WhatsApp Icon
Jumat Berkah: Keutamaan Sedekah di Hari Jumat dan Manfaatnya bagi Sesama

Hari Jumat merupakan hari yang istimewa bagi umat Islam. Selain menjadi waktu untuk meningkatkan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, Jumat juga dikenal sebagai momentum terbaik untuk memperbanyak amal kebaikan, termasuk sedekah di hari Jumat.

Banyak ulama menjelaskan bahwa sedekah yang diberikan pada hari Jumat memiliki keutamaan yang lebih besar dibandingkan hari-hari lainnya. Oleh karena itu, tidak sedikit kaum muslimin yang menjadikan Jumat sebagai momen khusus untuk berbagi rezeki kepada mereka yang membutuhkan.

Keutamaan Sedekah di Hari Jumat

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah disebutkan:

"Dan sedekah pada hari itu (Jumat) lebih mulia dibanding hari-hari selainnya." (HR. Ibnu Khuzaimah)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa sedekah yang dilakukan pada hari Jumat memiliki nilai pahala yang istimewa. Keutamaan ini menjadi motivasi bagi umat Islam untuk lebih peduli terhadap sesama dan memanfaatkan hari yang penuh keberkahan ini dengan memperbanyak amal saleh.

Selain mendapatkan pahala, sedekah juga menjadi sarana membersihkan harta, menumbuhkan rasa syukur, serta mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.

Manfaat Sedekah bagi Kehidupan

Sedekah tidak hanya memberikan manfaat bagi penerimanya, tetapi juga bagi orang yang memberi. Berikut beberapa manfaat sedekah yang dapat dirasakan:

1. Mendatangkan Keberkahan Harta

Harta yang digunakan untuk bersedekah tidak akan berkurang nilainya di sisi Allah SWT. Sebaliknya, sedekah menjadi sebab datangnya keberkahan dan kebaikan dalam kehidupan.

2. Membantu Masyarakat yang Membutuhkan

Sedekah dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat kurang mampu, seperti makanan, pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan sosial lainnya.

3. Menumbuhkan Kepedulian Sosial

Melalui sedekah, rasa empati dan solidaritas terhadap sesama semakin meningkat. Hal ini penting dalam membangun masyarakat yang harmonis dan saling mendukung.

4. Menjadi Investasi Amal Jariyah

Sebagian sedekah yang disalurkan untuk program produktif dan pemberdayaan dapat memberikan manfaat berkelanjutan yang pahalanya terus mengalir.

Program Jumat Berkah BAZNAS Kota Surabaya

Sebagai lembaga resmi pengelola zakat, infak, dan sedekah, BAZNAS Kota Surabaya terus menghadirkan berbagai program kemanusiaan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Salah satunya melalui Program RAKSAZA (Gerakan Sadar Zakat Surabaya) yang menjadi wadah bagi masyarakat untuk menyalurkan infak dan sedekah secara amanah, profesional, dan tepat sasaran.

Dana yang dihimpun dari para muzaki dan munfik disalurkan dalam berbagai bentuk bantuan sosial, paket makanan, program pemberdayaan ekonomi, bantuan pendidikan, serta kegiatan kemanusiaan lainnya yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Kota Surabaya.

Mari Raih Keberkahan di Hari Jumat

Jumat Berkah adalah kesempatan untuk memperbanyak amal kebaikan dan berbagi kebahagiaan dengan sesama. Sekecil apa pun sedekah yang diberikan, dapat menjadi harapan baru bagi mereka yang membutuhkan serta menjadi tabungan amal di akhirat kelak.

Mari jadikan setiap hari Jumat sebagai momentum untuk menebar manfaat dan memperkuat kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Salurkan Infak dan Sedekah Anda Sekarang

 

???? bit.ly/RaksazaSurabaya

05/06/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Surabaya
Niat Puasa Tarwiyah dan Arafah Lengkap Beserta Keutamaan dan Tata Caranya

Menjelang Hari Raya Iduladha, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal ibadah, salah satunya dengan melaksanakan puasa sunnah Tarwiyah dan Arafah. Kedua puasa ini memiliki banyak keutamaan serta menjadi amalan istimewa di bulan Dzulhijjah.

Banyak umat Muslim mencari informasi tentang niat puasa Tarwiyah dan Arafah, jadwal pelaksanaan, hingga keutamaannya. Berikut penjelasan lengkap yang dapat menjadi panduan ibadah Anda.

Apa Itu Puasa Tarwiyah dan Arafah?

Puasa Tarwiyah adalah puasa sunnah yang dilakukan pada tanggal 8 Dzulhijjah. Sedangkan puasa Arafah dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah, bertepatan dengan wukuf jamaah haji di Padang Arafah.

Puasa ini sangat dianjurkan bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji.

Niat Puasa Tarwiyah

Berikut bacaan niat puasa Tarwiyah lengkap dengan artinya:

???????? ?????? ?????????? ??????? ??????? ????????

Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillahi ta‘ala.

Artinya:
“Saya niat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah Ta’ala.”

Niat Puasa Arafah

Berikut niat puasa Arafah yang dapat dibaca pada malam hari atau sebelum waktu dzuhur:

???????? ?????? ???????? ??????? ??????? ????????

Nawaitu shauma ‘arafata sunnatan lillahi ta‘ala.

Artinya:
“Saya niat puasa sunnah Arafah karena Allah Ta’ala.”

Keutamaan Puasa Tarwiyah

Puasa Tarwiyah menjadi salah satu amalan sunnah yang dianjurkan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Beberapa keutamaannya antara lain:

  • Menambah pahala amal ibadah di bulan Dzulhijjah

  • Melatih kesabaran dan keikhlasan

  • Menjadi persiapan spiritual menuju Hari Arafah

  • Menghidupkan sunnah Rasulullah SAW

Melaksanakan puasa Tarwiyah juga menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah menjelang Iduladha.

Keutamaan Puasa Arafah

Puasa Arafah memiliki keistimewaan luar biasa sebagaimana disebutkan dalam hadis Rasulullah SAW:

“Puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.”
(HR. Muslim)

Adapun keutamaan puasa Arafah lainnya yaitu:

  • Menghapus dosa kecil selama dua tahun

  • Mendapat pahala besar di hari mulia

  • Mendekatkan diri kepada Allah SWT

  • Menjadi waktu mustajab untuk berdoa

Karena itu, puasa Arafah menjadi salah satu puasa sunnah yang sangat dianjurkan bagi umat Muslim.

Tata Cara Puasa Tarwiyah dan Arafah

Tata cara puasa Tarwiyah dan Arafah sama seperti puasa sunnah lainnya, yaitu:

  1. Membaca niat puasa

  2. Menahan diri dari makan, minum, dan hal yang membatalkan puasa mulai terbit fajar hingga maghrib

  3. Memperbanyak doa, dzikir, dan membaca Al-Qur’an

  4. Menyegerakan berbuka puasa saat waktu maghrib tiba

Hikmah Puasa di Bulan Dzulhijjah

Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan mulia dalam Islam. Selain puasa Tarwiyah dan Arafah, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak sedekah, takbir, dzikir, serta ibadah kurban.

Momentum ini menjadi kesempatan terbaik untuk memperbaiki diri dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Penutup

Puasa Tarwiyah dan Arafah adalah amalan sunnah yang penuh keutamaan menjelang Hari Raya Iduladha. Dengan memahami niat puasa Tarwiyah dan Arafah beserta keutamaannya, diharapkan umat Islam dapat menjalankan ibadah dengan lebih maksimal dan penuh keikhlasan.

 

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita di bulan Dzulhijjah dan memberikan keberkahan dalam kehidupan.

25/05/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Surabaya
Syarat Hewan Kurban yang Sah Sesuai Syariat Islam dan Ketentuan Hukumnya

Menjelang Hari Raya Iduladha, umat muslim di Kota Surabaya mulai mempersiapkan diri untuk melaksanakan ibadah kurban. Ibadah yang agung ini bukan sekadar bentuk kepedulian sosial, melainkan ritual yang memiliki aturan fikih yang ketat.

Salah satu aspek paling krusial yang menentukan sah atau tidaknya ibadah ini adalah pemenuhan syarat hewan kurban itu sendiri. Memahami kriteria hewan yang layak menjadi tanggung jawab penting bagi setiap mudahi (pekurban) agar ibadahnya diterima Allah SWT.

Syarat pertama yang wajib dipenuhi adalah mengenai jenis hewannya. Islam menetapkan bahwa hewan kurban harus berasal dari jenis Bahimatul An'am atau hewan ternak berkaki empat. Hewan-hewan yang masuk dalam kategori ini meliputi unta, sapi, kerbau, kambing, dan domba.

Setiap jenis hewan tersebut memiliki ketentuan batas minimal usia yang berbeda-beda. Untuk sapi atau kerbau, minimal harus genap berusia dua tahun dan memasuki tahun ketiga. Sedangkan untuk kambing biasa, usia minimalnya adalah genap dua tahun. Bagi yang memilih domba, diperbolehkan jika sudah genap berusia satu tahun atau telah mengalami tanggal gigi.

Syarat mutlak berikutnya yang wajib diperhatikan dengan saksama adalah kondisi kesehatan fisik hewan. Hewan kurban harus dalam keadaan sehat dan bebas dari cacat fisik yang nyata. Rasulullah SAW telah memberikan batasan yang sangat jelas mengenai kriteria cacat ini.

Hewan tidak boleh mengalami kebutaan yang jelas, tidak boleh sakit yang tampak melemahkan tubuhnya, tidak pincang, serta tidak dalam kondisi sangat kurus. Hewan yang sehat, gemuk, dan terawat dengan baik merupakan bentuk pengorbanan terbaik yang mencerminkan ketakwaan seorang hamba.

Faktor kepemilikan dan waktu penyembelihan juga menjadi syarat penentu yang tidak boleh diabaikan. Hewan yang dikurbankan harus diperoleh melalui cara yang sah dan halal secara hukum, bukan dari hasil mencuri atau milik orang lain tanpa izin akad yang jelas.

Dari sisi waktu, penyembelihan hanya sah jika dilakukan dalam rentang waktu yang telah ditentukan oleh syariat. Yaitu dimulai setelah selesainya pelaksanaan salat Iduladha pada tanggal 10 Zulhijah, hingga terbenamnya matahari pada hari Tasyrik yang terakhir, yaitu tanggal 13 Zulhijah.

Melalui pengelolaan yang profesional, BAZNAS Kota Surabaya senantiasa berkomitmen untuk memastikan seluruh hewan kurban telah melalui seleksi ketat. Tim di lapangan memastikan pengecekan usia melalui pemeriksaan gigi, serta melibatkan tenaga medis veteriner untuk menjamin kesehatan hewan.

Dengan berkurban melalui lembaga resmi, para mudahi tidak hanya mendapatkan jaminan kepastian syarat hewan yang sah secara fikih. Anda juga ikut berkontribusi dalam pemerataan distribusi daging secara higienis kepada mustahik yang benar-benar membutuhkan di seluruh wilayah Kota Surabaya.

Sumber Referensi:

  1. Kitab Fathul Qarib al-Mujib oleh Syaikh Muhammad bin Qasim al-Ghazi, bab Ahkam al-Udhhiyah (Hukum-Hukum Kurban).

  2. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 32 Tahun 2022 tentang Hukum dan Panduan Pelaksanaan Ibadah Kurban (acuan standar kesehatan hewan ternak).

  3. Hadis Riwayat Al-Khamsah dari Al-Bara' bin 'Azib mengenai kriteria cacat hewan yang tidak sah untuk kurban.
25/05/2026 | Kontributor: Imam Syafii
Kurban Dulu atau Aqiqah Dulu? Simak Penjelasan Hukum dan Prioritasnya

Menjelang Hari Raya Iduladha, sebagian umat muslim sering kali dihadapkan pada pilihan yang membingungkan antara menunaikan ibadah kurban atau akikah. Fenomena ini biasanya dialami oleh mereka yang memiliki keterbatasan anggaran, tetapi di saat yang sama ingin menjalankan kedua anjuran agama tersebut.

Untuk menentukan mana yang harus didahulukan, kita perlu memahami esensi dan waktu pelaksanaan dari kedua ibadah ini. Baik kurban maupun akikah sama-sama memiliki hukum sunah muakkad (sunah yang sangat ditekankan) dalam pandangan mayoritas ulama, khususnya mazhab Syafi'i.

Perbedaan mendasar yang paling mencolok terletak pada kelonggaran waktu pelaksanaannya. Ibadah kurban adalah ibadah yang sangat terikat oleh waktu yang sempit, yaitu hanya bisa dilakukan pada hari Nahar (10 Zulhijah) dan tiga hari Tasyrik (11, 12, dan 13 Zulhijah).

Sementara itu, ibadah akikah memiliki waktu pelaksanaan yang jauh lebih longgar. Meskipun waktu paling afdal untuk akikah adalah pada hari ketujuh setelah kelahiran anak, kewajiban atau anjuran ini sebenarnya tetap berlaku hingga anak tersebut mencapai usia balig.

Berdasarkan perbedaan batasan waktu tersebut, para ulama fikih merumuskan kaidah prioritas. Jika momentum Iduladha telah tiba dan dana yang tersedia hanya cukup untuk membeli satu ekor hewan ternak, maka Anda sangat dianjurkan untuk mendahulukan kurban terlebih dahulu.

Alasannya adalah karena kesempatan untuk menunaikan ibadah kurban pada tahun tersebut akan segera hilang begitu hari Tasyrik berakhir. Jika melewatkannya, Anda harus menunggu hingga bulan Zulhijah di tahun berikutnya. Sementara untuk akikah, Anda masih bisa melaksanakannya di bulan-bulan lain setelah Iduladha berlalu.

Namun, ada pula pandangan dari sebagian ulama seperti Imam Al-Hasan Al-Bashri dan jalur mazhab Hanbali yang menyebutkan bahwa kurban bisa menghapus kewajiban akikah. Menurut pendapat ini, jika seorang anak dikurbankan pada hari Iduladha, maka hal itu sudah dianggap mencukupi dan mewakili akikahnya.

Meskipun demikian, pandangan yang paling aman dan kuat di Indonesia adalah tetap memisahkan keduanya karena tujuan dan sebab kedua ibadah ini berbeda. Kurban ditujukan sebagai syiar tahunan untuk mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan akikah adalah bentuk rasa syukur atas kelahiran seorang anak.

Kesimpulannya, jika Anda memiliki kelapangan rezeki yang cukup untuk keduanya, tentu menyembelih kurban dan akikah sekaligus adalah hal yang utama. Namun jika dana terbatas, utamakanlah kurban di bulan Zulhijah ini, lalu agendakan kembali ibadah akikah anak Anda di waktu berikutnya.

Melalui BAZNAS Kota Surabaya, Anda dapat menyalurkan ibadah kurban dengan mudah, transparan, dan tepat sasaran. Kami memastikan setiap hewan kurban dikelola secara syar'i demi menghadirkan kebahagiaan yang merata bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan di seluruh penjuru kota.

Sumber Referensi:

  1. Kitab Tuhfah al-Muhtaj fi Syarh al-Minhaj oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami, bab Al-Udhhiyah wa al-Aqiqa (penjelasan mengenai tidak saling mencukupinya kurban dan akikah karena perbedaan sebab).

  2. Kitab Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab oleh Imam An-Nawawi, terkait skala prioritas ibadah yang terikat waktu (muwaqqat) atas ibadah yang waktunya longgar (muthlaq).

  3. Fatwa seputar Kurban dan Akikah oleh Lembaga Bahtsul Masa'il Nahdlatul Ulama (LBM-NU) mengenai panduan fikih prioritas amal bagi keluarga muslim.
25/05/2026 | Kontributor: Imam Syafii
Hukum Kurban untuk Orang yang Sudah Meninggal: Sah atau Tidak?

Menjelang Hari Raya Iduladha, kerinduan terhadap anggota keluarga yang telah tiada sering kali semakin menguat. Banyak umat muslim di Kota Surabaya yang ingin memberikan hadiah terbaik bagi orang tua atau kerabat mereka yang sudah wafat, salah satunya dengan niat berkurban atas nama almarhum atau almarhumah.

Namun, bagaimana sebenarnya hukum kurban untuk orang yang sudah meninggal dalam panduan fikih Islam? Apakah ibadah tersebut sah dan pahalanya bisa sampai kepada mereka yang berada di alam kubur? Pertanyaan ini penting diulas agar niat baik kita selaras dengan koridor syariat.

Dalam mazhab Syafi'i, yang menjadi pegangan mayoritas masyarakat Indonesia, hukum asal berkurban untuk orang yang sudah wafat adalah tidak diperbolehkan jika semasa hidupnya almarhum tidak meninggalkan wasiat atau nazar untuk berkurban.

Pandangan ini didasarkan pada prinsip bahwa ibadah memerlukan niat dan kesadaran dari pelakunya sendiri. Selain itu, Al-Qur'an surah An-Najm ayat 39 menegaskan bahwa seorang manusia tidak akan memperoleh pahala kecuali apa yang telah diusahakannya sendiri selama hidup.

Salah satu ulama besar mazhab Syafi'i, Imam An-Nawawi, dalam kitab Minhaj ut-Thalibin secara tegas menyatakan bahwa tidak sah berkurban untuk orang lain yang sudah meninggal dunia, kecuali jika almarhum memang pernah berwasiat sebelum wafatnya.

Jika almarhum meninggalkan wasiat sebelum meninggal, maka hukum berkurban atas namanya menjadi sah dan diperbolehkan. Dalam kondisi ini, seluruh daging kurban tersebut wajib disedekahkan kepada kaum fakir miskin, dan pihak yang berkurban (ahli waris) tidak boleh memakan dagingnya sedikit pun.

Meskipun demikian, terdapat pandangan lain dari mazhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali yang cenderung lebih longgar. Mereka berpendapat bahwa berkurban untuk orang yang sudah meninggal hukumnya boleh dan sah, mirip seperti bersedekah atas nama orang mati yang pahalanya diyakini akan sampai kepada almarhum.

Bagi Anda yang ingin tetap memberikan pahala kurban kepada keluarga yang sudah wafat tanpa terjebak dalam perbedaan khilafiyah yang ketat, ada solusi praktis dan aman yang dianjurkan para ulama. Caranya adalah dengan berkurban untuk diri sendiri atau keluarga yang masih hidup, lalu menyertakan niat pahalanya untuk seluruh anggota keluarga, baik yang masih hidup maupun yang sudah tiada.

Niat kolektif dalam satu keluarga ini didasarkan pada kebiasaan Rasulullah SAW yang pernah menyembelih kurban seraya berdoa agar pahalanya diperuntukkan bagi dirinya, keluarganya, dan seluruh umatnya. Cara ini dinilai lebih aman dan mencakup semua orang yang kita cintai.

Melalui BAZNAS Kota Surabaya, Anda dapat menunaikan ibadah kurban dengan mudah, amanah, dan tepat sasaran. Setiap hewan kurban dikelola secara profesional demi memastikan aspek syariatnya terpenuhi secara sempurna dan manfaatnya merata bagi masyarakat yang membutuhkan.

Sumber Referensi:

  1. Kitab Minhaj ut-Thalibin oleh Imam An-Nawawi, pada bab Al-Udhhiyah (Ketentuan Kurban atas Orang yang Meninggal).

  2. Kitab Mughni al-Muhtaj oleh Syaikh Khatib al-Syarbini, penjelasan mengenai syarat wasiat dalam kurban untuk almarhum.

  3. Fatwa Tarjih dan Bahtsul Masa'il mengenai perluasan niat kurban (tasyrîk al-thawâb) untuk anggota keluarga yang telah wafat.
25/05/2026 | Kontributor: Imam Syafii

Artikel Terbaru

Puasa sebagai Ekosistem Kepedulian: Dari Ibadah Personal Menuju Dampak Sosial Berkelanjutan
Puasa sebagai Ekosistem Kepedulian: Dari Ibadah Personal Menuju Dampak Sosial Berkelanjutan
Surabaya (Baznas News) — Puasa sering dipahami sebagai ibadah yang bersifat personal, padahal di dalamnya tersimpan potensi besar untuk membangun ekosistem kepedulian sosial. BAZNAS Kota Surabaya memandang puasa sebagai momentum strategis untuk memperkuat hubungan antara ibadah dan kesejahteraan masyarakat. Nilai pengendalian diri yang dilatih selama berpuasa seharusnya bertransformasi menjadi aksi nyata. Ramadhan menghadirkan ruang kolektif untuk menciptakan perubahan sosial yang lebih sistematis. Inilah makna puasa yang tidak berhenti pada ritual, tetapi berkembang menjadi gerakan berkelanjutan. Konsep ekosistem kepedulian berarti setiap individu memiliki peran dalam rantai kebaikan. Muzakki, mustahik, relawan, dan lembaga pengelola zakat saling terhubung dalam satu sistem yang terintegrasi. Puasa membentuk kesadaran bahwa kesejahteraan sosial tidak bisa dibangun sendiri-sendiri. Diperlukan kolaborasi dan distribusi peran yang jelas. Dengan pola ini, kebaikan tidak bersifat spontan, tetapi terstruktur dan terukur. BAZNAS Kota Surabaya mendorong agar momentum puasa dimanfaatkan untuk memperkuat perencanaan sosial. Zakat, infak, dan sedekah tidak hanya disalurkan untuk kebutuhan konsumtif, tetapi juga diarahkan pada program produktif. Selain aspek ekonomi, puasa juga memperkuat literasi sosial masyarakat. Rasa lapar yang dirasakan setiap hari menjadi refleksi nyata tentang kondisi ketimpangan yang masih ada. Kesadaran ini perlu diterjemahkan dalam kebijakan dan program yang tepat sasaran. Edukasi tentang pentingnya distribusi zakat yang efektif terus digencarkan. Puasa menjadi ruang pembelajaran kolektif tentang keadilan sosial. Inovasi dalam pengelolaan zakat juga menjadi bagian penting dari ekosistem kepedulian. Pemanfaatan teknologi digital mempermudah masyarakat dalam menunaikan kewajiban. Sistem pembayaran online, pelaporan digital, dan publikasi program memperluas partisipasi. Dengan pendekatan ini, puasa tidak hanya memperkuat spiritualitas, tetapi juga modernisasi tata kelola filantropi. Sinergi antara nilai tradisional dan teknologi menjadi kekuatan baru. BAZNAS Kota Surabaya melihat bahwa keberhasilan puasa tidak hanya diukur dari ketahanan menahan lapar, tetapi dari dampak sosial yang dihasilkan. Jika setelah Ramadhan solidaritas tetap tumbuh, maka puasa telah melahirkan perubahan. Gerakan sosial yang lahir dari Ramadhan diharapkan tidak berhenti di akhir bulan. Keberlanjutan menjadi indikator utama keberhasilan ekosistem kepedulian. Sebagai bagian dari penguatan ekosistem tersebut, masyarakat dapat menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Surabaya. Kontribusi yang diberikan akan dikelola secara amanah dan profesional. Partisipasi aktif menjadi langkah konkret membangun dampak sosial berkelanjutan. Puasa menjadi awal transformasi yang lebih luas. Bersama, Ramadhan dapat melahirkan sistem kepedulian yang kokoh dan berdaya. Salurkan donasi Anda melalui: ???? Website: https://surabaya.baznas.go.id ???? Instagram: @baznaskotasurabaya Keyword SEO: Puasa Ramadhan, Ekosistem Kepedulian, Zakat Produktif, Pemberdayaan Mustahik, BAZNAS Kota Surabaya, Filantropi Islam
ARTIKEL20/02/2026 | Intan
Satu Hati di Bulan Suci: Gerakan Ramadhan BAZNAS Surabaya untuk Umat
Satu Hati di Bulan Suci: Gerakan Ramadhan BAZNAS Surabaya untuk Umat
Bulan Ramadhan merupakan momentum istimewa bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah sekaligus memperkuat kepedulian sosial. Dalam semangat kebersamaan tersebut, BAZNAS Surabaya menghadirkan Gerakan Ramadhan sebagai wujud nyata kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan. Gerakan ini tidak hanya menjadi agenda rutin tahunan, tetapi juga menjadi simbol persatuan hati antara muzaki dan mustahik di Kota Surabaya. Melalui Gerakan Ramadhan, BAZNAS Surabaya mengoptimalkan penghimpunan zakat, infak, dan sedekah dari berbagai kalangan—baik individu, komunitas, maupun instansi. Dana yang terkumpul kemudian disalurkan dalam berbagai program, seperti bantuan sembako, santunan dhuafa, beasiswa pendidikan, bantuan kesehatan, hingga dukungan modal usaha mikro. Program-program tersebut dirancang untuk menjawab kebutuhan riil masyarakat, khususnya mereka yang terdampak secara ekonomi. Gerakan ini juga menekankan prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana umat. Setiap amanah yang diberikan oleh muzaki dikelola secara profesional dan disalurkan secara tepat sasaran. Dengan demikian, kepercayaan publik terhadap lembaga zakat semakin meningkat, dan partisipasi masyarakat dalam berzakat pun semakin luas. Tidak hanya berfokus pada penyaluran bantuan, Gerakan Ramadhan juga menjadi sarana edukasi tentang pentingnya zakat sebagai instrumen pemerataan kesejahteraan. Zakat bukan sekadar kewajiban individual, tetapi juga solusi sosial yang mampu mengurangi kesenjangan dan memperkuat solidaritas. Semangat “Satu Hati” mencerminkan bahwa Ramadhan adalah waktu terbaik untuk menyatukan niat dan langkah dalam membantu sesama. Di tengah dinamika perkotaan seperti Surabaya, kolaborasi menjadi kunci. BAZNAS Surabaya menggandeng relawan, masjid, sekolah, dan berbagai mitra untuk memastikan distribusi bantuan berjalan efektif dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Sinergi ini membuktikan bahwa ketika umat bersatu, dampak kebaikan dapat dirasakan lebih luas. Akhirnya, Gerakan Ramadhan bukan hanya tentang berbagi materi, tetapi tentang menghadirkan harapan. Harapan bagi keluarga dhuafa untuk merasakan kebahagiaan di bulan suci, harapan bagi anak-anak untuk tetap melanjutkan pendidikan, dan harapan bagi pelaku usaha kecil untuk bangkit dan mandiri. Dengan satu hati di bulan suci, BAZNAS Surabaya mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjadikan Ramadhan sebagai momentum perubahan menuju Surabaya yang lebih peduli, berdaya, dan sejahtera.
ARTIKEL20/02/2026 | Ananda
Puasa dan Zakat: Kolaborasi Ibadah Bersama Badan Amil Zakat Nasional  Surabaya
Puasa dan Zakat: Kolaborasi Ibadah Bersama Badan Amil Zakat Nasional Surabaya
Bulan Ramadhan bukan hanya momentum untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga waktu terbaik untuk memperkuat kepedulian sosial. Puasa melatih kesabaran, keikhlasan, serta empati terhadap mereka yang hidup dalam keterbatasan. Nilai-nilai inilah yang kemudian menemukan wujud nyatanya melalui zakat. Ketika puasa membentuk kepekaan hati, zakat menghadirkan aksi nyata untuk membantu sesama. Kolaborasi ibadah ini menjadi semakin terarah dan berdampak luas ketika disalurkan melalui Badan Amil Zakat Nasional Kota Surabaya. Sebagai lembaga resmi pengelola zakat, Badan Amil Zakat Nasional memiliki peran strategis dalam menghimpun dan mendistribusikan dana zakat, infak, dan sedekah secara amanah serta profesional. Di tingkat kota, BAZNAS Kota Surabaya menghadirkan berbagai program pemberdayaan, mulai dari bantuan pendidikan, kesehatan, ekonomi produktif, hingga bantuan sosial bagi masyarakat yang membutuhkan (mustahik). Dengan sistem pengelolaan yang transparan dan terstruktur, zakat yang ditunaikan selama Ramadhan dapat dirasakan manfaatnya secara lebih luas dan berkelanjutan. Puasa sejatinya mengajarkan umat Islam untuk merasakan apa yang dirasakan oleh kaum dhuafa. Rasa lapar yang dialami seharian menjadi pengingat bahwa di luar bulan Ramadhan pun masih banyak saudara kita yang berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Di sinilah zakat menjadi jembatan antara rasa empati dan solusi nyata. Ketika masyarakat menunaikan zakat melalui BAZNAS Kota Surabaya, mereka tidak hanya menggugurkan kewajiban, tetapi juga turut serta dalam membangun kesejahteraan sosial di lingkungan sekitar. Kolaborasi antara puasa dan zakat juga menjadi momentum penguatan solidaritas umat. Ramadhan menghadirkan semangat berbagi yang lebih besar dibanding bulan lainnya. Dengan mempercayakan pengelolaan zakat kepada lembaga resmi seperti BAZNAS Kota Surabaya, distribusi bantuan dapat dilakukan secara tepat sasaran, terdata, dan berkelanjutan. Hal ini penting agar zakat tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga produktif—mampu membantu mustahik bangkit dan mandiri. Akhirnya, puasa dan zakat adalah dua ibadah yang saling melengkapi. Puasa menyucikan jiwa, sementara zakat membersihkan harta dan memperkuat ikatan sosial. Melalui kolaborasi bersama BAZNAS Kota Surabaya, ibadah personal dapat bertransformasi menjadi gerakan sosial yang berdampak nyata bagi masyarakat. Ramadhan pun tidak hanya menjadi bulan penuh pahala, tetapi juga bulan penuh kebermanfaatan.
ARTIKEL13/02/2026 | Ananda
Makna Puasa dalam Membentuk Karakter dan Solidaritas antar umat
Makna Puasa dalam Membentuk Karakter dan Solidaritas antar umat
Puasa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Lebih dari itu, puasa adalah proses pembentukan diri. Ia melatih kesabaran, keikhlasan, dan kemampuan mengendalikan hawa nafsu. Setiap tahun, Ramadan hadir sebagai ruang pembelajaran yang istimewa mengajak umat Islam untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT sekaligus mempererat kepedulian terhadap sesama. Dalam pelaksanaannya, puasa mengajarkan disiplin. Waktu sahur dan berbuka mengatur ritme kehidupan sehari-hari. Aktivitas yang biasanya berjalan bebas, kini terasa lebih tertata. Namun, esensi puasa tidak berhenti pada aspek fisik semata. Justru yang lebih utama adalah menjaga lisan, menahan amarah, serta menghindari perbuatan yang dapat mengurangi nilai ibadah. Puasa menjadi latihan pengendalian diri yang berdampak pada pembentukan karakter. Salah satu hikmah terbesar dari puasa adalah tumbuhnya empati sosial. Ketika seseorang merasakan lapar dan dahaga, ia belajar memahami kondisi saudara-saudaranya yang setiap hari hidup dalam keterbatasan. Dari sinilah lahir dorongan untuk berbagi. Ramadan menjadi bulan yang penuh dengan semangat kebaikan, di mana zakat, infak, dan sedekah meningkat secara signifikan. Kesadaran bahwa rezeki adalah titipan mendorong banyak orang untuk menyalurkannya kepada yang membutuhkan. Di Kota Surabaya, semangat berbagi tersebut terwujud melalui berbagai program sosial yang dikelola secara amanah oleh BAZNAS Kota Surabaya. Melalui pengumpulan dan pendistribusian zakat, infak, dan sedekah, bantuan dapat disalurkan secara tepat sasaran kepada masyarakat yang berhak menerimanya. Puasa tidak lagi hanya menjadi ibadah personal, tetapi juga menghadirkan dampak sosial yang nyata. Pada akhirnya, puasa adalah tentang perubahan. Ia mengajak setiap individu untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Jika setelah Ramadan seseorang lebih sabar, lebih peduli, dan lebih ringan tangan dalam membantu sesama, maka tujuan puasa telah tercapai. Semoga Ramadan kali ini menjadi momentum untuk tidak hanya meningkatkan kualitas ibadah, tetapi juga memperluas manfaat bagi masyarakat sekitar.
ARTIKEL13/02/2026 | Septya
Lewat Program CESAR, BAZNAS Surabaya Dorong Pemberdayaan Pendidikan Mustahik
Lewat Program CESAR, BAZNAS Surabaya Dorong Pemberdayaan Pendidikan Mustahik
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Surabaya terus memperkuat peran zakat dalam pemberdayaan masyarakat melalui program unggulan CESAR (Cetak Sarjana). Program ini dirancang untuk membuka akses pendidikan tinggi bagi generasi muda dari keluarga kurang mampu, sehingga mereka dapat menyelesaikan studi sarjana dengan dukungan biaya, pelatihan karakter, dan pendampingan yang komprehensif. Program CESAR menjadi salah satu strategi inovasi BAZNAS Surabaya dalam memaksimalkan fungsi zakat sebagai instrumen pemberdayaan sosial yang berkelanjutan. Melalui zakat, infak, dan sedekah yang dihimpun, BAZNAS menyalurkan bantuan tidak hanya untuk kebutuhan dasar, tetapi juga untuk pemberdayaan jangka panjang terutama di bidang pendidikan tinggi. Kolaborasi dengan Perguruan Tinggi Sejak diluncurkan, Program CESAR telah menjalin kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi terkemuka di Surabaya. Salah satunya adalah kerja sama yang ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara BAZNAS Kota Surabaya dan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA). Kerja sama ini memastikan mahasiswa mustahik yang terpilih mendapatkan beasiswa lengkap, mulai dari biaya kuliah hingga pendampingan akademik dan non-akademik selama masa studi. Kerja sama serupa juga dilakukan dengan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA), di mana kedua pihak berkomitmen untuk mendukung mahasiswa dari keluarga prasejahtera agar bisa mencapai gelar sarjana serta memiliki kualitas pribadi yang unggul. Kolaborasi dengan berbagai kampus ini menunjukkan bahwa BAZNAS Surabaya tidak hanya fokus memberikan bantuan finansial, tetapi juga membangun ekosistem pendidikan yang kuat dan inklusif bagi generasi muda dari golongan mustahik. Dampak Nyata bagi Mahasiswa Mustahik Program CESAR telah menunjukkan dampak positif nyata bagi penerima beasiswa. Banyak “Sobat CESAR”—sebutan untuk para penerima beasiswa—telah merasakan manfaat besar dari dukungan ini. Mereka tidak hanya terbantu dalam hal biaya kuliah, tetapi juga dibekali karakter kepemimpinan, tanggung jawab sosial, dan keterampilan yang berguna dalam kehidupan profesional kelak. Salah satu kisah inspiratif datang dari pelajar yang awalnya ragu melanjutkan pendidikan karena keterbatasan ekonomi. Setelah terpilih menjadi penerima CESAR, mereka kini bisa fokus menyelesaikan studi hingga lulus, bahkan bercita-cita untuk suatu hari membantu pelajar lain melalui zakat dan sedekah. Harapan ke Depan Melihat berakhirnya awal ini, BAZNAS Kota Surabaya berencana memperluas cakupan Program CESAR agar semakin banyak generasi muda yang dapat mengakses pendidikan tinggi. Targetnya adalah mencetak puluhan hingga ratusan sarjana baru setiap tahun yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi masyarakat luas. Program CESAR merupakan bukti nyata bahwa zakat bukan sekedar ibadah, tetapi bisa menjadi alat transformatif untuk menciptakan perubahan sosial, mengentaskan kemiskinan, dan memperkuat kualitas sumber daya manusia di Kota Surabaya.
ARTIKEL06/02/2026 | Alfa
Jelang Ramadhan 2026, BAZNAS Surabaya Perkuat Program Zakat, Infak, dan Sedekah untuk Masyarakat
Jelang Ramadhan 2026, BAZNAS Surabaya Perkuat Program Zakat, Infak, dan Sedekah untuk Masyarakat
Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 2026, BAZNAS Kota Surabaya terus mempersiapkan berbagai program sosial keagamaan guna menyambut momen penuh berkah ini. Ramadhan menjadi waktu yang sangat istimewa bagi umat Islam untuk meningkatkan ibadah sekaligus memperkuat kepedulian terhadap sesama. Melalui optimalisasi pengelolaan zakat, infak, dan sedekah (ZIS), BAZNAS Kota Surabaya berkomitmen menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat yang membutuhkan. Sebagai lembaga resmi pengelola zakat, BAZNAS Kota Surabaya memiliki peran strategis dalam menghubungkan para muzakki dengan mustahik. Momentum Ramadhan selalu menjadi periode dengan peningkatan kesadaran masyarakat untuk berbagi. Oleh karena itu, berbagai program Ramadhan BAZNAS Kota Surabaya disiapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memaksimalkan potensi kebaikan di bulan suci. Program-program Ramadhan yang dirancang BAZNAS Kota Surabaya meliputi penyaluran paket sembako bagi keluarga kurang mampu, santunan anak yatim, bantuan untuk kaum dhuafa, hingga program berbagi takjil dan buka puasa bersama. Selain itu, BAZNAS juga menghadirkan layanan kemudahan pembayaran zakat fitrah, zakat mal, infak, dan sedekah melalui berbagai kanal, baik secara langsung maupun digital. Hal ini dilakukan untuk memudahkan masyarakat Surabaya dalam menunaikan kewajiban dan meningkatkan amal ibadah selama Ramadhan. Ketua BAZNAS Kota Surabaya menegaskan bahwa Ramadhan merupakan momentum untuk memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat. Melalui pengelolaan dana ZIS yang transparan dan akuntabel, BAZNAS berupaya memastikan bahwa setiap donasi yang dititipkan oleh masyarakat dapat disalurkan secara tepat sasaran. Kepercayaan masyarakat menjadi modal utama dalam menjalankan berbagai program sosial yang berdampak langsung pada kesejahteraan mustahik. Tidak hanya berfokus pada penyaluran bantuan konsumtif, BAZNAS Kota Surabaya juga mengembangkan program pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat prasejahtera. Beberapa penerima manfaat akan mendapatkan bantuan modal usaha, pelatihan keterampilan, serta pendampingan agar mampu mandiri secara ekonomi. Dengan demikian, Ramadhan tidak hanya menjadi momen berbagi, tetapi juga momentum pemberdayaan yang berkelanjutan. Di era digital saat ini, BAZNAS Kota Surabaya juga mengoptimalkan layanan pembayaran zakat secara online. Masyarakat dapat menunaikan zakat dan sedekah dengan mudah melalui transfer bank, platform digital, maupun layanan jemput zakat. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan partisipasi masyarakat, khususnya generasi muda, dalam gerakan zakat dan kepedulian sosial selama bulan Ramadhan. Edukasi mengenai pentingnya zakat dan sedekah juga menjadi fokus utama BAZNAS Kota Surabaya menjelang Ramadhan. Melalui kampanye di media sosial, webinar, dan kegiatan sosialisasi di berbagai komunitas, BAZNAS mengajak masyarakat untuk memahami bahwa zakat bukan hanya kewajiban, tetapi juga solusi untuk mengurangi kesenjangan sosial. Dengan pengelolaan yang tepat, zakat dapat menjadi instrumen yang efektif dalam meningkatkan kesejahteraan umat. Ramadhan adalah bulan yang penuh keberkahan dan kesempatan untuk memperbanyak amal. BAZNAS Kota Surabaya mengajak seluruh masyarakat Surabaya untuk memanfaatkan momen ini dengan menunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga resmi. Dengan berbagi, setiap individu turut berkontribusi dalam membangun solidaritas sosial dan membantu sesama yang membutuhkan. Melalui berbagai program Ramadhan yang telah disiapkan, BAZNAS Kota Surabaya berharap dapat menghadirkan Ramadhan yang lebih bermakna bagi seluruh lapisan masyarakat. Semangat berbagi dan kepedulian di bulan suci diharapkan mampu memperkuat nilai kebersamaan, sekaligus menjadi langkah nyata dalam mewujudkan kesejahteraan umat di Kota Surabaya.
ARTIKEL06/02/2026 | Ananda
Bersama BAZNAS, Ramadan Menjadi Lebih Bermakna
Bersama BAZNAS, Ramadan Menjadi Lebih Bermakna
Bulan suci Ramadan merupakan anugerah istimewa yang senantiasa dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia. Ramadan tidak hanya menjadi waktu untuk menunaikan ibadah puasa, tetapi juga momentum untuk memperbaiki diri, meningkatkan keimanan, serta memperkuat kepedulian sosial. Nilai-nilai kesabaran, keikhlasan, dan empati yang diajarkan selama Ramadan menjadi fondasi penting dalam membangun kehidupan bermasyarakat yang harmonis dan berkeadilan. Di tengah semangat Ramadan yang sarat akan nilai kebaikan, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) hadir sebagai lembaga resmi negara yang mengemban amanah besar dalam pengelolaan zakat, infak, dan sedekah. BAZNAS berperan sebagai penghubung antara para muzaki dan mustahik, memastikan bahwa setiap dana yang dititipkan dapat disalurkan secara tepat sasaran, transparan, dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan umat. Ramadan merupakan waktu terbaik untuk menunaikan zakat, baik zakat fitrah maupun zakat maal. Kewajiban zakat tidak hanya berfungsi sebagai penyempurna ibadah, tetapi juga sebagai instrumen penting dalam mengurangi kesenjangan sosial dan meningkatkan taraf hidup masyarakat kurang mampu. Melalui BAZNAS, zakat yang terkumpul dikelola secara profesional dan disalurkan melalui berbagai program strategis yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Selama bulan Ramadan, BAZNAS menginisiasi beragam program sosial dan kemanusiaan, seperti bantuan pangan Ramadan, paket buka puasa dan sahur, santunan anak yatim dan dhuafa, layanan kesehatan gratis, hingga bantuan bagi masyarakat terdampak bencana. Selain bantuan bersifat konsumtif, BAZNAS juga menjalankan program pemberdayaan ekonomi umat, seperti bantuan modal usaha, pelatihan keterampilan, dan pendampingan UMKM, guna mendorong kemandirian mustahik secara berkelanjutan. Keberadaan program-program tersebut menjadikan Ramadan tidak hanya sebagai bulan ibadah personal, tetapi juga bulan kepedulian dan solidaritas sosial. Semangat berbagi yang tumbuh selama Ramadan, ketika dikelola secara terstruktur melalui BAZNAS, mampu menghadirkan manfaat yang lebih luas dan berjangka panjang bagi masyarakat. Melalui kolaborasi dan kepercayaan masyarakat, BAZNAS terus berupaya memperluas jangkauan manfaat zakat hingga ke pelosok negeri. Setiap infak dan sedekah yang dititipkan menjadi bagian dari upaya bersama dalam membangun kesejahteraan umat dan memperkuat ketahanan sosial bangsa. Mari jadikan Ramadan sebagai momentum untuk memperbanyak amal kebaikan dan memperkuat kepedulian terhadap sesama. Dengan menunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS, kita tidak hanya menjalankan kewajiban agama, tetapi juga berkontribusi nyata dalam menciptakan kehidupan yang lebih adil dan sejahtera. Bersama BAZNAS, Ramadan menjadi lebih bermakna bukan hanya bagi diri kita, tetapi juga bagi mereka yang membutuhkan uluran tangan.
ARTIKEL06/02/2026 | Ana
BAZNAS Surabaya Sambut Ramadan Dengan Perkuat Kepedulian Sosial dan Bantuan untuk Dhuafa
BAZNAS Surabaya Sambut Ramadan Dengan Perkuat Kepedulian Sosial dan Bantuan untuk Dhuafa
Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, berbagai lembaga sosial mulai mempersiapkan program yang bertujuan membantu masyarakat kurang mampu. Salah satunya adalah BAZNAS Kota Surabaya yang menghadirkan beragam program sosial sebagai bentuk persiapan menyambut bulan suci Ramadan. Program BAZNAS Kota Surabaya ini difokuskan untuk memperkuat kepedulian sosial sekaligus membantu masyarakat dhuafa agar dapat menjalani Ramadan dengan lebih tenang dan layak. Bulan suci Ramadan selalu menjadi momentum bagi umat Islam untuk meningkatkan ibadah dan kepedulian sosial. Oleh karena itu, BAZNAS Kota Surabaya memanfaatkan momen ini dengan menghadirkan program bantuan yang menyasar berbagai lapisan masyarakat yang membutuhkan. Program tersebut tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga mengedepankan pemberdayaan agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan. Salah satu program unggulan BAZNAS Kota Surabaya dalam rangka persiapan Ramadan adalah penyaluran paket bantuan kebutuhan pokok bagi masyarakat dhuafa. Bantuan ini ditujukan kepada keluarga prasejahtera, lansia, serta masyarakat yang membutuhkan dukungan menjelang bulan puasa. Dengan adanya bantuan tersebut, diharapkan para penerima manfaat dapat mempersiapkan kebutuhan Ramadan tanpa beban berlebih. Selain paket kebutuhan pokok, BAZNAS Kota Surabaya juga menyiapkan program santunan bagi anak yatim dan keluarga kurang mampu. Program ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan sosial sekaligus memperkuat nilai kebersamaan di tengah masyarakat. Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk berbagi kebahagiaan dan memastikan bahwa tidak ada masyarakat yang merasa sendiri dalam menjalankan ibadah. Zakat, infak, dan sedekah memiliki peran penting dalam mendukung program Ramadan yang dijalankan BAZNAS Kota Surabaya. Dana yang dihimpun dari masyarakat dikelola secara amanah dan profesional, kemudian disalurkan kepada mustahik sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Melalui pengelolaan yang terstruktur, bantuan dapat diberikan secara tepat sasaran dan memberikan dampak nyata. BAZNAS Kota Surabaya mengajak masyarakat untuk menunaikan zakat sebagai bagian dari persiapan menyambut Ramadan. Zakat tidak hanya berfungsi sebagai kewajiban agama, tetapi juga sebagai sarana pemerataan kesejahteraan. Dengan menyalurkan zakat melalui lembaga resmi, masyarakat dapat memastikan bahwa bantuan yang diberikan sampai kepada pihak yang benar-benar membutuhkan. Selain menjalankan program bantuan, BAZNAS Kota Surabaya juga aktif melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya zakat, infak, dan sedekah. Edukasi ini dilakukan melalui berbagai kanal, baik secara langsung maupun digital, agar masyarakat semakin memahami peran zakat dalam membangun kesejahteraan sosial. Kemudahan layanan pembayaran zakat juga menjadi salah satu fokus BAZNAS Kota Surabaya. Masyarakat dapat menunaikan zakat dan sedekah melalui layanan digital yang aman dan terpercaya. Kemudahan ini diharapkan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mendukung program Ramadan. Program BAZNAS Kota Surabaya dalam rangka persiapan Ramadan diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat. Bantuan yang disalurkan tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga memperkuat rasa kebersamaan dan solidaritas sosial. Ramadan menjadi momentum untuk mempererat hubungan antarwarga dan menumbuhkan semangat berbagi. Dengan adanya program tersebut, BAZNAS Kota Surabaya terus berupaya menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Dukungan masyarakat dalam bentuk zakat, infak, dan sedekah menjadi kunci keberhasilan program sosial yang dijalankan. Melalui sinergi antara lembaga dan masyarakat, persiapan menyambut Ramadan dapat dilakukan secara lebih optimal dan memberikan keberkahan bagi semua pihak.
ARTIKEL06/02/2026 | Sahroh
Ramadhan sebagai Momentum Berbagi, BAZNAS Surabaya Siap Menjadi Jembatan Kebaikan
Ramadhan sebagai Momentum Berbagi, BAZNAS Surabaya Siap Menjadi Jembatan Kebaikan
Bulan Ramadan selalu datang membawa suasana yang berbeda. Ada rasa haru, semangat, sekaligus harapan baru yang tumbuh di hati setiap Muslim. Menjelang datangnya bulan suci ini, banyak orang mulai menata kembali rutinitasnya memperbaiki ibadah, memperbanyak doa, hingga menyiapkan diri secara mental dan spiritual. Ramadan bukan sekadar perubahan jadwal makan dan tidur, tetapi momen besar untuk memperbaiki diri secara menyeluruh. Persiapan Ramadan seharusnya dimulai jauh sebelum hilal terlihat. Bulan Sya’ban sering disebut sebagai masa latihan, tempat kita membiasakan diri dengan ibadah-ibadah sunnah, memperbanyak membaca Al-Qur’an, serta menjaga lisan dan sikap. Dengan begitu, ketika Ramadan tiba, hati sudah lebih siap dan tidak lagi merasa “kaget” dengan perubahan ritme harian. Ramadan akan terasa lebih ringan jika kita menyambutnya dengan kesiapan, bukan sekadar kebiasaan tahunan. Selain memperkuat hubungan dengan Allah SWT, menjelang Ramadan juga menjadi waktu yang tepat untuk memperbaiki hubungan dengan sesama. Saling memaafkan, menyambung silaturahmi, dan mengurangi prasangka menjadi bagian dari persiapan yang sering kali terlupakan. Padahal, Ramadan adalah bulan yang sarat dengan nilai kasih sayang dan kepedulian. Tidak ada makna puasa tanpa empati terhadap mereka yang hidup dalam keterbatasan. Di tengah suasana persiapan ini, semangat berbagi mulai terasa semakin kuat. Banyak masyarakat yang ingin memastikan bahwa kebahagiaan Ramadan dapat dirasakan secara merata. Zakat, infak, dan sedekah menjadi sarana nyata untuk menghadirkan keberkahan yang lebih luas. Di Kota Surabaya, peran lembaga resmi seperti BAZNAS Surabaya menjadi jembatan antara para muzakki dan masyarakat yang membutuhkan. Melalui pengelolaan yang amanah dan terstruktur, dana zakat tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga mendorong program pemberdayaan yang berkelanjutan. Menjelang Ramadan, berbagai program sosial mulai dipersiapkan. Semua ini merupakan wujud bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, melainkan juga tentang menghadirkan harapan bagi sesama. Ketika zakat dan sedekah dikelola dengan baik, manfaatnya tidak berhenti pada satu waktu, tetapi dapat dirasakan dalam jangka panjang. Ramadan adalah bulan perubahan. Ia mengajarkan kesabaran, keikhlasan, dan kepedulian. Maka, menyambutnya dengan niat yang lurus dan langkah yang nyata menjadi hal yang penting. Mari jadikan momen jelang Ramadan ini sebagai waktu untuk membersihkan hati, menata kembali tujuan hidup, serta memperluas manfaat bagi lingkungan sekitar. Dengan kebersamaan dan kepedulian, Ramadan di Kota Surabaya bukan hanya menjadi bulan ibadah, tetapi juga bulan yang memperkuat solidaritas dan kesejahteraan umat.
ARTIKEL06/02/2026 | Septya
Di Antara Sya’ban dan Ramadan, Nisfu Sya’ban Hadir sebagai Malam Pengampunan
Di Antara Sya’ban dan Ramadan, Nisfu Sya’ban Hadir sebagai Malam Pengampunan
Surabaya (Baznas News) Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, umat Islam dianjurkan untuk mempersiapkan diri secara menyeluruh, baik dari sisi ibadah maupun penguatan nilai-nilai spiritual dan sosial. Salah satu momentum penting dalam rangkaian persiapan tersebut adalah Nisfu Sya’ban, yang dikenal sebagai malam pengampunan dan refleksi diri sebelum memasuki bulan Ramadan. Nisfu Sya’ban yang jatuh pada pertengahan bulan Sya’ban memiliki keutamaan tersendiri dalam ajaran Islam. Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa pada malam tersebut Allah SWT membuka pintu ampunan seluas-luasnya bagi hamba-Nya, kecuali bagi mereka yang masih menyimpan permusuhan dan enggan berdamai dengan sesama. Oleh karena itu, Nisfu Sya’ban menjadi waktu yang tepat untuk memperbanyak doa, istighfar, dan introspeksi diri. Momentum ini juga menjadi sarana untuk membersihkan hati serta meluruskan niat dalam menyambut ibadah puasa di bulan Ramadan agar dapat dijalani dengan lebih khusyuk. Selain dimaknai sebagai ibadah personal, Nisfu Sya’ban juga memiliki dimensi sosial yang penting. Islam mengajarkan bahwa ibadah tidak hanya berdampak pada hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga harus membawa manfaat nyata bagi kehidupan sosial dan kepedulian terhadap sesama. Menjelang Ramadan, kebutuhan masyarakat dhuafa cenderung mengalami peningkatan, khususnya kebutuhan pangan dan kebutuhan dasar lainnya. Kondisi ini menjadikan kepedulian sosial melalui sedekah dan bantuan sebagai bagian penting dalam menjaga ketahanan sosial masyarakat menjelang bulan suci. Sebagai lembaga resmi pengelola zakat, infak, dan sedekah, BAZNAS Kota Surabaya terus mengajak masyarakat untuk memaknai Nisfu Sya’ban secara lebih luas. Tidak hanya sebagai tradisi tahunan, tetapi sebagai momentum meningkatkan kualitas ibadah dan memperkuat kepedulian sosial melalui berbagai program yang dijalankan. BAZNAS Kota Surabaya juga mengingatkan pentingnya menyempurnakan kewajiban ibadah yang masih tertunda sebelum Ramadan tiba, seperti zakat, fidyah, dan sedekah. Penunaian kewajiban tersebut lebih awal diharapkan dapat memberikan ketenangan batin sekaligus membawa manfaat nyata bagi fakir miskin dan masyarakat dhuafa. Momentum Nisfu Sya’ban juga menjadi ajang untuk memperkuat persatuan dan keharmonisan sosial. Saling memaafkan, menghilangkan prasangka, serta memperbaiki hubungan antarindividu menjadi bagian dari persiapan moral yang penting sebelum memasuki bulan Ramadan. Melalui pemaknaan Nisfu Sya’ban sebagai malam pengampunan dan refleksi, umat Islam diajak menjadikan bulan Sya’ban sebagai jembatan menuju Ramadan yang lebih bermakna. Persiapan spiritual dan sosial yang dilakukan sejak dini diharapkan mampu menghadirkan Ramadan yang penuh keberkahan serta memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Sebagai bagian dari persiapan menyambut Ramadan, masyarakat dapat menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Surabaya. Dana yang dihimpun akan dikelola secara amanah dan disalurkan secara tepat sasaran kepada masyarakat yang membutuhkan.
ARTIKEL03/02/2026 | Dhea Novita
Cahaya Pengampunan di Ambang Ramadhan: Memaknai Malam Nisfu Sya'ban
Cahaya Pengampunan di Ambang Ramadhan: Memaknai Malam Nisfu Sya'ban
Malam Nisfu Sya'ban hadir sebagai sebuah oase spiritual yang menyejukkan di tengah hiruk pikuk persiapan duniawi menuju bulan suci Ramadhan. Dalam tradisi Islam, malam yang jatuh pada pertengahan bulan Sya'ban ini bukan sekadar pergantian tanggal di kalender Hijriah, melainkan sebuah momentum sakral yang diyakini sebagai waktu di mana pintu-pintu langit terbuka lebar. Pada saat itulah, Allah SWT menebarkan rahmat-Nya ke seluruh penjuru bumi, memberikan kesempatan bagi setiap hamba untuk menanggalkan beban dosa yang telah terkumpul sepanjang tahun. Keutamaan malam ini sering kali digambarkan sebagai waktu pengampunan, di mana catatan amal manusia dilaporkan dan segala permohonan yang tulus mendapatkan tempat istimewa untuk dikabulkan. Kedalaman makna Nisfu Sya'ban terletak pada konsep pembersihan hati sebelum memasuki fase perjuangan besar di bulan puasa. Sama seperti para petani yang menyiangi ladang sebelum menabur benih, seorang Muslim diajak untuk menyiangi hati dari rumput pembohong berupa kebencian dan kedengkian. Ada sebuah pesan moral yang sangat kuat dalam momen ini, yakni bahwa belas kasihan Tuhan yang begitu luas ternyata bisa terhalang oleh satu ganjalan besar dalam diri manusia: permusuhan dengan sesama. Oleh karena itu, esensi dari menghidupkan malam ini tidak hanya terletak pada sujud yang panjang atau lisan yang terus berdzikir, tetapi juga pada keberanian jiwa untuk meluruhkan ego, meminta maaf, dan memberi maaf dengan setulus hati kepada mereka yang pernah bersinggungan dalam kehidupan sehari-hari. Secara filosofis, malam Nisfu Sya'ban juga dipandang sebagai cermin untuk melihat masa depan melalui doa. Banyak ulama memaknai malam ini sebagai waktu yang menentukan garis besar takdir untuk satu tahun ke depan, mulai dari urusan rezeki, kesehatan, hingga ajal. Hal ini memberikan kesadaran bahwa manusia hanyalah makhluk kecil yang sangat bergantung pada ketetapan Sang Pencipta. Dengan memperbanyak bacaan Al-Qur'an, seperti surat Yasin yang dibaca berulang kali dengan niat yang sungguh-sungguh, seorang hamba sebenarnya sedang berdialog dengan takdirnya sendiri. Ia memohon agar sisa usianya diisi dengan ketaatan, dilindungi dari segala marabahaya, dan dikuatkan imannya agar tidak goyah diterpa badai ujian zaman yang kian berat. Pada akhirnya, Nisfu Sya'ban adalah sebuah jembatan penghubung yang mengantarkan kita dari kelalaian menuju kesadaran penuh. Malam ini menjadi pengingat bahwa waktu terus bergulir dan kesempatan untuk memperbaiki diri tidaklah abadi. Melalui perpaduan antara ritual ibadah yang khusyuk dan perbaikan akhlak sosial, kita berharap dapat keluar dari malam Nisfu Sya'ban dengan jiwa yang lebih ringan. Dengan demikian, ketika fajar bulan Ramadhan menyingsing, kita tidak lagi membawa beban masa lalu yang gelap, melainkan melangkah dengan hati yang bercahaya, siap menyerap seluruh keberkahan yang ditawarkan oleh bulan yang paling mulia tersebut.
ARTIKEL03/02/2026 | chacha
Nisfu Sya’ban di Jelang Ramadan, Menguatkan Kesiapan Menyambut Bulan Suci
Nisfu Sya’ban di Jelang Ramadan, Menguatkan Kesiapan Menyambut Bulan Suci
Surabaya (Baznas News) Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, umat Islam dianjurkan untuk mempersiapkan diri secara menyeluruh, baik dari sisi ibadah maupun penguatan nilai-nilai spiritual. Salah satu momentum penting dalam fase persiapan tersebut adalah Nisfu Sya’ban, yang hadir sebagai pengingat untuk memperbaiki diri sebelum memasuki bulan suci. Nisfu Sya’ban yang jatuh pada pertengahan bulan Sya’ban memiliki keutamaan tersendiri dalam ajaran Islam. Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa pada malam tersebut Allah SWT membuka pintu ampunan bagi hamba-Nya, kecuali bagi mereka yang masih menyimpan permusuhan dan enggan berdamai. Oleh karena itu, momentum ini menjadi waktu yang tepat untuk memperbanyak doa, istighfar, serta memperbaiki hubungan dengan sesama. Di tengah dinamika kehidupan yang semakin kompleks, Nisfu Sya’ban menjadi ruang refleksi bagi umat Islam untuk melakukan evaluasi diri. Membersihkan hati, meluruskan niat, dan meningkatkan kualitas ibadah menjadi bagian dari persiapan agar Ramadan dapat dijalani dengan lebih khusyuk dan bermakna. Selain dimaknai sebagai ibadah personal, Nisfu Sya’ban juga mengandung nilai sosial yang kuat. Islam mengajarkan bahwa ibadah tidak hanya berdimensi individual, tetapi juga harus membawa manfaat bagi kehidupan sosial. Oleh sebab itu, momentum Nisfu Sya’ban kerap dimanfaatkan untuk meningkatkan kepedulian terhadap sesama melalui berbagai amal kebaikan. Menjelang Ramadan, kebutuhan masyarakat dhuafa cenderung mengalami peningkatan, terutama kebutuhan pangan dan kebutuhan dasar lainnya. Kondisi ini menjadikan kepedulian sosial sebagai bagian penting dalam menyambut bulan suci. Amal kebaikan yang ditunaikan sejak bulan Sya’ban diharapkan dapat membantu meringankan beban masyarakat yang membutuhkan. Dalam konteks ini, BAZNAS Kota Surabaya mengajak masyarakat untuk memaknai Nisfu Sya’ban sebagai momentum penguatan kesiapan menyambut Ramadan. Melalui pengelolaan zakat, infak, dan sedekah yang amanah dan tepat sasaran, BAZNAS Kota Surabaya berupaya mendukung kesiapan spiritual dan sosial umat Islam menjelang bulan puasa. Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk menyempurnakan kewajiban ibadah yang masih tertunda sebelum Ramadan tiba. Penunaian kewajiban tersebut lebih awal diharapkan dapat memberikan ketenangan batin sekaligus membawa manfaat nyata bagi masyarakat dhuafa. Momentum Nisfu Sya’ban juga menjadi ajang untuk memperkuat persatuan dan keharmonisan sosial. Saling memaafkan, menghilangkan prasangka, serta memperbaiki hubungan antarsesama menjadi bagian dari persiapan moral yang penting sebelum memasuki bulan Ramadan. Melalui pemaknaan Nisfu Sya’ban di jelang Ramadan, umat Islam diajak untuk menguatkan kesiapan diri dalam menyambut bulan suci. Persiapan yang dilakukan sejak dini diharapkan mampu menghadirkan Ramadan yang penuh keberkahan serta memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
ARTIKEL03/02/2026 | Intan
Kafarat Bukan Sekadar Denda, tapi Pendidikan Spiritual
Kafarat Bukan Sekadar Denda, tapi Pendidikan Spiritual
Dalam ajaran Islam, setiap pelanggaran terhadap ketentuan syariat tidak hanya dipandang sebagai kesalahan hukum, tetapi juga sebagai persoalan spiritual. Salah satu bentuk tanggung jawab yang diwajibkan kepada seorang Muslim atas pelanggaran tertentu adalah kafarat. Sayangnya, kafarat kerap dipahami secara sempit sebagai sekadar “denda” atau kewajiban materi semata. Padahal, lebih dari itu, kafarat merupakan sarana pendidikan spiritual yang sarat makna, terutama ketika dikelola dan disalurkan melalui lembaga resmi seperti BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional). Hakikat kafarat bukanlah hukuman yang memberatkan, melainkan mekanisme syariat untuk menyucikan diri, menumbuhkan kesadaran, dan mendidik jiwa agar lebih bertanggung jawab atas setiap perbuatan. Kafarat mengajarkan bahwa setiap kesalahan memiliki konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan secara sadar. Ketika seseorang menunaikan kafarat, ia dilatih untuk: Mengakui kesalahan dengan lapang dada, bukan mencari pembenaran. Mendisiplinkan diri, baik melalui puasa maupun pengorbanan harta. Menumbuhkan empati sosial, karena kafarat sering kali disalurkan kepada fakir miskin. Dengan demikian, kafarat membentuk karakter spiritual yang lebih matang, rendah hati, dan peduli terhadap sesama. Dalam konteks Indonesia, BAZNAS hadir sebagai lembaga resmi negara yang mengelola dana zakat, infak, sedekah, termasuk dana keagamaan lainnya seperti kafarat dan fidyah. Peran BAZNAS menjadi sangat penting agar pelaksanaan kafarat tidak hanya sah secara fikih, tetapi juga berdampak luas bagi kesejahteraan umat. Melalui BAZNAS, dana kafarat disalurkan kepada mustahik yang berhak dengan prinsip: Kepatuhan syariah, sesuai ketentuan ulama dan regulasi. Transparansi dan akuntabilitas, sehingga menumbuhkan kepercayaan masyarakat. Kebermanfaatan sosial, terutama bagi fakir miskin dan kelompok rentan. Dengan pengelolaan yang profesional, kafarat tidak berhenti pada gugurnya kewajiban individu, tetapi menjadi bagian dari solusi sosial yang berkelanjutan. Ketika kafarat disalurkan melalui BAZNAS, nilai pendidikan spiritualnya semakin kuat. Muzaki tidak hanya membersihkan diri dari kesalahan, tetapi juga turut berkontribusi dalam program-program sosial, kemanusiaan, dan pemberdayaan ekonomi umat. Di sinilah kafarat menjelma menjadi ibadah individual yang berdampak kolektif.
ARTIKEL02/02/2026 | Mila Malika
Fidyah: Solusi Syariat bagi yang Berhalangan Puasa
Fidyah: Solusi Syariat bagi yang Berhalangan Puasa
Puasa Ramadan adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Namun, Islam adalah agama yang fleksibel dan penuh kasih sayang. Bagi mereka yang memiliki kendala fisik permanen sehingga tidak mampu berpuasa, syariat memberikan keringanan melalui mekanisme Fidyah. Secara harfiah, fidyah berarti menebus atau mengganti. Secara istilah, fidyah adalah kompensasi berupa pemberian makan kepada orang miskin sebagai pengganti ibadah puasa yang ditinggalkan. Ketentuan ini secara spesifik disebutkan dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 184, yang menyatakan bahwa bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah. Fidyah tidak berlaku bagi semua orang yang meninggalkan puasa. Hanya kategori tertentu yang diperbolehkan, di antaranya: Lansia: Orang tua renta yang fisiknya tidak lagi mampu menahan lapar dan haus. Orang Sakit Parah: Seseorang dengan penyakit menahun yang menurut keterangan medis kecil kemungkinannya untuk sembuh. Ibu Hamil atau Menyusui: Jika ia khawatir puasa akan membahayakan keselamatan bayinya (dalam beberapa mazhab, ini harus diikuti dengan qadha di kemudian hari). Besaran fidyah untuk satu hari puasa yang ditinggalkan adalah 1 mud makanan pokok. Jika dikonversi ke berat timbangan, 1 mud setara dengan kurang lebih 675gram hingga 0,7 kg beras. Di Indonesia, banyak ulama dan lembaga zakat (seperti BAZNAS) memperbolehkan pembayaran fidyah dalam bentuk uang yang setara dengan harga satu porsi makanan lengkap. Untuk tahun 2026, nilai ini disesuaikan dengan harga pasar bahan pokok setempat. Fidyah tersebut wajib disalurkan kepada fakir miskin sebagai bentuk kepedulian sosial agar mereka juga dapat merasakan kecukupan pangan. Dengan membayar fidyah, seorang Muslim tetap dapat menyempurnakan kewajiban agamanya meski memiliki keterbatasan fisik, sekaligus membantu meringankan beban sesama yang membutuhkan.
ARTIKEL02/02/2026 | Mariza
Bedah Rumah BAZNAS: Ketika Zakat Mengubah Hidup dari Pintu Rumah
Bedah Rumah BAZNAS: Ketika Zakat Mengubah Hidup dari Pintu Rumah
Bagi sebagian orang, rumah mungkin hanya tempat pulang setelah lelah bekerja. Namun bagi keluarga-keluarga rentan, rumah adalah segalanya. Ia menjadi tempat berlindung dari hujan, ruang berkumpul bersama keluarga, sekaligus simbol rasa aman. Sayangnya, tidak semua orang memiliki kemewahan itu. Di banyak sudut kota, masih ada keluarga yang tinggal di rumah sempit, rapuh, dan jauh dari kata layak. Di sinilah program Bedah Rumah BAZNAS hadir dan menunjukkan bahwa zakat bisa benar-benar mengubah kehidupan, dimulai dari pintu rumah. Kisah Khoiriyah, warga Wonokusumo Lor Gg. 12 No. 9, menjadi salah satu contoh nyata. Tinggal di lingkungan padat penduduk dengan kondisi rumah yang memprihatinkan, keseharian hidup dijalani dengan penuh keterbatasan. Atap bocor, dinding rapuh, dan lantai yang tidak layak bukan sekadar persoalan fisik bangunan, tetapi juga berpengaruh pada kesehatan dan kenyamanan hidup. Bantuan Bedah Rumah dari BAZNAS bukan hanya soal memperbaiki bangunan, tetapi juga memulihkan rasa aman dan martabat sebagai manusia. Cerita serupa juga dialami oleh Ansori Noer, warga Sidotopo Jaya III A No. 48. Dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu, memperbaiki rumah sering kali menjadi hal terakhir yang bisa dipikirkan. Kebutuhan makan, biaya pendidikan, dan kesehatan lebih mendesak. Akibatnya, rumah yang rusak dibiarkan bertahun-tahun. Ketika BAZNAS hadir melalui program Bedah Rumah, ada harapan baru yang tumbuh bahwa kehidupan bisa sedikit lebih baik, dimulai dari tempat tinggal yang layak. Apa yang dialami tiga keluarga tersebut sejatinya adalah potret dari persoalan yang lebih besar. Rumah tidak layak huni bukan hanya masalah individu, tetapi masalah sosial. Ketika satu keluarga tinggal di rumah yang tidak sehat, dampaknya bisa meluas mulai dari risiko penyakit, rendahnya kualitas pendidikan anak, hingga kerentanan sosial lainnya. Karena itu, bantuan Bedah Rumah bukan sekadar program sosial biasa, melainkan investasi jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat. Di sinilah peran BAZNAS menjadi sangat strategis. Dengan mengelola dana zakat, infak, dan sedekah secara profesional, BAZNAS mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Zakat yang ditunaikan oleh para muzakki tidak berhenti sebagai kewajiban ibadah, tetapi diolah menjadi solusi konkret. Program Bedah Rumah menunjukkan bahwa zakat bisa bersifat produktif dan berdampak luas, bukan hanya membantu hari ini, tetapi juga memperbaiki masa depan. Dari sudut pandang kepentingan publik, program seperti ini layak mendapat perhatian lebih. Ketika rumah warga diperbaiki, lingkungan ikut menjadi lebih sehat dan tertata. Ketika keluarga merasa aman di rumahnya sendiri, mereka punya energi lebih untuk bekerja, belajar, dan berkontribusi bagi masyarakat. Artinya, manfaat Bedah Rumah tidak hanya dirasakan oleh penerima bantuan, tetapi juga oleh lingkungan sekitar. Lebih jauh lagi, program Bedah Rumah mencerminkan nilai keadilan sosial yang sering kita dengungkan. Ketimpangan tidak selalu harus diselesaikan dengan kebijakan besar yang rumit. Terkadang, solusi dimulai dari hal paling dasar: memastikan setiap orang punya tempat tinggal yang layak. Dalam konteks ini, BAZNAS hadir sebagai jembatan antara kepedulian masyarakat dan kebutuhan nyata di lapangan. Namun, keberhasilan program ini tentu tidak bisa dilepaskan dari dukungan banyak pihak. Kesadaran masyarakat untuk menyalurkan zakat melalui lembaga resmi seperti BAZNAS menjadi kunci utama. Semakin banyak zakat yang terhimpun, semakin luas pula dampak yang bisa dirasakan. Kisah Khoiriyah, Ansori Noer, dan Alir Ridho seharusnya menjadi pengingat bahwa setiap rupiah zakat memiliki potensi besar untuk mengubah hidup orang lain. Pada akhirnya, Bedah Rumah bukan hanya soal membangun dinding dan atap, tetapi tentang membangun harapan. Ketika zakat dikelola dengan amanah dan disalurkan tepat sasaran, ia mampu menyentuh akar persoalan kemiskinan. Dari sebuah rumah sederhana yang diperbaiki, lahir keluarga yang lebih kuat, lingkungan yang lebih sehat, dan masyarakat yang lebih berdaya. Inilah wajah zakat yang sesungguhnya hadir, nyata, dan berpihak pada kepentingan banyak orang. Lebih dari itu, program Bedah Rumah juga mengajarkan satu hal penting: kemiskinan tidak bisa ditangani sendiri-sendiri.Ia membutuhkan kerja bersama antara masyarakat, lembaga, dan pemerintah. BAZNAS memang menjadi penggerak utama, tetapi keberhasilan program ini juga lahir dari kepercayaan publik. Ketika masyarakat percaya bahwa zakat mereka dikelola dengan baik dan berdampak nyata, maka siklus kebaikan itu akan terus berputar. Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, kebutuhan akan program-program seperti Bedah Rumah justru semakin besar. Banyak keluarga yang sebenarnya bekerja keras, namun penghasilannya belum cukup untuk memperbaiki tempat tinggal. Mereka bukan tidak mau berubah, tetapi memang tidak punya kemampuan. Di titik inilah zakat berperan sebagai penopang, bukan untuk memanjakan, melainkan memberi pijakan awal agar keluarga bisa bangkit secara perlahan. Kisah Khoiriyah, Ansori Noer, dan Alir Ridho menunjukkan bahwa bantuan yang tepat sasaran mampu menciptakan dampak berlipat. Rumah yang layak membuat keluarga lebih sehat, anak-anak lebih fokus belajar, dan orang tua lebih tenang mencari nafkah. Jika kondisi ini terjadi di banyak rumah, maka dampaknya akan terasa pada skala yang lebih luas: lingkungan yang lebih kuat dan masyarakat yang lebih sejahtera.Akhirnya, Bedah Rumah BAZNAS mengingatkan kita bahwa zakat bukan hanya urusan spiritual, tetapi juga alat perubahan sosial. Selama zakat terus disalurkan dengan empati, transparansi, dan keberpihakan pada yang lemah, harapan untuk kehidupan yang lebih adil bukanlah angan-angan, melainkan sesuatu yang bisa diwujudkan bersama.
ARTIKEL02/02/2026 | Frizal
KAKI PALSU, HARAPAN NYATA: SINERGI ZAKAT DAN NEGARA UNTUK MARTABAT DIFABEL
KAKI PALSU, HARAPAN NYATA: SINERGI ZAKAT DAN NEGARA UNTUK MARTABAT DIFABEL
Di tengah kesibukan Kota Surabaya, ada satu kabar baik yang patut diapresiasi. Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Surabaya bersama Unit Pengumpulan Zakat (UPZ) Dinas Sosial menyalurkan bantuan kaki palsu kepada seorang warga bernama Ibu Ernik di kawasan Menur, Kecamatan Gubeng. Bagi sebagian orang, ini mungkin terlihat sebagai bantuan kecil. Namun, bagi penerima, bantuan ini bisa menjadi awal kehidupan baru. Kehilangan kaki bukan hanya soal kondisi fisik. Itu juga soal kehilangan kesempatan, rasa percaya diri, bahkan masa depan. Karena itu, pemberian kaki palsu bukan sekadar bantuan medis, tetapi bentuk nyata kepedulian sosial yang menyentuh sisi kemanusiaan paling dasar. Disabilitas dan Realitas Sosial Penyandang disabilitas masih sering berada di posisi paling rentan dalam masyarakat. Banyak dari mereka kesulitan mengakses pendidikan, pekerjaan, layanan kesehatan, hingga fasilitas umum. Trotoar yang tidak ramah difabel, transportasi umum yang sulit diakses, dan minimnya lapangan kerja inklusif membuat mereka semakin terpinggirkan. Dalam kondisi seperti ini, alat bantu seperti kaki palsu sangat penting. Dengan alat tersebut, penyandang disabilitas bisa bergerak lebih bebas, kembali bekerja, dan beraktivitas seperti orang lain. Artinya, bantuan ini tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga pada mental dan ekonomi. Zakat yang Nyata dan Berdampak Selama ini, zakat sering dipahami hanya sebagai kewajiban agama. Padahal, zakat juga merupakan alat keadilan sosial. Zakat membantu mengurangi kesenjangan antara yang mampu dan yang membutuhkan. Program bantuan kaki palsu dari BAZNAS menunjukkan bahwa zakat bisa digunakan untuk hal-hal yang sangat konkret dan bermanfaat. Bukan hanya untuk bantuan sembako atau santunan, tetapi juga untuk memberdayakan orang agar mandiri. Ketika seseorang kembali bisa berjalan dan bekerja, ia tidak lagi sepenuhnya bergantung pada bantuan orang lain. Di sinilah zakat menjadi alat pemberdayaan, bukan sekadar bantuan sesaat. Sinergi yang Perlu Ditiru Kerja sama antara BAZNAS dan Dinas Sosial adalah contoh sinergi yang baik antara lembaga keagamaan dan pemerintah. Pemerintah punya data dan jaringan pelayanan sosial, sementara BAZNAS punya dana sosial dari masyarakat. Jika keduanya bekerja bersama, dampaknya bisa jauh lebih besar. Model kerja sama seperti ini seharusnya diperluas. Tidak hanya untuk kaki palsu, tetapi juga untuk kursi roda, alat bantu dengar, pelatihan kerja bagi difabel, hingga bantuan usaha kecil. Dengan sinergi yang kuat, program sosial tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling melengkapi. Dampak Lebih dari Sekadar Bantuan Satu kaki palsu mungkin hanya membantu satu orang. Tapi dampaknya bisa lebih luas. Program ini bisa menginspirasi masyarakat untuk lebih peduli. Bisa mendorong lembaga lain untuk melakukan hal serupa. Dan bisa mengubah cara pandang masyarakat terhadap penyandang disabilitas. Difabel bukan objek belas kasihan. Mereka adalah bagian dari masyarakat yang punya potensi besar. Yang mereka butuhkan adalah akses dan dukungan yang tepat. Dengan alat bantu dan lingkungan yang ramah, mereka bisa hidup mandiri dan produktif. Tantangan yang Masih Ada Meski program ini patut diapresiasi, tantangan masih besar. Harga kaki palsu tidak murah. Banyak keluarga tidak mampu membelinya. Di sisi lain, fasilitas publik yang ramah difabel masih terbatas. Trotoar yang rusak, gedung tanpa ramp, transportasi yang tidak aksesibel, semua itu membuat difabel tetap kesulitan meski sudah punya alat bantu. Karena itu, bantuan individu harus dibarengi dengan kebijakan kota yang inklusif. Surabaya sudah dikenal sebagai kota yang maju. Tapi kota maju tidak hanya diukur dari gedung tinggi dan jalan besar. Kota maju adalah kota yang ramah bagi semua warganya, termasuk difabel. Zakat dan Masa Depan Kota Apa yang dilakukan BAZNAS Surabaya menunjukkan bahwa zakat bisa menjadi bagian penting dari pembangunan sosial. Jika dikelola dengan baik, zakat bisa membantu pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan sosial masyarakat. Namun, keberhasilan ini juga tergantung pada masyarakat sebagai pemberi zakat. Semakin banyak orang yang percaya dan menyalurkan zakat melalui lembaga resmi, semakin besar pula dampak sosial yang bisa dirasakan. Transparansi dan profesionalisme BAZNAS juga penting agar kepercayaan publik terus meningkat. Dengan pengelolaan yang baik, zakat bisa menjadi solusi nyata bagi banyak masalah sosial. Ukuran Kemanusiaan Sebuah Kota Kisah bantuan kaki palsu untuk Ibu Ernik mengingatkan kita bahwa kemajuan kota bukan hanya soal infrastruktur dan ekonomi. Kemanusiaan adalah ukuran yang lebih penting. Bagaimana kota memperlakukan warga yang paling lemah adalah cerminan peradaban. Ketika seorang warga difabel mendapatkan alat bantu untuk berjalan kembali, itu bukan hanya soal teknologi medis. Itu soal harapan, martabat, dan hak untuk hidup layak. Dari Bantuan ke Perubahan Sosial Bantuan kaki palsu ini mungkin hanya satu program kecil. Tetapi jika dilakukan terus-menerus dan diperluas, dampaknya bisa besar. Sinergi antara BAZNAS dan Dinas Sosial bisa menjadi contoh nasional bagaimana zakat dan kebijakan sosial berjalan bersama. Semoga program seperti ini tidak berhenti pada satu orang atau satu wilayah. Karena di luar sana, masih banyak penyandang disabilitas yang menunggu uluran tangan. Dan bagi mereka, satu alat bantu bisa berarti satu kesempatan baru untuk hidup lebih baik. Kaki palsu bukan hanya alat. Ia adalah simbol harapan baru.
ARTIKEL02/02/2026 | Naufal
Menghidupkan Malam Nisfu Sya’ban dengan Ibadah dan Kepedulian
Menghidupkan Malam Nisfu Sya’ban dengan Ibadah dan Kepedulian
Nisfu Sya’ban merupakan salah satu momen penting dalam kalender Islam yang jatuh pada pertengahan bulan Sya’ban, tepatnya pada malam tanggal 15. Malam ini dikenal sebagai waktu yang penuh keberkahan dan ampunan, sehingga menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk melakukan muhasabah serta meningkatkan kualitas ibadah sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Secara bahasa, nisfu berarti setengah, sedangkan Sya’ban merupakan bulan kedelapan dalam penanggalan Hijriah. Bulan Sya’ban berada di antara Rajab dan Ramadan, sehingga sering dimaknai sebagai masa persiapan spiritual. Rasulullah SAW dikenal memperbanyak ibadah pada bulan ini sebagai bentuk kesiapan menyambut bulan penuh rahmat dan ampunan. Malam Nisfu Sya’ban memiliki keutamaan tersendiri. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa pada malam tersebut Allah SWT membuka pintu ampunan seluas-luasnya bagi hamba-Nya yang memohon dengan tulus. Namun, ampunan tersebut tidak diberikan kepada orang yang masih menyimpan permusuhan, kebencian, atau melakukan perbuatan syirik. Oleh karena itu, Nisfu Sya’ban menjadi momen yang tepat untuk membersihkan hati, memperbaiki niat, dan mempererat hubungan dengan sesama. Selain sebagai waktu memohon ampunan, Nisfu Sya’ban juga menjadi sarana evaluasi diri. Umat Islam diajak untuk merenungkan kembali amal perbuatan yang telah dilakukan, sekaligus memperbaiki kekurangan sebelum memasuki Ramadan. Dengan muhasabah yang baik, seseorang dapat mempersiapkan diri secara spiritual agar ibadah di bulan Ramadan menjadi lebih maksimal dan bermakna. Dalam menghidupkan malam Nisfu Sya’ban, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amalan ibadah. Beberapa di antaranya adalah membaca Al-Qur’an, memperbanyak doa dan istighfar, melaksanakan salat sunnah, serta memperbanyak dzikir. Selain itu, sedekah juga menjadi amalan yang sangat dianjurkan karena memiliki nilai ibadah sekaligus manfaat sosial. Sedekah pada momentum Nisfu Sya’ban tidak hanya bernilai pahala, tetapi juga menjadi bentuk kepedulian terhadap sesama. Islam mengajarkan bahwa ibadah tidak hanya bersifat vertikal kepada Allah SWT, tetapi juga horizontal kepada manusia. Dengan berbagi kepada fakir miskin, anak yatim, dan masyarakat yang membutuhkan, nilai-nilai kasih sayang dan solidaritas dapat terus terjaga. Melalui peringatan Nisfu Sya’ban, umat Islam diajak untuk tidak hanya meningkatkan kualitas ibadah pribadi, tetapi juga memperkuat kepedulian sosial. Dengan demikian, nilai-nilai keislaman dapat terwujud secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, sejalan dengan semangat BAZNAS Kota Surabaya dalam mewujudkan masyarakat yang religius, peduli, dan sejahtera.
ARTIKEL02/02/2026 | Septya
Nisfu Sya’ban: Momentum Refleksi dan Penguatan Kepedulian Sosial BAZNAS Kota Surabaya
Nisfu Sya’ban: Momentum Refleksi dan Penguatan Kepedulian Sosial BAZNAS Kota Surabaya
Nisfu Sya’ban adalah salah satu momen penting dalam kalender Islam yang sarat dengan nilai spiritual dan reflektif. Malam pertengahan bulan Sya’ban ini dimaknai sebagai waktu untuk memperbanyak introspeksi diri, memohon ampunan kepada Allah SWT, serta memperkuat keimanan sebagai persiapan menyambut bulan suci Ramadan. Lebih dari sekadar ibadah personal, Nisfu Sya’ban juga mengajarkan umat Islam untuk meningkatkan kepedulian sosial dan kepekaan terhadap sesama. Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, nilai-nilai yang terkandung dalam Nisfu Sya’ban sejalan dengan semangat pengelolaan zakat, infak, dan sedekah. Refleksi diri yang dilakukan pada momen ini hendaknya mendorong tumbuhnya kesadaran untuk berbagi, membantu, dan meringankan beban saudara-saudara yang membutuhkan. Kepedulian sosial menjadi wujud nyata dari keimanan yang tidak hanya berhenti pada ibadah ritual, tetapi juga tercermin dalam tindakan sosial. BAZNAS Kota Surabaya memaknai Nisfu Sya’ban sebagai momentum strategis untuk memperkuat peran zakat dalam membangun kesejahteraan umat. Melalui berbagai program pendistribusian dan pendayagunaan zakat, BAZNAS hadir sebagai jembatan kebaikan antara para muzaki dan mustahik. Nilai keikhlasan, kepedulian, dan kebersamaan yang ditekankan pada Nisfu Sya’ban menjadi landasan dalam menjalankan amanah pengelolaan dana umat secara profesional, transparan, dan akuntabel. Selain itu, Nisfu Sya’ban juga menjadi pengingat pentingnya membersihkan hati dari sikap individualisme dan menumbuhkan solidaritas sosial. Di tengah dinamika kehidupan perkotaan seperti Surabaya, tantangan sosial masih dirasakan oleh sebagian masyarakat, mulai dari persoalan ekonomi, kesehatan, hingga pendidikan. Melalui optimalisasi zakat, infak, dan sedekah, BAZNAS Kota Surabaya berkomitmen untuk terus menghadirkan solusi dan program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Dengan menjadikan Nisfu Sya’ban sebagai titik refleksi, diharapkan masyarakat semakin menyadari bahwa keberkahan hidup tidak hanya diperoleh dari ibadah personal, tetapi juga dari kepedulian terhadap sesama. BAZNAS Kota Surabaya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memaknai Nisfu Sya’ban sebagai awal penguatan kepedulian sosial, sehingga zakat dapat menjadi instrumen utama dalam mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan umat di Kota Surabaya.
ARTIKEL30/01/2026 | Mila Malika
Ramadhan 2026, BAZNAS Perkuat Penyaluran Kafarat agar Tepat Sasaran dan Sesuai Syariat
Ramadhan 2026, BAZNAS Perkuat Penyaluran Kafarat agar Tepat Sasaran dan Sesuai Syariat
Surabaya (Baznas News) Memasuki bulan suci Ramadhan 2026, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) memperkuat peran dalam memfasilitasi penyaluran kafarat agar tepat sasaran dan sesuai ketentuan syariat Islam. Langkah ini dilakukan seiring meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menunaikan kewajiban ibadah secara bertanggung jawab, termasuk kafarat akibat pelanggaran puasa Ramadhan. Kafarat merupakan tebusan ibadah yang wajib ditunaikan oleh seorang Muslim atas pelanggaran tertentu, seperti melanggar sumpah atau melakukan hubungan suami istri di siang hari bulan Ramadhan tanpa uzur syar’i. Ketentuan kafarat memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW. Allah SWT berfirman, “Kafarat sumpah itu ialah memberi makan sepuluh orang miskin dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi mereka pakaian, atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup, maka berpuasalah tiga hari” (QS. Al-Ma’idah: 89). Ayat ini menunjukkan bahwa kafarat bukan sekadar sanksi ritual, melainkan bentuk tanggung jawab ibadah yang memiliki dampak sosial. Dalam konteks puasa Ramadhan, Rasulullah SAW juga menegaskan bentuk kafarat bagi pelanggaran berat. Dalam hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim, disebutkan kisah seorang sahabat yang berhubungan suami istri di siang hari Ramadhan, lalu Nabi SAW mewajibkan kafarat secara berjenjang: memerdekakan budak, jika tidak mampu maka berpuasa dua bulan berturut-turut, dan jika tidak mampu maka memberi makan enam puluh orang miskin. Ketentuan ini menjadi rujukan utama praktik kafarat puasa hingga saat ini. Selain pendistribusian, BAZNAS juga memperkuat edukasi publik terkait perbedaan kafarat, fidyah, dan zakat yang kerap disalahpahami masyarakat. Rasulullah SAW mengingatkan pentingnya kesungguhan dalam beribadah, “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya” (HR. Bukhari). Hadis ini menjadi pengingat bahwa ibadah puasa, termasuk kafaratnya, harus dijalankan dengan kesadaran dan kejujuran. BAZNAS juga mengingatkan masyarakat agar tidak menunda penunaian kafarat hingga berlarut-larut. Kafarat merupakan kewajiban yang melekat sejak terjadinya pelanggaran ibadah dan idealnya segera ditunaikan ketika kemampuan sudah ada. Penundaan tanpa alasan syar’i dinilai dapat mengurangi kesempurnaan tanggung jawab ibadah. Selain itu, BAZNAS menekankan bahwa penyaluran kafarat secara kolektif melalui lembaga resmi dapat menghindarkan praktik penyaluran yang tidak tepat sasaran. Dalam beberapa kasus, kafarat disalurkan kepada pihak yang tidak memenuhi kriteria fakir miskin. Dengan basis data mustahik yang terverifikasi, BAZNAS memastikan kafarat Ramadhan disalurkan sesuai ketentuan syariat dan kebutuhan riil di lapangan. BAZNAS juga mendorong masyarakat untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum meningkatkan literasi fikih ibadah. Pemahaman yang baik mengenai kafarat, fidyah, qadha, dan zakat dinilai penting agar ibadah tidak berhenti pada aspek formal, tetapi benar-benar mencerminkan kepatuhan dan tanggung jawab keagamaan. Literasi ini diharapkan dapat membangun budaya ibadah yang lebih sadar dan berkelanjutan. BAZNAS menegaskan bahwa Ramadhan merupakan momentum strategis untuk membangun ibadah yang berdampak. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Ahmad). Kafarat yang ditunaikan dengan benar tidak hanya menggugurkan kewajiban, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat miskin. Dengan penguatan sistem penyaluran dan literasi syariah, BAZNAS berharap praktik kafarat Ramadhan 2026 dapat berjalan lebih tertib, tepat sasaran, dan sesuai tuntunan agama. Upaya ini sekaligus menegaskan bahwa ibadah dalam Islam tidak berhenti pada aspek ritual, tetapi memiliki tanggung jawab sosial yang nyata dan berkelanjutan.
ARTIKEL30/01/2026 | Imam Nur
H-30 Ramadan, Zakat, Infak, dan Sedekah Disiapkan untuk Menyambut Bulan Suci
H-30 Ramadan, Zakat, Infak, dan Sedekah Disiapkan untuk Menyambut Bulan Suci
Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, semangat berbagi dan kepedulian sosial mulai terasa di tengah masyarakat. Momentum H-30 Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk mempersiapkan diri, tidak hanya secara spiritual, tetapi juga melalui penguatan kepedulian sosial dengan menunaikan zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Ketiga instrumen ini memiliki peran penting dalam membangun solidaritas umat serta membantu masyarakat yang membutuhkan. Dalam ajaran Islam, zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar bentuk ibadah individual, tetapi juga sarana untuk menciptakan keseimbangan sosial. Zakat menjadi kewajiban bagi umat Islam yang telah memenuhi syarat, sementara infak dan sedekah merupakan amalan sunnah yang bernilai besar, terutama jika dilakukan secara konsisten. Momentum Ramadan menjadi waktu yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak amal kebaikan, sebagaimana nilai pahala yang dilipatgandakan di bulan suci. Secara yuridis, pengelolaan zakat di Indonesia telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat. Dalam undang-undang tersebut ditegaskan bahwa zakat harus dikelola secara terencana, transparan, dan akuntabel dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta menanggulangi kemiskinan. Hal ini menunjukkan bahwa zakat tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan pembangunan yang sangat kuat. Menjelang H-30 Ramadan, berbagai persiapan dalam pengelolaan ZIS mulai dilakukan agar penyalurannya tepat sasaran. Dana zakat, infak, dan sedekah diarahkan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, seperti fakir miskin, dhuafa, masyarakat prasejahtera, serta kelompok rentan lainnya. Selain itu, dana ZIS juga disalurkan dalam bentuk program pemberdayaan, bantuan sosial, hingga dukungan kebutuhan pokok menjelang Idulfitri. Momentum ini menjadi pengingat bahwa zakat tidak hanya sebatas kewajiban tahunan, tetapi merupakan bagian dari upaya menciptakan keadilan sosial. Dengan menunaikan zakat sejak dini, masyarakat turut membantu mempercepat proses pendistribusian bantuan sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas dan tepat waktu. Begitu pula dengan infak dan sedekah yang dapat diberikan kapan saja sebagai wujud kepedulian terhadap sesama. Lebih dari itu, H-30 Ramadan menjadi ajakan reflektif bagi masyarakat untuk mempersiapkan diri secara spiritual dan sosial. Membersihkan harta melalui zakat, memperbanyak infak, serta menumbuhkan kepedulian melalui sedekah merupakan langkah nyata dalam menyambut bulan penuh berkah. Nilai-nilai inilah yang menjadikan Ramadan bukan hanya sebagai bulan ibadah, tetapi juga bulan solidaritas dan kemanusiaan. Melalui semangat berbagi di H-30 Ramadan, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya zakat, infak, dan sedekah semakin meningkat. Dengan pengelolaan yang baik dan partisipasi aktif dari masyarakat, ZIS dapat menjadi kekuatan besar dalam mewujudkan kesejahteraan, mempererat persaudaraan, serta menghadirkan keberkahan bagi seluruh lapisan umat.
ARTIKEL30/01/2026 | Dhea Novita
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Surabaya.

Lihat Daftar Rekening →