WhatsApp Icon
Memperkuat Toleransi sebagai Fondasi Harmoni Sosial dan Kesejahteraan Bersama BAZNAS Surabaya

Toleransi menjadi salah satu nilai penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang dikenal dengan keberagamannya. Perbedaan agama, budaya, suku, dan latar belakang sosial merupakan realitas yang tidak dapat dihindari, melainkan harus dikelola dengan bijak. Dalam hal ini, toleransi tidak cukup dipahami sebagai sikap pasif, tetapi perlu diwujudkan dalam tindakan nyata yang mampu menjaga keharmonisan sosial. Oleh karena itu, penguatan toleransi menjadi langkah strategis dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang damai dan sejahtera. Dalam ajaran Islam, toleransi dikenal dengan istilah tasamuh, yaitu sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan. Nilai ini menekankan pentingnya menjunjung tinggi kemanusiaan tanpa menghilangkan prinsip-prinsip keimanan. Islam mengajarkan umatnya untuk hidup berdampingan secara damai dengan siapa pun, serta menghindari sikap diskriminatif. Dengan demikian, toleransi bukan hanya nilai sosial, tetapi juga bagian dari implementasi ajaran agama yang menekankan kasih sayang dan keadilan.

Di era modern saat ini, tantangan dalam menjaga toleransi semakin kompleks. Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat seringkali memicu munculnya kesalahpahaman akibat informasi yang tidak terverifikasi. Perbedaan pendapat yang tidak dikelola dengan baik dapat berkembang menjadi konflik sosial. Dalam situasi seperti ini, penting bagi masyarakat untuk memiliki sikap terbuka, mampu menyaring informasi, serta mengedepankan dialog sebagai solusi dalam menyelesaikan perbedaan. Implementasi toleransi dapat dilihat melalui berbagai aktivitas sosial yang melibatkan banyak pihak. Kegiatan gotong royong, aksi kemanusiaan, serta program pemberdayaan masyarakat merupakan contoh nyata bagaimana nilai toleransi dapat diwujudkan. Ketika individu dari latar belakang yang berbeda bekerja sama untuk tujuan yang sama, akan tercipta rasa kebersamaan yang kuat. Hal ini pada akhirnya mampu mempererat hubungan sosial dan mengurangi potensi konflik.

Dalam konteks pengelolaan zakat dan filantropi Islam, toleransi memiliki peran yang sangat penting. Lembaga seperti BAZNAS tidak hanya berfungsi sebagai penyalur bantuan, tetapi juga sebagai penggerak nilai-nilai sosial yang inklusif. Program-program yang dijalankan bertujuan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan tanpa memandang perbedaan latar belakang. Pendekatan ini mencerminkan bahwa zakat tidak hanya berdimensi ibadah, tetapi juga memiliki fungsi sosial yang luas. Selain itu, edukasi menjadi salah satu kunci dalam memperkuat toleransi di masyarakat. Pemahaman yang baik mengenai pentingnya menghargai perbedaan perlu ditanamkan sejak dini. Melalui pendidikan, individu akan lebih mudah menerima keberagaman sebagai bagian dari kehidupan. Hal ini penting untuk membentuk generasi yang memiliki pola pikir terbuka dan mampu berinteraksi secara positif dengan berbagai kelompok masyarakat. Peran generasi muda juga tidak dapat diabaikan dalam upaya memperkuat toleransi. Sebagai pengguna aktif media sosial, generasi muda memiliki peluang besar untuk menyebarkan pesan-pesan positif. Mereka dapat menjadi agen perubahan dengan mempromosikan nilai-nilai kebersamaan, menghargai perbedaan, serta menolak segala bentuk ujaran kebencian. Dengan pemanfaatan teknologi yang tepat, media sosial dapat menjadi sarana efektif dalam membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya toleransi.

Dengan demikian, toleransi merupakan fondasi utama dalam menciptakan masyarakat yang harmonis dan sejahtera. Nilai ini tidak hanya penting untuk menjaga stabilitas sosial, tetapi juga mendukung keberhasilan berbagai program pembangunan. Ketika masyarakat hidup dalam suasana yang rukun, maka upaya pemberdayaan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan dapat berjalan dengan lebih optimal. Sebagai penutup, memperkuat toleransi adalah tanggung jawab bersama. Setiap individu memiliki peran dalam menjaga keharmonisan melalui sikap saling menghormati, keterbukaan, dan kepedulian terhadap sesama. Dengan mengedepankan nilai-nilai tersebut, diharapkan tercipta masyarakat yang damai, inklusif, dan berkeadilan. Inilah langkah nyata dalam membangun kehidupan sosial yang lebih baik dan berkelanjutan.

02/04/2026 | Kontributor: Azizah
Momentum Transformasi Spiritual dan Penguatan Kepedulian Sosial Berkelanjutan di Bulan Syawal bersama BAZNAS Surabaya

Bulan Syawal menempati posisi yang istimewa dalam kalender Islam karena menjadi fase lanjutan setelah Ramadhan. Jika Ramadhan dipahami sebagai masa pembinaan spiritual yang intens, maka Syawal merupakan ruang implementasi dari nilai-nilai yang telah ditanamkan selama sebulan penuh. Oleh sebab itu, Hari Raya Idul Fitri tidak hanya dimaknai sebagai perayaan kemenangan, tetapi juga sebagai titik awal untuk menjaga kesinambungan amal kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.

Secara makna, Syawal sering diartikan sebagai peningkatan atau kenaikan derajat. Pemaknaan ini memberikan pesan bahwa setiap Muslim diharapkan tidak kembali pada kebiasaan lama setelah Ramadhan berakhir. Sebaliknya, terdapat dorongan untuk mempertahankan bahkan meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan. Nilai-nilai seperti kejujuran, kesabaran, dan kepedulian sosial yang telah dilatih selama Ramadhan perlu terus dihidupkan dalam berbagai aspek kehidupan. Salah satu amalan yang dianjurkan pada bulan Syawal adalah puasa enam hari. Ibadah ini tidak hanya memiliki nilai pahala yang besar, tetapi juga berfungsi sebagai sarana pembentukan karakter. Melalui puasa Syawal, individu dilatih untuk tetap konsisten dalam beribadah, menjaga pengendalian diri, serta memperkuat komitmen spiritual. Dalam konteks kehidupan modern, latihan semacam ini menjadi penting karena manusia dihadapkan pada berbagai godaan yang dapat melemahkan integritas diri. Selain aspek ibadah personal, Syawal juga erat kaitannya dengan penguatan hubungan sosial. Tradisi saling berkunjung dan halal bihalal menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Momentum ini membuka ruang untuk memperbaiki hubungan yang renggang, menghapus kesalahpahaman, serta mempererat tali persaudaraan. Dengan demikian, Syawal berperan sebagai sarana rekonsiliasi sosial yang mampu menciptakan suasana harmonis di tengah masyarakat.

Dalam perspektif yang lebih luas, Syawal juga memiliki relevansi kuat dengan penguatan nilai-nilai filantropi Islam. Setelah umat Muslim menunaikan zakat fitrah pada akhir Ramadhan, semangat berbagi seharusnya tidak berhenti begitu saja. Justru, Syawal menjadi waktu yang tepat untuk memperluas praktik kedermawanan melalui zakat, infak, dan sedekah secara berkelanjutan. Hal ini penting mengingat masih banyak masyarakat yang membutuhkan dukungan untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Peran lembaga pengelola zakat seperti BAZNAS menjadi sangat strategis dalam konteks ini. Melalui berbagai program yang dirancang secara sistematis, zakat tidak hanya disalurkan untuk memenuhi kebutuhan konsumtif, tetapi juga diarahkan pada upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pendekatan ini memungkinkan penerima manfaat untuk meningkatkan kemandirian, sehingga pada akhirnya dapat bertransformasi dari penerima zakat menjadi pihak yang turut berkontribusi. Lebih jauh, nilai-nilai yang terkandung dalam Syawal dapat dijadikan sebagai landasan dalam pembangunan sosial. Semangat kebersamaan, kepedulian, dan keberlanjutan merupakan elemen penting dalam menciptakan masyarakat yang inklusif dan berdaya. Ketika nilai-nilai tersebut diimplementasikan secara kolektif, maka akan terbentuk sistem sosial yang saling mendukung dan berorientasi pada kesejahteraan bersama.

Dengan demikian, Syawal tidak seharusnya dipandang sebagai akhir dari rangkaian ibadah Ramadhan. Sebaliknya, bulan ini merupakan momentum untuk melakukan refleksi sekaligus aksi nyata dalam kehidupan sosial. Setiap individu memiliki peran untuk menjaga kualitas ibadah, memperkuat hubungan antarsesama, serta berkontribusi dalam kegiatan sosial yang membawa manfaat luas.Sebagai penutup, penting bagi kita untuk menjadikan Syawal sebagai awal dari perjalanan baru dalam meningkatkan kualitas diri dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Konsistensi dalam beribadah, semangat berbagi, serta keterlibatan aktif dalam kegiatan sosial merupakan bentuk nyata dari keberhasilan menjalani Ramadhan. Dengan cara ini, nilai-nilai spiritual tidak hanya berhenti sebagai pengalaman sementara, tetapi benar-benar menjadi bagian dari gaya hidup yang memberikan dampak positif bagi masyarakat secara luas.

02/04/2026 | Kontributor: Azizah
Merajut Kebaikan di Bulan Syawal Bersama BAZNAS Surabaya

Bulan Syawal merupakan momentum istimewa bagi umat Islam setelah menjalani ibadah Ramadan selama sebulan penuh. Syawal tidak hanya dimaknai sebagai hari kemenangan, tetapi juga sebagai titik awal untuk mempertahankan dan meningkatkan nilai-nilai kebaikan yang telah dilatih selama Ramadan, seperti kepedulian sosial, keikhlasan, dan semangat berbagi. Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, nilai-nilai tersebut sangat relevan untuk terus dihidupkan, terutama melalui berbagai kegiatan sosial yang memberikan manfaat nyata bagi sesama. Di sinilah peran Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Surabaya menjadi sangat penting sebagai lembaga yang menjembatani semangat berbagi umat dengan kebutuhan masyarakat yang membutuhkan.

Sebagai lembaga resmi pengelola zakat, infak, dan sedekah, BAZNAS Surabaya terus berupaya merajut kebaikan di bulan Syawal dengan menghadirkan berbagai program yang berfokus pada pemberdayaan dan kesejahteraan masyarakat. Setelah Ramadan yang identik dengan peningkatan penghimpunan zakat, Syawal menjadi momentum strategis untuk mengoptimalkan penyaluran dana tersebut secara tepat sasaran. Melalui program-program unggulan seperti bantuan pendidikan, santunan bagi dhuafa, pemberdayaan ekonomi umat, hingga layanan kesehatan, BAZNAS Surabaya berkomitmen untuk memastikan bahwa kebahagiaan Idulfitri dapat dirasakan secara lebih merata oleh seluruh lapisan masyarakat.

Lebih dari sekadar penyaluran bantuan, BAZNAS Surabaya juga mengedepankan pendekatan pemberdayaan agar masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga mampu mandiri secara ekonomi. Program pelatihan keterampilan, bantuan modal usaha, serta pendampingan bagi pelaku usaha mikro menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam mengentaskan kemiskinan. Semangat Syawal yang identik dengan kebersamaan dan saling memaafkan menjadi landasan kuat untuk membangun kembali harapan dan optimisme masyarakat dalam menjalani kehidupan yang lebih baik.

Selain itu, BAZNAS Surabaya juga ??????? mengajak masyarakat untuk terus menyalurkan zakat, infak, dan sedekah tidak hanya di bulan Ramadan, tetapi juga sepanjang tahun, termasuk di bulan Syawal. Kesadaran bahwa berbagi adalah kebutuhan spiritual sekaligus sosial perlu terus ditanamkan agar tercipta ekosistem kebaikan yang berkelanjutan. Dengan dukungan masyarakat yang semakin luas, program-program yang dijalankan diharapkan dapat menjangkau lebih banyak penerima manfaat dan memberikan dampak yang lebih signifikan.

Pada akhirnya, merajut kebaikan di bulan Syawal bukan hanya menjadi tanggung jawab lembaga tertentu, tetapi merupakan tugas bersama seluruh elemen masyarakat. BAZNAS K Surabaya hadir sebagai fasilitator yang mengelola amanah umat secara profesional dan transparan, sehingga setiap kontribusi yang diberikan dapat memberikan manfaat yang maksimal. Dengan menjaga semangat Ramadan dan mengaktualisasikannya di bulan Syawal, diharapkan nilai-nilai kebaikan dapat terus tumbuh dan mengakar dalam kehidupan sehari-hari, menciptakan masyarakat Surabaya yang lebih peduli, sejahtera, dan berkeadilan.

02/04/2026 | Kontributor: Fia
Bulan Syawal: Momentum Kemenangan dan Refleksi Diri

Bulan Syawal merupakan salah satu momen penting dalam kalender Hijriyah yang memiliki makna mendalam bagi umat Islam. Kehadirannya menandai berakhirnya bulan Ramadan, yaitu bulan penuh ibadah, pengendalian diri, dan peningkatan spiritualitas. Syawal tidak hanya dipahami sebagai bulan perayaan, tetapi juga sebagai simbol kemenangan setelah umat Islam berhasil menjalani berbagai ujian selama Ramadan.

Hari pertama di bulan Syawal dirayakan sebagai Hari Raya Idulfitri. Perayaan ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan bentuk ungkapan syukur atas keberhasilan dalam menunaikan ibadah puasa. Idulfitri juga dimaknai sebagai kembalinya manusia kepada fitrah, yaitu keadaan suci dan bersih dari dosa. Oleh karena itu, tradisi saling memaafkan menjadi bagian yang sangat penting, karena mencerminkan upaya untuk membersihkan hati dan memperbaiki hubungan antarsesama.

Makna kemenangan dalam bulan Syawal tidak hanya bersifat lahiriah, tetapi juga batiniah. Kemenangan sejati adalah ketika seseorang mampu mengendalikan hawa nafsu, memperbaiki akhlak, serta meningkatkan kualitas keimanan. Nilai-nilai yang telah dibangun selama Ramadan seharusnya tidak berhenti begitu saja, melainkan terus dijaga dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Syawal menjadi titik awal untuk mempertahankan kebiasaan baik seperti salat tepat waktu, membaca Al-Qur’an, dan berbagi kepada sesama.

Selain itu, bulan Syawal juga menjadi momentum refleksi diri. Umat Islam diajak untuk mengevaluasi sejauh mana perubahan yang telah dicapai selama Ramadan. Refleksi ini penting agar seseorang dapat memahami kekurangan yang masih ada dan berusaha memperbaikinya. Dengan demikian, Syawal bukan hanya tentang merayakan kemenangan, tetapi juga tentang merencanakan langkah ke depan agar menjadi pribadi yang lebih baik.

Salah satu amalan yang dianjurkan di bulan Syawal adalah puasa enam hari. Ibadah ini memiliki keutamaan besar, karena dapat menyempurnakan pahala puasa Ramadan. Lebih dari itu, puasa Syawal juga melatih konsistensi dalam beribadah serta menunjukkan bahwa semangat spiritual tidak berhenti setelah Ramadan berakhir.

Di sisi sosial, Syawal identik dengan tradisi silaturahmi. Masyarakat saling berkunjung, mempererat hubungan kekeluargaan, dan membangun kembali kebersamaan. Nilai-nilai ini sangat penting dalam menciptakan kehidupan sosial yang harmonis dan penuh empati. Dalam konteks yang lebih luas, silaturahmi juga dapat memperkuat solidaritas dan rasa persatuan di tengah masyarakat yang beragam.

Namun, tantangan terbesar setelah Ramadan adalah menjaga konsistensi dalam kebaikan. Tidak sedikit orang yang kembali pada kebiasaan lama setelah bulan suci berakhir. Oleh karena itu, Syawal seharusnya dijadikan sebagai awal baru untuk terus meningkatkan kualitas diri, baik dalam aspek spiritual maupun sosial.

Dengan demikian, bulan Syawal bukan hanya sekadar bulan perayaan, tetapi juga momentum kemenangan dan refleksi diri. Ia mengajarkan bahwa keberhasilan sejati tidak hanya diukur dari selesainya ibadah Ramadan, tetapi dari kemampuan untuk mempertahankan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pemahaman ini, diharapkan setiap individu dapat menjadikan Syawal sebagai langkah awal menuju kehidupan yang lebih bermakna dan penuh keberkahan.

02/04/2026 | Kontributor: Caca
Hari Paskah dan Semangat Berbagi: Refleksi Kepedulian Bersama ala BAZNAS Surabaya

Perayaan Hari Paskah bagi umat Kristiani merupakan momentum penting yang sarat makna spiritual: kebangkitan, harapan, dan kemenangan atas penderitaan. Lebih dari sekadar perayaan keagamaan, Paskah juga membawa pesan universal tentang kasih, pengorbanan, dan kepedulian terhadap sesama—nilai-nilai yang sejatinya melampaui batas agama dan budaya.

Dalam konteks kehidupan masyarakat yang majemuk seperti di Kota Surabaya, nilai-nilai tersebut menemukan relevansinya dalam berbagai gerakan sosial. Salah satunya tercermin dalam aktivitas yang dilakukan oleh BAZNAS Kota Surabaya. Meskipun berlandaskan prinsip-prinsip Islam, lembaga ini menunjukkan bahwa semangat berbagi dan kepedulian sosial bersifat inklusif dan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang.

Paskah mengajarkan tentang pengorbanan dan cinta kasih yang tulus. Nilai ini sejalan dengan semangat zakat, infak, dan sedekah yang menjadi pilar dalam ajaran Islam. Dalam praktiknya, BAZNAS Surabaya terus mengembangkan berbagai program sosial seperti bantuan sembako, santunan dhuafa, layanan kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat. Program-program ini tidak hanya berfokus pada umat Muslim, tetapi juga menjangkau masyarakat luas yang membutuhkan.

Hal ini menunjukkan bahwa semangat kepedulian yang diusung dalam Paskah dapat menjadi titik temu dengan nilai-nilai sosial dalam Islam. Keduanya menekankan pentingnya kehadiran manusia untuk sesamanya, terutama bagi mereka yang berada dalam kondisi sulit.

Di tengah dinamika sosial dan tantangan ekonomi yang semakin kompleks, kolaborasi nilai-nilai lintas agama menjadi semakin penting. Kota Surabaya sebagai kota yang dikenal dengan semangat toleransi dan gotong royong memiliki potensi besar dalam membangun harmoni sosial berbasis kepedulian. Dalam hal ini, BAZNAS Surabaya dapat menjadi salah satu motor penggerak melalui program-program yang menyentuh kebutuhan masyarakat secara nyata.

Momentum Hari Paskah juga dapat menjadi refleksi bersama bahwa kemanusiaan adalah nilai utama yang harus dijaga. Ketika seseorang mampu membantu sesama, maka ia tidak hanya menjalankan ajaran agamanya, tetapi juga memperkuat ikatan sosial dalam masyarakat.

Dengan demikian, peringatan Paskah tidak hanya relevan bagi umat Kristiani, tetapi juga menjadi inspirasi bagi semua pihak untuk terus menumbuhkan empati dan solidaritas. Semangat kebangkitan yang dibawa Paskah dapat dimaknai sebagai kebangkitan kepedulian sosial—bangkit untuk lebih peka, lebih peduli, dan lebih aktif dalam membantu sesama.

Pada akhirnya, baik melalui zakat maupun aksi sosial lainnya, pesan yang ingin disampaikan tetap sama: bahwa keberagaman bukanlah penghalang untuk berbagi, melainkan kekuatan untuk membangun masyarakat yang lebih adil, harmonis, dan penuh kasih.

02/04/2026 | Kontributor: wahyu

Artikel Terbaru

Zakat sebagai Pilar Kepedulian Sosial dan Peran BAZNAS dalam Meningkatkan Kesejahteraan Umat
Zakat sebagai Pilar Kepedulian Sosial dan Peran BAZNAS dalam Meningkatkan Kesejahteraan Umat
Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki peran penting dalam membangun kepedulian sosial di tengah masyarakat. Selain menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT, zakat juga berfungsi sebagai instrumen pemerataan ekonomi yang mampu membantu mengurangi kesenjangan sosial. Melalui zakat, umat Islam diajarkan untuk berbagi dan membantu sesama, terutama mereka yang berada dalam kondisi kurang mampu. Secara bahasa, zakat memiliki arti suci, bersih, berkembang, dan berkah. Sementara secara istilah, zakat adalah sejumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh seorang Muslim yang telah memenuhi syarat tertentu, kemudian disalurkan kepada golongan yang berhak menerimanya atau yang disebut mustahik. Kewajiban zakat telah ditegaskan dalam Al-Qur’an dan hadis, sehingga menjadi ibadah yang memiliki dimensi spiritual sekaligus sosial. Dalam praktiknya, zakat tidak hanya memberikan manfaat bagi penerima, tetapi juga bagi orang yang menunaikannya. Zakat dapat membersihkan harta, menumbuhkan keberkahan, serta meningkatkan rasa empati terhadap sesama. Oleh karena itu, zakat menjadi salah satu cara dalam membangun solidaritas sosial di tengah masyarakat yang beragam kondisi ekonominya. Di Indonesia, pengelolaan zakat telah diatur secara resmi melalui lembaga yang dibentuk oleh pemerintah, yaitu Badan Amil Zakat Nasional atau BAZNAS. Lembaga ini memiliki tugas untuk menghimpun, mengelola, dan menyalurkan dana zakat, infak, dan sedekah secara profesional, transparan, dan akuntabel. Dengan adanya BAZNAS, pengelolaan zakat diharapkan dapat berjalan lebih terarah dan memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat. Salah satu bentuk implementasi pengelolaan zakat di tingkat daerah dapat dilihat melalui program yang dijalankan oleh BAZNAS Kota Surabaya. Lembaga ini aktif mengajak masyarakat untuk menunaikan zakat melalui berbagai program sosial dan pemberdayaan masyarakat. Program-program tersebut tidak hanya berfokus pada bantuan konsumtif, tetapi juga pada pemberdayaan ekonomi mustahik agar dapat menjadi lebih mandiri. Melalui pengelolaan yang terorganisir, zakat dapat disalurkan kepada delapan golongan yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an, yaitu fakir, miskin, amil, muallaf, hamba sahaya, gharimin (orang yang memiliki utang), fi sabilillah, dan ibnu sabil (musafir). Penyaluran zakat yang tepat sasaran ini menjadi salah satu cara efektif untuk membantu masyarakat yang membutuhkan sekaligus memperkuat kesejahteraan sosial. BAZNAS juga terus berinovasi dalam memudahkan masyarakat untuk menunaikan zakat, terutama di era digital. Saat ini, pembayaran zakat dapat dilakukan secara online melalui berbagai platform digital sehingga masyarakat dapat menunaikan kewajiban zakat dengan lebih mudah dan praktis. Inovasi ini menjadi langkah penting untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam berzakat. Selain itu, berbagai program pemberdayaan yang dijalankan oleh BAZNAS turut memberikan dampak positif bagi masyarakat. Program seperti bantuan usaha mikro, beasiswa pendidikan, layanan kesehatan, hingga bantuan sosial bagi masyarakat dhuafa menjadi bukti nyata bahwa zakat dapat menjadi solusi dalam meningkatkan kesejahteraan umat. Momentum bulan Ramadhan seringkali menjadi waktu yang tepat bagi masyarakat untuk meningkatkan kepedulian sosial melalui zakat, infak, dan sedekah. Pada bulan yang penuh berkah ini, BAZNAS juga aktif mengajak masyarakat untuk menyalurkan zakatnya melalui lembaga resmi agar dapat dikelola dan didistribusikan secara lebih optimal kepada masyarakat yang membutuhkan. Dengan pengelolaan yang baik serta dukungan dari masyarakat, zakat dapat menjadi kekuatan besar dalam membangun solidaritas sosial dan mengurangi kesenjangan ekonomi. Melalui peran BAZNAS, potensi zakat yang besar di Indonesia diharapkan dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera, berdaya, dan penuh kepedulian.
ARTIKEL11/03/2026 | Ana
Zakat Fitrah sebagai Instrumen Penyucian Diri dan Kesejahteraan Sosial
Zakat Fitrah sebagai Instrumen Penyucian Diri dan Kesejahteraan Sosial
Zakat fitrah merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang memiliki kemampuan untuk menunaikannya pada akhir bulan Ramadhan. Kewajiban ini memiliki dimensi spiritual sekaligus sosial, karena tidak hanya berfungsi sebagai penyempurna ibadah puasa, tetapi juga sebagai instrumen distribusi kesejahteraan kepada masyarakat yang membutuhkan. Zakat fitrah biasanya ditunaikan dalam bentuk bahan makanan pokok atau nilai setara yang dibayarkan sebelum pelaksanaan salat Idulfitri. Secara teologis, zakat fitrah bertujuan untuk menyucikan jiwa orang yang berpuasa dari berbagai kekurangan selama menjalankan ibadah Ramadhan. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis Nabi Muhammad ? yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a.: "Rasulullah mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan kotor serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin." (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah). Dari perspektif sosial-ekonomi, zakat fitrah juga memiliki peran penting dalam meningkatkan solidaritas sosial dan mengurangi kesenjangan di masyarakat. Melalui zakat fitrah, kebutuhan dasar masyarakat kurang mampu dapat terpenuhi, khususnya menjelang hari raya Idulfitri. Hal ini sejalan dengan prinsip keadilan sosial dalam Islam yang menekankan distribusi kekayaan secara lebih merata. Al-Qur’an juga menegaskan pentingnya penyucian harta dan jiwa melalui zakat dalam firman Allah SWT: "Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri." (QS. Al-A’la: 14). Dalam konteks pengelolaan zakat di Indonesia, penghimpunan dan penyaluran zakat fitrah dapat dilakukan melalui lembaga resmi seperti Badan Amil Zakat Nasional. Lembaga ini memiliki peran strategis dalam mengelola zakat secara profesional, transparan, dan akuntabel sehingga penyalurannya dapat tepat sasaran kepada para mustahik. Dengan demikian, zakat fitrah tidak hanya dipahami sebagai kewajiban ibadah individual, tetapi juga sebagai mekanisme sosial yang berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, optimalisasi pengelolaan zakat fitrah melalui lembaga zakat menjadi langkah penting dalam memperkuat fungsi zakat sebagai instrumen pemberdayaan dan keadilan sosial dalam masyarakat.
ARTIKEL10/03/2026 | Ana
Dialog Sunyi antara Hamba dan Sang Pencipta
Dialog Sunyi antara Hamba dan Sang Pencipta
Di saat dunia terlelap dalam selimut malam dan kebisingan siang hari telah mereda sepenuhnya, terdapat sebuah dimensi waktu yang sangat istimewa bagi jiwa-jiwa yang rindu. Waktu itu adalah sepertiga malam terakhir, sebuah fragmen waktu di mana tirai antara dunia dan langit seolah menipis, memungkinkan terjadinya sebuah dialog sunyi yang paling jujur antara seorang hamba dengan Sang Pencipta. Inilah esensi dari Qiyamul Lail, sebuah ibadah yang bukan sekadar gerakan fisik berdiri dan bersujud, melainkan sebuah pertemuan rahasia yang penuh dengan kehangatan spiritual. Melaksanakan Qiyamul Lail adalah bentuk pernyataan cinta yang paling nyata. Ketika raga terasa berat untuk beranjak dari empuknya tempat tidur dan hawa dingin menusuk kulit, seorang hamba memilih untuk bangun demi memenuhi panggilan nuraninya. Di dalam keheningan yang mencekam itu, setiap bacaan Al-Qur'an yang dilantunkan terasa lebih meresap ke dalam relung hati, dan setiap doa yang dibisikkan seolah langsung mengetuk pintu Arsy. Tidak ada penonton, tidak ada pujian manusia, yang ada hanyalah kejujuran mutlak di hadapan Allah SWT yang Maha Mendengar. Keajaiban dari dialog sunyi ini terletak pada ketenangan yang ditinggalkannya. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa pada saat manusia lain tertidur, Allah turun ke langit dunia untuk mencari siapa yang memohon ampunan agar dimaafkan dan siapa yang berdoa agar dikabulkan. Maka, Qiyamul Lail menjadi momen terbaik untuk menumpahkan segala beban hidup, kecemasan akan masa depan, serta penyesalan atas masa lalu. Di atas sajadah, air mata yang jatuh menjadi saksi bisu atas kerendahan hati seorang manusia yang menyadari bahwa dirinya sangat kecil di hadapan keagungan Sang Khalik. Efek dari konsistensi menghidupkan malam ini tidak hanya berhenti saat fajar menyingsing. Seseorang yang terbiasa menjaga dialognya dengan Tuhan di waktu malam akan memiliki pancaran ketenangan yang berbeda dalam menghadapi hiruk pikuk dunia di siang hari. Hatinya menjadi lebih tangguh, lisannya lebih terjaga, dan pandangannya lebih jernih dalam melihat setiap persoalan. Qiyamul Lail memberikan kekuatan batin yang tidak bisa dibeli dengan materi apa pun, karena ia adalah sumber energi yang diambil langsung dari kedekatan dengan Pemilik Segala Kekuatan. Pada akhirnya, Qiyamul Lail adalah undangan terbuka bagi siapa saja yang merasa lelah dengan dunia dan ingin menemukan kembali jati dirinya. Ia adalah kesempatan untuk pulang sejenak ke pelukan rahmat Tuhan sebelum kembali berjuang di medan kehidupan. Dengan menjaga dialog sunyi ini, manusia tidak akan pernah merasa sendirian, karena ia tahu bahwa di balik pekatnya malam, ada cahaya yang selalu menantinya untuk bersujud dan bercerita tentang segala hal yang tak sanggup ia sampaikan kepada sesama manusia.
ARTIKEL06/03/2026 | Caca
Zakat Fitrah: Menyempurnakan Ramadhan dengan Kepedulian dan Kesucian Jiwa
Zakat Fitrah: Menyempurnakan Ramadhan dengan Kepedulian dan Kesucian Jiwa
Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat, ampunan, dan keberkahan. Di dalamnya, umat Islam menjalankan ibadah puasa sebagai bentuk ketaatan dan pengendalian diri. Namun, ada satu ibadah yang menjadi penutup sekaligus penyempurna Ramadhan, yaitu zakat fitrah. Zakat fitrah bukan sekadar kewajiban tahunan, melainkan simbol kesucian jiwa dan wujud nyata kepedulian sosial kepada sesama. Zakat fitrah adalah zakat yang diwajibkan kepada setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan, dewasa maupun anak-anak, yang memiliki kemampuan. Ibadah ini ditunaikan pada akhir bulan Ramadhan hingga sebelum pelaksanaan salat Idulfitri. Tujuannya adalah menyucikan orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata yang kurang bermanfaat selama Ramadhan, sekaligus membantu fakir miskin agar mereka turut merasakan kebahagiaan di hari raya. Secara historis, kewajiban zakat fitrah telah ditetapkan sejak masa Rasulullah ?. Beliau mewajibkan setiap Muslim untuk mengeluarkan satu sha’ bahan makanan pokok, seperti kurma atau gandum. Di Indonesia, zakat fitrah umumnya ditunaikan dalam bentuk beras atau senilai harga beras yang dikonsumsi sehari-hari. Ketentuan ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan kebutuhan dasar manusia, yaitu pangan, terutama menjelang Idulfitri. Di balik kewajibannya, zakat fitrah mengandung hikmah yang sangat dalam. Pertama, ia melatih kepekaan sosial. Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang merasakan penderitaan mereka yang kekurangan. Dengan menunaikan zakat fitrah, seorang Muslim belajar berbagi dan memahami bahwa rezeki yang dimiliki adalah amanah dari Allah SWT. Kedua, zakat fitrah mempererat ukhuwah atau persaudaraan. Ketika zakat disalurkan kepada mereka yang berhak, tercipta hubungan saling peduli antara yang mampu dan yang membutuhkan. Tidak ada lagi sekat antara si kaya dan si miskin, karena semuanya bersatu dalam semangat kebersamaan menyambut hari kemenangan. Inilah keindahan ajaran Islam yang menyeimbangkan dimensi spiritual dan sosial. Ketiga, zakat fitrah menjadi sarana pemerataan kesejahteraan. Dalam masyarakat, kesenjangan ekonomi sering kali menjadi sumber masalah sosial. Melalui zakat, kekayaan tidak hanya berputar di kalangan tertentu, tetapi juga mengalir kepada yang membutuhkan. Dengan pengelolaan yang baik dan profesional, zakat fitrah dapat memberikan dampak yang lebih luas, bahkan mendorong pemberdayaan ekonomi umat. Di era modern, penyaluran zakat fitrah semakin mudah dengan hadirnya berbagai lembaga amil zakat yang terpercaya. Masyarakat dapat menunaikan kewajiban ini secara langsung maupun melalui layanan digital. Transparansi dan akuntabilitas pengelolaan zakat menjadi faktor penting agar kepercayaan publik terus terjaga dan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh para mustahik. Pada akhirnya, zakat fitrah adalah cerminan kesalehan yang utuh. Ia bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga gerakan sosial yang menghadirkan kebahagiaan bagi banyak orang. Ketika takbir berkumandang dan Idulfitri tiba, ada senyum yang merekah dari keluarga-keluarga yang terbantu. Itulah bukti bahwa zakat fitrah bukan sekadar kewajiban, melainkan jembatan kasih sayang yang menyatukan umat dalam keberkahan.
ARTIKEL05/03/2026 | Alfa
Qiyamul Lail: Menguatkan Spirit Kepedulian Sosial bersama BAZNAS Surabaya
Qiyamul Lail: Menguatkan Spirit Kepedulian Sosial bersama BAZNAS Surabaya
Bulan Ramadan merupakan momentum yang istimewa bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Salah satu ibadah yang sangat dianjurkan pada bulan suci ini adalah qiyamul lail, yaitu menghidupkan malam dengan berbagai bentuk ibadah seperti salat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa. Qiyamul lail tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga mampu menumbuhkan kepekaan sosial dan semangat berbagi kepada sesama. Dalam ajaran Islam, qiyamul lail menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus melatih ketulusan hati. Ketika seseorang bangun di tengah malam untuk beribadah, ia diajak untuk merenungi kehidupan, mensyukuri nikmat yang telah diberikan, serta memohon ampun atas segala kekhilafan. Dari proses refleksi spiritual inilah lahir kesadaran bahwa masih banyak saudara-saudara yang membutuhkan perhatian dan bantuan. Nilai-nilai yang terkandung dalam qiyamul lail juga sejalan dengan semangat kepedulian sosial yang dijalankan oleh BAZNAS Surabaya. Sebagai lembaga pengelola zakat, BAZNAS Surabaya terus berupaya menghadirkan berbagai program sosial yang bertujuan membantu masyarakat yang membutuhkan. Melalui pengelolaan zakat, infak, dan sedekah secara profesional, BAZNAS menjadi jembatan kebaikan antara para muzakki dan masyarakat penerima manfaat di Kota Surabaya. Semangat qiyamul lail dapat menjadi pengingat bahwa ibadah tidak hanya berhenti pada hubungan personal dengan Tuhan, tetapi juga harus diwujudkan dalam tindakan nyata bagi masyarakat. Setelah memperkuat spiritualitas di malam hari, umat Islam didorong untuk menebarkan manfaat pada siang harinya. Inilah yang menjadi esensi dari ibadah dalam Islam, yakni keseimbangan antara hablum minallah (hubungan dengan Allah) dan hablum minannas (hubungan dengan sesama manusia). Dalam konteks kehidupan sosial di Surabaya, berbagai program yang dijalankan BAZNAS Surabaya seperti bantuan kemanusiaan, program kesehatan, pemberdayaan ekonomi, hingga bantuan untuk masyarakat rentan menjadi bentuk nyata dari nilai kepedulian tersebut. Program-program ini tidak hanya memberikan bantuan material, tetapi juga berupaya membangun kemandirian dan harapan baru bagi masyarakat yang membutuhkan. Melalui qiyamul lail, umat Islam diajak untuk memperkuat keimanan sekaligus menumbuhkan empati terhadap kondisi sosial di sekitarnya. Ketika spiritualitas dan kepedulian sosial berjalan beriringan, maka akan tercipta masyarakat yang lebih peduli, solidaritas yang lebih kuat, serta kesejahteraan yang lebih merata. Oleh karena itu, qiyamul lail bukan sekadar ibadah malam, melainkan juga momentum untuk memperbaiki diri dan memperluas manfaat bagi orang lain. Dengan semangat tersebut, masyarakat Surabaya diharapkan dapat terus mendukung gerakan zakat dan kepedulian sosial bersama BAZNAS Surabaya, sehingga nilai-nilai kebaikan yang lahir dari ibadah dapat benar-benar dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
ARTIKEL05/03/2026 | Mila
Qiyamul Lail dan Semangat Berbagi: Menghidupkan Kepedulian Sosial di Surabaya
Qiyamul Lail dan Semangat Berbagi: Menghidupkan Kepedulian Sosial di Surabaya
Qiyamul lail merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Ibadah ini dilakukan pada malam hari dengan berbagai amalan seperti salat tahajud, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa kepada Allah SWT. Di tengah suasana malam yang tenang dan hening, qiyamul lail menjadi momen istimewa bagi seorang muslim untuk memperkuat hubungan spiritual dengan Sang Pencipta sekaligus merenungi makna kehidupan. Dalam ajaran Islam, qiyamul lail tidak hanya dimaknai sebagai ibadah yang bersifat personal, tetapi juga sebagai sarana untuk membentuk kepekaan sosial. Ketika seseorang bermunajat di sepertiga malam, ia diajak untuk merenungkan berbagai nikmat yang telah diberikan Allah SWT, sekaligus menyadari bahwa masih banyak saudara-saudara yang hidup dalam keterbatasan. Dari refleksi inilah lahir rasa empati dan dorongan untuk berbagi kepada sesama. Semangat berbagi tersebut menjadi salah satu nilai penting dalam kehidupan bermasyarakat. Di tengah dinamika kehidupan perkotaan seperti di Kota Surabaya, kepedulian sosial menjadi kunci untuk menciptakan solidaritas dan kebersamaan. Banyak masyarakat yang membutuhkan dukungan, baik dalam bentuk bantuan ekonomi, kesehatan, maupun pendidikan. Upaya untuk menumbuhkan kepedulian sosial ini juga terus dilakukan oleh BAZNAS Kota Surabaya sebagai lembaga resmi pengelola zakat. Melalui berbagai program sosial dan kemanusiaan, BAZNAS berperan sebagai jembatan kebaikan antara para muzakki (pemberi zakat) dan masyarakat yang membutuhkan. Program-program tersebut tidak hanya memberikan bantuan secara langsung, tetapi juga berupaya memberdayakan masyarakat agar lebih mandiri dan sejahtera. Momentum qiyamul lail, terutama pada bulan Ramadan, dapat menjadi pengingat bagi umat Islam untuk memperkuat ibadah sekaligus meningkatkan kepedulian sosial. Setelah mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui doa dan salat malam, umat Islam diajak untuk mewujudkan nilai-nilai tersebut dalam tindakan nyata, salah satunya dengan menunaikan zakat, infak, dan sedekah. Melalui dukungan terhadap program-program yang dijalankan oleh BAZNAS Surabaya, masyarakat dapat turut serta dalam gerakan kebaikan yang memberikan manfaat luas bagi sesama. Setiap kontribusi yang diberikan, sekecil apa pun, dapat menjadi harapan baru bagi mereka yang sedang menghadapi kesulitan hidup. Oleh karena itu, qiyamul lail hendaknya tidak hanya menjadi ibadah yang dilakukan secara rutin, tetapi juga menjadi sumber inspirasi untuk menumbuhkan semangat berbagi. Dengan menghidupkan malam melalui ibadah dan menghidupkan kepedulian melalui aksi sosial, masyarakat Surabaya dapat bersama-sama membangun lingkungan yang lebih peduli, penuh solidaritas, dan saling menguatkan.
ARTIKEL05/03/2026 | Ana
Keberkahan Qiyamul Lail di Bulan Ramadhan Perkuat Semangat Berzakat Bersama BAZNAS Surabaya
Keberkahan Qiyamul Lail di Bulan Ramadhan Perkuat Semangat Berzakat Bersama BAZNAS Surabaya
Surabaya News — Bulan suci Ramadhan menjadi momentum istimewa bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah sekaligus memperkuat kepedulian sosial. Salah satu amalan utama yang dianjurkan selama Ramadhan adalah Qiyamul lail, yaitu ibadah malam yang menghadirkan ketenangan spiritual serta keberkahan bagi setiap Muslim yang menjalankannya. Di Kota Surabaya, semangat qiyamul lail turut dikaitkan dengan peningkatan kesadaran masyarakat dalam menunaikan zakat melalui BAZNAS Surabaya. Qiyamul lail merupakan ibadah yang dilakukan pada malam hari, meliputi shalat tahajud, witir, membaca Al-Qur’an, berdzikir, hingga memperbanyak doa. Ibadah ini memiliki nilai keutamaan tinggi karena dilakukan pada waktu yang penuh ketenangan dan menjadi momen terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Selama bulan Ramadhan, BAZNAS Surabaya aktif mengajak masyarakat memanfaatkan waktu malam sebagai sarana refleksi diri sekaligus meningkatkan kepedulian sosial. Ibadah malam diyakini mampu menumbuhkan empati dan rasa syukur yang kemudian diwujudkan melalui aksi berbagi kepada sesama. Zakat menjadi instrumen penting dalam menciptakan keseimbangan sosial. Melalui pengelolaan zakat yang amanah dan profesional, dana yang dihimpun dapat disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan secara tepat sasaran. Program pendistribusian zakat yang dijalankan BAZNAS Surabaya mencakup bantuan pangan, santunan yatim dan dhuafa, layanan kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat kurang mampu. Momentum Ramadhan dimanfaatkan BAZNAS Surabaya untuk memperluas jangkauan program sosial. Sejumlah kegiatan digelar untuk membantu masyarakat prasejahtera, termasuk pembagian paket sembako Ramadhan, bantuan kebutuhan harian, serta dukungan bagi pelaku usaha mikro agar tetap produktif. Selain itu, layanan pembayaran zakat juga semakin dipermudah melalui sistem digital. Masyarakat kini dapat menunaikan zakat secara online kapan saja, termasuk setelah menjalankan qiyamul lail di rumah maupun di masjid. Kemudahan layanan ini menjadi salah satu faktor meningkatnya kepercayaan publik dalam menyalurkan zakat melalui lembaga resmi. Qiyamul lail tidak hanya dimaknai sebagai ibadah personal, tetapi juga sebagai sarana membangun kesadaran kolektif untuk saling membantu. Nilai keikhlasan yang tumbuh dari ibadah malam mendorong umat Islam untuk berbagi rezeki kepada mereka yang membutuhkan. Relawan BAZNAS Surabaya turut berperan aktif dalam mendukung program Ramadhan dengan menyalurkan bantuan kepada mustahik di berbagai wilayah Surabaya. Aktivitas distribusi bahkan dilakukan sejak dini hari sebagai bagian dari upaya menghadirkan manfaat nyata dari semangat ibadah Ramadhan. Peningkatan aktivitas zakat selama Ramadhan menunjukkan bahwa masyarakat semakin memahami pentingnya peran zakat sebagai solusi sosial. Dana zakat tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan dasar penerima manfaat, tetapi juga mendukung program pemberdayaan yang berkelanjutan. BAZNAS Surabaya terus mengajak masyarakat menjadikan qiyamul lail sebagai momentum memperbanyak amal kebaikan, termasuk menunaikan zakat lebih awal agar penyaluran dapat dilakukan secara optimal kepada para mustahik, khususnya menjelang Hari Raya Idulfitri. Melalui sinergi antara ibadah spiritual dan kepedulian sosial, Ramadhan menjadi waktu yang tepat untuk menghadirkan keberkahan yang dirasakan secara luas oleh masyarakat. Salurkan donasi Anda sekarang melalui: ???? Website: https://surabaya.baznas.go.id ???? Instagram: @baznaskotasurabaya Keyword SEO: Baznas Kota Surabaya, Ramadhan 2026, Qiyamul Lail Ramadhan, Keberkahan Qiyamul Lail, Zakat Ramadhan Surabaya, Zakat Baznas Surabaya, Ibadah Malam Ramadhan, Program Ramadhan Baznas, Zakat Dan Qiyamul Lail.
ARTIKEL05/03/2026 | Sahroh
Nuzulul Qur’an: Momentum Turunnya Petunjuk bagi Umat Manusia
Nuzulul Qur’an: Momentum Turunnya Petunjuk bagi Umat Manusia
Nuzulul Qur’an merupakan peristiwa agung dalam sejarah Islam yang menandai turunnya Al-Qur’an sebagai kitab suci dan pedoman hidup umat Islam. Peristiwa ini diperingati setiap 17 Ramadhan dan menjadi momentum refleksi spiritual bagi kaum Muslimin di seluruh dunia. Peringatan ini bukan sekadar mengenang peristiwa historis, tetapi juga menjadi sarana untuk mengingat kembali peran sentral Al-Qur’an dalam membimbing kehidupan manusia. Di bulan Ramadhan yang penuh keberkahan, umat Islam diajak untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui interaksi yang lebih intens dengan Al-Qur’an, baik dengan membaca, memahami, maupun mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Secara bahasa, nuzul berarti turun, sedangkan Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ? sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia. Peristiwa turunnya wahyu pertama terjadi ketika Nabi Muhammad ? sedang berkhalwat di Gua Hira. Pada saat itu, Malaikat Jibril menyampaikan lima ayat pertama dari Surah Al-‘Alaq yang diawali dengan perintah “Iqra’” yang berarti “Bacalah”. Perintah tersebut bukan hanya ajakan untuk membaca secara tekstual, tetapi juga menjadi simbol pentingnya ilmu pengetahuan, literasi, dan pencarian kebenaran dalam ajaran Islam. Sejak saat itu, wahyu terus turun secara berkesinambungan sebagai pedoman hidup yang menyempurnakan ajaran tauhid dan membimbing manusia menuju jalan yang lurus. Para ulama menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam dua tahap. Pertama, secara sekaligus dari Lauhul Mahfuz ke Baitul ‘Izzah di langit dunia. Kedua, secara bertahap kepada Nabi Muhammad ? selama kurang lebih 23 tahun, sesuai dengan situasi, kondisi, serta kebutuhan umat pada masa itu. Proses turunnya secara bertahap ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an hadir sebagai solusi nyata terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, baik dalam aspek sosial, ekonomi, politik, maupun moral. Setiap ayat yang turun membawa jawaban, arahan, dan bimbingan yang relevan dengan konteks kehidupan umat, sehingga ajaran Islam berkembang secara sistematis dan membumi. Peristiwa Nuzulul Qur’an mengandung banyak hikmah yang dapat dipetik sepanjang zaman. Pertama, Al-Qur’an merupakan petunjuk hidup yang menyeluruh. Ia mengatur hubungan manusia dengan Allah melalui ibadah, serta hubungan antarsesama manusia melalui akhlak dan muamalah. Nilai keadilan, kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial menjadi fondasi membangun masyarakat harmonis. Kedua, wahyu pertama yang menekankan pentingnya membaca menunjukkan bahwa Islam menjunjung tinggi ilmu dan pendidikan. Kemajuan peradaban sangat bergantung pada kualitas literasi masyarakatnya. Ketiga, Al-Qur’an menjadi instrumen transformasi sosial yang luar biasa, mengubah masyarakat jahiliyah menjadi berakhlak dan berilmu. Di era modern yang ditandai perkembangan teknologi dan arus globalisasi, nilai-nilai Al-Qur’an tetap relevan dan semakin dibutuhkan. Prinsip keadilan sosial, etika bisnis yang jujur, kepemimpinan yang amanah, serta solidaritas terhadap sesama sangat penting dalam menghadapi tantangan zaman. Peringatan Nuzulul Qur’an seharusnya tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi diwujudkan dalam gerakan nyata seperti meningkatkan budaya membaca dan memahami Al-Qur’an, mengamalkan ajarannya dalam aktivitas sehari-hari, serta mengembangkan literasi Qur’ani di berbagai kalangan, khususnya generasi muda. Pada akhirnya, Nuzulul Qur’an adalah momentum untuk merefleksikan sejauh mana hubungan kita dengan Al-Qur’an. Membacanya saja tidak cukup tanpa memahami dan mengimplementasikan ajarannya. Jika setiap Muslim menjadikan Al-Qur’an sebagai landasan berpikir, bersikap, dan bertindak, maka akan tercipta masyarakat yang berakhlak mulia, adil, dan sejahtera di dunia maupun di akhirat.
ARTIKEL04/03/2026 | Fia
Spirit Nuzulul Qur’an dalam Optimalisasi Zakat Tunai: Gerakan Berbagi Bersama BAZNAS Surabaya
Spirit Nuzulul Qur’an dalam Optimalisasi Zakat Tunai: Gerakan Berbagi Bersama BAZNAS Surabaya
Surabaya News — Peringatan Nuzulul Qur’an menjadi momentum istimewa bagi umat Islam untuk merefleksikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW bukan hanya peristiwa historis, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya keadilan sosial, kepedulian, dan semangat berbagi. Dalam semangat tersebut, BAZNAS Surabaya mengoptimalkan gerakan zakat tunai sebagai wujud implementasi ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan bermasyarakat. Nuzulul Qur’an mengajarkan bahwa Al-Qur’an hadir sebagai petunjuk bagi umat manusia, termasuk dalam membangun sistem sosial yang berkeadilan. Salah satu instrumen yang diajarkan dalam Islam untuk menciptakan keseimbangan ekonomi adalah zakat. Melalui zakat, terjadi distribusi kekayaan dari yang mampu kepada yang membutuhkan, sehingga kesenjangan sosial dapat ditekan dan kesejahteraan bersama dapat terwujud. Momentum Nuzulul Qur’an dimanfaatkan BAZNAS Surabaya untuk mengajak masyarakat meningkatkan kesadaran dalam menunaikan zakat, khususnya zakat tunai. Zakat tunai menjadi pilihan yang praktis dan fleksibel karena dapat langsung disalurkan sesuai kebutuhan prioritas mustahik. Dengan sistem pengelolaan yang profesional dan terstruktur, zakat tunai mampu menjangkau lebih banyak penerima manfaat secara cepat dan tepat sasaran.Selama bulan Ramadhan, kebutuhan masyarakat kurang mampu cenderung meningkat, baik untuk kebutuhan pokok, pendidikan, maupun kesehatan. Setiap dana yang dihimpun dikelola secara transparan dan disalurkan berdasarkan hasil pendataan serta verifikasi lapangan. Zakat tunai yang terkumpul tidak hanya disalurkan dalam bentuk bantuan konsumtif seperti paket sembako dan santunan dhuafa, tetapi juga dalam bentuk program produktif. Bantuan modal usaha, dukungan pendidikan, serta layanan kesehatan menjadi bagian dari distribusi zakat tunai yang dirancang untuk memberikan dampak jangka panjang. Dengan demikian, mustahik tidak hanya terbantu secara sementara, tetapi juga memiliki peluang untuk meningkatkan taraf hidupnya. Sebagai lembaga resmi pengelola zakat, BAZNAS Surabaya terus mengedepankan prinsip akuntabilitas dan profesionalitas. Setiap proses, mulai dari penghimpunan hingga pendistribusian zakat tunai, dilakukan secara terukur dan terdokumentasi dengan baik. Hal ini penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus memastikan bahwa zakat benar-benar menjadi solusi sosial yang efektif. Melalui kampanye Nuzulul Qur’an, BAZNAS Surabaya juga mengedukasi masyarakat tentang pentingnya memahami Al-Qur’an secara komprehensif, termasuk ajaran tentang zakat dan kepedulian sosial. Spirit wahyu pertama yang memerintahkan “Iqra” atau membaca, dimaknai sebagai ajakan untuk membaca kondisi sosial di sekitar kita. Kemudahan layanan pembayaran zakat tunai juga menjadi perhatian utama. Masyarakat dapat menunaikan zakat melalui kantor layanan maupun kanal digital yang telah disediakan. Kemudahan ini diharapkan mampu meningkatkan partisipasi muzaki dalam gerakan berbagi, khususnya pada momentum Nuzulul Qur’an yang sarat makna spiritual. Di tengah peringatan Nuzulul Qur’an, BAZNAS Surabaya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam membangun solidaritas sosial. Zakat tunai bukan sekadar kewajiban, tetapi juga bentuk nyata implementasi nilai-nilai ilahiyah dalam kehidupan modern. Dengan kolaborasi dan partisipasi bersama, zakat dapat menjadi instrumen strategis dalam mengurangi kemiskinan dan memperkuat kesejahteraan umat. Nuzulul Qur’an bukan hanya tentang mengenang turunnya wahyu, tetapi juga tentang menghidupkan pesan-pesan kebaikan dalam tindakan nyata. Melalui optimalisasi zakat tunai, BAZNAS Surabaya berkomitmen menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Surabaya. Semoga semangat Nuzulul Qur’an semakin menguatkan kepedulian kita untuk berbagi dan menebar keberkahan bagi sesama.
ARTIKEL04/03/2026 | Ainun
Gerakan Ramadhan: Momentum Transformasi Spiritual dan Sosial melalui BAZNAS Surabaya
Gerakan Ramadhan: Momentum Transformasi Spiritual dan Sosial melalui BAZNAS Surabaya
Surabaya Bulan Ramadhan merupakan bulan yang istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Di bulan suci ini, umat Islam menjalankan ibadah puasa, meningkatkan kualitas ibadah, serta memperkuat kepedulian sosial. Momentum tersebut melahirkan Gerakan Ramadhan sebagai upaya kolektif untuk mengaktualisasikan nilai-nilai ketakwaan dalam kehidupan nyata. Gerakan ini tidak hanya menyentuh aspek spiritual, tetapi juga mencakup dimensi sosial, pendidikan, ekonomi, dan dakwah. Secara konseptual, Gerakan Ramadhan adalah transformasi nilai ketakwaan menjadi aksi nyata. Puasa melatih pengendalian diri, zakat dan sedekah memperkuat solidaritas sosial, sedangkan kajian dan tilawah meningkatkan pemahaman keislaman. Ketika nilai-nilai tersebut dijalankan secara kolektif, lahirlah perubahan sosial yang konstruktif dan berkelanjutan. Di sinilah lembaga pengelola zakat memiliki posisi strategis dalam mengorganisasi semangat kebaikan agar tepat sasaran dan berdampak luas. BAZNAS Surabaya menjadi representasi nyata dari Gerakan Ramadhan yang terstruktur dan profesional. Sebagai lembaga resmi pengelola zakat, BAZNAS Surabaya mengoptimalkan momentum Ramadhan melalui berbagai program seperti penghimpunan dan penyaluran zakat, infak, dan sedekah, santunan anak yatim, bantuan bagi dhuafa, hingga program pemberdayaan ekonomi mustahik. Program-program tersebut tidak hanya bersifat karitatif, tetapi juga diarahkan pada pemberdayaan agar masyarakat penerima manfaat dapat lebih mandiri secara ekonomi. Dalam aspek spiritual dan sosial, BAZNAS Surabaya turut memperkuat budaya berbagi di tengah masyarakat perkotaan yang dinamis. Kampanye zakat Ramadhan, kemudahan layanan pembayaran zakat, serta transparansi pelaporan menjadi bagian dari manajemen modern yang mendukung efektivitas Gerakan Ramadhan. Hal ini sejalan dengan tujuan utama gerakan tersebut, yakni meningkatkan keimanan sekaligus mengurangi kesenjangan sosial. Di bidang ekonomi, distribusi zakat produktif dan bantuan usaha mikro yang dikelola BAZNAS Surabaya turut mendukung kebangkitan ekonomi umat selama Ramadhan. Dengan pendekatan pemberdayaan, zakat tidak hanya habis dikonsumsi, tetapi juga menjadi modal usaha yang berkelanjutan. Strategi ini memperkuat ekosistem ekonomi syariah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat kecil di Surabaya. Selain itu, pemanfaatan media digital dalam kampanye zakat dan publikasi program Ramadhan menunjukkan adaptasi terhadap perkembangan teknologi. Melalui media sosial dan platform daring, pesan-pesan kebaikan dapat menjangkau masyarakat lebih luas, khususnya generasi muda. Hal ini menjadikan Gerakan Ramadhan tidak hanya bersifat lokal, tetapi memiliki jangkauan yang lebih luas dan sistematis. Dengan demikian, Gerakan Ramadhan di Kota Surabaya tidak sekadar menjadi agenda tahunan, melainkan bagian dari transformasi sosial yang berkelanjutan. Melalui program-program yang terencana, transparan, dan berdampak nyata, BAZNAS Surabaya menjadi salah satu penggerak utama dalam menguatkan nilai-nilai Ramadhan sebagai fondasi pembangunan sosial yang berkesinambungan di tengah masyarakat Surabaya.
ARTIKEL04/03/2026 | Fia
Zakat Fitrah dan Peran Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Surabaya dalam Menebar Keberkahan
Zakat Fitrah dan Peran Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Surabaya dalam Menebar Keberkahan
Zakat fitrah merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang mampu, yang ditunaikan pada bulan Ramadan hingga sebelum pelaksanaan salat Idulfitri. Ibadah ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan bentuk penyucian diri setelah menjalani ibadah puasa sekaligus sarana berbagi kebahagiaan kepada sesama. Secara spiritual, zakat fitrah menyempurnakan ibadah puasa dari segala kekurangan; secara sosial, ia menjadi jembatan kepedulian antara yang mampu dan yang membutuhkan. Dalam ajaran Islam, zakat fitrah wajib ditunaikan oleh setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, selama memiliki kelebihan rezeki untuk kebutuhan pokok pada malam dan hari raya. Besarannya setara dengan 2,5 kilogram atau 3,5 liter makanan pokok yang biasa dikonsumsi, seperti beras di Indonesia. Namun, dalam praktik modern, pembayaran zakat fitrah juga dapat dilakukan dalam bentuk uang yang nilainya disesuaikan dengan harga bahan pokok tersebut. Di tengah dinamika kehidupan perkotaan, pengelolaan zakat secara profesional menjadi kebutuhan penting. Di sinilah peran BAZNAS Kota Surabaya hadir sebagai lembaga resmi yang mengelola zakat, infak, dan sedekah masyarakat. Sebagai perpanjangan tangan dari Badan Amil Zakat Nasional di tingkat daerah, BAZNAS Surabaya berkomitmen memastikan zakat fitrah tersalurkan tepat sasaran kepada delapan golongan (asnaf) yang berhak menerimanya. Kehadiran BAZNAS Surabaya membawa sistem yang lebih transparan, akuntabel, dan terstruktur dalam pengumpulan serta pendistribusian zakat fitrah. Masyarakat tidak lagi harus menyalurkan zakat secara individual tanpa kepastian distribusi. Melalui pendataan mustahik (penerima zakat) yang akurat dan program distribusi yang terencana, zakat fitrah dapat menjangkau masyarakat prasejahtera di berbagai wilayah Surabaya secara merata. Selain itu, BAZNAS Surabaya juga memanfaatkan teknologi digital untuk memudahkan masyarakat dalam menunaikan kewajibannya. Pembayaran zakat fitrah dapat dilakukan melalui transfer bank maupun platform digital, sehingga semakin praktis dan aman. Transparansi laporan penyaluran dana juga menjadi bentuk tanggung jawab moral dan profesional kepada para muzakki (pembayar zakat). Lebih dari sekadar penyaluran bantuan konsumtif menjelang Idulfitri, zakat fitrah yang dikelola secara kolektif oleh BAZNAS memiliki dampak sosial yang lebih luas. Ia membantu menjaga stabilitas sosial, mengurangi kesenjangan, serta memperkuat rasa persaudaraan di tengah masyarakat kota besar seperti Surabaya. Momentum Idulfitri pun menjadi benar-benar dirasakan oleh semua lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Pada akhirnya, zakat fitrah bukan hanya kewajiban ritual, melainkan gerakan sosial yang menghidupkan nilai empati dan solidaritas. Dengan mempercayakan penyalurannya kepada BAZNAS Surabaya, masyarakat tidak hanya menunaikan kewajiban agama, tetapi juga turut berkontribusi dalam membangun ekosistem kesejahteraan yang berkelanjutan. Di situlah zakat fitrah menemukan maknanya yang paling hakiki: menyucikan jiwa, menguatkan sesama, dan menebarkan keberkahan bagi seluruh kota.
ARTIKEL04/03/2026 | Wahyu
Qiyamullail: Sunyi yang Menguatkan Jiwa
Qiyamullail: Sunyi yang Menguatkan Jiwa
Di tengah riuhnya dunia dan padatnya aktivitas harian, ada satu ibadah yang menawarkan ruang sunyi sekaligus kekuatan batin: qiyamullail. Ibadah malam ini bukan sekadar ritual tambahan, melainkan latihan spiritual yang membentuk kedalaman iman, ketenangan jiwa, dan keteguhan karakter. Secara sederhana, qiyamullail berarti menghidupkan malam dengan ibadah. Ia mencakup salat tahajud, witir, doa, dan tilawah yang dilakukan setelah tidur di sepertiga malam terakhir. Dalam tradisi Islam, waktu ini dikenal sebagai saat yang istimewa—ketika suasana hening, gangguan dunia mereda, dan hati lebih mudah khusyuk. Al-Qur’an memberi perhatian khusus pada ibadah malam. Dalam Surah Al-Muzzammil ayat 1–6, Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk bangun malam, karena bacaan pada waktu itu “lebih kuat (kesannya) dan lebih berkesan.” Pesan ini menunjukkan bahwa malam bukan hanya waktu istirahat fisik, tetapi juga ruang penguatan ruhani. Dalam sejarah Islam, qiyamullail menjadi ciri orang-orang saleh. Para ulama dan pemimpin besar menjadikan malam sebagai waktu refleksi dan pembinaan diri. Di saat banyak orang terlelap, mereka berdiri dalam doa, memohon kekuatan untuk menghadapi tantangan siang hari. Dari sinilah lahir keteguhan moral dan kejernihan berpikir. Secara psikologis, qiyamullail memiliki dampak yang signifikan. Keheningan malam membantu seseorang melakukan introspeksi yang jujur. Dalam kesunyian itu, manusia berhadapan dengan dirinya sendiri—mengakui kelemahan, menata ulang niat, dan memohon petunjuk. Aktivitas ini serupa dengan praktik refleksi mendalam yang dalam kajian modern dikaitkan dengan peningkatan regulasi emosi dan ketenangan mental. Namun, qiyamullail bukan sekadar soal bangun malam. Ia adalah simbol komitmen. Ketika seseorang rela meninggalkan kenyamanan tidur demi berdiri di hadapan Tuhan, itu menunjukkan kesungguhan cinta dan kebutuhan spiritual. Ibadah ini melatih disiplin diri, karena dilakukan saat godaan terbesar adalah rasa malas dan kantuk. Dalam konteks kehidupan modern yang serba cepat, qiyamullail menjadi bentuk perlawanan terhadap distraksi. Saat siang dipenuhi notifikasi, target pekerjaan, dan interaksi sosial, malam menawarkan ruang hening yang tidak terfragmentasi. Di sanalah seseorang bisa kembali mengingat tujuan hidupnya. Menariknya, qiyamullail tidak mensyaratkan durasi panjang. Dua rakaat yang dilakukan dengan khusyuk sudah cukup menjadi awal. Konsistensi lebih penting daripada jumlah. Sedikit tetapi rutin akan membentuk kebiasaan spiritual yang kokoh. Ramadan sering menjadi momentum untuk memulai qiyamullail melalui salat tarawih dan tahajud. Namun, esensinya seharusnya tidak berhenti setelah bulan suci berlalu. Justru di luar Ramadanlah kualitas komitmen diuji. Apakah ibadah malam hanya semangat musiman, atau benar-benar menjadi kebutuhan jiwa? Qiyamullail pada akhirnya adalah dialog sunyi antara hamba dan Tuhannya. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada sorotan publik. Yang ada hanyalah ketulusan. Dari kesunyian itu lahir kekuatan yang tak terlihat, tetapi terasa dalam sikap dan keputusan sehari-hari. Di dunia yang bising, mungkin kita tidak selalu membutuhkan lebih banyak suara. Kita justru membutuhkan lebih banyak keheningan yang bermakna. Dan qiyamullail menawarkan ruang itu—sunyi yang menguatkan jiwa.
ARTIKEL04/03/2026 | Rubai
Menyucikan Jiwa, Menguatkan Sesama dengan Zakat Fitrah Bersama Baznas Surabaya
Menyucikan Jiwa, Menguatkan Sesama dengan Zakat Fitrah Bersama Baznas Surabaya
Menjelang berakhirnya bulan Ramadhan, ketika hati terasa lebih bersih dan jiwa telah ditempa oleh latihan menahan diri selama sebulan penuh, umat Islam memiliki satu kewajiban yang tidak boleh terlewatkan, yaitu menunaikan zakat fitrah. Ibadah ini bukan sekadar tradisi tahunan yang dilakukan menjelang hari raya, melainkan bentuk nyata kepedulian sosial yang melengkapi makna Ramadhan. Zakat fitrah menjadi penghubung antara kesalehan individu dan tanggung jawab sosial terhadap sesama. Zakat fitrah diwajibkan atas setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan, anak-anak maupun orang dewasa, selama ia memiliki kelebihan makanan pada malam Idul Fitri. Disebut “fitrah” karena berkaitan dengan upaya kembali kepada keadaan yang suci setelah menjalani ibadah puasa. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dijelaskan bahwa zakat fitrah berfungsi untuk membersihkan orang yang berpuasa dari ucapan yang tidak bermanfaat dan perbuatan yang kurang baik, sekaligus sebagai bentuk bantuan pangan bagi mereka yang membutuhkan. Dari penjelasan ini dapat dipahami bahwa zakat fitrah memiliki dua sisi penting: penyucian diri secara spiritual dan kepedulian sosial secara nyata. Pada umumnya, zakat fitrah ditunaikan sebesar satu sha’ bahan makanan pokok, yang setara dengan kurang lebih 2,5 hingga 3 kilogram beras atau makanan pokok lainnya. Pelaksanaannya dapat dilakukan sejak awal Ramadhan hingga sebelum shalat Idul Fitri dilaksanakan. Namun, waktu yang paling dianjurkan adalah menjelang hari raya agar bantuan tersebut segera dirasakan manfaatnya oleh para penerima. Apabila zakat fitrah dibayarkan setelah shalat Id, maka nilainya tidak lagi dihitung sebagai zakat fitrah, melainkan sebagai sedekah biasa. Karena itu, ketepatan waktu menjadi aspek yang penting dalam pelaksanaannya. Terdapat berbagai hikmah yang terkandung dalam ibadah zakat fitrah. Pertama, ia berfungsi sebagai penyempurna ibadah puasa. Selama Ramadhan, manusia mungkin melakukan kekeliruan, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Zakat fitrah menjadi sarana untuk menutup kekurangan tersebut agar ibadah puasa menjadi lebih sempurna. Kedua, zakat fitrah menghadirkan kebahagiaan pada hari raya. Idul Fitri merupakan momen kemenangan dan kegembiraan. Dengan adanya zakat fitrah, kaum dhuafa dapat merasakan sukacita tanpa terbebani kekurangan kebutuhan pokok. Ketiga, zakat fitrah menumbuhkan rasa empati dan kepedulian sosial. Ia mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak hanya dinikmati sendiri, tetapi juga dibagikan kepada orang lain. Keempat, zakat fitrah memperkuat solidaritas umat. Ketika seluruh Muslim menunaikan kewajiban ini, tercipta ikatan kepedulian yang mempererat hubungan sosial dalam masyarakat. Di era modern, penyaluran zakat fitrah dapat dilakukan melalui lembaga resmi agar pengelolaannya lebih tertata dan tepat sasaran. Di Indonesia, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) memiliki peran penting dalam menghimpun serta mendistribusikan zakat kepada mustahik yang berhak menerimanya. Dengan sistem pengelolaan yang profesional dan transparan, penyaluran zakat dapat menjangkau lebih banyak penerima dan memberikan dampak yang lebih luas. Pada akhirnya, zakat fitrah bukan sekadar kewajiban administratif menjelang lebaran. Ia merupakan simbol kepedulian, kebersamaan, dan pengakuan bahwa dalam setiap harta terdapat hak orang lain. Jika puasa membentuk ketakwaan secara pribadi, maka zakat fitrah memperkuat ketakwaan dalam dimensi sosial. Saat takbir berkumandang menyambut Idul Fitri, zakat fitrah menjadi penutup yang menyempurnakan perjalanan Ramadhan, memastikan bahwa kebahagiaan hari raya dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
ARTIKEL03/03/2026 | Azizah
Qiyamul Lail sebagai Cahaya yang Tumbuh di Sepertiga Malam
Qiyamul Lail sebagai Cahaya yang Tumbuh di Sepertiga Malam
Dalam pergantian waktu antara siang dan malam, terdapat satu fase yang begitu tenang dan menenangkan. Saat aktivitas dunia perlahan berhenti, suara-suara mereda, dan sebagian besar manusia terlelap dalam tidurnya, ada sebagian hamba yang justru bangkit untuk mendekat kepada Allah. Pada momen sunyi itulah Qiyamul Lail menjadi ibadah yang sarat makna. Ia bukan sekadar shalat malam yang dikerjakan sebagai rutinitas, melainkan perjumpaan spiritual yang intim antara seorang hamba dengan Rabb-nya—ruang rahasia tempat doa, harapan, dan penyesalan dipanjatkan tanpa saksi selain Dia. Secara bahasa, Qiyamul Lail berarti berdiri pada waktu malam. Dalam pengertian syariat, ia mencakup ibadah yang dilakukan setelah shalat Isya hingga menjelang Subuh, terutama shalat tahajud dan witir. Keutamaan ibadah ini begitu agung hingga Allah memuji orang-orang yang menghidupkan malam dalam firman-Nya: “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhan mereka dengan rasa takut dan harap…” (QS. As-Sajdah: 16). Ayat tersebut menggambarkan betapa berharganya mereka yang rela meninggalkan kenyamanan tidur demi mendekatkan diri kepada-Nya. Rasulullah SAW adalah teladan utama dalam menjalankan Qiyamul Lail. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa beliau menunaikan shalat malam dalam waktu yang panjang hingga kedua kakinya tampak bengkak. Ketika para sahabat bertanya mengapa beliau begitu bersungguh-sungguh padahal dosa-dosanya telah diampuni, beliau menjawab bahwa beliau ingin menjadi hamba yang bersyukur. Jawaban ini menunjukkan bahwa Qiyamul Lail bukan hanya sarana memohon ampunan, tetapi juga bentuk ungkapan cinta dan rasa syukur yang mendalam kepada Allah. Ibadah ini tumbuh dari kesadaran hati dan kerinduan spiritual, bukan karena kewajiban yang memberatkan. Ada sejumlah alasan mengapa Qiyamul Lail memiliki kedudukan yang istimewa. Pertama, ia dilakukan pada waktu yang sangat mustajab untuk berdoa. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim dijelaskan bahwa pada sepertiga malam terakhir Allah menyeru hamba-hamba-Nya dan menjanjikan pengabulan doa bagi mereka yang memohon kepada-Nya. Momen ini menjadi kesempatan berharga untuk menyampaikan segala harapan, memohon ampunan, meminta ketenangan batin, serta mencari solusi atas berbagai persoalan hidup. Kedua, kebiasaan bangun malam membentuk karakter yang disiplin dan penuh kesungguhan. Tidak mudah meninggalkan kehangatan tempat tidur, namun di situlah letak nilai perjuangannya. Qiyamul Lail melatih komitmen dan keteguhan, sekaligus mengajarkan bahwa kedekatan dengan Allah memerlukan usaha yang sungguh-sungguh. Ketiga, ibadah ini menjadi sumber ketenteraman jiwa. Dalam suasana malam yang hening, hati lebih mudah fokus dan pikiran lebih jernih. Sujud yang panjang dan doa yang lirih menghadirkan ketenangan yang sulit ditemukan di tengah kesibukan siang hari. Bagi banyak orang, Ramadhan menjadi pintu awal untuk membiasakan diri dengan Qiyamul Lail melalui shalat tarawih dan tahajud berjamaah. Namun, sejatinya amalan ini tidak terbatas pada bulan tersebut. Qiyamul Lail adalah ibadah sepanjang tahun yang menjadi ciri orang-orang yang ingin menjaga kualitas imannya. Memulai Qiyamul Lail tidak harus dengan rakaat yang banyak. Dua rakaat dengan khusyuk sudah menjadi langkah awal yang berarti. Yang terpenting adalah keikhlasan dan konsistensi. Pada akhirnya, Qiyamul Lail adalah dialog sunyi yang menguatkan. Ketika beban terasa berat dan persoalan tampak rumit, mungkin jawabannya bukan pada keramaian dunia, melainkan pada keheningan malam yang dipenuhi cahaya doa.
ARTIKEL03/03/2026 | Azizah
Qiyamul Lail dan Zakat: Ibadah Malam yang Menggerakkan Kepedulian Umat
Qiyamul Lail dan Zakat: Ibadah Malam yang Menggerakkan Kepedulian Umat
Qiyamul lail merupakan salah satu ibadah sunnah yang memiliki keutamaan besar dalam Islam. Ibadah ini dilakukan pada malam hari setelah salat Isya hingga sebelum waktu Subuh, dengan bentuk amalan seperti salat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa kepada Allah SWT. Dalam keheningan malam, seorang hamba memiliki kesempatan yang lebih khusyuk untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Qiyamul lail bukan hanya sekadar ibadah spiritual, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat keimanan dan membentuk kepekaan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang terbiasa menghidupkan malam dengan qiyamul lail, hatinya akan menjadi lebih lembut dan peka terhadap kondisi di sekitarnya. Dalam suasana doa dan munajat, seorang muslim sering kali memohon keberkahan hidup, kelapangan rezeki, serta kemampuan untuk membantu sesama. Dari sinilah muncul kesadaran bahwa harta yang dimiliki tidak hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga memiliki hak bagi mereka yang membutuhkan. Kesadaran tersebut kemudian mendorong seseorang untuk menunaikan zakat, infak, dan sedekah dengan penuh keikhlasan. Zakat sendiri merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Melalui zakat, kesejahteraan umat dapat ditingkatkan dan kesenjangan sosial dapat dikurangi. Dana zakat yang dikelola dengan baik dapat membantu berbagai kebutuhan masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan, bantuan ekonomi, hingga bantuan kemanusiaan. Dengan demikian, zakat menjadi bentuk nyata dari kepedulian umat Islam terhadap sesama. Hubungan antara qiyamul lail dan zakat terletak pada pembentukan karakter seorang muslim yang tidak hanya taat secara spiritual, tetapi juga peduli secara sosial. Ibadah malam melatih keikhlasan, kesabaran, dan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT. Nilai-nilai inilah yang kemudian mendorong seseorang untuk berbagi rezeki melalui zakat dan sedekah. Dengan kata lain, kekuatan spiritual dari qiyamul lail dapat melahirkan semangat kepedulian sosial yang lebih besar. Melalui qiyamul lail, seorang muslim tidak hanya memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, tetapi juga memperkuat hubungan dengan sesama manusia. Ketika ibadah malam dipadukan dengan semangat berbagi melalui zakat, maka terciptalah keseimbangan antara kesalehan spiritual dan kesalehan sosial. Inilah yang menjadi salah satu nilai penting dalam ajaran Islam: ibadah kepada Allah yang sekaligus membawa manfaat bagi umat. Oleh karena itu, mari kita jadikan qiyamul lail sebagai momentum untuk memperbaiki diri sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap sesama. Dengan hati yang dekat kepada Allah dan tangan yang ringan untuk berbagi, kita dapat bersama-sama membangun masyarakat yang lebih peduli, adil, dan penuh keberkahan. ?????
ARTIKEL03/03/2026 | Ananda
Qiyamul Lail di BAZNAS Surabaya Energi Spiritual untuk Gerakan Sosial
Qiyamul Lail di BAZNAS Surabaya Energi Spiritual untuk Gerakan Sosial
Di tengah sunyinya malam, ketika sebagian manusia terlelap dalam istirahatnya, ada jiwa-jiwa yang memilih bangkit untuk bermunajat. Qiyamul lail menjadi ruang pertemuan paling intim antara hamba dan Rabb-nya. Dalam keheningan itu, doa mengalir lebih jujur, istighfar terucap lebih dalam, dan harapan dititipkan sepenuh keyakinan. Di BAZNAS Surabaya, qiyamul lail bukan sekadar ibadah personal, tetapi juga menjadi fondasi spiritual yang menguatkan gerakan kepedulian sosial. Qiyamul lail mengajarkan keikhlasan. Tidak ada sorotan, tidak ada pujian, tidak pula penghargaan dari manusia. Yang ada hanyalah kesadaran bahwa Allah SWT Maha Melihat setiap niat dan usaha. Nilai inilah yang penting bagi para amil dan relawan dalam menjalankan amanah pengelolaan zakat, infak, dan sedekah. Sebab kerja-kerja sosial bukan sekadar aktivitas administratif, melainkan ibadah yang membutuhkan hati yang bersih dan niat yang lurus. Dalam sujud yang panjang, terpanjat doa untuk para muzaki yang telah mempercayakan hartanya, serta untuk para mustahik yang menanti uluran tangan. Qiyamul lail melatih empati. Ketika seseorang terbiasa bangun di sepertiga malam terakhir, ia akan lebih peka terhadap kesulitan orang lain. Ia merasakan bahwa di luar sana ada keluarga yang berjuang memenuhi kebutuhan hidup, ada anak-anak yang membutuhkan biaya pendidikan, dan ada saudara-saudara yang berharap pada bantuan zakat untuk bangkit dari keterbatasan. Bagi BAZNAS Surabaya, kekuatan spiritual ini menjadi energi dalam merancang dan menjalankan program. Setiap kebijakan tidak hanya dipertimbangkan dari sisi teknis, tetapi juga dari nilai kemaslahatan. Qiyamul lail menghadirkan momen muhasabah: sudahkah amanah dikelola dengan transparan? Sudahkah bantuan disalurkan secara tepat sasaran? Sudahkah pelayanan kepada masyarakat dilakukan dengan sepenuh hati? Pertanyaan-pertanyaan itu menemukan jawabannya dalam doa dan refleksi malam. Terlebih di bulan Ramadhan, semangat qiyamul lail terasa semakin hidup. Shalat tarawih, tahajud, dan witir menjadi rangkaian ibadah yang menguatkan kebersamaan. Doa dipanjatkan untuk keberkahan Kota Surabaya, untuk para dermawan, dan untuk masyarakat yang sedang berjuang memperbaiki taraf hidupnya. Dari malam yang penuh doa itu lahir siang yang penuh aksi—pendistribusian zakat, program pemberdayaan ekonomi, bantuan pendidikan, hingga layanan sosial yang menyentuh langsung kehidupan warga. Qiyamul lail mengingatkan bahwa perubahan besar sering berawal dari kesunyian. Dari doa yang lirih, lahir tekad yang kuat. Dari hati yang tunduk, tumbuh kepedulian yang tulus. Inilah yang menjadikan gerakan zakat bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan bagian dari ibadah kolektif umat. Akhirnya, qiyamul lail di BAZNAS Surabaya adalah tentang menyatukan langit dan bumi—menguatkan hubungan dengan Allah sekaligus memperluas manfaat bagi sesama. Ketika malam dipenuhi munajat dan hati dipenuhi keikhlasan, maka setiap langkah pelayanan akan terasa lebih ringan, lebih jujur, dan lebih membawa keberkahan bagi masyarakat.
ARTIKEL03/03/2026 | Wahyu
Qiyamul Lail: Rahasia Ketenangan di Sepertiga Malam
Qiyamul Lail: Rahasia Ketenangan di Sepertiga Malam
Di saat sebagian besar manusia terlelap dalam tidur, ada momen istimewa yang Allah SWT siapkan bagi hamba-hamba-Nya yang ingin mendekat. Momen itu bernama qiyamul lail—ibadah malam yang menjadi rahasia kekuatan spiritual para nabi, sahabat, dan orang-orang saleh. Dalam sunyi dan gelapnya malam, ketika dunia terasa hening, seorang hamba berdiri menghadap Rabb-nya dengan penuh kerendahan hati. Di situlah doa-doa dipanjjatkan dengan lebih khusyuk, air mata mengalir lebih jujur, dan hati terasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Qiyamul lail bukan sekadar shalat tambahan. Ia adalah bukti cinta dan kerinduan seorang hamba kepada Allah. Rasulullah ? dikenal sebagai pribadi yang sangat menjaga ibadah malamnya. Bahkan dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa beliau berdiri begitu lama hingga kedua kakinya bengkak. Ketika ditanya mengapa beliau beribadah sedemikian rupa padahal dosa-dosanya telah diampuni, beliau menjawab, “Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?” Jawaban ini menunjukkan bahwa qiyamul lail bukan hanya tentang meminta, tetapi juga tentang bersyukur dan menguatkan hubungan dengan Allah. Keutamaan qiyamul lail sangatlah besar. Allah memuji orang-orang yang bangun di malam hari dalam firman-Nya pada Surah Al-Isra ayat 79, yang menganjurkan shalat malam sebagai ibadah tambahan agar memperoleh kedudukan terpuji. Dalam ayat lain disebutkan bahwa lambung mereka jauh dari tempat tidur, karena mereka berdoa kepada Tuhan mereka dengan rasa takut dan harap. Ini menunjukkan bahwa qiyamul lail adalah ciri orang-orang beriman yang memiliki kedalaman spiritual. Selain pahala yang besar, qiyamul lail juga membawa ketenangan batin. Di tengah kesibukan dan tekanan hidup, malam menjadi ruang refleksi yang menenangkan. Saat dunia seakan berhenti sejenak, hati memiliki kesempatan untuk berdialog dengan Allah tanpa gangguan. Banyak orang merasakan bahwa doa di sepertiga malam terakhir terasa lebih dekat untuk dikabulkan. Bukan semata-mata karena waktu itu istimewa, tetapi karena hati yang bangun di waktu tersebut biasanya lebih tulus dan bersungguh-sungguh. Menariknya, qiyamul lail tidak menuntut kesempurnaan. Ia bisa dimulai dari langkah kecil: dua rakaat sebelum tidur kembali, atau witir sebelum beristirahat. Konsistensi lebih utama daripada jumlah yang banyak namun jarang dilakukan. Allah melihat kesungguhan hati, bukan panjangnya rakaat semata. Bahkan bangun beberapa menit untuk memohon ampun dan berdoa pun sudah menjadi awal yang baik. Di bulan Ramadhan, semangat qiyamul lail terasa lebih kuat melalui shalat tarawih dan tahajud. Namun, sejatinya ibadah malam tidak terbatas pada bulan suci saja. Ia bisa menjadi kebiasaan sepanjang tahun, menjadi sumber energi rohani yang menjaga iman tetap hidup. Orang yang terbiasa qiyamul lail biasanya memiliki keteguhan hati, kesabaran dalam menghadapi ujian, dan ketenangan dalam mengambil keputusan. Qiyamul lail adalah rahasia antara hamba dan Tuhannya. Tidak ada yang melihat selain Allah. Tidak ada pujian manusia, tidak ada tepuk tangan. Hanya keheningan, doa, dan harapan. Di situlah keikhlasan benar-benar diuji dan diperkuat. Semoga kita termasuk orang-orang yang diberi kemudahan untuk bangun di malam hari, menundukkan diri dalam sujud, dan merasakan manisnya bermunajat kepada Allah. Karena di sepertiga malam terakhir, pintu langit seakan terbuka lebih lebar, dan rahmat Allah turun menyapa hati-hati yang mencari-Nya.
ARTIKEL03/03/2026 | Alfa
Nuzulul Qur’an: Saat Langit Menyapa Bumi
Nuzulul Qur’an: Saat Langit Menyapa Bumi
Di antara sekian banyak peristiwa dalam sejarah Islam, Nuzulul Qur’an menempati posisi yang sangat istimewa. Ia bukan hanya peringatan turunnya kitab suci, tetapi momentum ketika langit menyapa bumi dengan petunjuk yang abadi. Pada bulan Ramadhan, Allah SWT menurunkan Al-Qur’an sebagai rahmat dan pedoman bagi umat manusia. Peristiwa agung ini menjadi awal dari perubahan besar yang membentuk peradaban dan mengangkat martabat manusia. Wahyu pertama turun kepada Nabi Muhammad ? di Gua Hira, sebuah tempat sunyi yang menjadi saksi kegelisahan beliau melihat kondisi masyarakat yang jauh dari nilai-nilai kebenaran. Melalui perantaraan Malaikat Jibril, Allah menurunkan ayat-ayat awal dari Surah Al-‘Alaq. Perintah Iqra’—bacalah—menjadi fondasi revolusi ilmu dan peradaban. Islam lahir dengan semangat literasi, refleksi, dan pencarian kebenaran. Dari satu kata inilah cahaya ilmu mulai menyinari dunia. Al-Qur’an hadir bukan sekadar sebagai bacaan ritual, tetapi sebagai solusi atas persoalan hidup. Ia mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, dengan sesama, dan dengan alam semesta. Nilai keadilan, kasih sayang, tanggung jawab, dan persaudaraan yang diajarkan Al-Qur’an menjadi dasar terbentuknya masyarakat yang beradab. Dalam waktu yang tidak lama, ajaran ini mengubah masyarakat Arab yang terpecah-pecah menjadi umat yang kuat dan bersatu. Nuzulul Qur’an juga mengajarkan bahwa perubahan sejati dimulai dari hati. Ketika ayat-ayat Allah menyentuh jiwa para sahabat, mereka tidak hanya menghafalnya, tetapi menghidupkannya dalam tindakan. Kejujuran dalam berdagang, keberanian dalam membela kebenaran, kepedulian terhadap fakir miskin, serta kesungguhan dalam beribadah adalah wujud nyata dari nilai Qur’ani yang mereka pegang. Al-Qur’an membentuk karakter, bukan sekadar memperindah lisan. Di era modern ini, manusia dihadapkan pada berbagai tantangan: krisis moral, ketimpangan sosial, hingga kegelisahan batin. Teknologi berkembang pesat, tetapi tidak selalu diiringi dengan kedewasaan spiritual. Di sinilah relevansi Al-Qur’an terasa semakin kuat. Ia menawarkan panduan yang seimbang antara kecerdasan intelektual dan kedalaman spiritual. Ia mengingatkan bahwa kesuksesan sejati bukan hanya tentang materi, tetapi juga tentang keberkahan dan ketenangan hati. Peringatan Nuzulul Qur’an seharusnya tidak berhenti pada seremoni dan perlombaan tilawah semata. Lebih dari itu, ia menjadi momen untuk memperbarui komitmen kita terhadap Al-Qur’an. Sudahkah kita meluangkan waktu untuk memahami maknanya? Sudahkah kita menjadikannya rujukan dalam mengambil keputusan? Sudahkah nilai-nilainya tercermin dalam perilaku sehari-hari? Menghidupkan Al-Qur’an berarti menghadirkan kejujuran dalam pekerjaan, menebarkan empati dalam pergaulan, serta menjaga integritas dalam setiap amanah. Ketika ayat-ayatnya kita jadikan kompas, langkah hidup menjadi lebih terarah. Saat ajarannya kita terapkan, lingkungan sekitar pun merasakan dampak kebaikannya. Nuzulul Qur’an adalah pengingat bahwa cahaya petunjuk telah diturunkan. Tugas kita adalah membuka hati agar cahaya itu masuk dan menerangi kehidupan. Jika setiap individu berusaha menjadi pribadi Qur’ani, maka keluarga akan dipenuhi ketenangan, masyarakat dipenuhi kepedulian, dan bangsa dipenuhi keberkahan. Semoga peringatan Nuzulul Qur’an tahun ini menjadi titik awal kebangkitan iman dan akhlak. Mari jadikan Al-Qur’an bukan hanya bacaan di bulan Ramadhan, tetapi sahabat setia sepanjang kehidupan. Karena ketika Al-Qur’an benar-benar hidup dalam diri kita, maka perubahan bukan lagi sekadar harapan, melainkan kenyataan.
ARTIKEL27/02/2026 | Alfa
Gerakan Ramadhan dengan Momentum Bersama Baznas Surabaya Menebar Kebaikan, Menguatkan Kepedulian
Gerakan Ramadhan dengan Momentum Bersama Baznas Surabaya Menebar Kebaikan, Menguatkan Kepedulian
Ramadhan bukan hanya dimaknai sebagai bulan peningkatan ibadah secara personal, tetapi juga sebagai momentum kebangkitan kepedulian sosial. Di dalamnya tersimpan kekuatan kolektif yang mampu menggerakkan hati, menyatukan niat, serta mendorong lahirnya berbagai aksi nyata. Suasana spiritual yang begitu kental selama Ramadhan sering kali menghadirkan kesadaran baru bahwa keberagamaan tidak cukup diwujudkan dalam hubungan vertikal dengan Allah semata, tetapi juga harus tercermin dalam hubungan horizontal dengan sesama manusia. Dari sinilah tumbuh berbagai inisiatif yang dikenal sebagai Gerakan Ramadhan, yaitu upaya bersama untuk menjadikan bulan suci sebagai ruang berbagi, menumbuhkan empati, dan memperkuat solidaritas sosial. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 185 ditegaskan bahwa Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia. Pesan ini menunjukkan bahwa Ramadhan merupakan waktu yang sarat dengan makna perubahan. Transformasi yang diharapkan tidak hanya menyentuh aspek spiritual, tetapi juga berdampak pada kehidupan sosial. Ibadah puasa, misalnya, melatih pengendalian diri sekaligus menumbuhkan kepekaan terhadap kondisi orang lain. Ketika seseorang menahan lapar dan dahaga sepanjang hari, ia belajar memahami bagaimana rasanya hidup dalam keterbatasan. Dari pengalaman tersebut tumbuh empati, dan empati yang terpelihara akan melahirkan dorongan untuk berbagi serta membantu. Gerakan Ramadhan dapat dipahami sebagai rangkaian aktivitas kolektif yang dilakukan oleh individu, komunitas, organisasi, maupun lembaga untuk menghadirkan manfaat nyata selama bulan suci. Kegiatannya sangat beragam, mulai dari pembagian takjil, penyelenggaraan buka puasa bersama, santunan bagi anak yatim dan dhuafa, hingga penghimpunan serta penyaluran zakat, infak, dan sedekah. Selain itu, terdapat pula program khatam Al-Qur’an, kajian keislaman, dan berbagai kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Seluruh aktivitas tersebut bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan wujud nyata dari kesadaran bahwa setiap individu memiliki peran dalam membangun perubahan positif di lingkungannya. Ramadhan juga dikenal sebagai bulan solidaritas dan kedermawanan. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah SAW adalah pribadi yang sangat dermawan, dan kedermawanannya semakin meningkat ketika Ramadhan tiba. Teladan ini menjadi inspirasi bahwa semangat berbagi harus menjadi ruh dalam setiap Gerakan Ramadhan. Hakikat berbagi tidak terletak pada besarnya nilai materi yang diberikan, melainkan pada ketulusan niat serta kebermanfaatan yang dirasakan penerima. Bantuan sederhana yang diberikan dengan ikhlas dapat menjadi sumber harapan besar bagi mereka yang sedang menghadapi kesulitan. Agar dampaknya lebih berkelanjutan, Gerakan Ramadhan idealnya tidak hanya bersifat karitatif atau sesaat, tetapi juga produktif dan memberdayakan. Program seperti pemberian modal usaha bagi mustahik, pelatihan keterampilan bagi masyarakat prasejahtera, edukasi literasi keuangan dan zakat, serta pemberdayaan UMKM dapat menjadi langkah strategis dalam memperkuat kemandirian ekonomi umat. Dengan pendekatan ini, Ramadhan tidak hanya identik dengan peningkatan konsumsi, tetapi juga menjadi momentum penguatan kesejahteraan sosial. Peran generasi muda pun sangat penting dalam mengembangkan Gerakan Ramadhan yang lebih kreatif dan berdampak luas. Melalui media sosial, kampanye digital, dan kolaborasi lintas komunitas, pesan kebaikan dapat disebarkan secara lebih cepat dan efektif. Gerakan kebaikan kini tidak lagi terbatas pada ruang-ruang fisik, tetapi mampu menjangkau masyarakat dalam skala yang lebih luas. Pada akhirnya, Gerakan Ramadhan bukan sekadar tentang program yang dijalankan, melainkan tentang kesadaran kolektif. Kesadaran bahwa hidup tidak hanya berpusat pada diri sendiri, bahwa harta adalah amanah yang harus dikelola dengan tanggung jawab, dan bahwa keberkahan akan tumbuh ketika dibagikan. Jika setiap individu mengambil bagian, sekecil apa pun kontribusinya, maka Ramadhan benar-benar akan menjadi bulan yang menguatkan iman, mempererat persaudaraan, serta meningkatkan kesejahteraan umat secara berkelanjutan.
ARTIKEL27/02/2026 | Azizah
Memaknai Nuzulul Qur’an Bersama BAZNAS Surabaya, Dari Ibadah Menuju Aksi Nyata untuk Umat
Memaknai Nuzulul Qur’an Bersama BAZNAS Surabaya, Dari Ibadah Menuju Aksi Nyata untuk Umat
Surabaya (Baznas News) — Momentum Nuzulul Qur’an menjadi salah satu peristiwa paling istimewa dalam bulan suci Ramadhan. Peristiwa turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW ini bukan hanya menjadi tonggak sejarah Islam tetapi juga pengingat bagi umat untuk memperkuat iman, memperbanyak ibadah, dan meningkatkan kepedulian sosial. Dalam semangat tersebut, BAZNAS Kota Surabaya mengajak masyarakat Surabaya untuk memaknai keutamaan Nuzulul Qur’an dengan memperbanyak amal kebaikan melalui zakat, infak, dan sedekah. Nuzulul Qur’an diperingati setiap tanggal 17 Ramadhan sebagai momentum turunnya wahyu pertama di Gua Hira. Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat Islam mengajarkan nilai-nilai keadilan, kepedulian, dan solidaritas sosial. Oleh karena itu, peringatan Nuzulul Qur’an tidak hanya diisi dengan kegiatan seremonial, tetapi juga diwujudkan dalam aksi nyata membantu sesama. BAZNAS Kota Surabaya memanfaatkan momentum ini untuk menguatkan gerakan berbagi kepada masyarakat yang membutuhkan. Melalui berbagai program Ramadhan, BAZNAS menyalurkan bantuan kepada fakir miskin, dhuafa, anak yatim, hingga pelaku usaha kecil yang terdampak kondisi ekonomi. Langkah ini sejalan dengan pesan Al-Qur’an yang mendorong umat Islam untuk peduli terhadap kaum lemah. Salah satu program unggulan dalam peringatan Nuzulul Qur’an adalah penyaluran paket sembako kepada warga kurang mampu di berbagai wilayah Surabaya. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban kebutuhan pokok selama bulan Ramadhan. Selain itu, BAZNAS juga memberikan santunan kepada anak yatim sebagai bentuk kepedulian terhadap generasi penerus bangsa. Tak hanya bantuan konsumtif, BAZNAS Kota Surabaya juga menyalurkan zakat produktif berupa bantuan modal usaha kepada mustahik yang memiliki usaha kecil. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kemandirian ekonomi keluarga prasejahtera agar dapat bangkit dan berkembang. Pendekatan produktif ini menjadi salah satu strategi BAZNAS dalam mengentaskan kemiskinan secara berkelanjutan. Dalam rangka memperingati Nuzulul Qur’an, BAZNAS Kota Surabaya juga menggelar kegiatan keagamaan seperti kajian dan tausiyah yang mengangkat tema implementasi nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sosial. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya zakat sebagai instrumen kesejahteraan umat. Partisipasi masyarakat dalam menunaikan zakat selama Ramadhan menunjukkan tren positif setiap tahunnya. Hal ini tidak lepas dari meningkatnya kesadaran umat Islam untuk mengelola zakat melalui lembaga resmi yang amanah dan transparan. BAZNAS Kota Surabaya berkomitmen menjaga kepercayaan tersebut dengan memastikan setiap dana yang dihimpun disalurkan secara tepat sasaran. Kemudahan pembayaran zakat juga menjadi perhatian utama. Masyarakat kini dapat menunaikan zakat melalui berbagai kanal, baik secara langsung di kantor layanan maupun melalui sistem digital yang disediakan. Inovasi ini memudahkan muzaki untuk berkontribusi tanpa terkendala jarak dan waktu. BAZNAS Kota Surabaya berharap peringatan Nuzulul Qur’an tidak hanya berhenti pada seremoni, tetapi juga melahirkan gerakan kolektif untuk memperbanyak amal sosial. Dengan semangat kebersamaan, zakat dan sedekah yang disalurkan di bulan Ramadhan akan menjadi ladang pahala sekaligus membawa keberkahan bagi seluruh masyarakat. KEYWORD SEO: BAZNAS Kota Surabaya, Nuzulul Qur’an, keutamaan, Zakat Ramadhan Surabaya, Program Ramadhan BAZNAS, Santunan yatim Surabaya, Zakat produktif Surabaya, Kegiatan Nuzulul Qur’an 2026, zakat infak sedekah Surabaya
ARTIKEL27/02/2026 | Sahroh
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Surabaya.

Lihat Daftar Rekening →