifah Abu Bakar RA.
Zakat secara rinci diwajibkan pada tahun kedua Hijriah di Madinah. Namun, ajaran tentang berbagi kepada fakir miskin telah diperintahkan sejak masa dakwah di Mekah, sebelum turunnya aturan teknis mengenai nisab dan haul.
Tahapan Pensyariatan Zakat dan Hubungannya dengan Umat Terdahulu
Al-Qur'an mengisahkan bahwa zakat juga diwajibkan pada umat para nabi sebelumnya, seperti pada Nabi Ibrahim dan keturunannya. Hal ini menunjukkan bahwa zakat bukanlah kewajiban baru, melainkan bagian dari tradisi ibadah yang diwariskan para nabi.
Di masa Nabi Muhammad SAW, kewajiban zakat pada mulanya bersifat umum, kemudian diperinci dengan aturan jumlah, nisab, dan pendistribusiannya setelah hijrah ke Madinah.
Hikmah Zakat
Setiap hukum yang ditetapkan Allah mengandung hikmah. Zakat antara lain bertujuan:
Menyucikan jiwa dan harta dari sifat kikir dan kecintaan berlebihan terhadap dunia.
Menggerakkan perputaran ekonomi, karena harta tidak boleh ditimbun.
Membantu fakir miskin dan kelompok lemah, sehingga mengurangi jurang sosial.
Menumbuhkan solidaritas dan kasih sayang antar sesama Muslim.
Dengan zakat, distribusi harta menjadi lebih merata, pasar terhindar dari stagnasi, dan aktivitas ekonomi tetap berjalan.
Risiko Tidak Membayar Zakat
Orang yang menahan zakat diancam dengan azab yang pedih di akhirat, sebagaimana disebutkan dalam QS. At-Taubah: 34–35. Rasulullah SAW juga memperingatkan bahwa harta yang tidak dizakati akan berubah menjadi ular beracun yang dibeli pemiliknya pada hari kiamat.
Dampaknya di dunia pun nyata. Nabi bersabda: “Bukanlah mereka yang menahan zakat, melainkan mereka yang ditahan dari turunnya hujan.” Selain itu, tawaran zakat dapat menimbulkan kebencian sosial, ketimpangan, dan kriminalitas jurang antara kaya dan miskin yang semakin lebar.
Zakat sebagai Solusi Penanggulangan Kemiskinan
Jika umat seluruh Islam menunaikan zakat sesuai ketentuan, kebutuhan dasar fakir miskin akan terpenuhi. Zakat berfungsi sebagai instrumen distribusi pendapatan, mengurangi angka kemiskinan, dan memperkuat ikatan sosial.
Zakat juga dapat diarahkan pada pemberdayaan ekonomi, misalnya dengan memberikan modal usaha atau membangun fasilitas publik. Dengan demikian, zakat tidak hanya meringankan kebutuhan sesaat, tetapi juga mengangkat harkat sosial-ekonomi kaum dhuafa.
Ibadah dan Kehidupan Sosial
Pada akhirnya, zakat hanyalah satu bagian dari ibadah yang lebih luas. Tujuan penciptaan manusia adalah beribadah kepada Allah dalam arti yang komprehensif: bukan sekedar ritual, tetapi juga membangun peradaban, menegakkan keadilan, dan memakmurkan bumi.
Sebagaimana diungkapkan Ibnu Taimiyah, hati manusia tidak akan tenang kecuali dengan beribadah kepada Allah. Zakat adalah bentuk nyata ibadah sosial yang menyatukan dimensi spiritual, moral, dan ekonomi, sehingga umat Islam dapat hidup sejahtera dalam ridha Allah SWT.
ARTIKEL24/09/2025 | Imam
BAZNAS Kota Surabaya sebagai Social Enterprise
Pendahuluan
Zakat, infak, dan shodaqoh (ZIS) bukan sekadar kewajiban ibadah, tetapi juga sarana membangun kesejahteraan umat. Di Kota Surabaya, potensi zakat sangat besar dan dikelola secara profesional oleh BAZNAS Kota Surabaya.
Sebagai lembaga resmi, BAZNAS tidak hanya berfungsi menyalurkan dana umat, tetapi juga berperan sebagai social enterprise: lembaga sosial yang mengelola zakat dengan pendekatan kewirausahaan untuk menciptakan dampak berkelanjutan.
Program Ekonomi Produktif
BAZNAS Kota Surabaya menyalurkan zakat ke dalam program-program produktif, antara lain:
Bantuan modal usaha untuk UMKM dhuafa.
Pelatihan Usaha & Pemberdayaan UKM
Bantuan Alat Kerja (Rombong, Etalase, Mesin Jahit)
Dengan langkah ini, zakat bukan hanya bantuan konsumtif, melainkan juga menjadi modal pemberdayaan yang mengangkat mustahik menuju kemandirian.
Dukungan Pendidikan dan Kesehatan
Selain ekonomi, BAZNAS juga fokus pada bidang pendidikan dan kesehatan. Beberapa program unggulan adalah:
Beasiswa dhuafa untuk anak-anak yang kurang mampu.
Bedah rumah dan Pembangunan sanitasi bagi Masyarakat dhuafa.
Program gizi mustahik berupa zakat tunai untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga miskin.
Fokus ini memastikan mustahik tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga memiliki kesempatan untuk berkembang.
Transparansi dan Digitalisasi
Kepercayaan masyarakat adalah modal utama bagi social enterprise. Karena itu, BAZNAS Kota Surabaya selalu mengutamakan transparansi dengan laporan terbuka, audit rutin, dan penggunaan teknologi digital.
Kini, masyarakat bisa menunaikan zakat dengan mudah melalui:
Transfer bank.
Web zakat online atau Qris.
Layanan jemput zakat.
Digitalisasi membuat layanan lebih modern, cepat, dan transparan.
Dampak Sosial Nyata
Melalui program-program tersebut, BAZNAS Kota Surabaya berhasil memberikan dampak positif, seperti:
Mendukung ratusan UMKM dhuafa untuk berkembang.
Membiayai pendidikan anak-anak miskin melalui beasiswa.
Memberikan bantuan-bantuan kesehatan gratis bagi keluarga dhuafa.
Semua ini membuktikan zakat yang dikelola BAZNAS benar-benar membawa perubahan sosial nyata.
Kesimpulan
Sebagai social enterprise, BAZNAS Kota Surabaya berkomitmen menghadirkan pengelolaan zakat yang amanah, transparan, dan berdampak produktif. Melalui ekonomi, pendidikan, dan kesehatan, zakat mampu menjadi solusi nyata untuk kesejahteraan umat.
Tunaikan zakat, infak, dan shodaqoh Anda melalui BAZNAS Kota Surabaya.
Bersama, kita wujudkan Surabaya yang lebih adil, makmur, dan penuh keberkahan.
ARTIKEL24/09/2025 | Dini
Persiapan Ruhani Menyambut Rabiul Akhir yang Penuh Berkah
Bulan Rabiul Akhir merupakan bulan keempat dalam kalender hijriah yang kerap disebut juga dengan Rabi’ ats-Tsani. Walaupun tidak sepopuler bulan Ramadhan atau bulan Rabiul Awal yang identik dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW, namun kehadiran bulan Rabiul Akhir tetap memiliki nilai penting dalam perjalanan spiritual seorang muslim. Setiap pergantian bulan dalam Islam sejatinya adalah kesempatan baru untuk memperbaiki ruhani, menambah amal, dan mengokohkan ketakwaan.
Menyambut bulan Rabiul Akhir hendaknya tidak dilakukan dengan sikap biasa saja, melainkan dengan kesadaran penuh bahwa waktu yang diberikan Allah adalah amanah. Persiapan diri tidak hanya mencakup aspek ibadah, tetapi juga meliputi dimensi sosial, moral, hingga pengelolaan kehidupan sehari-hari.
1. Memperkuat Hubungan dengan Allah
Langkah awal dalam menyambut bulan Rabiul Akhir adalah mempertebal iman dan takwa. Setiap muslim dianjurkan untuk memperbaiki kualitas shalat, memperbanyak dzikir, serta meluangkan waktu untuk membaca dan mentadabburi Al-Qur’an. Bulan ini dapat dijadikan momentum untuk melatih konsistensi dalam ibadah harian, sehingga kelak terbentuk rutinitas yang lebih baik.
2. Muhasabah dan Perbaikan Diri
Persiapan diri yang tidak kalah penting adalah melakukan introspeksi. Muhasabah menjadi cara efektif untuk menilai sejauh mana amal yang telah dilakukan pada bulan-bulan sebelumnya. Dengan begitu, seorang muslim dapat merancang perbaikan di bulan Rabiul Akhir, misalnya memperbaiki niat, mengurangi kebiasaan buruk, atau meningkatkan kepedulian terhadap sesama.
3. Menguatkan Amal Sosial
Rabiul Akhir juga bisa dimaknai sebagai momentum meningkatkan kepedulian sosial. Islam tidak hanya menekankan ibadah ritual, tetapi juga mengajarkan umatnya untuk hadir memberi manfaat bagi orang lain. Di bulan ini, umat muslim dianjurkan memperbanyak sedekah, membantu fakir miskin, ataupun mendukung kegiatan keagamaan di lingkungan sekitar. Amal sosial yang dilakukan dengan ikhlas akan menjadi tabungan kebaikan di akhirat.
4. Menjaga Akhlak dan Perilaku
Persiapan menyambut bulan Rabiul Akhir juga perlu diwujudkan dengan menjaga akhlak. Sopan santun, kejujuran, kesabaran, serta sikap rendah hati merupakan bagian dari ajaran Nabi ? yang harus diteladani. Dengan memperbaiki perilaku, seorang muslim dapat lebih mudah diterima di tengah masyarakat dan menebarkan kebaikan dalam keseharian.
5. Mengisi Waktu dengan Kegiatan Bermanfaat
Setiap bulan adalah kesempatan untuk berproses menjadi pribadi yang lebih baik. Bulan Rabiul Akhir bisa diisi dengan kegiatan bermanfaat seperti menghadiri kajian, membaca buku-buku Islami, ataupun menekuni keterampilan baru yang mendukung produktivitas. Dengan demikian, waktu tidak terbuang sia-sia, melainkan dipenuhi aktivitas yang bernilai duniawi sekaligus ukhrawi.
6. Menumbuhkan Semangat Hijrah
Rabiul Akhir dapat dijadikan momentum untuk meneguhkan semangat hijrah, yaitu berpindah dari kebiasaan buruk menuju kebiasaan yang diridhai Allah. Hijrah bukan hanya perubahan fisik atau tempat, tetapi juga transformasi jiwa, pola pikir, serta perbuatan agar lebih dekat dengan kebaikan.
Penutup
Menyambut bulan Rabiul Akhir tidak memerlukan ritual khusus yang memberatkan. Namun, yang lebih penting adalah menyiapkan hati, pikiran, dan perilaku agar senantiasa berada di jalan yang lurus. Dengan memperkuat iman, memperbanyak amal kebaikan, menjaga akhlak, serta meningkatkan kepedulian sosial, seorang muslim dapat menjadikan bulan Rabiul Akhir sebagai momentum berharga untuk semakin dekat dengan Allah dan semakin bermanfaat bagi sesama.
ARTIKEL23/09/2025 | Bram
Saatnya Generasi Muda Ambil Bagian: Zakat & Sedekah Sebagai Investasi Abadi
Halo, generasi 90-an sampai 2000-an!
Tau gak sih, kalian ini lagi di masa prime time banget. Karier mulai naik, penghasilannya lumayan, dan sudah mulai bisa mengatur keuangan sendiri. Keren! Tapi pertanyaannya: udah pada mikir belum soal investasi untuk akhirat?
Tunggu, Investasi Akhirat?
Tenang, ini bukan ceramah yang bikin ngantuk kok! Jadi begini, kalau investasi dunia kayak saham atau crypto kan sering naik-turun, bahkan bisa rugi total. Nah, zakat dan sedekah itu investasi yang return-nya dijamin untung 100% tanpa ada resiko loss sama sekali!
Bayangin aja, ada investasi yang pasti untung, nggak ada risiko bangkrut, plus dikasih bonus keberkahan hidup sekarang juga. Menarik kan?
Kenapa Generasi Kita Harus Peduli?
Coba deh liat timeline sosmed kalian. Pasti banyak banget konten tentang keadilan sosial, lingkungan, atau gerakan kemanusiaan. Nah, zakat dan sedekah itu adalah aksi nyata dari value-value yang sering kalian posting di feed!
Ditambah lagi generasi kita kan digital native banget. Sekarang bayar zakat bisa lewat e-wallet, mobile banking, atau scan kode QR. Praktis abis!
Zakat vs Sedekah: Bedanya Apa?
Zakat: Yang wajib dan terukur
Sifatnya wajib buat yang punya harta sampai nisab
Jumlahnya 2,5% dari harta yang disimpan setahun
Fungsinya untuk membersihkan harta dan jiwa
Sedekah: Yang fleksibel dan personal
Sifatnya sunnah tapi sangat dianjurkan
Jumlahnya bebas sesuai kemampuan
Bisa kapan aja, bahkan senyum juga sedekah!
ROI yang Gila-gilaan
Investasi zakat dan sedekah punya return yang luar biasa:
Multiplier 700x lipat - dijamin langsung di Al-Quran!
Perlindungan dari berbagai masalah kehidupan
Keberkahan yang langsung terasa sekarang
Pahala jariyah yang terus mengalir
Coba deh bayangin kalau ada saham atau crypto yang bisa kasih jaminan return segini. Pasti langsung FOMO kan?
Gimana Mulainya?
Step 1: Hitung Zakat
Total harta yang sudah disimpan setahun
Kalau udah sampai nisab (setara 85 gram emas), wajib zakat 2,5%
Banyak kalkulator zakat online kok
Step 2: Pilih Platform
BAZNAS (lembaga resmi pemerintah)
LAZ terpercaya kayak Dompet Dhuafa, Rumah Zakat
Dompet elektronik: OVO, GoPay, DANA
Perbankan seluler
Step 3: Jadikan Rutinitas
Atur auto-debet atau pengingat bulanan. Perlakukan kayak berlangganan Netflix tapi untuk akhirat!
Step 4: Sedekah Gaya Bebas
Mulai dari nominal kecil tapi rutin
Ikut patungan untuk program sosial
Mendukung crowdfunding yang bermanfaat
Beyond Money: Sedekah Kreatif
Siapa bilang sedekah cuma uang? Generasi kreatif kayak kalian bisa:
Berbagi keterampilan: Ngajarin coding, desain, bahasa gratis
Pembuatan konten: Bikin konten edukatif yang bermanfaat
Sukarelawan: Ikut kegiatan sosial di LSM
Donor darah: Sederhana tapi sangat berdampak!
The Compound Effect
Sama seperti investasi dunia, zakat dan sedekah juga punya efek majemuk. Semakin rutin dan konsisten, semakin besar "portofolio akhirat" kalian. Dan yang paling keren:
Tidak ada inflasi (nilainya selalu naik)
Nggak ada resiko default
Liquid (manfaatnya langsung terasa)
Bebas pajak (malah dapat bonus keberkahan)
Let's Take Action!
Oke teman-teman, saatnya beraksi! Mulai dari yang sederhana:
Bulan ini: Hitung dan bayar zakat ke LAZ terpercaya
Mingguan: Sisihkan 50rb-100rb buat sedekah rutin
Harian: Sedekah receh atau bantuin orang yang butuh
Bagikan: Ajak teman-teman buat sama-sama berinvestasi di akhirat
Ingat, kita punya keistimewaan: akses teknologi, pendidikan, dan peluang ekonomi yang baik. Dengan keistimewaan ini, kita punya tanggung jawab untuk berbagi.
Jadi, siap jadi generasi dermawan? Yuk, kerenkan lagi zakat dan sedekahmu!
ARTIKEL23/09/2025 | Jal
BAZNAS Tanggap Bencana Kota Surabaya: Wujud Kepedulian Zakat untuk Kemanusiaan
1. Pendahuluan
Bencana dapat datang kapan saja tanpa mengenal waktu dan tempat. Kota Surabaya sebagai kota metropolitan juga tidak luput dari potensi bencana, mulai dari banjir, kebakaran, rumah ambruk hingga kondisi darurat non-alam lainnya. Menyadari pentingnya kesiapsiagaan dan kehadiran lembaga yang sigap menolong, BAZNAS Kota Surabaya membentuk BAZNAS Tanggap Bencana (BTB) yang di SK Ketua BAZNAS Kota Surabaya langsung sejak 13 Desember 2024
BTB Surabaya merupakan unit khusus yang berfungsi sebagai garda depan pelayanan kemanusiaan. Unit ini dibentuk bukan hanya untuk merespon kejadian bencana, tetapi juga untuk memberikan edukasi, pencegahan, serta pemulihan pascabencana dengan mengedepankan nilai-nilai zakat dan kepedulian sosial.
2. Visi dan Misi BTB Surabaya
BTB Surabaya hadir dengan visi besar yaitu “Menjadi tim tanggap bencana yang profesional, responsif, dan berorientasi pada kemanusiaan dalam bingkai pengelolaan zakat yang amanah.”
Untuk mewujudkan visi tersebut, BTB Surabaya mengemban misi sebagai berikut:
Meningkatkan kapasitas relawan melalui pelatihan dan pendidikan kebencanaan.
Membangun sistem respon cepat dalam menghadapi bencana yang terjadi di Kota Surabaya dan sekitarnya.
Mengintegrasikan nilai zakat, infak, dan sedekah dalam pelayanan kemanusiaan yang nyata di lapangan.
Menjalin kemitraan strategis dengan lembaga pemerintah, swasta, dan komunitas kebencanaan lainnya.
Mendorong kesadaran masyarakat tentang pentingnya mitigasi bencana dan kepedulian sosial.
3. Tujuan dan Maksud Pembentukan BTB Surabaya
BTB Surabaya dibentuk dengan maksud untuk memastikan bahwa zakat tidak hanya hadir dalam bentuk bantuan ekonomi, tetapi juga dalam bentuk nyata kepedulian kemanusiaan. Beberapa tujuan utama dari pembentukan BTB ini antara lain:
Menjadi lini pertama penolong masyarakat saat terjadi bencana.
Mengurangi dampak korban jiwa dan kerugian dengan respon cepat dan terkoordinasi.
Menghadirkan kehadiran negara dan umat melalui aksi nyata BAZNAS yang amanah dan terpercaya.
Menguatkan nilai solidaritas antarwarga Surabaya melalui program bantuan yang berbasis zakat.
4. Peran dan Implementasi di Lapangan
Sejak dibentuk, BTB Surabaya aktif melibatkan diri dalam berbagai aksi kemanusiaan. Tidak hanya turun langsung saat banjir dan kebakaran, tetapi juga mendampingi masyarakat dalam masa pemulihan pascabencana. Peran penting BTB Surabaya meliputi:
Respon Darurat: Memberikan pertolongan pertama, evakuasi, dan distribusi bantuan logistik.
Mitigasi dan Edukasi: Mengedukasi masyarakat tentang langkah-langkah menghadapi bencana.
Pemulihan Pascabencana: Memberikan dukungan psikososial, kesehatan, serta bantuan ekonomi dasar bagi korban.
Kolaborasi Lintas Lembaga: Bekerjasama dengan BPBD, Basarnas, PMI, TNI/Polri, hingga komunitas lokal untuk penanganan yang lebih efektif.
Implementasi ini menjadi bukti bahwa zakat, infak, dan sedekah tidak hanya berfungsi mengangkat kesejahteraan ekonomi, tetapi juga hadir langsung menyelamatkan kehidupan manusia dalam kondisi darurat.
5. Studi Kasus Kemanusiaan
Dalam setahun terakhir, BTB Surabaya telah terjun di berbagai titik bencana seperti banjir tahunan di wilayah pinggiran kota (kecamatan karang pilang) dan kebakaran pemukiman padat penduduk. Kehadiran BTB membawa dampak positif, di antaranya:
Respon lebih cepat karena relawan berbasis lokal.
Kepercayaan masyarakat meningkat terhadap BAZNAS sebagai lembaga yang tidak hanya mengelola dana, tetapi juga terjun langsung ke lapangan.
Sinergi semakin kuat dengan lembaga kebencanaan lain, sehingga penanganan lebih terkoordinasi.
6. Kesimpulan
Kehadiran BAZNAS Tanggap Bencana (BTB) Surabaya merupakan langkah strategis dalam memperluas manfaat zakat bagi masyarakat. BTB tidak hanya menjadi simbol kepedulian, tetapi juga bukti nyata bahwa zakat mampu menjawab tantangan kemanusiaan.
Dengan visi dan misi yang jelas, peran yang nyata, serta sinergi dengan berbagai pihak, BTB Surabaya optimis dapat terus memberikan layanan kemanusiaan yang cepat, tepat, dan profesional. BAZNAS Kota Surabaya melalui BTB berkomitmen untuk selalu hadir di tengah masyarakat, tidak hanya dalam pemberdayaan ekonomi, tetapi juga dalam setiap langkah kemanusiaan.
ARTIKEL22/09/2025 | Zul
Fotosintesis dan Zakat, Infak, Sedekah : Analisis Komparatif dari Perspektif Ilmiah dan Filosofis
Pendahuluan
Secara umum, fotosintesis merupakan proses biokimia yang mengubah energi cahaya menjadi energi kimia, sedangkan ZIS adalah sistem filantropi Islam yang mendistribusikan kekayaan. Meskipun berasal dari domain yang berbeda ilmu pengetahuan alam dan sosio ekonomi keduanya memiliki kesamaan mendasar dalam prinsip transformasi, redistribusi, dan keinginan. Analisis ini mengeksplorasi bagaimana kedua fenomena ini, pada tingkatnya masing-masing, berkontribusi pada kesejahteraan ekologis dan sosial.
Fotosintesis, sebuah proses penting yang terjadi pada tumbuhan, alga, dan beberapa bakteri, merupakan fondasi dari hampir seluruh rantai makanan di Bumi. Proses ini mengubah molekul sederhana seperti udara (H2O) dan karbon dioksida (CO2) menjadi glukosa (C6H12O6) dan oksigen (O2) dengan bantuan energi cahaya matahari. Hasilnya tidak hanya menyediakan nutrisi bagi tumbuhan itu sendiri, tetapi juga melepaskan oksigen yang esensial bagi kehidupan makhluk aerobik.
Di sisi lain, ZIS adalah pilar penting dalam ekonomi Islam. Zakat adalah kewajiban untuk menyisihkan sebagian harta, sementara infak dan sedekah adalah memberi secara sukarela. Tujuan utamanya adalah untuk membersihkan harta, mengurangi kesejahteraan sosial, dan menciptakan kesejahteraan bersama. Meskipun fotosintesis adalah fenomena alam dan ZIS adalah konstruksi sosial-religius, keduanya dapat dipahami melalui lensa yang sama : mekanisme untuk menciptakan nilai dari sumber daya yang ada dan menyebarkannya ke dalam sistem yang lebih besar.
Analisis Komparatif
1. Transformasi Nilai dari Sumber Daya Dasar
Fotosintesis : Proses ini mengubah sumber daya "murah" dan melimpahnya sinar matahari, udara, dan CO2 menjadi energi yang kompleks dan "berharga" (glukosa). Ini adalah contoh luar biasa dari transformasi energi dari bentuk yang kurang dapat digunakan menjadi bentuk yang dapat dimanfaatkan oleh sistem biologis.
ZIS : ZIS mengambil kekayaan yang diperoleh individu atau kelompok tertentu dan mengubahnya menjadi modal sosial dan ekonomi bagi masyarakat yang kurang mampu. Melalui ZIS, uang yang pasif menjadi aktif dan produktif, membiayai kebutuhan dasar, pendidikan, atau bahkan modal usaha.
2. Prinsip Redistribusi dan Sirkulasi
Fotosintesis : Energi yang dihasilkan oleh fotosintesis tidak hanya untuk tumbuhan itu sendiri. Ia menjadi dasar rantai makanan. Herbivora memakan tumbuhan, karnivora memakan herbivora, dan seterusnya. Ini adalah contoh sempurna dari redistribusi energi dalam ekosistem. Energi dan nutrisi mengalir dari produsen ke konsumen, memastikan kelangsungan hidup seluruh ekosistem.
ZIS : ZIS secara eksplisit dirancang sebagai mekanisme distribusi ulang kekayaan. Zakat diambil dari yang kaya dan diberikan kepada yang membutuhkan (asnaf). Ini menciptakan sirkulasi ekonomi yang sehat, mencegah penggembalaan harta, dan mengurangi ketidaksetaraan. Uang tidak hanya berputar di antara segelintir orang, tetapi menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
3. Keberlanjutan Sistem
Fotosintesis : Fotosintesis adalah kunci ekologi ekologis. Dengan menghasilkan oksigen dan menyerap CO2, ia menjaga komposisi atmosfer yang stabil. Tanpa fotosintesis, kehidupan di Bumi seperti yang kita tahu tidak akan ada. Proses ini adalah fondasi bagi ekosistem yang seimbang dan berkelanjutan.
ZIS : ZIS adalah instrumen untuk keinginan sosial. Dengan mengurangi kemiskinan dan ketidaksetaraan, ZIS mencegah gejolak sosial dan ekonomi. Masyarakat yang lebih adil dan sejahtera cenderung lebih stabil dan produktif. ZIS mendorong masyarakat untuk saling menjaga dan menanggung, menciptakan kohesi sosial yang kuat dan berkelanjutan dari generasi ke generasi.
Kesimpulan
Analisis komparatif antara fotosintesis dan ZIS mengungkapkan kesamaan yang mendalam di balik perbedaan domain mereka. Keduanya beroperasi berdasarkan prinsip dasar yang sama: mengambil sumber daya dari satu titik, mentransformasikannya, dan mendistribusikannya untuk kepentingan dan ekosistem yang lebih besar—baik itu ekosistem global atau masyarakat. Fotosintesis adalah model biologi untuk kepunahan ekologis, sedangkan ZIS adalah model sosiologis untuk kepunahan ekonomi dan sosial. Dengan memahami analogi ini, kita dapat menghargai ZIS bukan hanya sebagai kewajiban keagamaan, tetapi sebagai sistem yang secara fundamental dirancang untuk mencerminkan efisiensi dan keseimbangan yang kita amati di alam.
ARTIKEL22/09/2025 | Fach
Keajaiban Sedekah: Satu Kebaikan Membuka Ribuan Pintu Rezeki
Sedekah merupakan salah satu amalan mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam. Amalan ini tidak hanya memberi manfaat bagi penerimanya, tetapi juga membuka pintu keberkahan dan kebaikan yang luas bagi siapa saja yang menunaikannya. Satu sedekah yang dilakukan dengan tulus bisa menjadi kunci terbukanya ribuan kebaikan dalam kehidupan.
Banyak orang menganggap sedekah sebagai amalan sederhana, padahal sesungguhnya ia menyimpan keajaiban yang besar. Sedekah mampu menenangkan jiwa, membersihkan hati dari sifat kikir, sekaligus menjadi cahaya dan pertolongan bagi mereka yang membutuhkan.
Keutamaan dan Manfaat Sedekah
Keajaiban sedekah dapat dirasakan dalam berbagai aspek kehidupan, di antaranya:
Mendatangkan rahmat dan keberkahan dari Allah SWT.
Menjadi perlindungan dari musikbah yang tidak terduga.
Membuka pintu rezeki yang luas serta datang dari arah yang tak disangka-sangka.
Membersihkan hati dan jiwa dari sifat iri, dengki, dan kikir.
Meningkatkan empati dan kepedulian sosial, sehingga tercipta masyarakat yang lebih harmonis.
Sedekah dan Keajaiban dalam Kehidupan
Satu sedekah kecil yang dilakukan dengan ikhlas sering kali membawa dampak besar dalam kehidupan seseorang. Keajaiban itu tidak selalu berupa harta, melainkan juga berupa kesehatan, ketenangan batin, kemudahan dalam urusan, hingga solusi dari berbagai masalah hidup.
Banyak kisah nyata menunjukkan bahwa orang yang rajin bersedekah sering kali mendapat pertolongan Allah SWT dengan cara yang tak terduga: rezeki menjadi lancar, usaha berkembang, atau datangnya peluang baru yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Peran Penting BAZNAS dalam Menyalurkan Sedekah
Agar sedekah benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan, peran lembaga resmi seperti Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) sangatlah penting. Melalui BAZNAS, sedekah dikelola secara profesional, transparan, dan tepat sasaran, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara nyata oleh para mustahik.
Dengan disalurkan sedekah melalui BAZNAS, setiap kebaikan yang kita berikan dapat menjadi lebih luas dampaknya, mulai dari membantu fakir miskin, anak yatim, dhuafa, hingga mendukung pembangunan fasilitas umum dan program pemberdayaan masyarakat.
Sedekah Sebagai Investasi Akhirat
Sedekah bukan hanya urusan materi, namun juga wujud ketaatan dan penguatan iman. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
“Tidaklah kamu memberikan nafkah (sedekah) kepada seseorang untuk mengharapkan keridhaan dari Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Menerima (pemberian) dan Maha Mengetahui.” [QS. Al-Baqarah: 272]
Kesimpulan
Sedekah adalah investasi kebaikan yang tidak pernah merugikan. Dengan satu sedekah kecil, kita bisa membuka pintu keberkahan yang luas bagi diri kita sendiri sekaligus memberi manfaat nyata bagi mereka yang membutuhkannya.
Melalui BAZNAS, sedekah yang kita salurkan dikelola dengan amanah dan profesional, sehingga setiap kebaikan yang kita tanam dapat tumbuh menjadi manfaat yang besar bagi umat. Mari wujudkan kehidupan yang lebih berkah dengan sedekah, dan rasakan bagaimana Allah SWT melipatgandakan kebaikan dalam setiap aspek kehidupan.
ARTIKEL22/09/2025 | Listy
Keutamaan Bulan Rabiul Awal dan Spirit Zakat, Infak, serta Sedekah
Bulan Rabiul Awal adalah salah satu bulan yang penuh makna bagi umat Islam. Di bulan inilah Rasulullah SAW lahir, membawa risalah Islam yang menuntun umat manusia menuju cahaya iman dan kehidupan yang penuh keberkahan. Tidak mengherankan jika bulan Rabiul Awal selalu menjadi momentum istimewa untuk memperkuat kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, sekaligus meneladani akhlak mulia beliau.
Salah satu teladan utama Nabi SAW adalah kepedulian sosial. Beliau senantiasa mendorong umatnya untuk membantu sesama, menguatkan ikatan ukhuwah, dan menebarkan kasih sayang melalui Zakat, Infak, maupun Sedekah. Karena itu, Rabiul Awal bukan sekadar bulan peringatan, tetapi juga bulan refleksi untuk memperbanyak amal kebaikan.
1. Rabiul Awal dan Semangat Kepedulian Sosial
Rabiul Awal mengingatkan kita pada hadirnya sosok Nabi yang penuh kasih sayang kepada umat manusia. Salah satu misi kerasulan beliau adalah membangun masyarakat yang adil dan sejahtera. Zakat, Infak, dan Sedekah menjadi instrumen nyata dalam mewujudkan misi tersebut.
Zakat membersihkan harta sekaligus menyalurkannya kepada yang berhak, sehingga terjadi pemerataan kesejahteraan.
Infak membuka ruang bagi setiap orang untuk beramal sesuai kemampuannya, baik dalam keadaan lapang maupun sempit.
Sedekah menumbuhkan keikhlasan dan kepedulian, bukan hanya dengan harta, tetapi juga dengan senyuman, tenaga, atau ilmu.
Dengan demikian, bulan Rabiul Awal adalah waktu yang tepat untuk meneguhkan kembali semangat berbagi sebagai wujud cinta kepada Nabi Muhammad SAW.
2. Meneladani Kedermawanan Rasulullah
Dalam berbagai riwayat, Rasulullah SAW dikenal sebagai pribadi yang sangat dermawan, terlebih di momen-momen istimewa. Ketika beliau hadir di tengah umatnya, rasa aman dan sejahtera semakin terasa. Rabiul Awal yang menjadi bulan kelahiran beliau seharusnya menjadi pengingat bagi kita untuk meneladani sifat kedermawanan tersebut.
Berinfak dan bersedekah pada bulan ini memiliki nilai spiritual yang tinggi, sebab ia tidak hanya dimaknai sebagai ibadah sosial, tetapi juga bentuk syukur atas kelahiran Sang Nabi. Semakin banyak kita berbagi, semakin kuat pula ikatan cinta kita kepada Rasulullah SAW.
3. Momentum Menghidupkan Gerakan Berbagi
Bulan Rabiul Awal bisa dijadikan momentum untuk menghidupkan kembali semangat zakat, infak, dan sedekah dalam masyarakat. Lembaga zakat, masjid, maupun komunitas sosial dapat mengadakan berbagai kegiatan seperti:
Gerakan sedekah harian sebagai bentuk kepedulian kepada fakir miskin.
Pengumpulan zakat maal yang terorganisir untuk pemberdayaan umat.
Infak pendidikan bagi anak-anak yatim dan dhuafa, sebagai investasi masa depan.
Kegiatan semacam ini bukan hanya memberi manfaat bagi penerima, tetapi juga mengokohkan ukhuwah Islamiyah serta memperluas keberkahan dalam kehidupan sosial.
4. Kesimpulan
Rabiul Awal adalah bulan penuh cahaya, karena dari bulan inilah lahir sosok yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Momen ini sebaiknya tidak hanya diisi dengan perayaan seremonial, tetapi juga dengan menghidupkan nilai-nilai yang beliau ajarkan.
Zakat, infak, dan sedekah adalah wujud nyata meneladani Rasulullah SAW. Dengan memperbanyak amal sosial di bulan Rabiul Awal, kita bukan hanya menebar kebaikan bagi sesama, tetapi juga memperkokoh kecintaan kita kepada Nabi dan memperoleh keberkahan dari Allah SWT.
ARTIKEL19/09/2025 | Bram
Kisah Dakwah Nabi Muhammad SAW di Bulan Rabiul Awal: Ajakan untuk Berinfak dan Relevansinya pada Zaman Sekarang
Bulan Rabiul Awal adalah salah satu bulan yang memiliki posisi istimewa dalam sejarah Islam. Di bulan inilah Rasulullah Muhammad SAW dilahirkan ke dunia, sebagai rahmat bagi seluruh alam. Kehadirannya bukan sekadar menjadi peristiwa sejarah, tetapi juga awal dari perubahan besar dalam tatanan sosial, moral, dan spiritual umat manusia. Oleh karena itu, setiap kali bulan Rabiul Awal tiba, umat Islam selalu diingatkan pada keteladanan Rasulullah, terutama dalam dakwahnya yang sarat dengan nilai kasih sayang, kepedulian, dan ajakan untuk berbagi.
Salah satu ajaran penting yang selalu beliau sampaikan sejak awal dakwah adalah perintah untuk berinfak. Pada masa itu, masyarakat Arab hidup dalam struktur sosial yang timpang. Golongan kaya menguasai perdagangan dan harta, sementara mayoritas kaum miskin, yatim, serta budak terabaikan. Tidak jarang terjadi ketidakadilan, ketidakadilan, dan minimnya solidaritas. Nabi Muhammad SAW datang dengan membawa risalah tauhid, namun beliau juga menegakkan misi sosial: menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
Dakwah Infak pada Masa Rasulullah
Sejak tahun-tahun awal kenabian, Rasulullah SAW menekankan bahwa iman bukan hanya diukur dari ucapan, tetapi juga dari kepedulian yang nyata kepada orang lain. Salah satu bentuknya adalah melalui infak. Infak yang beliau ajarkan tidak selalu menuntut jumlah besar, melainkan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Bahkan, sebutir kurma yang diberikan dengan ikhlas jauh lebih bernilai dibandingkan harta berlimpah yang diberikan dengan riya.
Dalam sejarah, diceritakan bahwa para sahabat sangat tergerak oleh ajakan ini. Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, misalnya, dikenal sebagai sahabat yang sering menyerahkan hartanya untuk mendukung perjuangan dakwah. Umar bin Khattab RA pun pernah membawa setengah dari hartanya untuk perjuangan Islam, sementara Utsman bin Affan RA menyumbangkan harta besar demi mendukung pasukan dalam Perang Tabuk. Di sisi lain, sahabat-sahabat yang miskin pun tidak ketinggalan. Mereka berinfak dengan apa yang mereka punya, meski hanya menyebut kurma atau tenaga untuk membantu sesama.
Konteks ini menampilkan bahwa dakwah Nabi di bulan Rabiul Awal tidak hanya mengajak umat kepada tauhid, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial. Islam datang untuk membangun masyarakat yang berkeadilan, di mana yang kaya menolong yang miskin, dan yang kuat melindungi yang lemah.
Makna Infak di Era Modern
Jika ditarik ke masa sekarang, pesan Nabi tentang infak sangat relevan. Masyarakat modern masih menghadapi tantangan besar: kemiskinan, kemiskinan ekonomi, kemiskinan, serta lemahnya solidaritas. Di tengah perkembangan teknologi dan arus globalisasi, sering kali orang terjebak dalam kehidupan individualistis, lebih fokus pada kepentingan pribadi daripada kepedulian sosial.
Didalamnya ajaran Nabi menjadi solusi. Infak bukan hanya sebatas ritual, namun sebuah sistem sosial yang bisa mengurangi jurang antara kaya dan miskin. Melalui infak, zakat, dan sedekah, harta tidak menumpuk pada satu golongan saja, melainkan mengalir untuk kemaslahatan bersama. Lembaga zakat di era sekarang merupakan perpanjangan dari ajaran Nabi, yang mengelola infak umat untuk membantu pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, hingga penanggulangan bencana.
Lebih dari itu, infak di zaman modern tidak terbatas pada uang. Teknologi telah membuka peluang baru: seseorang dapat berinfak dengan tenaga, ide, bahkan keterampilan digital. Membagikan ilmu di ruang publik, mengajar anak-anak yang kurang mampu, atau menggunakan media sosial untuk menggalang bantuan kemanusiaan—semuanya adalah bentuk infak kontemporer. Inilah bukti bahwa nilai yang diajarkan Nabi selalu bisa diterapkan sesuai dengan zaman.
Rabiul Awal sebagai Momentum Kepedulian
Setiap kali bulan Rabiul Awal tiba, umat Islam tidak hanya memperingati kelahiran Rasulullah, tetapi juga diajak untuk meneladani akhlak dan misi dakwah beliau. Salah satu misi yang paling nyata adalah menghidupkan semangat infak. Jika pada masa Nabi, infak menjadi penopang utama dakwah Islam hingga tegaknya peradaban, maka di era sekarang, infak bisa menjadi jalan untuk membangun masyarakat yang lebih adil, sejahtera, dan berdaya.
Menghidupkan semangat infak di bulan Rabiul Awal berarti menghadirkan kembali nilai kepedulian dan kebersamaan di tengah kehidupan yang semakin materialistis. Dengan infak, kita belajar bahwa harta hanyalah titipan, dan sebaik-baiknya harta adalah yang memberi manfaat bagi sesama.
Penutup
Kisah dakwah Nabi Muhammad SAW di bulan Rabiul Awal mengajarkan bahwa keberagamaan yang sejati tidak hanya diukur dari seberapa kuat kita beribadah secara ritual, tetapi juga seberapa besar kepedulian kita terhadap orang lain. Ajakan Nabi untuk berinfak bukan sekedar instruksi, melainkan jalan untuk membangun masyarakat yang berlandaskan keadilan dan kasih sayang.
Di era modern, pesan itu semakin relevan. Infak menjadi sarana untuk menyeimbangkan kehidupan sosial, mengurangi kesenjangan, serta menumbuhkan solidaritas di tengah tantangan zaman. Oleh karena itu, memperingati Rabiul Awal hendaknya tidak berhenti pada seremonial perayaan, melainkan menjadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat berbagi dan meneladani Rasulullah dalam kepedulian sosial.
ARTIKEL19/09/2025 | Bram
Peran Teknologi dalam Mendorong Semangat Zakat, Infak, dan Sedekah di Era Digital
Di era modern yang serba cepat ini, teknologi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Hampir setiap aktivitas kini terhubung dengan perangkat digital, mulai dari komunikasi, transaksi ekonomi, hingga aktivitas sosial. Perubahan besar ini juga membawa dampak signifikan terhadap cara umat Islam menunaikan kewajiban sosial keagamaan, khususnya zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Jika dahulu orang harus mendatangi masjid, lembaga amil, atau langsung menemui penerima manfaat, kini teknologi membuka jalan baru yang lebih mudah, transparan, dan luas jangkauannya.
Teknologi sebagai Jembatan Kebaikan
Zakat, infak, dan sedekah adalah bentuk ibadah yang berorientasi sosial. Tujuannya tidak hanya membersihkan harta, tetapi juga menolong mereka yang membutuhkan. Namun, dalam praktiknya, banyak orang yang memiliki niat baik namun terhambat oleh faktor waktu, jarak, dan keterbatasan informasi. Di sinilah peran teknologi menjadi penting.
Melalui aplikasi digital, platform crowdfunding, dan layanan transfer online, siapa pun kini dapat menunaikan zakat, infak, atau sedekah hanya dengan sentuhan jari. Tak perlu lagi menunggu datang ke masjid atau lembaga zakat, karena transaksi bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Kemudahan ini membuat semakin banyak orang tergerak untuk berkontribusi, bahkan dalam jumlah kecil sekalipun.
Contohnya, seseorang yang memiliki sisa saldo uang elektronik dapat langsung menyalurkannya sebagai infak. Meski jumlahnya kecil, ketika dilakukan secara kolektif oleh ribuan orang, dampaknya bisa sangat besar. Inilah kekuatan teknologi: ia memudahkan kebaikan dan memperluas partisipasi.
Efek Viral Kebaikan
Salah satu keunikan teknologi digital adalah kemampuannya menyebarkan pesan secara cepat dan luas. Kisah tentang orang miskin yang membutuhkan bantuan, program beasiswa untuk anak yatim, atau gerakan peduli bencana bisa viral di media sosial.
Ketika seseorang membagikan pengalaman berzakat atau bersedekah melalui platform digital, hal itu bisa menjadi inspirasi bagi orang lain untuk melakukan hal serupa. Efek domino ini membuat satu aksi kebaikan tidak berhenti pada individu saja, melainkan berkembang menjadi gerakan bersama.
Bahkan, banyak lembaga amil zakat kini menggunakan kampanye digital dengan konten visual yang menyentuh hati. Foto, video, dan testimoni penerima manfaat mampu mengetuk nurani orang-orang yang sebelumnya mungkin belum tergerak. Teknologi dengan demikian berfungsi sebagai amplifier kebaikan: memperbesar pengaruh sebuah aksi hingga menjangkau lebih banyak pihak.
Transparansi dan Kepercayaan
Salah satu tantangan terbesar dalam pengelolaan zakat dan sedekah adalah masalah kepercayaan. Banyak orang yang ragu apakah dana yang mereka salurkan benar-benar sampai kepada yang membutuhkan. Teknologi menjawab keraguan ini dengan menghadirkan sistem pelaporan digital.
Melalui aplikasi, para donatur bisa melihat laporan penggunaan dana, foto kegiatan penyaluran, hingga kisah nyata penerima manfaat. Transparansi ini bukan hanya memperkuat kepercayaan, tetapi juga membuat orang merasa yakin bahwa kebaikan yang mereka lakukan benar-benar berdampak. Ketika rasa percaya itu tumbuh, maka orang akan lebih konsisten dalam berinfak dan bahkan mengajak orang lain untuk ikut serta.
Menggerakkan Generasi Muda
Generasi milenial dan Gen Z adalah kelompok yang akrab dengan teknologi. Mereka lebih sering menggunakan gawai untuk berinteraksi, berbelanja, bahkan belajar. Teknologi membuka ruang agar zakat, infak, dan sedekah bisa masuk dalam gaya hidup mereka.
Dengan sistem yang cepat, praktis, dan transparan, berzakat bukan lagi dianggap rumit atau kaku, melainkan sesuatu yang mudah dan menyenangkan. Bahkan, beberapa platform digital mengembangkan fitur “sedekah rutin” yang secara otomatis memotong saldo setiap bulan untuk disalurkan. Dengan cara ini, anak muda bisa berlatih konsistensi dalam berinfak, sambil merasakan bahwa ibadah sosial dapat dilakukan tanpa harus meninggalkan aktivitas sehari-hari.
Dampak Sosial yang Lebih Luas
Teknologi tidak hanya memudahkan donasi, tetapi juga memperluas dampak sosial. Lembaga zakat kini bisa mengelola dana dengan lebih efektif, menyalurkannya tidak hanya dalam bentuk bantuan langsung, tetapi juga program pemberdayaan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.
Bayangkan, satu klik infak dari ribuan orang di berbagai kota bisa membiayai pembangunan sekolah gratis, menyediakan layanan kesehatan bagi dhuafa, atau membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat kecil. Teknologi menjadikan zakat dan sedekah sebagai instrumen pembangunan sosial yang berkelanjutan, bukan hanya sekadar bantuan sesaat.
Penutup
Teknologi di era digital bukan hanya alat hiburan atau transaksi ekonomi, tetapi juga jembatan kebaikan yang mampu menggerakkan hati banyak orang untuk berzakat, berinfak, dan bersedekah. Kemudahan akses, transparansi, serta efek viral di media sosial membuat semangat berbagi semakin meluas.
Dengan memanfaatkan teknologi secara positif, umat Islam bisa menghidupkan kembali ajaran Nabi Muhammad SAW tentang kepedulian sosial dalam konteks kekinian. Satu klik infak bukan hanya sekadar transfer dana, tetapi sebuah langkah kecil yang bisa menginspirasi ribuan orang lain untuk melakukan hal yang sama. Semakin banyak yang tergerak, semakin banyak pula saudara-saudara kita yang terbantu.
ARTIKEL19/09/2025 | Bram

Info Rekening Zakat
Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.
BAZNAS
Info Rekening Zakat
