Artikel Terbaru
Qiyamul Lail: Rahasia Ketenangan di Sepertiga Malam
Di saat sebagian besar manusia terlelap dalam tidur, ada momen istimewa yang Allah SWT siapkan bagi hamba-hamba-Nya yang ingin mendekat. Momen itu bernama qiyamul lail—ibadah malam yang menjadi rahasia kekuatan spiritual para nabi, sahabat, dan orang-orang saleh. Dalam sunyi dan gelapnya malam, ketika dunia terasa hening, seorang hamba berdiri menghadap Rabb-nya dengan penuh kerendahan hati. Di situlah doa-doa dipanjjatkan dengan lebih khusyuk, air mata mengalir lebih jujur, dan hati terasa lebih dekat dengan Sang Pencipta.
Qiyamul lail bukan sekadar shalat tambahan. Ia adalah bukti cinta dan kerinduan seorang hamba kepada Allah. Rasulullah ? dikenal sebagai pribadi yang sangat menjaga ibadah malamnya. Bahkan dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa beliau berdiri begitu lama hingga kedua kakinya bengkak. Ketika ditanya mengapa beliau beribadah sedemikian rupa padahal dosa-dosanya telah diampuni, beliau menjawab, “Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?” Jawaban ini menunjukkan bahwa qiyamul lail bukan hanya tentang meminta, tetapi juga tentang bersyukur dan menguatkan hubungan dengan Allah.
Keutamaan qiyamul lail sangatlah besar. Allah memuji orang-orang yang bangun di malam hari dalam firman-Nya pada Surah Al-Isra ayat 79, yang menganjurkan shalat malam sebagai ibadah tambahan agar memperoleh kedudukan terpuji. Dalam ayat lain disebutkan bahwa lambung mereka jauh dari tempat tidur, karena mereka berdoa kepada Tuhan mereka dengan rasa takut dan harap. Ini menunjukkan bahwa qiyamul lail adalah ciri orang-orang beriman yang memiliki kedalaman spiritual.
Selain pahala yang besar, qiyamul lail juga membawa ketenangan batin. Di tengah kesibukan dan tekanan hidup, malam menjadi ruang refleksi yang menenangkan. Saat dunia seakan berhenti sejenak, hati memiliki kesempatan untuk berdialog dengan Allah tanpa gangguan. Banyak orang merasakan bahwa doa di sepertiga malam terakhir terasa lebih dekat untuk dikabulkan. Bukan semata-mata karena waktu itu istimewa, tetapi karena hati yang bangun di waktu tersebut biasanya lebih tulus dan bersungguh-sungguh.
Menariknya, qiyamul lail tidak menuntut kesempurnaan. Ia bisa dimulai dari langkah kecil: dua rakaat sebelum tidur kembali, atau witir sebelum beristirahat. Konsistensi lebih utama daripada jumlah yang banyak namun jarang dilakukan. Allah melihat kesungguhan hati, bukan panjangnya rakaat semata. Bahkan bangun beberapa menit untuk memohon ampun dan berdoa pun sudah menjadi awal yang baik.
Di bulan Ramadhan, semangat qiyamul lail terasa lebih kuat melalui shalat tarawih dan tahajud. Namun, sejatinya ibadah malam tidak terbatas pada bulan suci saja. Ia bisa menjadi kebiasaan sepanjang tahun, menjadi sumber energi rohani yang menjaga iman tetap hidup. Orang yang terbiasa qiyamul lail biasanya memiliki keteguhan hati, kesabaran dalam menghadapi ujian, dan ketenangan dalam mengambil keputusan.
Qiyamul lail adalah rahasia antara hamba dan Tuhannya. Tidak ada yang melihat selain Allah. Tidak ada pujian manusia, tidak ada tepuk tangan. Hanya keheningan, doa, dan harapan. Di situlah keikhlasan benar-benar diuji dan diperkuat.
Semoga kita termasuk orang-orang yang diberi kemudahan untuk bangun di malam hari, menundukkan diri dalam sujud, dan merasakan manisnya bermunajat kepada Allah. Karena di sepertiga malam terakhir, pintu langit seakan terbuka lebih lebar, dan rahmat Allah turun menyapa hati-hati yang mencari-Nya.
ARTIKEL03/03/2026 | Alfa
Nuzulul Qur’an: Saat Langit Menyapa Bumi
Di antara sekian banyak peristiwa dalam sejarah Islam, Nuzulul Qur’an menempati posisi yang sangat istimewa. Ia bukan hanya peringatan turunnya kitab suci, tetapi momentum ketika langit menyapa bumi dengan petunjuk yang abadi. Pada bulan Ramadhan, Allah SWT menurunkan Al-Qur’an sebagai rahmat dan pedoman bagi umat manusia. Peristiwa agung ini menjadi awal dari perubahan besar yang membentuk peradaban dan mengangkat martabat manusia.
Wahyu pertama turun kepada Nabi Muhammad ? di Gua Hira, sebuah tempat sunyi yang menjadi saksi kegelisahan beliau melihat kondisi masyarakat yang jauh dari nilai-nilai kebenaran. Melalui perantaraan Malaikat Jibril, Allah menurunkan ayat-ayat awal dari Surah Al-‘Alaq. Perintah Iqra’—bacalah—menjadi fondasi revolusi ilmu dan peradaban. Islam lahir dengan semangat literasi, refleksi, dan pencarian kebenaran. Dari satu kata inilah cahaya ilmu mulai menyinari dunia.
Al-Qur’an hadir bukan sekadar sebagai bacaan ritual, tetapi sebagai solusi atas persoalan hidup. Ia mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, dengan sesama, dan dengan alam semesta. Nilai keadilan, kasih sayang, tanggung jawab, dan persaudaraan yang diajarkan Al-Qur’an menjadi dasar terbentuknya masyarakat yang beradab. Dalam waktu yang tidak lama, ajaran ini mengubah masyarakat Arab yang terpecah-pecah menjadi umat yang kuat dan bersatu.
Nuzulul Qur’an juga mengajarkan bahwa perubahan sejati dimulai dari hati. Ketika ayat-ayat Allah menyentuh jiwa para sahabat, mereka tidak hanya menghafalnya, tetapi menghidupkannya dalam tindakan. Kejujuran dalam berdagang, keberanian dalam membela kebenaran, kepedulian terhadap fakir miskin, serta kesungguhan dalam beribadah adalah wujud nyata dari nilai Qur’ani yang mereka pegang. Al-Qur’an membentuk karakter, bukan sekadar memperindah lisan.
Di era modern ini, manusia dihadapkan pada berbagai tantangan: krisis moral, ketimpangan sosial, hingga kegelisahan batin. Teknologi berkembang pesat, tetapi tidak selalu diiringi dengan kedewasaan spiritual. Di sinilah relevansi Al-Qur’an terasa semakin kuat. Ia menawarkan panduan yang seimbang antara kecerdasan intelektual dan kedalaman spiritual. Ia mengingatkan bahwa kesuksesan sejati bukan hanya tentang materi, tetapi juga tentang keberkahan dan ketenangan hati.
Peringatan Nuzulul Qur’an seharusnya tidak berhenti pada seremoni dan perlombaan tilawah semata. Lebih dari itu, ia menjadi momen untuk memperbarui komitmen kita terhadap Al-Qur’an. Sudahkah kita meluangkan waktu untuk memahami maknanya? Sudahkah kita menjadikannya rujukan dalam mengambil keputusan? Sudahkah nilai-nilainya tercermin dalam perilaku sehari-hari?
Menghidupkan Al-Qur’an berarti menghadirkan kejujuran dalam pekerjaan, menebarkan empati dalam pergaulan, serta menjaga integritas dalam setiap amanah. Ketika ayat-ayatnya kita jadikan kompas, langkah hidup menjadi lebih terarah. Saat ajarannya kita terapkan, lingkungan sekitar pun merasakan dampak kebaikannya.
Nuzulul Qur’an adalah pengingat bahwa cahaya petunjuk telah diturunkan. Tugas kita adalah membuka hati agar cahaya itu masuk dan menerangi kehidupan. Jika setiap individu berusaha menjadi pribadi Qur’ani, maka keluarga akan dipenuhi ketenangan, masyarakat dipenuhi kepedulian, dan bangsa dipenuhi keberkahan.
Semoga peringatan Nuzulul Qur’an tahun ini menjadi titik awal kebangkitan iman dan akhlak. Mari jadikan Al-Qur’an bukan hanya bacaan di bulan Ramadhan, tetapi sahabat setia sepanjang kehidupan. Karena ketika Al-Qur’an benar-benar hidup dalam diri kita, maka perubahan bukan lagi sekadar harapan, melainkan kenyataan.
ARTIKEL27/02/2026 | Alfa
Gerakan Ramadhan dengan Momentum Bersama Baznas Surabaya Menebar Kebaikan, Menguatkan Kepedulian
Ramadhan bukan hanya dimaknai sebagai bulan peningkatan ibadah secara personal, tetapi juga sebagai momentum kebangkitan kepedulian sosial. Di dalamnya tersimpan kekuatan kolektif yang mampu menggerakkan hati, menyatukan niat, serta mendorong lahirnya berbagai aksi nyata. Suasana spiritual yang begitu kental selama Ramadhan sering kali menghadirkan kesadaran baru bahwa keberagamaan tidak cukup diwujudkan dalam hubungan vertikal dengan Allah semata, tetapi juga harus tercermin dalam hubungan horizontal dengan sesama manusia. Dari sinilah tumbuh berbagai inisiatif yang dikenal sebagai Gerakan Ramadhan, yaitu upaya bersama untuk menjadikan bulan suci sebagai ruang berbagi, menumbuhkan empati, dan memperkuat solidaritas sosial.
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 185 ditegaskan bahwa Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia. Pesan ini menunjukkan bahwa Ramadhan merupakan waktu yang sarat dengan makna perubahan. Transformasi yang diharapkan tidak hanya menyentuh aspek spiritual, tetapi juga berdampak pada kehidupan sosial. Ibadah puasa, misalnya, melatih pengendalian diri sekaligus menumbuhkan kepekaan terhadap kondisi orang lain. Ketika seseorang menahan lapar dan dahaga sepanjang hari, ia belajar memahami bagaimana rasanya hidup dalam keterbatasan. Dari pengalaman tersebut tumbuh empati, dan empati yang terpelihara akan melahirkan dorongan untuk berbagi serta membantu. Gerakan Ramadhan dapat dipahami sebagai rangkaian aktivitas kolektif yang dilakukan oleh individu, komunitas, organisasi, maupun lembaga untuk menghadirkan manfaat nyata selama bulan suci. Kegiatannya sangat beragam, mulai dari pembagian takjil, penyelenggaraan buka puasa bersama, santunan bagi anak yatim dan dhuafa, hingga penghimpunan serta penyaluran zakat, infak, dan sedekah. Selain itu, terdapat pula program khatam Al-Qur’an, kajian keislaman, dan berbagai kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Seluruh aktivitas tersebut bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan wujud nyata dari kesadaran bahwa setiap individu memiliki peran dalam membangun perubahan positif di lingkungannya.
Ramadhan juga dikenal sebagai bulan solidaritas dan kedermawanan. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah SAW adalah pribadi yang sangat dermawan, dan kedermawanannya semakin meningkat ketika Ramadhan tiba. Teladan ini menjadi inspirasi bahwa semangat berbagi harus menjadi ruh dalam setiap Gerakan Ramadhan. Hakikat berbagi tidak terletak pada besarnya nilai materi yang diberikan, melainkan pada ketulusan niat serta kebermanfaatan yang dirasakan penerima. Bantuan sederhana yang diberikan dengan ikhlas dapat menjadi sumber harapan besar bagi mereka yang sedang menghadapi kesulitan. Agar dampaknya lebih berkelanjutan, Gerakan Ramadhan idealnya tidak hanya bersifat karitatif atau sesaat, tetapi juga produktif dan memberdayakan. Program seperti pemberian modal usaha bagi mustahik, pelatihan keterampilan bagi masyarakat prasejahtera, edukasi literasi keuangan dan zakat, serta pemberdayaan UMKM dapat menjadi langkah strategis dalam memperkuat kemandirian ekonomi umat. Dengan pendekatan ini, Ramadhan tidak hanya identik dengan peningkatan konsumsi, tetapi juga menjadi momentum penguatan kesejahteraan sosial. Peran generasi muda pun sangat penting dalam mengembangkan Gerakan Ramadhan yang lebih kreatif dan berdampak luas. Melalui media sosial, kampanye digital, dan kolaborasi lintas komunitas, pesan kebaikan dapat disebarkan secara lebih cepat dan efektif. Gerakan kebaikan kini tidak lagi terbatas pada ruang-ruang fisik, tetapi mampu menjangkau masyarakat dalam skala yang lebih luas.
Pada akhirnya, Gerakan Ramadhan bukan sekadar tentang program yang dijalankan, melainkan tentang kesadaran kolektif. Kesadaran bahwa hidup tidak hanya berpusat pada diri sendiri, bahwa harta adalah amanah yang harus dikelola dengan tanggung jawab, dan bahwa keberkahan akan tumbuh ketika dibagikan. Jika setiap individu mengambil bagian, sekecil apa pun kontribusinya, maka Ramadhan benar-benar akan menjadi bulan yang menguatkan iman, mempererat persaudaraan, serta meningkatkan kesejahteraan umat secara berkelanjutan.
ARTIKEL27/02/2026 | Azizah
Memaknai Nuzulul Qur’an Bersama BAZNAS Surabaya, Dari Ibadah Menuju Aksi Nyata untuk Umat
Surabaya (Baznas News) — Momentum Nuzulul Qur’an menjadi salah satu peristiwa paling istimewa dalam bulan suci Ramadhan. Peristiwa turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW ini bukan hanya menjadi tonggak sejarah Islam tetapi juga pengingat bagi umat untuk memperkuat iman, memperbanyak ibadah, dan meningkatkan kepedulian sosial. Dalam semangat tersebut, BAZNAS Kota Surabaya mengajak masyarakat Surabaya untuk memaknai keutamaan Nuzulul Qur’an dengan memperbanyak amal kebaikan melalui zakat, infak, dan sedekah.
Nuzulul Qur’an diperingati setiap tanggal 17 Ramadhan sebagai momentum turunnya wahyu pertama di Gua Hira. Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat Islam mengajarkan nilai-nilai keadilan, kepedulian, dan solidaritas sosial. Oleh karena itu, peringatan Nuzulul Qur’an tidak hanya diisi dengan kegiatan seremonial, tetapi juga diwujudkan dalam aksi nyata membantu sesama.
BAZNAS Kota Surabaya memanfaatkan momentum ini untuk menguatkan gerakan berbagi kepada masyarakat yang membutuhkan. Melalui berbagai program Ramadhan, BAZNAS menyalurkan bantuan kepada fakir miskin, dhuafa, anak yatim, hingga pelaku usaha kecil yang terdampak kondisi ekonomi. Langkah ini sejalan dengan pesan Al-Qur’an yang mendorong umat Islam untuk peduli terhadap kaum lemah.
Salah satu program unggulan dalam peringatan Nuzulul Qur’an adalah penyaluran paket sembako kepada warga kurang mampu di berbagai wilayah Surabaya. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban kebutuhan pokok selama bulan Ramadhan. Selain itu, BAZNAS juga memberikan santunan kepada anak yatim sebagai bentuk kepedulian terhadap generasi penerus bangsa.
Tak hanya bantuan konsumtif, BAZNAS Kota Surabaya juga menyalurkan zakat produktif berupa bantuan modal usaha kepada mustahik yang memiliki usaha kecil. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kemandirian ekonomi keluarga prasejahtera agar dapat bangkit dan berkembang. Pendekatan produktif ini menjadi salah satu strategi BAZNAS dalam mengentaskan kemiskinan secara berkelanjutan.
Dalam rangka memperingati Nuzulul Qur’an, BAZNAS Kota Surabaya juga menggelar kegiatan keagamaan seperti kajian dan tausiyah yang mengangkat tema implementasi nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sosial. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya zakat sebagai instrumen kesejahteraan umat.
Partisipasi masyarakat dalam menunaikan zakat selama Ramadhan menunjukkan tren positif setiap tahunnya. Hal ini tidak lepas dari meningkatnya kesadaran umat Islam untuk mengelola zakat melalui lembaga resmi yang amanah dan transparan. BAZNAS Kota Surabaya berkomitmen menjaga kepercayaan tersebut dengan memastikan setiap dana yang dihimpun disalurkan secara tepat sasaran.
Kemudahan pembayaran zakat juga menjadi perhatian utama. Masyarakat kini dapat menunaikan zakat melalui berbagai kanal, baik secara langsung di kantor layanan maupun melalui sistem digital yang disediakan. Inovasi ini memudahkan muzaki untuk berkontribusi tanpa terkendala jarak dan waktu.
BAZNAS Kota Surabaya berharap peringatan Nuzulul Qur’an tidak hanya berhenti pada seremoni, tetapi juga melahirkan gerakan kolektif untuk memperbanyak amal sosial. Dengan semangat kebersamaan, zakat dan sedekah yang disalurkan di bulan Ramadhan akan menjadi ladang pahala sekaligus membawa keberkahan bagi seluruh masyarakat.
KEYWORD SEO: BAZNAS Kota Surabaya, Nuzulul Qur’an, keutamaan, Zakat Ramadhan Surabaya, Program Ramadhan BAZNAS, Santunan yatim Surabaya, Zakat produktif Surabaya, Kegiatan Nuzulul Qur’an 2026, zakat infak sedekah Surabaya
ARTIKEL27/02/2026 | Sahroh
Nuzulul Qur’an sebagai Cahaya Langit yang Menyinari Peradaban
Setiap kali bulan Ramadhan tiba, umat Islam di berbagai belahan dunia mengenang sebuah peristiwa monumental yang membawa dampak besar bagi perjalanan sejarah manusia, yaitu Nuzulul Qur’an. Peristiwa ini merupakan momentum turunnya Al-Qur’an sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat manusia. Nuzulul Qur’an bukan sekadar momen spiritual yang diperingati setiap tahun, melainkan titik awal lahirnya peradaban yang dibangun di atas fondasi ilmu, keadilan, dan nilai-nilai ketuhanan. Nuzulul Qur’an merujuk pada turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril di Gua Hira. Peristiwa tersebut terjadi pada malam yang sangat mulia, yang dikenal sebagai Lailatul Qadar, di bulan Ramadhan. Wahyu pertama yang diterima Nabi adalah Surah Al-‘Alaq ayat 1–5, yang diawali dengan perintah “Iqra” (Bacalah). Perintah ini memiliki makna mendalam, karena menjadi isyarat bahwa peradaban Islam dibangun di atas semangat literasi, pencarian ilmu, dan kesadaran intelektual. Kejadian agung itu berlangsung di tempat sunyi di Jabal Nur, tidak jauh dari Makkah, dan menjadi awal dari misi kenabian yang mengubah wajah dunia.
Al-Qur’an bukan hanya kitab suci yang dibaca dalam ibadah, tetapi juga pedoman hidup yang menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia. Ajarannya meliputi akidah, ibadah, akhlak, hubungan sosial, ekonomi, hingga tata kelola kepemimpinan. Wahyu diturunkan secara bertahap selama kurang lebih 23 tahun, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan umat pada masa itu. Proses bertahap ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an hadir sebagai solusi nyata atas berbagai persoalan kehidupan. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 185 ditegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi manusia, penjelasan atas petunjuk tersebut, serta pembeda antara yang benar dan yang salah. Hal ini menegaskan bahwa nilai-nilai Al-Qur’an bersifat universal dan relevan sepanjang zaman. Sebelum turunnya Al-Qur’an, masyarakat Arab berada dalam periode yang dikenal sebagai zaman jahiliyah, yakni masa kemerosotan moral dan spiritual. Praktik ketidakadilan, penindasan, serta konflik antar-suku menjadi realitas sosial yang lazim. Namun, kehadiran Al-Qur’an membawa transformasi besar. Masyarakat yang sebelumnya terpecah belah berangsur-angsur dipersatukan oleh ikatan keimanan. Budaya kekerasan berganti dengan ajaran kasih sayang, persaudaraan, dan keadilan. Al-Qur’an mendorong umatnya untuk berpikir kritis, menuntut ilmu, dan membangun peradaban yang berlandaskan tauhid. Dari sinilah lahir generasi terbaik yang mampu menghadirkan kemajuan dalam berbagai bidang, mulai dari ilmu pengetahuan hingga tata pemerintahan.
Oleh sebab itu, peringatan Nuzulul Qur’an seharusnya tidak berhenti pada seremoni atau kegiatan simbolis semata. Momentum ini merupakan ajakan untuk kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Ramadhan dikenal sebagai bulan Al-Qur’an, saat hati lebih mudah tersentuh dan jiwa lebih siap menerima nasihat. Interaksi dengan Al-Qur’an melalui tilawah, tadabbur, dan pengamalan nilai-nilainya menjadi bentuk penghormatan terbaik terhadap peristiwa agung ini. Pada hakikatnya, Nuzulul Qur’an adalah wujud kasih sayang Allah kepada manusia. Melalui Al-Qur’an, Allah memberikan arah agar manusia tidak tersesat dalam kegelapan kehidupan. Tanggung jawab kita bukan hanya membacanya, tetapi juga memahami dan mengimplementasikan ajarannya dalam setiap aspek kehidupan. Dengan demikian, cahaya Al-Qur’an tidak hanya menjadi bacaan, melainkan benar-benar menjadi pedoman yang menuntun langkah menuju kebaikan dan keberkahan.
ARTIKEL27/02/2026 | Azizah
Nuzulul Qur’an: Menguatkan Kepedulian Sosial melalui Peran BAZNAS
Peringatan Nuzulul Qur’an menjadi momen reflektif bagi umat Islam untuk memahami kembali hakikat turunnya Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan. Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan hubungan spiritual antara manusia dengan Allah SWT, tetapi juga menuntun umat dalam membangun kehidupan sosial yang adil, peduli, dan sejahtera. Nilai-nilai inilah yang menjadi landasan utama dalam berbagai upaya pemberdayaan umat yang dijalankan oleh BAZNAS Kota Surabaya.
Di dalam Al-Qur’an, perintah zakat, infak, dan sedekah ditegaskan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama, khususnya kaum dhuafa. Ajaran tersebut menunjukkan bahwa harta bukan hanya milik pribadi, tetapi mengandung hak orang lain yang harus ditunaikan. BAZNAS hadir sebagai lembaga resmi yang dipercaya untuk mengelola dana zakat secara transparan dan profesional agar dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang membutuhkan.
Peringatan Nuzulul Qur’an juga mengingatkan bahwa pengamalan ajaran Islam tidak berhenti pada aspek ibadah ritual. Nilai-nilai Al-Qur’an perlu diwujudkan dalam tindakan nyata yang mampu menjawab berbagai persoalan sosial. Melalui program-program di bidang sosial, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, BAZNAS berupaya mengimplementasikan pesan-pesan Al-Qur’an dalam bentuk aksi nyata yang berkelanjutan.
Lebih dari sekadar lembaga pengelola zakat, BAZNAS turut berperan dalam menumbuhkan kesadaran sosial masyarakat. Semangat Nuzulul Qur’an menjadi dorongan bagi umat Islam untuk memperkuat solidaritas, meningkatkan kepedulian, serta berperan aktif dalam membantu sesama, terutama mereka yang berada dalam kondisi rentan.
Dengan menjadikan Nuzulul Qur’an sebagai momentum refleksi dan penguatan aksi sosial, sinergi antara nilai-nilai Al-Qur’an dan peran BAZNAS diharapkan terus berkembang. Al-Qur’an sebagai sumber ajaran dan BAZNAS sebagai pelaksana di lapangan menjadi bagian penting dalam menghadirkan Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam serta mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera.
ARTIKEL27/02/2026 | Ana
Ramadhan di Pelupuk Mata: Saatnya Mensucikan Hati, Menata Diri
Hanya dalam hitungan hari, suasana syahdu bulan suci akan segera menyelimuti setiap sudut ruang dan waktu. Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan untuk menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari, melainkan sebuah madrasah spiritual yang datang untuk menguji sejauh mana kita mampu mengendalikan diri dan mendekatkan jiwa kepada Sang Pencipta. Seringkali kita terjebak dalam hiruk-pikuk persiapan fisik semata, seperti memenuhi isi kulkas atau merencanakan baju lebaran, padahal inti dari menyambut bulan mulia ini adalah menyiapkan wadah terbaik untuk menampung keberkahan, yaitu hati yang bersih.
Langkah pertama yang harus kita tempuh adalah membersihkan noda di cermin hati. Bayangkan jiwa kita seperti cermin yang selama setahun terakhir mungkin telah tertutup debu dendam, prasangka, atau noda dosa. Jika cermin itu kusam, cahaya Ramadan yang penuh rahmat tidak akan mampu terpantul dengan sempurna ke dalam perilaku kita sehari-hari. Oleh karena itu, momen menjelang Ramadan adalah waktu yang paling tepat untuk saling memaafkan dan melepaskan segala beban masa lalu. Meminta maaf dengan tulus dan memberi maaf dengan lapang dada adalah cara terbaik untuk meringankan langkah kaki saat memasuki pintu gerbang bulan puasa, sehingga kita tidak membawa beban kebencian saat bersujud di hadapan-Nya.
Setelah hati mulai jernih, tugas berikutnya adalah menata diri dengan mengatur kembali prioritas hidup yang mungkin sempat berantakan. Menata diri berarti menciptakan ruang bagi jiwa di tengah kesibukan dunia yang tidak pernah ada habisnya. Kita bisa memulainya dengan melakukan pemanasan ibadah, seperti mulai rutin membaca Al-Qur'an atau membiasakan bangun lebih awal sebelum waktu subuh tiba, agar raga dan pikiran tidak merasa kaget saat Ramadan benar-benar menyapa. Manajemen waktu juga menjadi kunci agar produktivitas pekerjaan tetap berjalan beriringan dengan target ibadah, sehingga Ramadan tidak menjadi alasan untuk bermalas-malasan, melainkan menjadi pemicu untuk menjadi pribadi yang lebih disiplin.
Pada akhirnya, mari kita sederhanakan ekspektasi dan kuatkan niat untuk meraih esensi takwa yang sesungguhnya. Jangan biarkan diri kita terjebak dalam euforia konsumerisme atau sekadar memikirkan kemewahan menu berbuka puasa yang seringkali justru melalaikan makna kesederhanaan. Ingatlah bahwa banyak orang yang berpuasa namun hanya mendapatkan lapar dan haus karena gagal menjaga lisan serta hatinya. Ramadan yang sudah di pelupuk mata adalah kesempatan emas yang belum tentu bisa kita temui kembali di tahun mendatang. Dengan mensucikan hati dari penyakit batin dan menata diri dengan disiplin ibadah, kita akan menyambut bulan mulia ini dengan senyuman dan jiwa yang benar-benar siap untuk bertransformasi menjadi insan yang lebih baik.
ARTIKEL27/02/2026 | Caca
Mengetuk Pintu Langit: Menemukan Kembali Hakikat Diri di Bulan Suci
Ramadan hadir bukan sekadar sebagai siklus tahunan yang mengubah pola makan dan tidur, melainkan sebuah undangan agung untuk mengetuk pintu langit melalui kesunyian doa dan ketulusan niat. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang seringkali membuat kita kehilangan arah, bulan suci ini datang sebagai kompas spiritual yang mengarahkan kembali pandangan kita ke dalam batin. Puasa menjadi sebuah perjalanan sunyi di mana setiap detik yang terlewati tanpa makanan dan minuman sebenarnya adalah upaya untuk memberi makan pada jiwa yang selama ini mungkin terabaikan oleh tumpukan urusan duniawi.
Dalam proses menahan lapar dan dahaga, ego manusia perlahan-lahan meluruh dan memberikan ruang bagi kerendahan hati untuk tumbuh. Mengetuk pintu langit berarti menyadari sepenuhnya bahwa kita hanyalah hamba yang kecil di hadapan Sang Pencipta, yang membutuhkan pengampunan dan bimbingan dalam setiap langkah. Ketika perut terasa kosong, justru pada saat itulah kepekaan spiritual seringkali menjadi lebih tajam, memungkinkan kita untuk mendengar suara nurani yang selama ini tertutup oleh kebisingan ambisi dan keinginan materi yang tak kunjung usai.
Menemukan kembali hakikat diri di bulan suci ini juga melibatkan refleksi mendalam tentang hubungan kita dengan sesama manusia. Ramadan mengajarkan bahwa ibadah yang paling tinggi tidak hanya berhenti pada ketaatan ritual, tetapi juga pada kemampuan kita untuk merasakan penderitaan orang lain dan mengikis sifat mementingkan diri sendiri. Dengan berbagi sedikit dari apa yang kita miliki, kita sebenarnya sedang membersihkan jalan bagi doa-doa kita agar lebih ringan melambung menuju langit, karena tangan yang memberi adalah tangan yang paling dekat dengan keberkahan.
Pada akhirnya, Ramadan adalah sebuah momentum transformasi yang menawarkan kesempatan untuk "pulang" ke rumah yang sesungguhnya, yaitu fitrah kemanusiaan yang bersih. Setiap malam yang diisi dengan sujud panjang dan setiap siang yang dijalani dengan kesabaran adalah langkah nyata dalam memperbaiki kualitas diri. Jika kita mampu memanfaatkan waktu ini dengan sungguh-sungguh, maka saat bulan ini berakhir, kita tidak hanya akan merayakan kemenangan atas lapar, tetapi juga kemenangan atas diri kita yang lama, terlahir kembali menjadi pribadi yang lebih bijak, penuh kasih, dan senantiasa terhubung dengan cahaya langit
ARTIKEL27/02/2026 | Caca
Optimalisasi Gerakan Ramadhan: BAZNAS Surabaya Perkuat Program Bedah Rumah Melalui Survei Kelayakan Mustahik
Surabaya News — Bulan suci Ramadhan menjadi momentum istimewa untuk memperkuat nilai kepedulian dan solidaritas sosial di tengah masyarakat. Dalam semangat Gerakan Ramadhan Surabaya, BAZNAS Surabaya terus mengoptimalkan program pendistribusian zakat, salah satunya melalui Program Bedah Rumah Surabaya bagi warga kurang mampu. Program ini tidak hanya berfokus pada renovasi hunian tidak layak, tetapi juga memastikan ketepatan sasaran melalui Survei Kelayakan Mustahik yang dilakukan secara langsung dan menyeluruh.
Kondisi rumah tidak layak huni masih menjadi tantangan sosial di sejumlah wilayah Surabaya. Atap bocor, dinding rapuh, lantai tanah, hingga sanitasi yang minim menjadi realitas yang dihadapi sebagian masyarakat prasejahtera. Melalui Program Bedah Rumah BAZNAS, upaya menghadirkan hunian yang aman, sehat, dan bermartabat menjadi prioritas utama dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mustahik.
Dalam pelaksanaannya, setiap pengajuan bantuan tidak langsung direalisasikan. BAZNAS Surabaya menerapkan proses verifikasi ketat melalui Survei Kelayakan Mustahik. Tim lapangan turun langsung meninjau kondisi fisik bangunan, mengevaluasi tingkat kerusakan, serta mengidentifikasi kondisi ekonomi keluarga calon penerima manfaat. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen terhadap transparansi dan akuntabilitas dalam pendistribusian zakat Surabaya.
Selain observasi visual, tim juga melakukan wawancara dengan pemohon serta berkoordinasi dengan tokoh setempat untuk memperoleh gambaran komprehensif mengenai kondisi sosial dan ekonomi keluarga. Indikator penilaian meliputi tingkat kerusakan bangunan, kepemilikan lahan, jumlah tanggungan keluarga, serta penghasilan harian. Dokumentasi berupa foto dan laporan tertulis turut melengkapi proses verifikasi agar setiap keputusan dapat dipertanggungjawabkan secara profesional.
Momentum Zakat Ramadhan Surabaya menjadi penguat implementasi program ini. Peningkatan penghimpunan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) selama bulan suci memungkinkan distribusi bantuan dilakukan lebih luas dan terencana. Gerakan Ramadhan Surabaya menjadi jembatan antara para muzaki dan kebutuhan riil masyarakat dhuafa, termasuk dalam bentuk Bantuan Dhuafa Ramadhan melalui perbaikan hunian.
Program Bedah Rumah Surabaya tidak sekadar memperbaiki struktur bangunan, tetapi juga menghadirkan nilai pemberdayaan. Rumah yang layak huni menjadi fondasi penting bagi kesehatan, pendidikan anak, serta aktivitas produktif keluarga. Dengan lingkungan yang aman dan nyaman, mustahik diharapkan memiliki semangat baru untuk bangkit dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi secara bertahap.
Sebagai lembaga resmi pengelola zakat, BAZNAS Surabaya terus meningkatkan standar layanan, baik melalui kantor pelayanan maupun kanal digital. Kemudahan akses pembayaran zakat Ramadhan Surabaya menjadi bagian dari strategi untuk memperluas partisipasi masyarakat. Semakin banyak zakat yang terhimpun, semakin besar pula dampak sosial yang dapat diwujudkan melalui program-program unggulan, termasuk Bedah Rumah BAZNAS.
Partisipasi aktif masyarakat sangat dibutuhkan dalam menyukseskan Gerakan Ramadhan Surabaya. BAZNAS Surabaya mengajak para muzaki untuk menunaikan zakat lebih awal agar pendistribusian zakat Surabaya dapat dilakukan secara optimal sejak awal Ramadhan. Dengan pengelolaan yang amanah dan profesional, zakat menjadi instrumen nyata dalam mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan umat.
Melalui optimalisasi Gerakan Ramadhan dan penguatan Survei Kelayakan Mustahik, Program Bedah Rumah Surabaya diharapkan mampu memberikan dampak berkelanjutan. Bukan sekadar renovasi fisik, tetapi juga upaya memulihkan harapan dan martabat keluarga prasejahtera. Ramadhan adalah bulan berbagi dan memperbanyak amal kebaikan. Mari salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Surabaya untuk menghadirkan hunian layak bagi mereka yang membutuhkan.
ARTIKEL27/02/2026 | Ainun
Menebar Cahaya Al-Qur’an Melalui Zakat: Refleksi Nuzulul Qur’an di BAZNAS Surabaya
Nuzulul Qur’an merupakan peristiwa agung turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad ? sebagai petunjuk hidup bagi seluruh umat manusia. Momentum ini tidak hanya menjadi pengingat sejarah, tetapi juga ajakan untuk menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan nyata. Al-Qur’an tidak berhenti sebagai bacaan yang dilantunkan, melainkan pedoman yang diwujudkan melalui amal saleh, kepedulian sosial, dan penguatan solidaritas umat.
Salah satu ajaran utama dalam Al-Qur’an adalah perintah menunaikan zakat. Zakat bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi instrumen sosial yang memiliki dampak nyata dalam mengurangi kesenjangan dan membantu mereka yang membutuhkan. Dalam konteks inilah, semangat Nuzulul Qur’an menemukan relevansinya melalui pengelolaan zakat yang profesional, amanah, dan tepat sasaran.
Sebagai lembaga resmi pengelola zakat di Kota Surabaya, BAZNAS Kota Surabaya berupaya menerjemahkan nilai-nilai Al-Qur’an ke dalam program-program pemberdayaan umat. Melalui penghimpunan dan pendistribusian zakat, infak, dan sedekah, berbagai program dilaksanakan untuk membantu mustahik di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, hingga kemanusiaan. Bantuan beasiswa, dukungan modal usaha, santunan kesehatan, serta respons tanggap bencana merupakan wujud konkret implementasi ajaran Al-Qur’an tentang keadilan dan kasih sayang.
Momentum Nuzulul Qur’an menjadi saat yang tepat untuk merefleksikan sejauh mana kita telah menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Apakah ayat-ayat tentang kepedulian sosial sudah kita amalkan? Apakah perintah berbagi telah kita tunaikan dengan penuh keikhlasan? Melalui zakat yang dikelola secara kolektif, masyarakat tidak hanya membersihkan harta, tetapi juga membangun ekosistem kebaikan yang berkelanjutan.
Di tengah tantangan sosial dan ekonomi perkotaan, peran zakat semakin strategis. Dengan manajemen yang transparan dan akuntabel, zakat mampu menjadi solusi nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Nuzulul Qur’an mengajarkan bahwa wahyu turun untuk membawa perubahan. Maka, melalui zakat, perubahan itu diwujudkan dalam bentuk pemberdayaan dan harapan baru bagi mereka yang membutuhkan.
Menebar cahaya Al-Qur’an berarti menghadirkan nilai-nilainya dalam tindakan. Bersama BAZNAS Surabaya, semangat Nuzulul Qur’an dapat terus hidup melalui gerakan zakat yang memperkuat ukhuwah, menumbuhkan empati, dan membangun Surabaya yang lebih berkah dan sejahtera.
ARTIKEL27/02/2026 | Ananda
Turunnya Cahaya Ilahi bagi Umat Manusia
Nuzulul Qur’an merupakan peristiwa agung dalam sejarah Islam yang menandai turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad ?. Peristiwa ini terjadi pada malam 17 Ramadan tahun 610 Masehi di Gua Hira, sebuah tempat yang sunyi di lereng Jabal Nur, Makkah. Pada malam yang penuh kemuliaan itu, Malaikat Jibril menyampaikan wahyu pertama sebagai awal dari risalah kenabian yang kelak menerangi seluruh penjuru dunia.
Sebelum menerima wahyu, Nabi Muhammad ? sering menyendiri di Gua Hira untuk merenungi keadaan masyarakat Arab yang saat itu dipenuhi praktik penyembahan berhala, ketidakadilan, dan kerusakan moral. Dalam kesunyian dan ketenangan itulah, beliau menerima firman Allah yang pertama, yaitu Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 yang diawali dengan kata “Iqra’” yang berarti “Bacalah”. Perintah membaca tersebut bukan sekadar ajakan untuk melafalkan teks, melainkan seruan untuk menuntut ilmu, memahami tanda-tanda kebesaran Allah, dan membangun peradaban berlandaskan wahyu.
Turunnya Al-Qur’an tidak terjadi sekaligus, melainkan secara bertahap selama kurang lebih dua puluh tiga tahun. Proses ini menunjukkan betapa Allah menurunkan petunjuk-Nya sesuai dengan kebutuhan dan kondisi umat pada masa itu. Setiap ayat yang turun membawa jawaban atas persoalan yang dihadapi kaum Muslimin, menguatkan hati Nabi Muhammad ?, serta membimbing masyarakat menuju perubahan yang lebih baik. Dengan cara inilah, Al-Qur’an menjadi kitab yang hidup, relevan, dan menyentuh berbagai aspek kehidupan manusia.
Nuzulul Qur’an memiliki makna yang sangat mendalam bagi umat Islam. Ia bukan sekadar peristiwa sejarah yang diperingati setiap tahun, tetapi momentum untuk mengingat kembali tujuan utama diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup. Di dalamnya terdapat ajaran tentang akidah, ibadah, akhlak, hukum, hingga tuntunan dalam membangun hubungan sosial yang harmonis. Al-Qur’an hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam, memberikan cahaya di tengah kegelapan, serta menjadi sumber inspirasi dalam membangun peradaban yang berkeadilan dan beradab.
Peringatan Nuzulul Qur’an di bulan Ramadan seharusnya menjadi pengingat bagi setiap Muslim untuk semakin dekat dengan kitab suci ini. Membaca, memahami, dan mengamalkan ajarannya merupakan wujud nyata kecintaan kepada wahyu Allah. Di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat, nilai-nilai Al-Qur’an tetap relevan sebagai pedoman moral dan spiritual. Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai pegangan hidup, umat Islam diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan dengan kebijaksanaan dan keteguhan iman.
Akhirnya, Nuzulul Qur’an adalah simbol turunnya cahaya ilahi yang mengubah sejarah umat manusia. Dari sebuah gua kecil di Makkah, lahirlah petunjuk yang menerangi dunia. Peristiwa ini mengajarkan bahwa perubahan besar sering kali berawal dari ketulusan, perenungan, dan kedekatan kepada Allah. Semoga semangat Nuzulul Qur’an senantiasa menghidupkan hati kita untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan menebarkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
ARTIKEL27/02/2026 | Caca
Nuzulul Qur’an: Pendekatan Akademis dan Relevansinya dalam Pemberdayaan Sosial oleh BAZNAS Surabaya
Secara terminologis, Nuzulul Qur’an merujuk kepada peristiwa turunnya wahyu Al-Qur’an dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril. Peristiwa ini dimaknai sebagai titik awal penyampaian risalah Islam yang kemudian menjadi pedoman moral, teologis, dan sosial bagi umat Islam di seluruh dunia. Secara leksikal, kata “nuzul” berarti turun, sedangkan “Al-Qur’an” berarti bacaan atau bacaan yang dibacakan, sehingga secara keseluruhan menunjuk pada turunnya wahyu suci tersebut. Peristiwa ini dikenal terjadi di abad ke-7 Masehi, ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertamanya tentang perintah membaca surat Al-‘Alaq ayat 1-5 saat berada di Gua Hira’, Makkah. Hal ini menandai awal kenabian dan tugas dakwah beliau. Dalam tradisi Islam, periode Nuzulul Qur’an sering dikaitkan dengan malam ke-17 bulan Ramadhan, meskipun terdapat variasi pendapat ulama tentang tanggal pastinya berdasarkan sumber klasik. Namun, di banyak komunitas Muslim termasuk di Indonesia tanggal ini diperingati secara simbolis sebagai momen turunnya wahyu pertama, sekaligus waktu evaluasi spiritual umat Islam. Secara teologis, Nuzulul Qur’an tidak hanya merupakan peristiwa historis, tetapi juga manifestasi kasih sayang Allah SWT terhadap manusia sebagai petunjuk hidup (hudan) yang komprehensif. Dalam surah Al-Baqarah (2:185), Al-Qur’an disebut sebagai pedoman, penjelasan, dan pembeda antara yang benar dan salah yang diturunkan dalam bulan Ramadhan. Turunnya Al-Qur’an menegaskan hubungan normatif antara wahyu dan etika moral dalam Islam. Selain itu, proses penurunan Al-Qur’an yang berlangsung selama lebih dari dua dekade menunjukkan karakter wahyu yang kontekstual, di mana setiap bagian wahyu mengandung respons terhadap situasi sosial, etika, dan hukum pada masa itu. Hal ini memberi dasar teoretis bahwa Al-Qur’an adalah kitab hidup yang relevan secara kontekstual dalam setiap generasi. Secara sosial, Nuzulul Qur’an menjadi momentum refleksi atas nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an, termasuk keadilan sosial, kesejahteraan bersama, dan solidaritas terhadap kaum lemah. Berdasarkan konsep ekonomi Islam, zakat (wajib), infak, dan sedekah (sukarela) merupakan instrumen penting untuk mengurangi kesenjangan sosial dan memperkuat solidaritas komunitas. Konteks ini selaras dengan fungsi Al-Qur’an sebagai wahyu yang tidak hanya memandu hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan, tetapi juga hubungan horizontal dalam kehidupan sosial. BAZNAS Surabaya berfungsi sebagai lembaga yang menghimpun dan menyalurkan zakat, infak, dan sedekah secara sistematis untuk memenuhi kebutuhan mustahik (penerima manfaat) sekaligus memperkuat kesejahteraan sosial. BAZNAS memastikan bahwa distribusi ZIS sesuai dengan ketentuan syariah dan berdampak luas bagi masyarakat. Dalam konteks peringatan Nuzulul Qur’an, semangat wakaf, zakat, infak, dan sedekah diarahkan tidak hanya untuk pemberian bantuan langsung, tetapi juga pada pemberdayaan ekonomi, pendidikan, dan dukungan layanan dasar bagi keluarga kurang mampu. Ini mencerminkan pemahaman bahwa wahyu Al-Qur’an mendorong umat Islam untuk aktif terlibat dalam upaya pemberdayaan sosial yang berkelanjutan, bukan sekadar bantuan temporer. Peristiwa Nuzulul Qur’an memiliki signifikansi historis, teologis, dan sosial yang mendalam. Dari perspektif akademis, peristiwa ini menunjukkan hubungan antara wahyu dan pembentukan nilai moral yang menjadi dasar bagi tindakan sosial dalam Islam. Implementasinya melalui pengelolaan zakat, infak, dan sedekah oleh lembaga seperti BAZNAS Surabaya menunjukkan bagaimana nilai-nilai Qur’ani dapat diaktualisasikan dalam konteks pemberdayaan masyarakat.
ARTIKEL27/02/2026 | Wahyu
Nuzulul Qur’an: Momentum Turunnya Cahaya Peradaban
Setiap tanggal 17 Ramadan, umat Islam memperingati Nuzulul Qur’an, peristiwa turunnya Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup manusia. Namun, Nuzulul Qur’an bukan sekadar momentum historis. Ia adalah titik awal lahirnya transformasi peradaban — dari masyarakat yang diliputi krisis moral menuju masyarakat yang dibimbing wahyu. Peristiwa ini bermula ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama di Gua Hira melalui Malaikat Jibril. Wahyu tersebut, yang tercatat dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5, menegaskan perintah membaca: “Iqra’”. Perintah ini bukan hanya ajakan literasi, tetapi fondasi peradaban ilmu. Sejak saat itu, Al-Qur’an tidak hanya menjadi kitab ibadah, tetapi juga sumber nilai, hukum, etika, dan inspirasi intelektual.
Secara teologis, Al-Qur’an diturunkan secara bertahap selama kurang lebih 23 tahun. Tahapan ini menunjukkan bahwa perubahan sosial tidak terjadi secara instan. Wahyu hadir mengikuti dinamika kehidupan umat, menjawab persoalan, sekaligus membentuk karakter masyarakat. Di sinilah letak keagungan proses Nuzulul Qur’an: ia bukan sekadar peristiwa turun, tetapi proses membangun. Dalam konteks sejarah, turunnya Al-Qur’an mengubah struktur sosial Arab jahiliyah. Praktik ketidakadilan, diskriminasi, dan penindasan perlahan digantikan dengan prinsip tauhid, keadilan, dan kesetaraan. Wahyu membentuk masyarakat yang berbasis ilmu dan akhlak. Peradaban Islam kemudian berkembang pesat, melahirkan tradisi keilmuan, pusat-pusat pendidikan, hingga kontribusi besar dalam sains dan filsafat dunia.
Di era modern, peringatan Nuzulul Qur’an sering kali hanya diisi dengan seremoni dan ceramah rutin. Padahal, esensi peristiwa ini jauh lebih dalam: menghidupkan kembali hubungan umat dengan Al-Qur’an. Tantangan umat Islam hari ini bukan terletak pada ketersediaan mushaf, tetapi pada kedalaman interaksi terhadapnya. Al-Qur’an sering dibaca, tetapi belum sepenuhnya dipahami dan diamalkan sebagai pedoman transformasi sosial. Sebagai kitab suci umat Islam, Al-Qur'an bukan hanya teks spiritual, tetapi juga sumber etika publik. Ia berbicara tentang keadilan sosial, amanah kepemimpinan, kejujuran ekonomi, hingga tanggung jawab kemanusiaan. Nilai-nilai ini sangat relevan di tengah krisis integritas, polarisasi sosial, dan disrupsi digital saat ini.
Nuzulul Qur’an juga mengingatkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran intelektual. Perintah “membaca” tidak terbatas pada teks, tetapi juga membaca realitas sosial. Artinya, umat dituntut tidak hanya religius secara ritual, tetapi juga kritis dan konstruktif dalam menghadapi persoalan zaman. Momentum ini semestinya menjadi refleksi: sudahkah Al-Qur’an menjadi pedoman dalam pengambilan keputusan, dalam mendidik generasi, dan dalam membangun tata kelola sosial? Ataukah ia hanya hadir sebagai simbol yang dibacakan tanpa diinternalisasi?
Nuzulul Qur’an adalah pengingat bahwa wahyu pernah turun untuk mengubah dunia. Tantangannya hari ini adalah bagaimana nilai-nilainya kembali dihadirkan untuk menjawab persoalan kontemporer. Jika Ramadan adalah bulan pembinaan spiritual, maka Nuzulul Qur’an adalah titik kesadaran intelektualnya. Cahaya itu telah turun lebih dari empat belas abad lalu. Pertanyaannya kini sederhana namun mendasar: apakah kita sekadar memperingatinya, atau benar-benar menjadikannya kompas kehidupan?
ARTIKEL27/02/2026 | Rubai
Nuzulul Qur’an : Menjaga Cahaya Wahyu di Bulan Ramadhan
Setiap Ramadan, umat Islam diingatkan pada satu peristiwa besar yang mengubah arah sejarah: turunnya Al-Qur’an. Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, sekaligus pembeda antara yang benar dan yang batil. Karena itu, peringatan Nuzulul Qur’an bukan hanya seremoni tahunan, melainkan ajakan untuk kembali menautkan hidup pada nilai-nilai wahyu dalam ibadah, akhlak, dan kepedulian sosial.
Di banyak daerah di Indonesia, Nuzulul Qur’an kerap diperingati pada malam 17 Ramadan. Momen ini biasa dikaitkan dengan awal turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira, ketika beliau menerima firman pertama yang diawali perintah “Iqra’” (bacalah). Kisah permulaan wahyu yang diriwayatkan dari Aisyah RA menggambarkan bagaimana Nabi SAW sebelumnya gemar menyendiri untuk beribadah dan merenung di Hira, sampai datangnya malaikat membawa wahyu. Pada saat yang sama, Al-Qur’an juga menyebut turunnya Al-Qur’an pada Lailatul Qadr. Para ulama menjelaskan bahwa tidak ada pertentangan: Al-Qur’an memiliki tahapan penurunan diturunkan secara “global” pada malam yang mulia, lalu diturunkan bertahap kepada Nabi Muhammad SAW sesuai kebutuhan dan peristiwa selama masa kerasulan. Penurunan yang bertahap ini menunjukkan perhatian Allah pada proses pendidikan umat: ayat-ayat hadir membimbing, menguatkan, dan menata kehidupan, sedikit demi sedikit, hingga membentuk masyarakat yang beradab.
Karena itu, cara terbaik memaknai Nuzulul Qur’an adalah mendekatkan diri pada Al-Qur’an secara nyata. Membacanya tentu penting, tetapi tidak cukup berhenti pada lantunan. Al-Qur’an perlu dihidupkan dalam perilaku: jujur dalam pekerjaan, adil dalam keputusan, menjaga lisan, serta peka terhadap keadaan sekitar. Ramadan menjadi waktu paling tepat untuk memulai kebiasaan kecil yang konsisten misalnya menambah porsi tilawah harian, memahami maknanya, lalu memilih satu nilai Al-Qur’an untuk dipraktikkan setiap pekan.
Di Kota Surabaya, semangat Nuzulul Qur’an juga dapat dirawat melalui gerakan sosial yang menebarkan manfaat. Zakat, infak, dan sedekah adalah wujud “membumikan” Al-Qur’an: membantu yang kesulitan, menguatkan keluarga rentan, dan membuka jalan kemandirian. Melalui BAZNAS Kota Surabaya, masyarakat dapat menyalurkan amanahnya secara terarah agar manfaatnya sampai kepada mustahik dengan lebih tepat dan berkelanjutan. Pada akhirnya, Nuzulul Qur’an mengingatkan kita: wahyu tidak turun untuk dibaca saja, tetapi untuk menuntun hidup agar Ramadan benar-benar menjadi bulan perubahan, bagi diri dan bagi sesama.
ARTIKEL27/02/2026 | Septya
Memaknai Nuzulul Qur’an melalui Program Sosial BAZNAS Surabaya
Peringatan Nuzulul Qur’an merupakan momentum penting dalam bulan Ramadhan yang mengingatkan umat Islam akan turunnya Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Peristiwa ini tidak hanya memiliki makna spiritual, tetapi juga mengandung pesan sosial yang menekankan nilai keadilan, kepedulian, dan solidaritas. Dalam kehidupan masyarakat perkotaan seperti Surabaya, nilai-nilai tersebut menjadi semakin bermakna ketika diwujudkan dalam aksi nyata yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Hal inilah yang dilakukan oleh BAZNAS Kota Surabaya melalui berbagai program sosial berbasis nilai Al-Qur’an.
Al-Qur’an mengajarkan pentingnya berbagi dan memperhatikan kelompok yang lemah. Nilai tersebut menjadi landasan utama BAZNAS Kota Surabaya dalam mengelola zakat, infak, dan sedekah secara amanah dan profesional. Momentum Nuzulul Qur’an tidak hanya diperingati secara seremonial, tetapi dimanfaatkan sebagai sarana refleksi untuk memperkuat komitmen lembaga dalam menjalankan fungsi sosialnya.
Melalui program penyaluran bantuan bagi fakir miskin, kaum dhuafa, dan kelompok rentan, BAZNAS Kota Surabaya berupaya menghadirkan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Bantuan yang diberikan tidak semata-mata bersifat material, tetapi juga menjadi bentuk penguatan empati dan kebersamaan sosial. Program sosial tersebut menjadi jembatan antara nilai spiritual dan realitas sosial yang dihadapi masyarakat.
Selain penyaluran bantuan, peringatan Nuzulul Qur’an juga menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya zakat sebagai instrumen keadilan sosial. Melalui edukasi dan dakwah sosial, masyarakat diajak memahami bahwa Al-Qur’an tidak hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk diamalkan dalam bentuk kepedulian terhadap sesama. Zakat, infak, dan sedekah diposisikan sebagai wujud nyata pengamalan ajaran Al-Qur’an.
ARTIKEL26/02/2026 | Mila
Menebar Kebaikan di Bulan Puasa: Program Ramadhan BAZNAS Surabaya
Bulan Ramadhan merupakan momentum spiritual yang sarat dengan nilai kepedulian sosial. Puasa tidak hanya dimaknai sebagai ibadah individual, tetapi juga sebagai sarana menumbuhkan empati terhadap sesama, khususnya mereka yang berada dalam kondisi kurang beruntung. Nilai inilah yang menjadi dasar pelaksanaan berbagai program Ramadhan oleh BAZNAS Surabaya, yang berfokus pada penguatan solidaritas sosial dan kesejahteraan masyarakat.
BAZNAS Surabaya sebagai lembaga Pemerintah non-struktural yang berkonsentrasi dalam pengananan masalah sosial keumatan dan bertujuan menyejahterakan ummat, pada momen mulia Bulan Ramadhan 1447 H/2026 M, kembali hadir dalam membantu masyarakat khususnya mustahik miskin dan dhuafa. Melihat dalam bulan Ramadhan masih banyak mustahik yang perlu dibantu dalam hidupnya, khususnya dalam menyambut dan menjalani bulan puasa yang penuh berkah. Melalui program- program Ramadhan, yang didesain oleh tim BAZNAS baik dalam program penyaluran zakat ataupun penyaluran infak dan sedekah diharapkan dapat membantu mereka.
Program Ramadhan 1447 H/2026 M yang telah disusun oleh BAZNAS adalah merupakan program dasar penyaluran zakat, infak, dan sedekah, serta dana sosial lainnya. Yaitu diantaranya pemberian paket sembako, hidangan berkah untuk berbuka dan sahur, yang merupakan kebutuhan pokok/primer mustahik, disamping masih ada program-program lainnya. Melalui program-program Ramadhan tersebut, BAZNAS Surabaya menegaskan perannya sebagai institusi filantropi Islam yang tidak hanya mengelola dana umat, tetapi juga menebarkan nilai-nilai kebaikan. Puasa menjadi kekuatan moral yang menggerakkan kepedulian sosial, menjadikan Ramadhan sebagai bulan yang penuh makna bagi seluruh lapisan masyarakat Surabaya.
Melalui program-program Ramadhan tersebut, BAZNAS Surabaya menegaskan perannya sebagai institusi filantropi Islam yang tidak hanya mengelola dana umat, tetapi juga menebarkan nilai-nilai kebaikan. Puasa menjadi kekuatan moral yang menggerakkan kepedulian sosial, menjadikan Ramadhan sebagai bulan yang penuh makna bagi seluruh lapisan masyarakat Surabaya.
ARTIKEL26/02/2026 | Mila
Nuzulul Qur’an sebagai Momentum Konsolidasi Nilai dan Aksi Sosial Umat
Surabaya (Baznas News) — Peringatan Nuzulul Qur’an bukan sekadar agenda tahunan yang diisi dengan tausiyah dan seremoni. BAZNAS Kota Surabaya memandang momentum ini sebagai ruang konsolidasi nilai dan aksi sosial. Turunnya Al-Qur’an menandai dimulainya transformasi besar dalam sejarah peradaban. Wahyu tidak hanya membentuk spiritualitas, tetapi juga menata ulang sistem sosial. Di sinilah Nuzulul Qur’an menemukan relevansinya dalam konteks hari ini.
Al-Qur’an membawa pesan perubahan yang konkret. Ia berbicara tentang keadilan, tanggung jawab sosial, dan distribusi kesejahteraan. Nilai tersebut bukan sekadar wacana normatif, melainkan prinsip yang harus diimplementasikan. Dalam suasana Ramadhan, pesan itu terasa semakin kuat. Nuzulul Qur’an menjadi pengingat bahwa ibadah harus memiliki dampak sosial yang nyata.
BAZNAS Kota Surabaya menjadikan momentum ini sebagai penguat arah gerakan. Program-program Ramadhan diposisikan sebagai turunan nilai Qur’ani dalam praktik. Bantuan sosial, dukungan ekonomi, hingga program pemberdayaan menjadi bentuk implementasi. Nilai wahyu diterjemahkan ke dalam langkah yang terukur. Inilah cara menghadirkan Al-Qur’an dalam realitas sosial.
Nuzulul Qur’an juga menjadi refleksi tentang pentingnya literasi dan kesadaran kolektif. Wahyu pertama yang turun memerintahkan untuk membaca, yang berarti membuka wawasan dan memahami kondisi sekitar. Membaca realitas sosial adalah langkah awal untuk menghadirkan solusi. Tanpa pemahaman yang utuh, aksi sosial mudah kehilangan arah. Momentum ini mengajak umat untuk lebih peka terhadap tantangan zaman.
Dalam dinamika masyarakat modern, tantangan sosial semakin kompleks. Ketimpangan ekonomi, akses peluang yang tidak merata, serta perubahan pola hidup membutuhkan respons yang adaptif. Nilai Qur’ani memberikan kerangka etis dalam merespons persoalan tersebut. BAZNAS Kota Surabaya berupaya menjadikan nilai itu sebagai dasar pengambilan kebijakan program. Pendekatan ini memastikan gerakan tetap relevan dan kontekstual.
Peringatan Nuzulul Qur’an juga memperkuat kesadaran bahwa perubahan dimulai dari sistem yang terbangun bersama. Kolaborasi menjadi kunci agar nilai wahyu tidak berhenti di ruang pribadi. Dunia usaha, komunitas, dan masyarakat umum memiliki peran masing-masing. Ketika seluruh elemen bergerak, dampak sosial menjadi lebih luas. Inilah makna konsolidasi yang dihadirkan momentum ini.
Ramadhan menghadirkan ruang akselerasi yang jarang terjadi di bulan lain. Energi spiritual bertemu dengan semangat berbagi yang meningkat signifikan. Nuzulul Qur’an menjadi titik tengah yang menguatkan arah gerakan. Ia mengingatkan bahwa keberkahan bukan hanya dirasakan, tetapi juga dibagikan. Semangat ini perlu dijaga agar tidak redup setelah Ramadhan berakhir.
Sebagai bagian dari penguatan nilai dan aksi sosial, masyarakat dapat menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Surabaya. Kontribusi tersebut menjadi bagian dari gerakan yang terstruktur dan berdampak. Setiap partisipasi adalah wujud nyata pengamalan nilai Al-Qur’an. Momentum Nuzulul Qur’an diharapkan menjadi titik tolak perubahan yang berkelanjutan. Bersama, nilai wahyu dapat dihadirkan dalam kehidupan sosial yang lebih adil dan berdaya.
Salurkan donasi Anda melalui:
???? Website: https://surabaya.baznas.go.id
???? Instagram: @baznaskotasurabaya
Keyword SEO: Nuzulul Qur’an, Peringatan Nuzulul Qur’an, Nilai Qur’ani, Aksi Sosial Ramadhan, BAZNAS Kota Surabaya, Program Ramadhan
ARTIKEL24/02/2026 | Intan
Gerakan Ramadhan sebagai Akselerasi Kebaikan: Dari Momentum Menuju Dampak Nyata
Surabaya (Baznas News) — Ramadhan selalu menghadirkan lonjakan kepedulian di tengah masyarakat. Namun BAZNAS Kota Surabaya memandang bahwa semangat tersebut perlu dikelola menjadi gerakan yang terarah, bukan sekadar gelombang musiman. Gerakan Ramadhan bukan hanya tentang meningkatnya donasi, tetapi tentang bagaimana energi kebaikan diakselerasi agar menghasilkan dampak yang lebih luas. Momentum ini menjadi titik temu antara spiritualitas dan strategi sosial. Dari sinilah perubahan yang terukur mulai dibangun.
Ramadhan menciptakan atmosfer yang berbeda. Aktivitas berbagi meningkat, solidaritas menguat, dan partisipasi masyarakat meluas. Gerakan Ramadhan harus menjawab kebutuhan riil masyarakat secara konkret.
BAZNAS Kota Surabaya merancang program Ramadhan dengan pendekatan yang lebih sistematis. Bantuan pangan, santunan, dan dukungan usaha diintegrasikan dalam satu kerangka gerakan. Setiap program memiliki sasaran yang jelas dan indikator kebermanfaatan yang terukur. Tujuannya agar setiap kontribusi masyarakat benar-benar menghadirkan perubahan. Ramadhan menjadi fase percepatan distribusi manfaat yang lebih masif.
Gerakan ini juga memperluas pola kolaborasi. Dunia usaha, komunitas, relawan, hingga individu terlibat dalam satu ekosistem kebaikan. Kolaborasi tersebut mempercepat jangkauan program hingga ke berbagai wilayah. Semakin banyak pihak yang terlibat, semakin luas dampak yang dirasakan. Ramadhan menjadi ruang konsolidasi kekuatan sosial yang jarang terjadi di bulan lain. Selain bantuan langsung, fokus gerakan juga diarahkan pada penguatan ekonomi masyarakat. Dukungan usaha mikro dan bantuan produktif menjadi bagian dari strategi. Pendekatan ini memberi peluang bagi penerima manfaat untuk meningkatkan kapasitasnya. Ramadhan tidak hanya memberi, tetapi juga mendorong kemandirian. Inilah pergeseran paradigma dari bantuan sesaat menuju keberlanjutan. Gerakan Ramadhan juga menjadi sarana memperkuat budaya berbagi sepanjang tahun. BAZNAS Kota Surabaya mendorong agar partisipasi masyarakat tidak berhenti setelah Idul Fitri. Ramadhan menjadi pintu masuk untuk membangun komitmen jangka panjang. Kesadaran kolektif inilah yang menjadi fondasi kekuatan filantropi Islam. Energi bulan suci diarahkan menjadi kebiasaan sosial yang konsisten.
Di tengah dinamika ekonomi dan sosial, Gerakan Ramadhan berfungsi sebagai penyeimbang. Ketika sebagian masyarakat menghadapi tekanan biaya hidup, solidaritas menjadi solusi bersama. Bantuan yang tersalurkan bukan sekadar angka, tetapi membawa rasa aman dan harapan. Ramadhan membuktikan bahwa kebersamaan mampu meredam ketimpangan. Gerakan ini menjadi simbol bahwa kepedulian masih tumbuh kuat.
Sebagai bagian dari Gerakan Ramadhan, masyarakat dapat menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Surabaya. Setiap kontribusi akan dikelola dalam kerangka program yang terarah dan berdampak. Partisipasi aktif menjadi kekuatan utama dalam memperluas manfaat. Ramadhan adalah momentum, tetapi dampaknya bisa berkelanjutan. Bersama, akselerasi kebaikan dapat diwujudkan secara nyata.
Salurkan donasi Anda melalui:
???? Website: https://surabaya.baznas.go.id
???? Instagram: @baznaskotasurabaya
Keyword SEO: Gerakan Ramadhan, Program Ramadhan Surabaya, Akselerasi Kebaikan, Zakat Ramadhan, BAZNAS Kota Surabaya, Filantropi Islam
ARTIKEL23/02/2026 | Intan
Minggu Kedua Bulan Suci: Memperdalam Taqwa, Memperluas Manfaat
Memasuki minggu kedua bulan suci Ramadhan, umat Islam umumnya telah melewati fase adaptasi. Ritme sahur, berbuka, serta jadwal ibadah mulai terbentuk dengan lebih stabil. Pada tahap ini, Ramadhan seharusnya tidak lagi dijalani sekadar sebagai rutinitas tahunan, tetapi dimaknai sebagai momentum untuk memperdalam ketakwaan sekaligus memperluas manfaat bagi sesama.
Minggu kedua menjadi waktu yang tepat untuk melakukan evaluasi diri. Apakah ibadah wajib sudah lebih terjaga? Apakah tilawah Al-Qur’an semakin rutin? Apakah hati lebih mudah menahan amarah dan lisan lebih terjaga dari perkataan sia-sia? Ramadhan adalah madrasah spiritual yang melatih kesabaran, kedisiplinan, dan keikhlasan. Semakin sungguh-sungguh kita menjalaninya, semakin besar pula perubahan yang akan kita rasakan dalam diri.
Selain memperkuat hubungan dengan Allah SWT, Ramadhan juga mengajarkan pentingnya kepedulian sosial. Rasa lapar yang kita rasakan setiap hari semestinya menumbuhkan empati terhadap mereka yang hidup dalam keterbatasan. Oleh karena itu, memperbanyak sedekah, infak, dan zakat di bulan suci bukan hanya anjuran, melainkan bagian dari penyempurna ibadah puasa.
Minggu kedua Ramadhan menjadi momentum yang tepat untuk mulai menunaikan zakat dan memperbanyak berbagi. Penyaluran melalui lembaga resmi seperti Badan Amil Zakat Nasional membantu memastikan bahwa bantuan yang kita berikan tersampaikan secara amanah, tepat sasaran, dan memberi dampak nyata bagi masyarakat yang membutuhkan. Melalui program bantuan sosial, pendidikan, kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi, zakat dan sedekah dapat menghadirkan harapan baru bagi banyak keluarga.
Mari jadikan pekan kedua Ramadhan sebagai titik peningkatan amal. Perkuat ibadah pribadi, hidupkan malam dengan doa, serta perluas manfaat dengan berbagi kepada sesama. Karena sejatinya, keberhasilan Ramadhan tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah yang kita lakukan, tetapi juga dari seberapa besar kebaikan yang bisa kita hadirkan bagi orang lain.
Semoga Ramadhan kali ini menjadikan kita pribadi yang lebih bertakwa sekaligus lebih bermanfaat bagi umat.
Salurkan donasi Anda melalui:
???? Website: https://surabaya.baznas.go.id
???? Instagram: @baznaskotasurabaya
ARTIKEL23/02/2026 | Ana
Nuzulul Qur’an dan Spirit Perubahan Sosial: Menghidupkan Nilai Wahyu dalam Gerakan Kepedulian
Surabaya (Baznas News) — Dalam momentum Nuzulul Qur’an, BAZNAS Kota Surabaya mengajak masyarakat untuk tidak hanya memperingati turunnya Al-Qur’an sebagai peristiwa sejarah, tetapi juga sebagai sumber nilai yang menggerakkan kepedulian sosial. Nuzulul Qur’an menjadi pengingat bahwa wahyu pertama yang turun membawa misi perubahan. Al-Qur’an hadir sebagai petunjuk hidup yang menyentuh aspek spiritual sekaligus sosial.
Turunnya Al-Qur’an membawa pesan pembebasan dari ketidakadilan dan ketimpangan sosial. Wahyu tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga hubungan antar sesama. Dalam konteks Ramadhan, nilai tersebut semakin relevan untuk diwujudkan. Kepedulian terhadap dhuafa menjadi bagian dari implementasi ajaran Al-Qur’an.
Melalui berbagai program Ramadhan, BAZNAS Kota Surabaya berupaya menerjemahkan nilai Qur’ani ke dalam gerakan pemberdayaan. Bantuan pangan, santunan, hingga dukungan usaha bagi mustahik menjadi wujud nyata kepedulian. Program-program ini dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan. Tidak hanya meringankan beban sementara, tetapi juga membangun kemandirian. Inilah bentuk aktualisasi nilai wahyu dalam kehidupan sosial.
Nuzulul Qur’an juga menjadi ajang meningkatkan literasi Al-Qur’an di tengah masyarakat. Membaca, memahami, dan mengamalkan isi Al-Qur’an menjadi bagian penting dalam membangun peradaban. Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tetapi pedoman hidup yang komprehensif. Nilai kejujuran, amanah, dan kepedulian sosial harus tercermin dalam tindakan sehari-hari. Momentum ini mengajak umat untuk menjadikan wahyu sebagai inspirasi perubahan.
BAZNAS Kota Surabaya terus mengedepankan prinsip transparansi dan akuntabilitas sebagai bagian dari implementasi nilai Qur’ani. Amanah menjadi konsep utama dalam pengelolaan dana umat. Kepercayaan masyarakat dijaga melalui tata kelola yang profesional. Setiap kontribusi yang diberikan disalurkan secara tepat sasaran. Hal ini menjadi wujud komitmen dalam menghadirkan kebermanfaatan yang nyata.
Momentum Nuzulul Qur’an mengingatkan bahwa perubahan besar dimulai dari kesadaran kecil yang terus dijaga. Wahyu pertama yang turun memerintahkan untuk membaca, yang berarti membuka cakrawala pengetahuan. Dalam konteks sosial, membaca realitas menjadi langkah awal menghadirkan solusi. Kepedulian tidak lahir dari ketidaktahuan, melainkan dari pemahaman yang mendalam. Oleh karena itu, literasi dan aksi harus berjalan beriringan.
Sebagai bagian dari peringatan Nuzulul Qur’an, masyarakat diajak menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Surabaya. Partisipasi aktif menjadi wujud nyata pengamalan nilai Al-Qur’an. Dana yang dihimpun akan dikelola secara amanah dan profesional. Kolaborasi umat menjadi kunci memperluas manfaat kebaikan. Semoga Nuzulul Qur’an tahun ini menjadi penguat semangat perubahan sosial yang berkelanjutan.
Salurkan donasi Anda melalui:
???? Website: https://surabaya.baznas.go.id
???? Instagram: @baznaskotasurabaya
Keyword SEO: Nuzulul Qur’an, Peringatan Nuzulul Qur’an, Nilai Qur’ani, Gerakan Kepedulian, BAZNAS Kota Surabaya, Zakat Ramadhan
ARTIKEL23/02/2026 | Dhea

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Surabaya.
Lihat Daftar Rekening →